Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Rencana Carlk


Sebuah seringai menghiasi wajah Carlk setelah menghasut Maxton. Sesuai yang dia rencanakan sejak awal, mengadu domba mereka dan setelah ini dia akan menjadi penonton dan melihat kehancuran mereka.


Tidak perlu mengotori tangannya untuk membalas dendam, cukup tuang sedikit minyak maka api akan berkobar. Dia akan menikmati tontonan ini dan pada saat akhir, dia akan memberikan bom mematikan untuk mereka berdua.


Menyamar menjadi Damian Maxton malam itu memang sudah dia rencanakan karena memang tujuannya membuat Vivian semakin mencurigai Maxton.


Dia juga bukan orang bodoh yang akan muncul dengan wajah asli apalagi ada Vivian, jangan sampai rencananya gagal karena sebuah kecerobohan yang dia lakukan.


Carlk menghisap cerutunya dan seringai masih menghiasi wajahnya. Rencana awal sudah dijalankan dan dia akan menjalankan rencana selanjutnya yaitu menemui Vivian secara langsung. Dia harus mencari tahu siapa wanita yang memberinya dua tembakan malam itu karena mafia yang dia bayar tidak menemukan wanita itu sama sekali.


Wanita itu bisa menjadi ancaman terbesarnya jika tidak dia bunuh dan sekarang dia akan menemui Vivian, mendekatinya lagi dan pura-pura kembali untuk menepati janji dan setelah itu, Vivian pasti akan mengatakan padanya siapa yang membantunya.


Dia tahu Vivian pasti masih mencintainya dan dia akan memanfaatkan keluguan dan kebodohan Vivian. Walaupun dia tidak punya mata-mata lagi tapi dia tahu harus mencari Vivian di mana.


Setelah ini dia akan menemui Vivian dan akan dia buat seolah-olah mereka bertemu tanpa sengaja.


Saat itu, Ella mendekati carlk dan memeluknya dari belakang, " Tuan Max, apa yang kau pikirkan dan kapan kau akan membunuh Matthew Smith?"


"Sabarlah Ella, dia pasti mati di tanganku tapi kau harus menunggu karena wajah yang sedang dibuat oleh temanku belum jadi dan aku juga harus menyusun rencana ini dengan matang bersama Thomas supaya tidak gagal. Kau tahu bukan jika kita gagal dan ketahuan?"


"Baiklah tuan Max, Ella akan sabar menunggu. Lagi pula anggap saja kita memberinya sedikit waktu lebih lama untuk hidup."


"Kau benar," jawab carlk sambil tersenyum dengan licik.


Dia harap saat ini Maxton mulai bertindak dan memang saat itu, Jager mengajak Damian untuk pulang. Dia akan memeriksa siapa David Adison yang disebutkan oleh pria asing yang menghubunginya.


Walaupun terasa sedikit aneh tapi ini informasi bagus yang dia dapatkan apalagi memang sejak lama dia sudah mencari orang yang membunuh istri dan anaknya.


Apalagi menurut informasi yang orang asing itu berikan, David Adison adalah mantan tentara dan ini bukan kebetulan belaka karena dia memang mencari tentara yang telah merenggut nyawa istri dan putrinya.


Begitu tiba, Jager segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu siapa David Adison. Dia harus memastikan terlebih dahulu di mana orang ini berada dan apakah benar dia adalah mantan tentara?


Tidak butuh lama, data-data David sudah didapatkan oleh anak buahnya. Wajah David masih muda dan sedang memakai baju tentara didata yang mereka dapatkan.


Jager membaca data milik David dengan teliti dan semakin yakin jika dialah tentara yang membunuh istri dan putrinya.


Darahnya langsung mendidih di kepalanya dan emosi menguasai hatinya. Rasanya ingin dia cincang orang itu dan akan dia balas kematian istri dan putrinya.


"Cari penerbangan ke Inggris untukku saat ini juga!" perintah Jager sambil berteriak.


"Dad, untuk apa kau pergi ke sana?" tanya Damian.


"Kau lihat ini?" Jager memberikan data David kepada Damian.


"Aku rasa memang dialah yang telah membunuh Cristiana dan putriku!"


"Dad, sebenarnya apa yang tejadi?" tanya Damian lagi seraya melihat data David.


"Bukankah kau bilang istrimu meninggal saat melahirkan?"


"Tidak, bukan seperti itu!" Jager mengusap wajah tuanya dengan kasar.


"Mereka dibunuh, mereka dibunuh," jawab Jager tanpa kuasa menahan air matanya.


"Apa?" Damian sungguh tidak percaya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?


"Aku tahu yang membunuh mereka adalah seorang tentara dan aku telah mencarinya selama puluhan tahun dan sekarang, seseorang mengatakan jika yang membunuh mereka adalah orang itu? Aku rasa memang dialah yang melakukannya!"


"Lalu apa yang akan daddy lakukan?"


Jager memandangi Damian, sebentar lagi Damian akan menggantikan posisinya dan ini adalah kesempatan bagus untuk menunjukkan kehebatannya di depan anak buah mereka.


"Ikut denganku ke Ingris dan kita habisi keluarganya! Aku ingin dia membayar kematian istri dan putriku dengan nyawa seluruh keluarganya!"


"Tapi dad, bagaimana jika kau salah?"


"Apa maksudmu Damian? Aku sudah mencari orang yang membunuh istri dan anakku selama puluhan tahun dan ini adalah kesempatanku untuk balas dendam sebelum aku mati. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk balas dendam."


"Aku tahu dad, tapi kita tidak boleh sembarangan bertindak dan berikan kesempatan padaku untuk mencari tahu kebenarannya. Jangan sampai hanya karena sebuah informasi dari orang yang tidak kita kenal, kita sampai salah sasaran."


Jager diam saja dan memandangi Damian, jujur saja dia sudah tidak sabar untuk membalas kematian istri dan putrinya.


"Percaya padaku dad dan jika memang orang ini yang telah membunuh istrmu dan adikku maka aku yang akan pergi untuk menghabisinya tanpa perlu daddy turun tangan. Aku akan menggantikan daddy balas dendam dan akan aku habisi semua keturunannya tanpa sisa!" ucap Damian menyakinkan ayahnya


Jager menghela nafas dan menjawab, "Baiklah, sudah saatnya aku mempercayaimu karena sebentar lagi kau akan menggatikan posisiku."


"Arigatou otosan," Damian membungkuk di depan ayahnya. Setidakknya ayahnya tidak gegabah hanya karena sebuah informasi yang diberikan oleh orang yang tidak mereka kenal.


Untuk menenangkan emosinya, Jager meminum obatnya dan setelah itu dia bediri di bawah foto istrinya. Ketika melihat wajah istrinya entah kenapa dia teringat dengan ucapan Matthew jika dia akan mengenalkan seorang FBI dan dia juga ingat ucapan Matthew, jika dia tidak akan menyesal saat bertemu dengannya dan akan teringat dengan istrinya. Sebenarnya apa maksudnya? Apapun itu dia akan tahu besok dan dia rasa Matthew Smith berkata demikian supaya dia mau bertemu dengan FBI itu saja.


Sementara itu diruang mayat, Vivian tercengang melihat hasil otopsi mayat laki-laki yang ditemukan di hutan. Bukankah itu adalah orang yang membantunya waktu itu? Kenapa pria itu bisa mati dalam keadaan mengenaskan? Sebenarnya apa yang terjadi?


Sambil keluar dari ruang mayat, Vivian melihat laporan otopsi dengan serius sedangkan Ana berjalan di sampingnya.


"Angel, kita masih punya waktu, apa kau mau pergi bersama denganku menjenguk Jerry di rumah sakit?" tanya Ana.


"Sory Ana, aku ingin segera kembali ke kantor untuk memeriksa kasus ini lebih lanjut. Tolong sampaikan salamku untuk Jerry dan katakan aku tidak bisa menjenguknya."


"Oke baiklah," Jawab Ana.


Mereka berpisah di depan rumah sakit, Ana pergi untuk menjenguk Jerry sedangkan Vivian berjalan menyelusuri trotoar sambil melihat hasil otopsi yang ada di tangannya.


Dia benar-benar penasaran dan ingin tahu, kenapa pria yang membantunya bisa mati mengenaskan dan siapa yang membunuhnya?


Vivian begitu serius dan tanpa dia sadari, seorang pria berjalan dengan terburu-buru di depannya. Vivian begitu fokus dan pada saat itu, tanpa sengaja dia menabrak pria yang berjalan di depannya.


Vivian sangat kaget dan kertas yang dia bawa jatuh ke atas jalan begitu juga dengan pria itu, Vivian semakin kaget dan matanya membulat saat melihat orang yang dia tabrak.


"Carlk?"


"Vivi," Carlk juga pura-pura kaget padahal ini memang rencananya.