
Sudah beberapa hari berlalu semenjak dia menghasut Maxton melalui orang utusannya tapi sampai sekarang tidak ada pergerakan sama sekali.
Karena penasaran, Carlk mengutus seseorang untuk mengawasi Maxton beberapa jam yang lalu dan menurut informasi mata-mata yang dia utus, Maxton tidak melakukan apapun dan ada di rumah.
Ini sangat aneh, dengan temprament Maxton yang mudah emosi dan pemarahan, seharusnya dia sudah pergi mencari David Adison dan membunuhnya tapi menurut agen yang menjadi mata-matanya di Inggris, David Adison juga terlihat baik-baik saja.
Apa dia sudah salah perhitungan? Atau jangan-jangan si tua bangka itu sedang sakit? Dia harap Maxton segera bertindak dan menghabisi David Adison tapi sekarang lebih baik dia pergi menemui Vivian.
Pada saat itu, Ella menghampiri Carlk dan memberikan segelas minuman yang dia minta.
"Max, apa hari kau sibuk?"
"Kenapa?" tanya Carlk dengan sinis sambil meraih minuman yang di bawa oleh Ella.
"Apa kau bisa menemaniku pergi?"
"Tidak! Aku mau pergi menemui seseorang!" Carlk meneguk minumannya dan berlalu pergi.
Ella mencengkram tangannya dengan erat, kenapa sampai sekarang Carlk selalu bersikap dingin dengannya? Mereka sudah tidur bersama dan terus terang saja, dalam hatinya sudah tumbuh cinta untuk Carlk. Apa sampai sekarang Carlk masih menganggapnya sebagai partner di atas ranjang saja dan tidak memiliki perasaan untuknya?
Bagaimanapun dia wanita dan dia juga butuh dicintai, bukan sebagai pemuas nafsu saja walaupun mereka saling memanfaatkan. Ella memandangi Carlk yang keluar dari kamarnya tanpa memperdulikannya, jangan-jangan sudah ada wanita lain di hati carlk dan sebaiknya dia mencari tahu.
Tanpa pikir panjang, Ella keluar dari kamar itu karena dia mau mengikuti Carlk dan mencari tahu, siapa yang mau ditemui Carlk hari ini?!
Saat itu sudah hampir jam makan siang, Vivian masih sibuk menyelidiki kematian Scott. Sedikit informasi sudah dia dapat yang menunjukkan Scott diculik oleh beberapa orang sebelum dia dibunuh tapi sayang, orang-orang yang menculiknya sudah dinyatakan mati dan setelah itu, tidak ada petunjuk lainnya lagi.
Vivian menghela nafas dan meletakkan berkas yang sedang dia periksa dan pada saat itu Ana berdiri di belakangnya dan menepuk bahunya.
"Angel, apa kau tidak mau pergi makan siang?"
Vivian memutar kursinya dan melihat Ana sambil tersenyum, "Tentu saja mau Ana."
"Jika begitu ayo kita pergi makan siang bersama," ajak Ana.
"Sory Ana, aku mau pergi beli obat," tolak Vivian.
"Obat? Kau sakit?" tanya Ana.
"Tidak, bukan!"
Ana memandangi Vivian penuh selidik dan pada saat itu, dia tahu obat apa yang ingin dibeli oleh Vivian.
"Hei jangan bilang kau ingin membeli pil kontrasepsi!"
"Oh my God Ana, pelankan suaramu!" pinta Vivian karena para agen yang belum pergi makan siang melihat ke arah mereka.
"Ups, sory," ucap Ana sambil memasang wajah tidak bersalah.
"Kau menyebalkan!" dengus Vivian kesal.
"Aku bercanda, tidak mungkin bukan kau membutuhkan pil itu? Kau dan Maria tidak bisa menghasilkan apapun dan sepertinya jika kalian sudah menikah nanti, kau harus membeli boneka bayi bohongan dan masukkan ke dalam perutmu supaya kau terlihat seperti orang hamil," ucap Ana bercanda.
"Ck, tunggulah setelah misiku selesai aku akan menikah dengannya dan jangan kaget saat melihatnya."
"Hei kau serius ingin menikah dengan Maria?" tanya Ana tidak percaya.
"Yes dan aku tidak butuh boneka bayi," ucap Vivian segera bangkit berdiri.
Ana mengangkat kedua bahunya dan berjalan pergi sedangkan Vivian sudah berjalan keluar dari kantornya karena dia ingin pergi membeli obat. Dia tidak tahu pada saat dia keluar, Carlk berada tidak jauh darinya begitu juga dengan Ella, dia benar-benar ingin tahu siapa yang ingin ditemui oleh Carlk.
Karena toko obat tidak jauh dari kantornya jadi Vivian memilih berjalan kaki menuju toko obat tersebut. Carlk mengikuti Vivian dari kejauhan begitu juga dengan Ella, dia ingin melihat apa yang dilakukan oleh Carlk.
Tidak perlu terlalu mendekati Carlk karena dia tidak mau membuat Carlk mengetahui keberadaanya dan lagi pula, dia hanya ingin tahu siapa yang mau ditemui Carlk dan kenapa Carlk mengikuti seorang agen yang sedang berjalan di depan mereka.
Setelah beberapa menit berjalan, Vivian tiba di apotek. Dia segera masuk sedangkan Carlk tampak heran, kenapa Vivian masuk ke toko obat? Apa dia sakit?
"Excuse me, apa ada pil kontrasepsi?" tanya Vivian dengan wajah memerah tapi pertanyaan Vivian didengar oleh Carlk dan dia bagaikan disambar petir di siang bolong.
Pil kontrasepsi? Apa maksudnya? Ini tidak benar, jangan-jangan?
Tanpa membuang waktu, Carlk berjalan menghampiri Vivian dan meraih tangannya sedangkan Vivian sangat kaget saat melihat Carlk ada di sana.
"Carlk? kenapa kau ada di sini?"
"Kebetulan dan apa maksudnya ini Vivi?" Carlk mengangkat tangan Vivian yang sedang memegang pil kontrasepsi.
"Ini bukan urusanmu!" jawab Vivian seraya menarik tangannya.
"Vivi, pil itu bukan untuk kau gunakan sendiri bukan?"
"Kalau iya memangnya kenapa?" tanya Vivian dengan cuek seraya membayar obatnya.
"Jangan bercanda! Aku tahu kau tidak seperti itu apalagi kau takut dengan laki-laki!"
"Apa yang kau tahu Carlk? Lima tahun sudah kau pergi, memangnya apa yang kau tahu?" tanya Vivian dengan sinis.
"Vivi, aku tahu aku salah sebab itu aku ingin memperbaiki semuanya dan kembalilah padaku," pinta Carlk.
"Maaf, aku tidak bisa," tolak Vivian dan dia melangkah pergi tapi Carlk menangkap tangannya.
"Kenapa? Aku tahu kau kecewa padaku tapi bukankah kau mencintaiku?"
"Hng, mencintaimu?" Vivian tersenyum dengan sinis dan menatap Carlk dengan tajam.
"Aku memang mencintaimu Carlk tapi itu dulu! Aku bersabar menunggumu selama lima tahun tapi kau mengabaikan aku begitu saja dan sekarang, sudah ada seseorang yang begitu mencintaiku. Dia sangat menyayangiku dan menghargaiku dan pil ini?" Vivian menunjukkan obatnya.
"Memang aku yang akan menggunakannya dan asal kau tahu satu hal, aku bukan Vivian yang polos dan bodoh seperti lima tahun lalu yang rela menunggumu tanpa kepastian!"
Saat mendengar ucapan Vivian, hati Carlk terasa sakit. Apa Vivian tidak bercanda? Atau Vivian berkata demikian hanya untuk menunjukkan rasa kekecewaannya saja?
"Vivi, kau bercanda saja bukan? Kau mengatakan hal ini karena kau kecewa padaku bukan?" Calrk kembali meraih tangan Vivian tapi Vivian segera menepisnya.
"Sayangnya tidak!" jawab Vivian.
"Dulu aku memang mencintaimu Carlk tapi sekarang? Aku telah jatuh cinta pada orang lain jadi sebaiknya kita tidak bertemu lagi karena aku tidak ingin membuatnya marah!" ucap Vivian dan dia kembali melangkah pergi tapi Carlk kembali meraih tangannya dan mencengkram lengan Vivian dengan kuat hingga Vivian meringis kesakitan.
Dia benar-benar tidak terima ada yang menggantikan posisinya di hati Vivian dan dia harus tahu siapa pria itu.
"Carlk, sakit! Lepaskan tanganku!" pinta Vivian dan dia sudah tampak kesal.
"Siapa? Siapa pria itu?" tanya Carlk sambil menatap Vivian dengan tajam.
"Siapapun itu yang pasti dia jauh lebih baik darimu!" jawab Vivian dengan sinis.
"Oh ya? Aku ingin melihatnya, apa dia pantas untukmu?"
"Jangan membual Carlk! Dia pantas atau tidak itu bukan urusanmu yang pasti dia jauh lebih baik dari pada kau jadi lepaskan aku! Cukup sampai di sini saja pertemuan kita! Aku sudah melupakanmu jadi lupakan aku!" Pinta Vivian.
"Tidak, berikan aku kesempatan!" Carlk masih tidak menyerah.
"Carlk please, tolong lepaskan tanganku sakit," pinta Vivian dan rasanya dia ingin menangis.
"Vivi maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu." dengan terpaksa Carlk melepaskan tangan Vivian dan entah mengapa, jantungnya bagai dipukul oleh seseorang dan rasanya dia benar-benar tidak terima Vivian sudah mencintai pria lain.
"Good bye," ucap Vivian dan dia segera keluar dari toko obat dan pergi dengan perasaan tidak menentu, semoga mereka tidak bertemu lagi dan semoga ini pertemuan terakhir mereka.
Setelah Vivian pergi, Carlk mengusap wajahnya dengan kasar dan bergumam, "Tidak Vivi, kau milikku! Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku! Aku akan cari tahu siapa pria yang bersama denganmu dan aku akan membunuhnya bersama dengan Maxton. Aku akan merebutmu lagi dan kau hanya boleh menjadi milikku!"
Carlk masih belum beranjak sedangkan Vivian sudah pergi tapi tidak jauh dari Carlk, Ella melihat semuanya dan tampak marah. Apakah wanita itu yang disukai oleh Carlk? Sungguh dia tidak terima!