
Matthew tersenyum melihat Vivian yang sangat bahagia bertemu dengan keluarganya, setelah melewati ketakutan akan kehilangan mereka pasti Vivian merasa lega dan bahagia.
Itu terbukti dari ekspresi wajah Vivian bahkan dia memeluk keluarganya begitu lama untuk menumpahkan kerinduannya.
Pada saat itu, Vivian mendekati Matthew dan meraih tangannya. Sekarang saatnya mengenalkan Matthew pada keluarganya.
Marta dan Charles memandangi putri mereka dan tidak percaya, putrinya yang dulu takut dengan laki-laki dan tidak mau disentuh oleh siapapun kini bisa menyentuh pria itu tanpa merasa takut sedikitpun. Apa rasa takut putrinya sudah hilang? Atau pria itu bisa menghilangkan ketakutan yang selama ini putrinya rasakan?
Mata David juga tidak lepas dari Matthew, dia harus memastikan pria itu serius berhubungan dengan cucunya atau hanya ingin mempermainkannya saja. Dia tidak mau Vivian dipermainkan apalagi seseorang sudah membuat cucunya menunggu tanpa kepastian.
Vivian membawa Matthew mendekati keluarganya dan dia harap keluarganya bisa menerima Matthew terutama kakeknya.
"Mom, dad, kenalkan ini pacarku Matthew," ucap Vivian.
"Selamat siang tuan dan nyonya Adison, aku Matthew Smith," Matthew memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Jadi kau pacar putriku?" tanya Marta sambil melihat Matthew dengan teliti.
"Ya nyonya, aku tidak hanya pacarnya tapi aku juga calon suaminya," jawab Matthew tanpa ragu.
"Hei" protes Vivian dengan wajah memerah.
Charles dan Marta saling pandang, ini kabar baik karena Vivian tidak lagi menunggu pacarnya yang pergi lima tahun lalu.
"Oh akhirnya Vivi, kau melupakan si bodoh itu dan tidak menunggunya lagi," ucap Marta.
"Daddy kira kau akan menunggunya sampai mati," goda Charles.
"Apa? Enak saja!" jawab Vivian sedangkan kedua orang tuanya tertawa.
"Hm!" David berdehem dan pada saat itu, Vivian menarik Matthew dan mendekati kakeknya.
"Kakek ini?"
"Ikut denganku anak muda," David menyela ucapan cucunya.
"Kakek?"
"Tenang saja Vivi, kakek hanya ingin memberinya beberapa pertanyaan," David mengacak rambut Vivian sambil tersenyum.
"Percaya padaku babe,"ucap Matthew dengan pelan sedangkan Vivian mengangguk.
"Ikut denganku dan kau juga Charles," ajak David seraya berjalan keluar dari kamar.
Dengan perasaan tidak menentu Vivian melepaskan tangan Matthew, sungguh dia sangat takut kakeknya tidak menyetujui hubungan mereka tapi Matthew mengusap kepala Vivian dengan lembut untuk menenangkannya dan setelah itu dia berjalan pergi mengikuti ayah dan kakek Vivian.
Vivian memandangi kepergian mereka dan pada saat itu Marta mendekati putrinya dan menyentuh bahunya.
"Jangan khawatir Vivi, mereka pasti akan menginterogasinya sedikit," hibur ibunya.
Vivian berusaha tersenyum, jika Matthew hanya orang biasa maka dia tidak akan khawatir tapi Matthew? Dia tahu kakeknya tidak suka dengan orang yang menggeluti dunia hitam apalagi kakeknya mantan tentara.
Dia sangat berharap Matthew dapat menyakinkan kakeknya sehingga hubungan mereka direstui oleh kakeknya.
"Mom, apa kau sudah mengabari kakak jika kalian baik-baik saja?"
"Aku sudah menghubungi kakakmu tapi sepertinya dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini," jawab ibunya.
"Apa? Kakak datang ke Amerika?"
"Ya, bukan kakakmu saja tapi sepertinya paman dan bibi mu juga."
"Mereka pasti sangat menghawatirkan kalian dan aku sangat senang kalian baik-baik saja mom," Vivian memeluk ibunya dengan erat.
"Kami juga sangat lega Vivi, sekarang katakan pada kami, siapa yang mengaku menjadi orang tuamu?"
"Seseorang, tadinya aku mencurigainya sebagai buronan ku mom tapi siapa yang menyangka jika wajahku mirip dengan istrinya yang meninggal. Sebenarnya apa yang terjadi mom dan kenapa kalian merahasiakan hal ini dariku? Apa benar aku bukan putrimu?" tanya Vivian sambil memandangi ibunya dengan tatapan sedih.
Marta menghela nafasnya dan mengusap wajah Vivian, dia tahu Vivian pasti akan menanyakan hal ini.
"Tunggu kakek dan Daddy mu kembali sayang, kakek yang membawamu pulang waktu itu jadi sebaiknya kau mendengar penjelasan darinya."
"Jadi benar aku bukan putri mommy?" air mata Vivian mulai menetes, walaupun dia sudah bisa menebaknya tapi tetap saja terasa menyedihkan saat mengetahui orang yang menyayanginya selama ini bukanlah orang yang melahirkannya.
Vivian juga menangis dalam pelukan ibunya, walaupun ibunya berkata demikian tapi tetap saja tidak bisa mengubah kenyataan jika dia bukanlah putri dari Charles dan Marta Adison.
Sementara itu di cafe yang ada di The Plaza Hotel, Matthew duduk di depan David dan Charles dan dia siap diinterogasi oleh mereka.
Tiga gelas minuman sudah terhidang di atas meja dan sebelum menginterogasi Matthew, David mengangkat gelasnya dan menyeruput isinya.
"Siapa namamu?" tanya David seraya meletakkan gelasnya.
"Matthew Smith."
"Di mana kau bertemu dengan cucuku?"
"Kami bertemu tanpa sengaja dan waktu itu tiba-tiba saja dia membantuku."
"Membantumu dari apa?" mata David menatap Matthew dengan tajam, sepertinya pemuda itu bukan orang biasa.
"Aku sedang diserang oleh sekelompok orang dan tiba-tiba Vivian datang membantuku," jawab Matthew. Dia tidak akan menyembunyikan apapun dari kakek Vivian.
"Oh, kenapa kau diserang? Apa kau menyinggung seseorang?"
"Aku menyinggung banyak orang dan aku juga punya banyak musuh."
"Benarkah? Jika begitu apa pekerjaanmu?"
"Aku bekerja di perusahaan ayahku, kakek."
"Jangan memanggilku kakek!" ucap David tidak terima.
"Kenapa? Aku serius menjalin hubungan dengan Vivian dan aku tidak bermain-main dengannya."
"Kau tahu bukan dia takut dengan laki-laki karena masa lalunya. Apa kau memanfaatkan Vivian karena kelemahannya?" tanya Charles.
"Tidak, aku tidak memanfaatkannya sama sekali dan aku tahu kelemahannya."
"Apa kau tahu jika dia sedang menunggu seseorang selama lima tahun?" tanya David pula.
"Aku tahu kakek dan percayalah, Vivian sudah melupakannya. Aku tidak bermain-main dengannya dan aku tidak akan meninggalkannya seperti yang pria itu lakukan," jawab Matthew tanpa ragu.
David dan Charles saling pandang, memang tidak ada sedikitpun keraguan dari ucapan Matthew dan bisa mereka lihat pria itu benar-benar serius dengan Vivian.
"Kau tahu? Aku ingin menjodohkan Vivian dengan cucu sahabatku yang seorang tentara jadi katakan padaku, selain mengelola perusahaan ayahmu, apa lagi yang kau lakukan? Tadi kau bilang kau menyinggung banyak orang dan punya banyak musuh, apa kau punya profesi lain? Harus kau tahu, aku tidak suka penjahat!" ucap David.
Matthew tersenyum, ini dia. Jika kakek Vivian tidak bisa menerimanya, apa dia bisa menerima Maxton nanti? Dia belum tahu saja jika Jager Maxton adalah pemimpin organisasi Black King, sepertinya dia harus mengingatkan Vivian untuk menyiapkan obat jantung untuk kakeknya.
"Kakek, seperti yang kau tahu aku memang punya profesi lain. Aku tidak saja bekerja di perusahaan ayahku tapi aku dan adikku pembuat senjata dan kami menjualnya ke beberapa orang yang ada diberbagai negara. Aku juga terlahir dari keluarga mafia dan dari dulu sampai sekarang, keluargaku adalah mafia," ucap Matthew tanpa ragu.
"Apa kau bilang?" David dan Charles bangkit berdiri dan menatap Matthew dengan tajam.
"Sebaiknya jangan membuat lelucon denganku anak muda. Seharusnya Vivian sudah mengatakan padamu jika aku tidak setuju dia berhubungan dengan orang yang menggeluti dunia hitam dan anak nakal itu, tidak mendengarkan nasehatku!" ucap David dengan kemarahan di hati.
"Memangnya kenapa kakek? Aku tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Matthew.
"Apapun alasannya aku tidak menyetujui hubungan kalian dan sebaiknya jauhi cucuku! Kau pasti telah mempengaruhinya dan menipunya jadi sebaiknya jangan mencarinya lagi," ucap David.
Dia tidak akan menyerahkan Vivian pada sembarangan orang apa lagi dengan seorang mafia.
"Ayo Charles, kita sudah selesai," ajak David.
"Atas dasar apa kakek melarang hubungan kami?" Matthew bangkit berdiri, dia tidak akan menyerah begitu saja.
"Karena kau mafia dan aku tidak setuju dengan hubungan kalian!" jawab David.
"Hanya karena aku mafia jadi kau melarang hubungan kami? Aku mengatakan hal ini karena aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari kalian, memang ini profesi ku dan keluargaku sejak dulu lalu apa permasalahannya? Vivian dapat menerimanya dan walaupun aku mafia kau boleh bertanya pada Vivian, apa aku pernah menyakitinya? Apa aku pernah memaksanya melakukan sesuatu yang tidak dia suka? Jika aku pernah melakukannya maka kau boleh melarang hubungan kami berdua," ucap Matthew tanpa keraguan sedikitpun.
David diam saja sedangkan Charles berusaha menenangkan ayahnya, dia tahu ayahnya pasti tidak setuju tapi pemuda itu terlihat serius.
"Aku tanya padamu kakek, kenapa kau tidak setuju hanya karena aku seorang mafia? Kau boleh bertanya pada Vivian apa yang dia rasakan dan apa saja yang telah dia lalui selama menjalin hubungan denganku dan aku ingin kau menjawab satu hal, yang menjalin hubungan denganku, kau atau Vivian?" tanya Matthew.
David menatap Matthew dengan tajam dan bertanya dalam hati, kenapa Vivian berhubungan dengan seorang mafia? Seharusnya Vivian tahu dia adalah penegak hukum dan seharunya dia tahu, hitam dan putih tidak bisa bersatu. Tapi apa benar demikian?