Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Dad, wake up, please!


Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi saat itu tapi Vivian tidak bisa tidur. Dia hanya membolak balikkan tubuhnya di atas ranjang dan tampak gelisah.


Dia sangat ingin tidur tapi benar-benar tidak bisa. Vivian kembali memutar tubuhnya dan rasanya ingin ke kamar mandi.


Dengan perlahan, Vivian turun dari atas ranjang. Dia tidak ingin pembangunan Matthew dan setelah itu, dia pergi ke kamar mandi.


Karena tidak bisa tidur, Vivian mendekati ayahnya dan duduk di samping ayahnya. Dia diam saja sambil memandangi ayahnya dan dengan perlahan, Vivian mengangkat tangan ayahnya dan mengusapnya. Entah sampai kapan ayahnya akan tetap seperti itu dia sendiri tidak tahu.


"Dad, kapan kau akan bangun? Apa Daddy akan terus tidur seperti ini? Apa Daddy tidak mau menghabiskan waktu bersama denganku? Daddy boleh membacakan dongeng untukku nanti, Daddy juga boleh menggendongku. Aku tidak keberatan yang penting Daddy senang. Sebelum aku menikah dengan Matthew, aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan Daddy dan Kak Damian. Coba Daddy bayangkan ...," Vivian menghentikan ucapannya dan tersenyum.


"Kita berada di padang yang luas. Aku, Kak Damian dan Daddy, kita sedang menikmati alam bersama berbaring di bawah pohon bertiga. Apa Daddy tidak mau melakukannya?"


Di alam bawah sadarnya, Jager dapat mendengar ucapan putrinya. Dia sangat ingin membuka matanya tapi dia tidak bisa. Kelopak matanya bagaikan ditempeli oleh perekat sehingga dia tidak bisa membuka matanya bahkan dia sangat ingin memanggil putrinya tapi mulutnya sulit terbuka.


"Aku memimpikan sesuatu sekarang, ketika aku sudah menikah dan Kak Damian juga sudah menikah, di mana kami sudah punya anak. Kita akan berkumpul dan melakukan hal menyenangkan. Saat malam natal tiba, Daddy jadi Santa Claus dan membagikan kado untuk cucu-cucu Daddy. Apa Daddy tidak mau melakukan hal menyenangkan itu?"


"Aku ingin melihat Daddy memakai baju berwarna merah dengan janggut putih panjang. Daddy juga harus membesarkan perut Daddy terlebih dahulu agar cucu-cucu Daddy tidak menyangka jika kakek mereka adalah Santa Claus yang kekurangan gizi."


Vivian mengusap tangan ayahnya kembali, dia ingin memberikan semangat untuk ayahnya agar ayahnya berjuang dan segera sadar. Ada yang bilang, pasien yang tidak sadarkan diri bisa mendengar ucapan orang yang ada di sekitarnya dan dia harap ayahnya mendengar perkataannya.


Dia akan mengucapkan hal-hal menyenangkan untuk memberi ayahnya semangat. Semoga dengan demikian ayahnya bisa segera sadar.


"Oh ya, apa Daddy tahu? Dulu aku memelihara seekor anjing kecil yang lucu dan anjing itu aku beri nama Duantee karena anjing itu di bawa oleh tetanggaku dari Perancis dan dia memberikannya padaku. Tapi sayang dia mati dan saat itu aku sangat sedih bahkan aku menangisi Duantee tiga hari lamanya. Bagaimana jika kita memelihara anjing Doberman nanti dan memberinya nama Duantee? Daddy mau bukan?"


Vivian berusaha tersenyum walaupun dia sangat sedih, tapi hanya itu saja yang bisa dia lakukan untuk memberi semangat untuk ayahnya. Pada saat itu, Matthew terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati Vivian di sampingnya.


Matthew segera turun dari atas ranjang dan mendapati Vivian sedang berada di samping ayahnya dan berbicara dengannya. Apa yang sedang di lakukan oleh Vivian? Apa ayahnya sudah sadar?"


"Babe, apa yang telah terjadi?" Matthew mendekati Vivian dan berdiri di sampingnya.


"Tidak ada apa-apa, Matth. Aku hanya tidak bisa tidur jadi aku ingin berbicara dengan ayahku."


"Ayahmu pasti baik-baik saja, Sayang."


"Aku tahu, aku hanya ingin berbincang dengannya."


"Baiklah, sudah berapa lama kau di sini?"


"Belum lama," jawab Vivian.


"Bagaimana jika kita tidur lagi?"


"Boleh," jawab Vivian seraya bangkit berdiri tapi setelah itu dia menunduk.


"Dad, wake up, Please. I love you," bisik Vivian seraya mencium dahi ayahnya dengan lembut.


Vivian memandangi wajah ayahnya sejenak dan setelah itu dia mendekati Matthew.


"Gendong," pintanya.


"Wow, ada apa ini?"


"Biar ayahku iri sehingga dia segera bangun," jawab Vivian.


Matthew terkekeh dan segera menggendong Vivian, "Jangan sampai ayahmu menendangku karena iri," ucapnya.


"Dia pasti akan melakukannya dan aku akan membantu."


"Jadi kau ingin bersekutu dengan ayahmu?"


"Uhm," jawab Vivian sambil mengangguk.


Matthew menurunkan Vivian ke atas ranjang dan setelah itu, mereka membaringkan diri di atas ranjang bersama.


"Jadi? Apa yang kau bicarakan dengan ayahmu?" tanya Matthew seraya mencium dahi Vivian.


"Bukan hal penting, aku hanya membicarakan hal-hal menyenangkan yang bisa kami lakukan nanti. Aku ingin memberikan semangat untuk ayahku agar dia berjuang dan segera sadar. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk ayahku, sekarang semuanya tergantung dari tekad dan kemauannya sendiri."


"Kau benar, Matth. Aku akan terus melakukannya tapi aku harap dia segera sadar," jawab Vivian.


"Aku juga, jika dia terus tidur bagaimana kita bisa menikah? Aku sudah sangat ingin menjadikanmu milikku dan aku sudah tidak sabar."


Vivian tersenyum dan memeluk Matthew dengan erat, sekarang sudah tidak ada lagi yang akan menghalangi mereka untuk bahagia bukan? Setelah ayahnya sadar dan sehat, maka mereka akan mempersiapkan pernikahan mereka.


"Sekarang tidurlah, Babe. Jangan sampai kau sakit," ucap Matthew.


"Uhm, good night," Vivian mencium Matthew dengan mesra dan setelah itu dia memejamkan matanya.


Ketika mereka hendak tidur, mereka tidak menyadari jika Jager Maxton sedang berjuang, berjuang untuk membuka matanya dan mencoba memanggil putrinya.


Ketika mendengar putrinya mengucapkan kata 'I love you' Jager benar-benar senang dan tekadnya untuk segera sadar semakin kuat apalagi setiap ucapan yang diucapkan oleh putrinya dapat dia dengar dengan jelas. Dia sangat ingin melakukan apa yang diucapkan oleh putrinya dan tentunya, dia sangat ingin menjadi seorang kakek dan melihat cucu-cucunya.


Jager terus berusaha dan saat itu, dia mendengar suara istrinya berkata, "Kau pasti bisa, Jager. Kau pasti bisa dan wujudkan keinginan putri kita. Ajaklah Fiona dan Damian ke tempat itu dan aku menunggu kalian."


Ini semangat lain untuknya dan di tengah-tengah suasana yang sunyi di mana hanya terdengar suara monitor saja, Jager tersadar dan berusaha memanggil nama putrinya.


"Fi-Fiona."


Suaranya terdengar lemah sehingga tidak ada yang mendengar apalagi Damian tertidur dengan pulas karena dia sangat butuh istirahat, sedangkan Vivian sudah hampir terlelap bersama dengan Matthew.


"Fi-Fiona ... Damian," panggil Jager Maxton lagi.


Vivian membuka matanya karena dia merasa ada yang memanggil, dia segera duduk di atas ranjang sedangkan Matthew sangat heran melihatnya.


"Ada apa?" tanya Matthew.


"Stts," Vivian meletakkan jari ke bibirnya.


Suasana hening tapi Vivian memasang kupingnya baik-baik karena dia merasa ada yang memanggilnya tadi.


"Fiona ... Damian."


Ketika mendengar suara ayahnya, Vivian segera melompat turun dari atas ranjang dan berlari mendekati ayahnya, sedangkan Matthew mengikutinya.


"Daddy," panggil Vivian sedikit berteriak.


Damian terbangun karena teriakan adiknya dan segera berlari mendekati ayahnya.


"Daddy," Vivian menangis saat melihat ayahnya sudah sadar.


Vivian memeluk ayahnya dan menangis bahagia, ini benar-benar keajaiban.


"Dad," Damian mendekati ayahnya dan tanpa dia inginkan, air matanya juga mengalir karena dia benar-benar bahagia melihat keadaan ayahnya.


Jager mengangkat tangannya dan mengusap kepala putrinya, "Jangan menangis, Fiona," ucapnya dengan lemah.


"Aku sangat senang Daddy sudah sadar," jawab Vivian.


"Ini karena permintaan putri Daddy," jawab Jager.


Vivian tersenyum dan mengusap air matanya, "Aku benar-benar bahagia, Dad."


"Daddy juga, Fiona. Daddy ingin mengajak kalian pergi piknik dan memelihara seekor anjing, apa kalian mau?" tanya Jager Maxton.


Vivian sedikit kaget tapi kemudian dia tersenyum, ternyata ayahnya mendengar semua ucapannya.


"Tentu, kita akan piknik bersama dan memelihara seekor anjing," jawab Vivian.


Saat itu seorang dokter dan perawat masuk ke dalam bersama dengan Matthew dan mendekati mereka.


Damian dan Vivian segera menyingkir dan membiarkan dokter memeriksa keadaan ayah mereka, sedangkan Matthew mendekati Vivian dan merangkul bahu Vivian bahkan mengusapnya.


Jager memandangi putri dan putranya dan dia sangat bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk bersama dengan mereka lagi.