Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Jurus high heel


Sekitar sepuluh orang yang menodongkan senjata api ke arah Matthew dan Vivian juga Ana. Di dalam ruangan, Carlk benar-benar marah pada mata-matanya karena Vivian mengikutinya.


"kenapa dia mengikutimu?!" Carlk mencengkram kerah baju mata-matanya dan menatap pria itu dengan tajam.


"Aku tidak tahu Mr M, mungkin dia sudah curiga."


"Bodoh!" Carlk mendorong tubuh pria itu dengan sekuat tenaga. Apapun yang terjadi dia harus pergi dari sana.


Di luar, keadaan masih hening dan Ana tampak tidak mengerti dengan situasi yang mereka hadapi.


"Angel, ada apa ini?" tanya Ana dengan kedua tangan terangkat ke atas.


"Oh Ana kau menggagalkan rencanaku!"


"Hei, ada apa?"


"Rick penghianat kau tahu? Dia mata-mata buronan!"


"Apa? Kenapa kau tidak memberi tahu kami?"


"Aku melakukan hal ini supaya Rick tidak curiga. Jika kalian tahu maka sikap kalian akan berubah dan dia akan curiga!"


"Oh my God, sory Angel," ucap Ana.


Di dalam ruangan, Carlk dan Rick dapat mendenggar pembicaraan Vivian. Carlk benar-benar marah dan segera menghampiri Rick.


"Dengar itu? Dia sudah curiga dan ini jebakan untuk kita!"


"Aku juga mana tahu mr M!" jawab Rick.


Memang dialah mata-mata yang mengawasi gerak gerik Vivian dan menjual informasi kepada Carlk selama ini. Tadinya dia tidak mengenal Carlk tapi ketika Vivian datang, seseorang dari Inggris menghubunginya dan memintanya menjadi mata-mata Carlk dan tentunya untuk menggagalkan setiap misi Vivian agar seputasinya hancur.


Uang yang di tawarkan setiap kali dia memberi informasi sangat menggiurkan dan dia tidak bisa menolaknya. Apalagi dia hanya jadi mata-mata, menjual informasi dan setelah itu dapat uang.


Siapa yang tidak mau saat ditawari uang yang begitu banyak? Siapapun yang menghubunginya waktu itu dan memintanya jadi mata-mata dia tidak perduli karena dia tahu, sepertinya orang itu benci dengan Angel karena mereka sesama agen.


Carlk meraih ponselnya dan memberi perintah kepada anak buahnya yang ada di luar sana, "Bunuh mereka kecuali gadis itu. Cukup tembak tangan atau kakinya saja!" perintahnya.


"Baik bos," jawab anak buahnya.


Merasa itu bukan hal baik, Vivian dan Matthew menempelkan punggung mereka berdua. Tangan Vivian sudah meraba pistol yang ada dibalik rok mininya karena dia akan menarik benda itu tapi dia ingin tahu apa yang akan Matthew lakukan.


"Bagaimana ini Matth?" bisiknya dengan perlahan.


"kau bawa pistol babe?"


"Yes."


"Aku akan mengalihkan perhatian mereka dan kau harus segera menembak!"


Vivian mengangguk, entah apa yang akan dilakukan oleh Matthew tapi dia sangat mempercayainya.


"Lihatlah jurus high heel ini babe," ucap Matthew dan setelah berkata demikian Matthew melemparkan high heel dari kaki kanannya hingga benda itu melambung ke atas dan mata anak buah Carlk jadi fokus ke arah high heelnya dan setelah itu Matthew mengambil high heel yang ada di kaki kiri dan melemparkan benda itu ke arah salah satu anak buah carlk dan benda itu mendarat di dahi orang yang dia lempar.


"Sekarang!" ucapnya dan Vivian segera menarik dua pistol yang dia sembunyikan dibalik rok mininya.


"Dor..dor..dor!" suara tembakan terdengar dan pengunjung Bar kaget bukan kepalang.


Matthew mengambil dua senjata apinya dan menembak musuh yang ada begitu juga dengan Ana, dia juga mengambil pistolnya. Untung saja benda itu selalu dia bawa.


Carlk menambah anak buahnya untuk melawan Vivian dengan agen lainnya sedangkan di dalam ruangan, Rick benar-benar ketakutan karena dia sudah ketahuan. Sepertinya setelah ini dia harus mendekam di dalam penjara.


Carlk benar-benar marah dan dia segera menarik pistolnya, dia akan melumpuhkan Rick karena dia masih berguna.


Selagi melawan para anak buah Carlk, terdengar dua letusan senjata api dari dalam ruangan. Vivian benar-benar kesal dan terus menembaki anak buah Cark yang terus datang. Semoga buronannya tidak melarikan diri.


Ketika melihat kedua rekannya sedang melawan segerombolan orang, patrik dan Jerry segera menghampiri Ana yang sedang bersembunyi dibalik sebuah dinding.


"Ana ada apa?" tanya Patrik.


"Angel bilang Rick seorang penghianat dan dia mata-mata buronan!"


"Apa?" Patrik dan Jerry sangat kaget mendengarnya.


Di dalam ruangan, Carlk sedang memasang bom yang sudah dia siapkan. Dia akan menghancurkan tempat itu dan sebuah senjata berdaya ledak tinggi juga sudah dia siapkan untuk menghabisi para polisi yang telah mengepung tempat itu.


Di sisi tembok lain, Vivian dan Matthew masih bersembunyi untuk mencari kesempatan. Matthew membuka tasnya untuk mengambil sepatu dari dalam dan memakainya.


Untungnya high heel terkutuk yang dia pakai sudah dia lemparkan ke arah musuh.


"Berapa orang lagi babe?" tanya Matthew.


Vivian mengintip sejenak, "Makin banyak!" jawabnya.


"Baiklah, aku alihkan perhatian mereka dan kau pergi keruangan itu. Jangan sampai si penghianat dan buronanmu kabur."


"Oke," jawab Vivian sambil mengangkat senjatanya.


Vivian siap untuk keluar tapi sebelum itu Matthew meraih pinggangnya dan mengusap wajahnya.


"Berhati-hatilah babe," bisiknya.


"Pasti Matth," jawab Vivian dan pada saat itu, Matthew mencium bibir Vivian dan mel*matnya dengan lembut.


Para rekannya sangat kaget saat melihat hal itu, tadinya mereka ingin menghampiri Vivian untuk menyusun rencana tapi ternyata mereka harus menyaksikan adegan Tomat dan seketika Patrik langsung patah hati. Ternyata pamor laki-laki kalah dari perempuan. Sepertinya sebentar lagi peradaban manusia akan punah karena si ular berbisa akan kehilangan sarangnya.


Mereka bahkan berdiri mematung tidak berani menggangu adegan ciuman sesama wanita yang tampak menggairahkan. Hng, sepertinya setelah ini mereka harus cari pacar, yang normal pastinya.


Matthew melepaskan bibir Vivian setelah merasa cukup, dia kembali berbisik sambil mencium pipi Vivian, "Berhati-hatilah."


"Pasti," jawab Vivian.


Mereka kembali tampak serius dan mengangkat senjata mereka, Matthew mengintip dari balik tembok dan melihat segerombolan orang yang mencari keberadaan mereka.


Pada saat itu ketiga agen menghampiri Vivian dan Vivian mengajak Patrik untuk mengikutinya sedangkan Ana dan Jery dia perintahkan untuk berpencar dan membantu Matthew.


Setelah sepakat, Vivian dan Patrik melangkah pergi dengan menendap-endap sedangkan Matthew keluar dari persembunyiannya dan bersiul untuk menarik perhatian orang-orang yang ada di luar sana.


Anak buah Carlk langsung melihat ke arah Matthew dan siap menembak tapi Matthew lebih dulu menembaki mereka, mereka mulai mencari tempat bersembunyi tapi sayang, Ana dan Jerry juga menembaki mereka dari arah yang berlawanan.


Matthew terus melangkah maju dan terus menembaki anak buah Carlk yang terkepung sedangkan Vivian dan Patrik berjalan menuju ruangan dimana Carlk berada sambil menembaki anak buahnya yang berjaga di depan pintu.


Suara tembakan terus terdengar dan adu tembak terus terjadi, setelah para polisi mengamankan warga sipil, mereka segera menyergap masuk ke dalam dan membantu para agen.


Patrik dan Vivian sudah tiba diruangan dan mereka berdiri di depan pintu. Mereka saling pandang dan mengangguk karena mereka siap untuk masuk. Senjata sudah diangkat dan dalam hitungan ketiga mereka segera mendobrak masuk ke dalam dan tentunya mereka mendapat kejutan yang tidak terduga.