
(SKIP JIKA NGAK KUAT DAN TOLONG JANGAN LAPORKAN NOVEL SAYA JIKA TIDAK SUKA ATAU ADA YANG MEMBENCI SAYA)
Gary berteriak dan memberontak ketika anak buah Matthew memegangi kedua tangan dan kakinya. Empat orang mengangkat tubuh Gary, sedangkan empat orang lainnya sudah berada di setiap sisi meja dengan rantai di tangan mereka.
Gary berusaha memberontak agar dia lepas tapi semua itu sia-sia. Bruke masih berdiri di samping Thomas dan dia bagaikan seorang psikopat dengan pisau kecil dan tangan yang berlumuran darah.
"Matthew, berikan aku kesempatan dan pertemukan aku dengan Vivian!" teriak Gary.
Nyalinya benar-benar menciut apalagi dia sudah melihat bagaimana wajah Thomas dikuliti oleh Bruke.
"Tidak ada kesempatan kedua untukmu, Gary. Banyak nyawa tidak bersalah melayang akibat perbuatanmu dan sekarang, kau harus membayar nyawa mereka dan kau akan mendapat siksaan yang lebih kejam daripada yang Thomas dapatkan!"
"Tidak! lepaskan aku!" teriak Gary karena anak buah Matthew sudah mengangkat tubuhnya ke atas meja.
Seperti Thomas, Gary juga dirantai di atas meja. Dia terus memberontak dan berteriak bahkan dia terus memaki tapi sayang, dia tidak bisa apa-apa.
"Kuliti dia pelan-pelan dan ingat, sebelum pisau menyentuh dagingnya kau harus mencelupkannya ke dalam alkohol terlebih dahulu dan setelah selesai tuangkan alkohol itu ke wajahnya agar daging wajahnya tidak cepat rusak dan membusuk!" perintah Matthew.
Bruke mengangguk dan berjalan mendekati Gary dengan tangan yang belumuran darah.
"Kau gila, Matthew Smith. Kau gila!" teriak Gary.
"Kau yang lebih gila, Gary! Meledakkan banyak tempat dan membunuh banyak orang dan apa kau masih ingat dengan pria yang kau kuliti wajahnya?" Matthew bangkit berdiri dan berjalan mendekati Gary.
"Ingatlah bagaimana kau mengambil wajahnya, Gary. Sekarang kau akan merasakan apa yang telah kau lakukan padanya dan kau berada diposisinya sekarang. So, enjoy your time, Gary!"
Setelah berkata demikian, Matthew berjalan pergi dan duduk kembali ke kursinya. Hari ini dia hanya akan menjadi penonton dan melihat persahabtan Bruke dan Gary yang hancur.
"Lakukan, Bruke. Jangan mengecewakan aku karena bisa saja kau yang berada di atas meja itu nanti!" ucap Matthew.
Bruke mengangguk dan segera mendekati Gary. Tentu dia tidak mau dan dia bersyukur telah membuat keputusan yang tepat.
"Bruke, dasar kau penghianat!" teriak Gary ketika Bruke mendekatinya.
Bruke diam saja, sedangkan Gary terus memaki dan mengeluarkan umpatan-umpatan kasar dan kotor dari mulutnya.
Do it!" perintah Matthew.
"Bruke, sialan kau!" teriak Gary saat Bruke mulai menyayat kulit wajahnya.
Umpatan dan teriakan terdengar dari mulut Gary saat Bruke terus menggores wajahnya, dia terus memberontak tapi dia terikat dengan kuat. Teriakannya semakin nyaring karena rasa sakit bercampur perih akibat alkohol yang ada di pisau menyentuh luka yang dibuat oleh Bruke.
Sesuai perintah, setiap kali pisau hendak menggores wajah Gary, Bruke mencelupkan pisau ke dalam alkohol yang sudah diletakkan oleh anak buah Matthew di dekat Gary.
Arrrrrgghhhhhhhh ...!
Teriakan Gary memenuhi ruangan ketika Bruke mulai menarik kulit wajahnya dan menyayat daging wajahnya sedikit demi sedikit seperti tukang daging yang sedang mengiris daging tipis-tipis. Rasa sakit dan perih akibat alkohol menjadi satu dan teriakan Gary semakin nyaring terdengar.
Lagi-lagi kengerian terjadi di tempat itu dan selama puluhan tahun, tempat itu menjadi saksi bisu dan menyaksikan setiap siksaan yang didapat oleh orang yang sudah tertangkap.
Jika dinding ruangan bisa berbicara mungkin mereka akan bercerita pada serangga malam atau binatang kecil yang hinggap di dinding. Mungkin mereka akan menceritakan bagaimana siksaan yang didapat oleh setiap orang yang ditangkap dan ditawan di sana. Dinding ruangan dan alat penyiksaan kembali menjadi saksi bisu karena hari ini, lagi-lagi terjadi penyiksaan dan itu adalah siksaan paling kejam yang belum pernah terjadi di tempat itu sebelumnya.
Teriakan Gary semakin nyaring karena Bruke terus menarik kulit wajahnya, dia bahkan melakukannya dengan hati-hati saat menarik kulit bagian hidung dan mulut Gary. Jangan sampai kulit itu robek karena setelah ini dia harus menukar wajah Gary dan Thomas.
Gary tampak tidak berdaya ketika kulit wajahnya sudah hilang, sesuai dengan perintah, Bruke menuang alkohol ke atas wajah Gary dan lagi-lagi Gary berteriak dengan kencang akibat rasa perih yang dia rasakan. Tubuh Gary menggelepar di atas meja bahkan wajahnya tampak mengeluarkan asap karena efek alkohol.
Matthew sangat puas melihatnya, Gary memang pantas mendapatkannya. Bruke membawa kulit wajah Gary mendekati Thomas dan mulai menjahit kulit wajah Gary ke wajah Thomas. Thomas yang sudah tidak berdaya, berteriak kembali akibat jarum yang menusuki dagingnya.
Dia melakukannya dengan hati-hati supaya kulit wajah Gary pas di wajah Thomas dan setelah selesai dengan Thomas, Bruke melakukan hal yang sama pada Gary dan Gary juga berteriak kesakitan ketika jarum menusuk wasuk ke dalam dagingnya.
Bruke tampak terengah-engah dengan tangan yang bergetar dan berlumuran darah. Dia langsung terduduk di atas lantai karena kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Ini baru siksaan pertama, lalu bagaimana dengan siksaan selanjutnya? Apa dia bisa seberuntung hari ini?
Matthew bangkit berdiri dan berjalan mendekati Gary. Dia tampak puas melihat wajah Thomas yang sudah menempel sempurna di wajah Gary.
"Bagaimana rasanya Gary, wajahmu digunakan oleh orang lain?"
"Ka-kau psikopat!" ucap Gary dengan pelan dan lemah.
"Kau masih bisa berbicara rupanya? Bagus, sangat bagus!"
"Bunuh aku, Matthew!" pinta Gary.
"Ck ... Ck ... kau pasti akan mati, Gary. Tapi kau tidak akan mati dengan mudah. Sebaiknya kalian persiapkan diri kalian untuk besok karena aku akan kembali dan bermain teka teki dengan kalian! Ingat peraturan yang aku berikan dan jika ingin terbebas dari hukuman kalian harus bisa menjawab teka teki dariku!"
Bruke menelan ludahnya ketika mendengar ucapan Matthew. Sepertinya besok keberuntungan tidak akan menghampirinya dan entah siksaan apa yang menunggu mereka besok. Lebih baik dia mati dari pada harus mendapatkan siksaan yang mengerikan.
Bruke melihat pisau besar yang ada di atas meja dan tidak jauh darinya, ini adalah kesempatannya karena Matthew sedang berjalan ke arah Thomas. Bruke bangkit berdiri dengan perlahan dan setelah itu dia berlari menuju pisau dan meraihnya dengan cepat.
Pisau sudah berada di tangan. Bruke ingin memotong lehernya sendiri tapi sayang, rantai yang mengikat tangannya ditarik oleh anak buah Matthew dan dia gagal. Bruke mengumpat kesal, tangan yang memegang pisau masih ditarik dan sepertinya dia tidak akan bisa bunuh diri.
"Le ... paskan!" teriak Bruke dan dia menarik rantai yang membelenggu tangannya dengan sekuat tenaga hingga anak buah Matthew terjatuh. Pegangan anak buah Matthew pada rantai terlepas dan ini kesempatan bagus bagi Bruke.
"Mati kau!" teriaknya sambil berlari ke arah Matthew. Sekarang dia akan membunuh pria itu sebelum dia bunuh diri.
Anak buah Matthew mulai mengeluarkan pistol dan beberapa orang berusaha mendapatkan rantai yang membelenggu tangan Bruke.
Matthew melihat Bruke yang semakin dekat dengan santai dan ketika Bruke tidak jauh lagi dan hendak menghunjamkan pisau yang dia ambil ke arahnya, rantai ditarik oleh anak buahnya sehingga tubuh Bruke terjungkal ke belakang dan anak buahnya langsung menangkap Bruke dan mengambil pisau di tangannya.
"Sudah bosan hidup, heh?" Matthew memandangi Bruke dengan tatapan tajamnya.
"Bunuh aku, sekarang!" teriak Bruke.
"Siapkan bara dan biarkan dia berdiri di atasnya!" perintah Matthew.
"Tidak, bunuh aku!" teriak Bruke.
"Sayang sekali. Jika kau patuh mungkin kau tidak akan aku siksa tapi lihatlah, kau terlalu bodoh!"
Bruke ditarik pergi, sedangkan anak buah Matthew sudah menyiapkan bara. Matthew melihat Thomas dan Gary yang sudah tidak berdaya dan sepertinya permainan harus tertunda.
Dia segera mengajak James pergi, sedangkan Bruke berteriak saat dia harus berdiri di atas bara. Seharusnya dia bunuh diri saja tapi entah kenapa, tiba-tiba dia sangat ingin membunuh Matthew tadi. Mungkin ada setan yang merasukinya, dia sendiri tidak tahu kenapa dia begitu bodoh menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada.
#ADEGAN TIDAK UNTUK DITIRU#