
Setelah membicarakan masalah pernikahannya dengan keluarganya, Matthew segera pergi ke kantor dengan Michael. Dia akan mengabari Vivian akan hal ini jadi selama diperjalanan Matthew menulis pesan untuk Vivian.
Dia tahu Vivian pasti sedang sibuk dan dia tidak ingin menggangunya dan memang saat itu Vivian sedang menghadari rapat karena kapten Willys akan membahas kasus Mosha dengan para agen lebih lanjut.
Setiap kali Mosha diintrogasi, dia selalu menjawab seolah-olah jika dia memang buronan yang sedang di cari-cari. Hal itu semakin memperkuat dugaan jika memang dialah buronan berinisial M.
Walau semua agen tampak senang karena sepertinya kasus mengenai buronan berinisial 'M' akan segera selesai tapi tidak dengan Vivian. Dia tidak percaya karena dia lebih mencurigai Gary.
Sekarang tinggal membuka kedok si penghianat di antara kedua rekannya tapi bagaimana caranya? Jika Mosha sudah terbukti sebagai 'M' maka kapten Ston akan menarik mereka kembali dan dia tidak bisa menjadi agen lagi karena dia sudah berjanji akan menikah dengan Matthew setelah misinya selesai.
Walaupun Gary tidak dicurigai lagi tapi dia percaya jika Matthew bisa mengatasinya tapi yang harus dia pikirkan sekarang adalah, bagaimana membongkar kedok si penghianat.
Selama rapat, Vivian tidak begitu fokus karena dia sedang memikirkan sebuah cara. Bagaimanapun dia harus bisa menyingkirkan penghianat dari organisasi.
Matanya tidak lepas dari Charlie dan Felicia dan ketika salah satu dari mereka menyilangkan kaki mereka ke atas kaki yang lainnya pada saat itu juga Vivian mengingat sesuatu. Lebih baik dia mencari tahu akan hal ini dan pura-pura membahasnya dengan kedua rekannya.
Rapat berlangsung selama dua jam dan setelah selesai mereka dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan. Para agen kembali ke meja mereka masing-masing dan Vivian baru membaca pesan yang dikirimkan oleh Matthew.
"Babe, aku sudah membicarakan masalah pernikahan kita dengan keluargaku jadi kau juga harus membicarakan masalah ini dengan keluargamu agar mereka bisa bertemu secepatnya."
Vivian tersenyum dan segera menulis sebuah pesan untuk membalas pesan Matthew.
"Nanti malam aku akan menemui orangtuaku untuk membahas hal ini dan mungkin aku tidak akan pulang selama dua hari karena setelah itu aku akan pulang ke rumah ayahku untuk membahas hal ini dengannya," ini pesan dari Vivian.
Matthew segera menyambar ponselnya ketika benda itu berbunyi, dia tersenyum ketika melihat sebuah pesan dari Vivian.
"Kenapa tidak kau hubungi saja ayahmu atau kau ajak dia bertemu?" tanya Matthew.
"Tidak bisa Matth, aku tidak ingin ayahku pergi ke mana-mana karena aku takut ada yang mengincarnya lagi begitu juga dengan keluargaku. Aku ingin membicarakan hal ini dengan mereka sambil bertatap muka karena ini hal yang serius."
"Baiklah, aku akan mendengarkanmu Babe," jawab Matthew melalui pesannya.
Vivian tersenyum dan pada saat itu, Charlie dan Felicia menghampiri Vivian dan menepuk bahunya.
"Kau seperti orang yang sedang kasmaran?" tanya Felicia.
"Oh, ini memang dari pacarku," jawab Vivian tanpa ragu.
"Apa? Kau sudah punya pacar?" kedua rekannya tampak tidak percaya saat mendengarnya.
"Ya dan kami akan segera menikah," ucap Vivian lagi dan dia memang sengaja mengatakan hal seperti itu.
Jika salah satu rekannya adalah mata-mata Gary maka kabar ini akan sampai pada Gary dan dia ingin lihat, apa yang akan dilakukan oleh Gary? Dia harap Gary keluar dari persembunyiannya dan dia mengatakan hal ini juga untuk menarik mangsanya.
"Oh my God, aku tidak percaya ini," ucap Felicia.
"Aku juga," ucap Charlie juga.
"Hey, bagaimana jika kita membicarakan hal ini sambil makan siang?" ajak Felicia.
"Boleh saja," jawab Vivian sambil tersenyum.
Mereka sepakat untuk makan siang di restoran fast food siang nanti. Tentunya restoran itu tidak jauh dari kantor agar mereka mudah kembali ketika jam makan siang sudah habis.
"Jadi, kau sudah punya pacar?" tanya Felicia sambil mencomot kentang goreng yang ada di atas meja.
"Ya, apa aneh?" Vivian memperhatikan kedua rekannya dengan seksama.
"Tidak, ini berita bagus. Jadi kau akan menikah setelah tugas selesai?" tanya Charlie pula.
"Begitulah, aku akan mengundurkan diri dari agensi," jawab Vivian seraya menyeruput colanya.
"Wow, sayang sekali padahal kau agen yang paling diandalkan oleh kapten Ston. Dia bahkan akan mengirimmu ke Meksiko setelah misi ini selesai," ucap Felicia.
Vivian berusaha tersenyum tapi dia sedang membaca ekspresi kedua rekannya.
"Benar Angel, karirmu sedang bagus kenapa kau tinggalkan begitu saja? Sayang bukan?" tanya Charlie.
"Kalian benar, tapi sudah waktunya aku menikmati hidupku. Sudah bertemu dengan orang yang begitu mencintaiku lalu apa lagi yang harus aku tunggu?"
"Kau benar," jawab kedua rekannya.
"Memangnya kalian tidak mau menikah?" tanya Vivian kepada kedua sahabatnya.
"Aku tidak pernah mau berkomitmen dengan siapapun karena menjalin hubungan dengan pria sangat berat. Lebih baik aku mengejar karirku dan mewujudkan impianku," jawab Felicia.
"Felicia benar, jika kita sudah berkomitmen dengan seorang pria maka kita harus memberikan seluruh waktu kita untuknya dan jujur saja, aku tidak mau melahirkan bayi," ucap Charlie pula.
Senyum kembali menghiasi wajah Vivian, dua orang dengan komitmen yang sama dan sepertinya dia harus menanyakan pertanyaan lain pada kedua sahabatnya.
"Hei, apakah boleh aku tahu? Apa yang terjadi pada kalian sewaktu kita bertugas di The Ministry Of Sound? Kenapa kalian tidak lari keluar dan kenapa kakimu bisa tertimpa puing bangunan Felicia?"
Kedua rekannya saling pandang, apa yang ingin Vivian ketahui dan kenapa baru menanyakan hal ini sekarang? Kejadian itu sudah lama berlalu dan apa maksud Vivian menanyakan hal ini?
"Kenapa kalian diam? Aku hanya ingin tahu saja karena saat kalian masih dirawat di rumah sakit aku sudah datang ke sini dan aku tidak sempat menanyakan hal ini pada kalian," tanya Vivian tapi kedua matanya menatap kedua rekannya dengan penuh selidik. Dia harap dapat petunjuk atas kejadian ini tapi sayangnya saat itu ponsel Felicia berbunyi.
"Sorry, aku jawab dulu ya," pinta Felicia sedangkan kedua rekannya mengangguk.
Felicia berlalu pergi untuk menjawab telephone dari seseorang, sementara itu Vivian menunggu jawaban dari Charlie.
Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padahal dia sudah meminta mereka untuk lari. Menurut logika pintu ada di sebelah kanan dan jika mereka menuju pintu keluar maka seharusnya tubuh mereka terpental ke arah kanan saat terkena daya ledak bom tapi tubuh mereka justru terpental ke arah berlawanan saat dia menemukan kedua rekannya.
Jika saja dia tidak mencurigai salah satu dari mereka maka dia tidak akan mempermasalahkan hal ini dan mungkin saja dia bisa mendapat petunjuk setelah mendengar apa yang terjadi dari kedua rekannya.
"Aku tidak begitu ingat Angel, karena saat itu kami sudah berusaha berlari tapi sayangnya terlambat. Aku pingsan setelah terkena ledakkan dan begitu sadar aku melihat Felicia kesakitan karena kakinya tidak bisa dikeluarkan dari puing bangunan," Charlie memberi penjelasan karena dia tahu Vivian sudah menunggu.
"Aku sudah meminta kalian untuk lari dan seharusnya kalian berlari menuju pintu yang ada di dekat ruangan utama tapi kenapa ketika aku menemukan kalian, kalian berada di ruangan nomor lima? Apa kalian tidak lari menuju pintu?"
Charlie diam saja, mengingat kejadian waktu itu. Sebenarnya apa yang ingin diketahui oleh Vivian?
"Angel, sebenarnya ...." Charlie menunduk, sedangkan Vivian semakin penasaran.
Apa memang ada kejadian yang tidak dia ketahui saat ledakan terjadi?