Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Percayalah padaku


Matthew berdiri di depan jendela yang ada di kamarnya dan melihat hamparan laut yang terlihat jelas dari sana.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan Vivian masih tertidur dengan pulas. Matthew diam saja karena dia sedang memikirkan banyak hal.


Memikirkan wajah Vivian yang mirip dengan almarhum istri Maxton yang dia rasa bukan hanya kebetulan semata. Apakah dia harus menyelidiki siapa Vivian dan keluarganya? Tapi jika sampai Vivian tahu maka dipastikan Vivian akan marah dan dia tidak mau hal itu terjadi, jangan sampai Vivian pergi meninggalkannya hanya karena keingintahuannya saja.


Tidak saja itu yang ada dipikirannya, dia juga memikirkan Damian Maxton yang tiba-tiba muncul dan menjadi buronan Vivian, sepertinya semua permasalahan akan terjawab setelah dia pergi menemui Maxton.


Nanti siang dia akan menghubungi Maxton dan mengajaknya untuk bertemu kembali, dia harap Maxton punya waktu supaya permasalahan ini cepat selesai.


Matthew menghela nafas dan melihat langit yang begitu cerah, sepertinya malam ini sangat cocok untuk melihat bintang dan lebih baik dia menyiapkan semuanya untuk menyenangkan Vivian.


Dia akan menyiapkan sebuah kejutan manis dan tentunya menagih jawaban atas pertanyaan teka teki yang dia berikan waktu itu. Dia harap Vivian sudah siap dan tidak menolaknya.


Matthew segera memutar langkahnya dan menghampiri ranjang, sebuah senyuman menghiasi wajahnya saat melihat Vivian masih tidur sambil memeluk bantal. Dengan perlahan, Matthew naik ke atas ranjang dan mendekati Vivian.


"Babe," Matthew mengusap bahu Vivian dan menciumnya.


"Hm?" Vivian semakin memeluk bantal dengan erat karena dia masih mengantuk.


"Hei, ini sudah siang."


"Ngh, aku masih ngantuk," jawab vivian dengan malas.


Matthew terkekeh dan merebahkan diri di samping Vivian dan memeluknya, "Memangnya kau tidak mau pergi bekerja?"


"Jam berapa sekarang?" Vivian memutar tubuhnya dan masuk ke dalam pelukan Matthew.


"Jam delapan," jawab Matthew seraya mengusap wajah Vivian dan menciumnya.


"Masih pagi," jawab Vivian karena dia sudah mendapat ijin untuk masuk jam sepuluh.


"Babe, apa hari ini kau sibuk?"


"Sepertinya, ada apa?" Vivian membuka matanya dan mendapati Matthew sedang memandanginya dengan tatapan lembut.


"Malam ini, apa kau bisa pulang lebih cepat?"


"Kenapa? Apa kau mau memberiku kejutan?"


"Yes babe, jadi pulanglah lebih cepat karena ada hal menyenangkan yang ingin aku lakukan denganmu."


"Akan aku usahakan Matth, hari ini aku ada rapat penting untuk membahas kasus yang kita hadapi semalam. Kami akan memeriksa cctv yang diambil di Bar dan mencari tahu siapa orang yang kita kejar semalam. Sebelum kami membubarkan diri, Patrik bilang sebelum Rick mati meledak, dia menyebutkan nama orang yang membayarnya selama ini."


"Oh ya, siapa?" tanya Matthew sambil mengusap punggung Vivian. Apakah nama Damian Maxton yang mereka dapatkan?


"Entahlah, kami akan membahas hal ini saat rapat dan kami harap kami dapat petunjuk."


"Oke baiklah, dengar! Aku akan menghubungi Maxton nanti siang dan mengajaknya untuk bertemu karena kasus yang kau hadapi berhubungan dengannya."


"Benarkah?" Vivian memandangi Matthew dengan serius, bagaimana Matthew bisa tahu?


"Adikku bilang orang yang kita kejar semalam adalah Damian maxton, putra Jager Maxton."


"Apa? Yang benar?" Vivian bangun dari tidurnya dan duduk di atas ranjang.


"Jangan meremehkan informasi yang adikku dapat babe," Matthew juga bangun dari tidurnya dan duduk di samping Vivian.


"Babe," Matthew memeluk Vivian dari belakang dan mencium bahunya.


"Aku mengatakan ini agar kalian tidak gegabah mendatangi Maxton dan menangkapnya setelah kalian tahu siapa yang kalian kejar semalam."


"Kenapa Matth? Jika memang Damian Maxton adalah buronan yang aku cari selama ini tentu kami akan langsung menangkapnya apalagi bukti-bukti sudah sangat kuat yang menunjukkan jika dia memang orang yang kami cari."


"Bodoh! Dengarkan aku dan percayalah padaku. Semua ini tidak semudah yang kalian bayangkan. Aku curiga jika memang ada yang ingin menghancurkan reputasi Maxton dan menggiring opini kita untuk mencurigainya dan menangkapnya."


"Maksudmu? Ada orang yang ingin menghancurkan Maxton?"


"Percayalah babe, akhir-akhir ini ada orang yang ingin membunuhku dan menggunakan nama Maxton. Aku rasa semua ini bukan kebetulan dan bisa saja buronanmu adalah musuhku jadi sebaiknya jangan gegabah."


"Tapi jika buronan yang aku cari selama ini bukan Damian Maxton lalu kenapa semalam dia muncul sebagai buronan yang kami cari?"


"Babe, apa kau lupa? Kau pernah mengatakan padaku jika buronanmu selalu menggunakan wajah palsu saat beraksi, apa kau melupakan hal penting ini? Menurut adikku Damian ada di Jepang, lalu bagaimana mungkin tiba-tiba dia ada di Amerika dalam satu malam, bukankah ada yang aneh?"


Vivian diam saja, sepertinya apa yang dikatakan Matthew ada benarnya. Lagi pula dia belum memeriksa hal ini dan belum membahas kasus ini lebih jauh dengan agen lainnya.


"Jadi, menurutmu apa yang harus aku lakukan Matth? Jika kami sudah mendapat bukti dan sudah mengenali wajah orang yang kita kejar semalam, maka kapten Willys akan langsung mengeluarkan surat perintah untuk menangkapnya. Kami tidak bisa menunda begitu surat penangkapan dikeluarkan dan harus segera bertindak."


"Kau harus meyakinkan mereka babe agar tidak gegabah. Jika kalian tiba-tiba membawa pasukan dan menyergap rumah Jager Maxton untuk menangkap Damian tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu, aku berani bertaruh Jager Maxton akan semakin membenci kalian dan jangan sampai kalian semua dibunuh olehnya."


Matthew mengencangkan pelukannya dan mencium bahu Vivian kembali, "Percayalah padaku, aku sangat mengenal Maxton dan aku tidak mau kau dalam masalah. Semua ini akan jelas setelah kita bertemu dengannya dan aku akan mempertemukan kalian berdua."


"Baiklah," Vivian mengangkat tangannya dan mengusap kepala Matthew.


"Aku percaya padamu Matth dan aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan menyakinkan kapten Willys dan rekan-rekanku nanti untuk tidak gegabah, terima kasih atas masukkannya."


"Aku senang kau percaya padaku. Percayalah babe, kau tidak akan kecewa."


"Aku tahu," jawab Vivian sambil mencium pipi Matthew.


"Oh babe, bersiaplah nanti malam. Aku ingin menagih jawaban atas teka teki yang aku berikan."


"Kau terdengar tidak sabar," ucap Vivian sambil terkekeh.


"Aku memang sudah tidak sabar memilikimu dan menjadikan kau milikku babe."


"Aku memang sudah menjadi milikmu Matth."


"Aku tahu, tapi sekarang ayo kita mandi," ajak Matthew dan dia segera turun dari atas ranjang.


Vivian beringsut dan duduk di sisi ranjang sambil merapikan rambutnya yang berantakan tapi pada saat itu Matthew mendekatinya dan menggendongnya.


"Matth, aku bisa jalan sendiri!" protes Vivian.


"Tapi aku lebih suka menggendongmu babe."


"Oh ya? Mau sampai kapan kau menggendongku?" Vivian melingkarkan tangannya ke leher Matthew.


"Tentu saja sampai kita tua. Sudah aku katakan padamu bukan? Jika kau memilihku maka aku akan mencintaimu sampai mati jadi aku akan menggendongmu setiap hari sampai kita tua."


Vivian tersenyum penuh kebahagiaan dan mencium pipi Matthew, kedatangannya ke Amerika tidak saja untuk menangkap buronan tapi dia bisa mengenal Matthew yang begitu mencintainya.


Dalam mimpipun dia tidak pernah membayangkan hal ini dan dia seperti mendapatkan jackpot. Dia harap mereka akan seperti itu untuk selamanya.