
Setelah mendengar semua cerita dari ayahnya, Damian jadi mengerti kenapa ayahnya bersikeras mencari orang yang telah membunuh istri dan putrinya.
Memang dia tidak bisa merasakan bagaimana perasaan ayahnya waktu itu. Dipisahkan dari istri dan putri yang sangat dia cintai dan ketika bertemu lagi, mereka sudah tidak bisa bersama.
Sekarang dia harus mengambil keputusan mengenai informasi yang diberikan oleh Scott, apa mereka harus mempercayai informasi yang Scott berikan atau tidak?!
"Dad?"
"Ya?"
"Jadi selama ini siapa yang dicari oleh daddy?" tanya Damian.
"Aku mencari tentara yang membunuh istriku. Seharusnya kau tahu, lalu kenapa kau bertanya lagi?" Jager memandangi Damian dengan heran.
"Bukan begitu dad, aku rasa daddy salah selama ini jika mencari tentara yang telah membuat istri daddy meninggal."
"Kenapa? Di mana letak kesalahanku?" Jager terdengar tidak senang.
"Dad, mereka penegak hukum dan mereka juga tidak mungkin membunuh orang sembarangan. Istri daddy menjadi korban atas bentrokan diantara penjahat dan tentara bukan?"
Jager memandangi Damian dan mengangguk, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Damian?
"Kenapa daddy hanya mencari tentara itu saja dan kenapa daddy tidak mencari penjahatnya juga?"
Jager diam saja, memang selama ini yang dia cari hanya tentara yang telah membuat istrinya meninggal untuk balas dendam.
"Daddy hanya mencari tentaranya lalu bagaimana dengan penjahatnya? Jika ingin balas dendam, daddy harus mencari mereka semua bukan?"
"Daddy hanya mendengar jika istri dan putri daddy menjadi korban saat bentrokan penjahat dan tentara dan aku rasa istri daddy memang murni menjadi korban karena secara kebetulan ada di tempat kejadian."
"Daddy sudah membunuh Marck Wriston sumber dari segala permasalahan lalu untuk apa lagi daddy mencari tentara yang bertugas waktu itu untuk balas dendam?! Apa daddy melihat atau ada yang mengatakan kepada daddy jika tentara itu yang membunuh istri daddy?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu Damian? Aku hanya ingin membalas kematian putri dan istriku."
"Sudah daddy lakukan bukan? Dengan membunuh Marck Wriston sumber segala permasalahannya, bukankah daddy sudah balas dendam lalu untuk apa lagi daddy mencari tentara yang bertugas saat kejadian itu terjadi?" Damian mengulangi pertanyaannya lagi.
Jager mengusap wajahnya dengan kasar, memang dia sudah membunuh Marck tapi dia masih tidak terima kepergian istri dan putrinya begitu saja.
Dia ingin mencari tentara itu bukan untuk membalas kematian istri dan putrinya saja tapi dia juga ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi dua puluh lima tahun yang lalu?
"Dad, kau sudah membuang waktu selama puluhan tahun untuk mencari seorang penegak hukum yang tidak bersalah dan aku rasa dia tidak tahu jika istri dan putri daddy ada di tempat kejadian."
"Kenapa kau berkata begitu Damian?"
"Boleh aku tahu sesuatu dad?"
"Tentu!"
"Daddy bilang Marck Wriston mempunyai seorang putra bukan?"
"Ya, memang."
"Siapa namanya dad?" Damian bertanya demikian karena dia mulai mencurigai Scott setelah mendengar semuanya dari ayahnya.
"Gary Wriston."
"Apa daddy punya fotonya?"
"Tidak! Aku tidak tahu bagaimana rupanya karena terakhir kali aku melihatnya, dia masih kecil. Kenapa kau bertanya tentangnya?"
"Dad, apa kau tidak menaruh curiga akan hal ini?"
"Setelah puluhan tahun daddy mencari seorang tentara tapi tidak sedikitpun informasi yang daddy dapatkan tapi tiba-tiba saja, seorang pria asing ingin memberi daddy informasi mengenai hal ini. Apa daddy tidak menaruh curiga?"
"Lalu bagaimana menurutmu?"
"Terus terang dad, aku curiga dengan Scott. Dia tiba-tiba ingin memberi informasi mengenai tentara itu secara cuma-cuma dan menggunakan sahabat baik daddy. Sekarang aku ingin tahu, siapa sahabat baik daddy yang begitu mengenal istri daddy?"
"Tidak ada! Yang begitu mengenal Cristiana hanya aku dan Marck juga ibumu, selain itu tidak ada lagi."
"Daddy lihat? Kita harus mencurigai orang ini dan menurut pendapatku jangan-jangan dia adalah putra Marck Wriston."
"Untuk apa dia melakukan hal ini?"
"Tentu untuk membalas kematian ayahnya yang telah daddy bunuh. Apa daddy benar-benar tidak pernah memikirkan hal ini?"
Jager menggeleng, memang selama ini dia melupakan putra Marck Wriston karena dia hanya fokus mencari tentara yang telah membuat istri dan putrinya tiada.
"Lalu kenapa dia membawa nama David Adison?" tanya Jager.
"Entah apa tujuannya tapi aku rasa apa yang dia katakan memang ada benarnya jika David Adison adalah tentara yang sedang bertugas waktu itu."
"Jika begitu ayo kita pergi menemuinya sekarang juga!" Jager tampak sudah tidak sabar.
Jika benar apa yang Damian katakan, maka mereka harus menemui David Adison dan menanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi dua puluh lima tahun yang lalu.
"Jangan terburu-buru dad, bukankah malam ini daddy sedang menjamu Angel untuk makan malam?"
"Aku akan membatalkannya!" jawab Jager.
"Dad, dengarkan aku. Setelah tes DNA selesai dan setelah kita mengetahui hasilnya, jika memang bayi itu bukan putri daddy maka kita harus mencari tahu masalah ini lebih lanjut bukan? Dari pada daddy membuang waktu pergi ke Inggris untuk mencari David Adison lebih baik kita mencari tahu mengenai Angel, dia putri daddy atau bukan?"
"kita harus bergerak cepat dad sebelum ada yang memanfaatkan situasi ini. Daddy bilang Matthew Smith bisa membantu daddy bukan? Lebih baik kita mengumpulkan bukti dan setelah itu kita minta bantuannya. Aku harap daddy menerima saran dariku dan tidak bersikap terburu-buru tapi tiada hasil," pinta Damian.
Jager menghela nafas, sepertinya dia harus mengikuti saran Damian walau sebenarnya dalam hati, dia sudah sangat ingin pergi mencari David Adison.
"Percayalah padaku dad, sekarang sudah ada aku. Aku pasti akan membantu daddy dan daddy tidak akan sendirian lagi."
"Baiklah," Jager bangkit berdiri dan berjalan menuju foto istrinya.
"Aku akan mempercayaimu Damian."
"Arigatou otosan," jawab Damian.
Jager memandangi foto istrinya dan pada saat itu dia mengingat satu hal.
"Damian."
"Yes dad."
"kau sudah dewasa sekarang, apa kau tidak ingin mengetahui siapa ayah kandungmu? Jika kau ingin tahu maka aku akan mengatakan padamu siapa ayahmu dan kau bisa pergi mencarinya."
Damian segera bangkit berdiri dan menghampiri ayahnya, dia berdiri di samping ayahnya dan melihat foto istri ayahnya.
"Tidak dad, aku sudah punya kau sejak dulu. Kau bilang dia tidak menginginkan aku bukan? Jika saja tidak ada daddy mungkin mommy tidak akan melahirkan aku jadi aku tidak butuh ayah yang tidak menginginkan aku dengan mommy. Aku punya satu ayah saja dan itu adalah kau," ucap Damian tanpa ragu.
Sebuah senyuman menghiasi wajah Jager, memang tidak sia-sia dia mengadopsi Damian dan dia tidak menyesali hal itu.
"Sayuri sudah membesarkan putra yang hebat sepertimu dan aku bangga dengan kaian."
"Semua ini berkat daddy jadi sekarang daddy tidak perlu khawatir dan serahkan semuanya padaku. Daddy cukup nikmati hidup daddy dan jangan terlalu banyak berpikir agar keadaan daddy semakin membaik supaya daddy bisa hidup lebih lama."
"Baiklah, aku percaya padamu. Ayo kita lihat persiapan para pelayan, aku sudah tidak sabar bertemu dengan Angel lagi," ucap Jager sambil melangkah pergi.
Damian mengikuti ayahnya dengan senyum di wajahnya, dalam hati dia sangat berterima kasih pada Jager Maxton dan dia berjanji akan membantu ayahnya.