Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Trap


Ketika Matthew sedang sibuk melawan musuh-musuhnya, saat itu suasana yang dialami oleh Vivian tak kalah menegangkannya.


Vivian masih bersembunyi dibalik tembok dengan sepucuk senjata api di tangannya. Sepertinya memang ingin ada yang memancing agar orang yang membantunya menampakkan diri.


Dengan kejadian ini Vivian semakin yakin jika memang ada penghianat diorganisasi. Jika dia sudah tahu dan menangkap orangnya maka akan dia tendang bokong orang itu sampai puas barulah dijebloskan ke dalam penjara.


Tapi sekarang dia harus fokus untuk melawan, hanya satu orang saja bisa dia atasi dan dia harap Matthew tidak datang sehingga tujuan orang itu tidak tercapai.


Pria yang mengejarnya masih mencari keberadaan Vivian, saat Vivian berlari dia melihat Vivian sedang menghubungi seseorang dan bisa dia tebak, agen itu pasti menghubungi orang yang membantunya agar segera datang.


Ini kesempatan yang sangat bagus dan dia yakin orang itu akan datang. Setelah melihat orangnya maka misinya selesai tapi dia harus melawan Vivian dan melukai tangan atau kakinya agar orang yang menolong Vivian selama ini benar-benar datang.


Mereka juga sudah menyiapkan rencana cadangan jika sampai orang yang membantu Vivian tidak datang dan dia akan memancing Vivian untuk menuju perangkap yang telah mereka siapkan.


Dari balik tembok Vivian mengintip sedikit, siapapun orangnya sebaiknya segera dia bereskan. Langkah kaki semakin terdengar mendekat dan Vivian sudah siap dengan pistolnya.


Vivian menarik nafasnya dan menghitung dalam hati, setelah itu Vivian keluar dari persembunyiannya.


"Dor...dor..dor!" Vivian menembak orang itu tanpa ragu karena dalam arena perang, jika tidak mau mati maka harus menembak musuh tanpa perlu aba-aba.


Tiga peluru melesat dengan kecepatan tinggi dan pada saat menyadarinya, pria itu melompat dan bersalto kebelakang untuk menghindar peluru.


Pria itu tampak profesional karena dia bisa menghindari peluru yang ditembakkan oleh Vivian dalam jarak dekat.


Vivian kembali menembak dan orang itu juga melakukan hal yang sama, suara tembakan terdengar memecahkan heningnya malam dan selongsong peluru yang kosong berdenting di atas aspal karena Vivian dan pria yang entah siapa saling adu tembakan.


Mereka bersembunyi dan mengisi peluru pistol mereka yang sudah kosong dan setelah selesai, Vivian mengangkat senjatanya kembali.


Dia jadi curiga, jangan-jangan pria itu adalah si penghianat yang ada diagensi tapi dia harap tebakannya salah.


Dalam satu tarikan nafas, mereka Keluar dari persembunyian dan kembali menembak bagaikan Koboi yang menembaki musuh mereka.


Sambil menembak mereka terus menghindari peluru dan pada saat melihat ada celah, Vivian berlari ke atas tembok dan melompat sambil menembaki pria itu.


Beberapa peluru melesat dengan cepat dan pria itu berusaha menghindarinya tapi sayang, sebuah peluru mengenai tangan kirinya.


Pria itu mengumpat kesal, sepertinya dia harus menjalankan plan B. Sambil memegangi lengannya yang terluka, pria itu langsung melarikan diri dan Vivian mengejarnya karena dia akan menangkap pria itu untuk melihat wajahnya.


Dari adu tembak kini menjadi adu lari tapi sekarang posisi sudah berubah, semula Vivian yang dikejar tapi kali ini Vivian yang mengejar.


Mereka berlari dengan sekuat tenaga dan melewati pejalan kaki, pada saat ada sebuah stasiun kereta, pria itu berbelok dan masuk kedalam, menerobos dan menabrak orang-orang yang ada di stasiun.


Pria itu bahkan melompati Train Ticketing Machine yang ada di stasiun karena dia akan membawa Vivian ke suatu tempat untuk menjalankan plan B yang telah mereka siapkan.


Dari layar komputernya Michael terus memantau ke mana perginya Vivian dan ketika mendengar suara kakaknya yang telah selesai menghabisi orang-orang yang mengejarnya, Michael segera mengatakan pada kakaknya jika Vivian sedang mengejar seseorang dan mereka berada disebuah stasiun kereta.


Methew segera memerintahkan James untuk segera bergegas dan berharap Vivian baik-baik saja. Walaupun adiknya berkata jika Vivian baik-baik saja, dia tetap merasa khawatir dan takut Vivian terluka seperti waktu itu.


Vivian masih mengejar dan melewati lorong demi lorong, dia bahkan melompati rel kereta api dan mengejar pria yang sudah berlari di seberang sana.


Karena merasa terancam, pria itu menabrak para pejalan kaki yang ada hingga mereka terjatuh, dia melakukan hal itu untuk memperlambat lari Vivian.


Pria itu terus berlari dan segera keluar dari stasiun karena sedikit lagi dia akan tiba di mana rekannya sudah menunggu untuk menjebak Vivian.


Mereka kembali melompati Train Ticketing Machine dan berlari keluar sedangkan petugas yang ada di stasiun meneriaki mereka bahkan mengejar mereka tapi sayang, mereka harus membantu orang-orang yang ditabrak oleh pria itu.


Aksi kejar-kejaran terus terjadi sampai mereka masuk kembali ke sebuah lorong. Pria itu menghentikan larinya dengan nafas terengah-engah begitu juga dengan Vivian, dia juga menghentikan larinya sambil mengatur nafasnya.


"Siapa kau?" tanya Vivian sambil menarik pistolnya.


Pria itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Vivian, jika dia berbicara maka identitasnya akan ketahuan.


Vivian mengarahkan pistolnya dan kembali bertanya, "Katakan, siapa kau?!"


Karena pria itu tidak menjawab, jadi Vivian mendekatinya sambil menodongkan pistolnya. Dia akan menangkap pria itu tapi sayang, pada saat itu terdengar teriakan seorang Wanita yang meminta tolong.


"Help me!"


Perhatian Vivian teralihkan karena dari jalan yang berlawanan, tampak seorang wanita berlari ke arahnya dengan keadaan mengenaskan. Rambutnya acak-acakkan dan bajunya sudah compang camping karena terdapat robekan sana sini.


Segerombol pria mengejarnya dengan wajah buas dan penuh nafsu dan mereka berlari ke arahnya.


Karena ini adalah kesempatannya untuk lari jadi pria itu kembali melarikan diri, sisanya akan dia serahkan pada rekannya.


"Hei, jangan lari!" Vivian ingin menembak tapi tiba-tiba saja wanita yang sedang berlari ke arahnya langsung memeluknya.


"Tolong, tolong aku! Mereka ingin memperkosa aku!" ucap Wanita itu sambil menangis.


Vivian mengumpat kesal karena targetnya hilang. Seharusnya dia tembak saja pria itu sedari tadi! Jika tidak mengingat aturan yang ada mungkin sudah dia lakukan tapi walau begitu, jika pria itu adalah rekannya maka dia akan tahu besok karena lengan pria itu terluka akibat tembakan yang dia dapat.


Wanita itu masih memeluk Vivian dan bersembunyi di belakangnya, dari sana dia memberi tanda dengan cara mengedipkan matanya kepada dua puluh orang yang mengejarnya.


"Tolong aku nona, mereka ingin memperkosa aku!" ucap wanita itu sambil menangis dan ketakutan.


"Sebaiknya jangan mengganggu jika tidak kami juga akan memperkosamu bersama dengannya!" ucap salah satu pria yang berdiri di depannya.


Vivian menghembuskan nafasnya, apa lagi sekarang?!


"Para ba*ingan! Berani memperkosa satu wanita yang tidak berdaya maka aku tidak akan diam saja!" ucap Vivian tanpa tahu jika itu adalah jebakan untuknya.


"Jika begitu mari kita bermain nona!" ucap mereka dan kedua puluh pria itu mengeluarkan tongkat yang mereka simpan di belakang mereka.


"Sial!" umpat Vivian kesal.


Wanita yang sedang memeluknya tersenyum dengan licik secara diam-diam, biarkan Vivian melawan mereka agar dia memanggil orang yang membantunya selama ini datang. Misi ini tidak boleh gagal dan mereka harus tahu siapa orangnya.


Michael segera meminta kakaknya untuk bergegas karena Vivian sedang dikelilingi oleh dua puluh orang pria dengan badan tunggi besar dan sebuah tongkat di tangan mereka.


Matthew sudah hampir tiba dan meminta James untuk membawa mobil mereka dengan cepat tapi jalanan tidak bersahabat. Matthew harap Vivian bisa melawan segerombolan pria itu sampai dia tiba tapi Vivian sangat berharap Matthew tidak datang karena dia tidak mau pria yang dia kejar tadi melihat mereka dari tempat tersembunyi.