
Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan, itulah yang dirasakan oleh pria berinisal M dan yang dikenal sebagai Maxton atau Carlk.
Dia sedang menunggu kabar dari sniper yang dia bayar untuk membunuh Matthew Smith, ini sudah beberapa jam berlalu sejak sniper itu menghubunginya tapi kenapa tidak ada kabar sampai sekarang?
Misi yang dia berikan berhasil atau tidak, sungguh dia ingin tahu. Dia juga sudah berusaha menghubunginya tapi sayang, ponselnya sudah tidak aktif. Itu dikarenakan ponsel si sniper sudah rusak digigit Serigala apalagi daging sniper yang sedang diolah di dalam perut serigala, entah mana yang jadi nutrisi entah mana yang jadi kotoran. Semoga Serigala Albert jadi pemburu hebat seperti si sniper yang jago menembak targetnya.
Dia sangat berharap sniper itu sudah membunuh Matthew, tapi karena tadi sniper itu mengatakan jika ada dua kemungkinan besar dia akan salah tembak. Walaupun begitu, dia sudah puas jika bisa membunuh salah satu dari mereka.
Kalah bersaing dalam berbisnis membuatnya sangat membenci Matthew Smith, tidak hanya satu kali tapi sampai berkali-kali dia selalu kalah.
Dia berambisi mengelola perusahaan yang di tinggalkan oleh ayahnya hingga menjadi sebuah perusahaan raksasa yang berkuasa di Amerika tapi sayang, langkahnya selalu terhalang oleh Matthew Smith dan Michael Smith yang selalu ada di belakang kakaknya.
Selain perusahaan mereka yang sudah menguasai pasar bisnis sejak lama, kehebatan mereka dalam berbisnis juga tidak diragukan.
Itulah kenapa dia sangat membenci Matthew Smith, karena dia selalu menghalangi langkahnya untuk lebih maju apalagi di dunia bisnis, yang berkuasa yang akan menang.
Dia berharap targetnya sudah mati tapi sayang, sudah beberapa jam berlalu tapi tidak ada kabar dari sniper yang dia bayar. Apa misinya gagal? Jangan-jangan seperti itu!
Pria itu berpikir, jika sniper itu tertangkap dia juga tidak khawatir karena Matthew Smith tidak akan pernah tahu siapa yang ingin membunuhnya dan posisinya akan tetap aman.
Sudah begitu lama jadi dia mengambil kesimpulan, sepertinya sniper yang dia bayar tidak bisa membunuh Matthew dan mungkin dia harus mencari cara lain, mungkin dia harus mencari sekutu lain yang juga musuh Matthew dan mengajaknya bekerja sama untuk melenyapkan pria itu.
Memanfaatkan Ella mungkin tidak ada salahnya, kekuatan ayahnya bisa dia manfaatkan dan ini bukan ide yang buruk apalagi mereka juga tidak suka dengan Matthew Smith.
Pria itu segera mengambil ponselnya, lebih baik dia mencari ayah Ella dan mengajaknya bekerja sama. kemungkinan sniper yang dia bayar sudah gagal jadi lebih baik dia menyusun rencana baru dan mencari sekutu untuk menghabisi Matthew Smith.
Sementara itu, Matthew kembali ke rumahnya. Dia harap penembakan yang mereka alami hari ini tidak diketahui oleh ibunya tapi sayang, berita itu sudah sampai di telinga Kate.
Michael sudah pulang tapi Matthew belum juga pulang, hal itu semakin membuat Kate khawatir. Dia tahu putra sulungnya banyak musuh dan bisa jaga diri, tapi sebagai seorang ibu tetap saja dia merasa khawatir.
Ketika Matthew masuk kedalam rumah, Kate berlari ke arah putranya dan memeluknya.
"Syukurlah kau sudah kembali dan baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja mom," jawab Matthew. Apa ibunya sudah tahu apa yang terjadi?
"Aku tahu kau baik-baik saja tapi aku baru saja mendengar jika seorang penembak ingin membunuh kalian, aku sungguh tidak bisa tenang."
"Mommy tidak perlu khawatir, selama masih ada aku Michael pasti baik-baik saja."
"Ck, mommy menghawatirkanmu sayang. Mommy tahu kau selalu menjaga adikmu tapi kau juga harus jaga diri."
"Mommy tidak perlu khawatir," Matthew memeluk ibunya.
Pada saat itu, Michael berjalan menghampiri mereka karena dia ingin tahu apakah kakaknya bisa mendapatkan informasi dari sniper itu?
"Kak, apa kau sudah tahu siapa yang melakukannya?"
"Ya, kita bicarakan hal ini nanti."
"Apa kau sudah makan Matt?" tanya ibunya.
"Belum mom," jawab Matthew.
"Jika begitu pergilah mandi, mommy akan menyiapkan makanan untukmu."
Matthew mengangguk dan melangkah pergi menuju kamarnya, dia segera membuka bajunya dan masuk kedalam kamar mandi.
Matthew berdiri di bawah guyuran air shower dan berpikir, sepertinya ada yang aneh. Selama dia mengintrogasi lawan, ini pertama kalinya dia bisa mengetahui siapa musuhnya dengan mudah.
Yang lebih aneh adalah, kenapa Maxton ingin membunuhnya? Mereka tidak memiliki dendam sama sekali lalu kenapa pria ini mau membunuhnya? Apa ada yang dia lewatkan?
Sepertinya dia harus menyelidiki hal ini terlebih dahulu sebelum bertindak tapi jika memang benar Maxton yang membayar sniper itu, maka tidak akan dia biarkan. Akan dia hancurkan pria itu sampai ke akar-akarnya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Matthew segera keluar dan menghampiri adik dan ibunya yang ada di dapur.
"Mom, di mana daddy?"
"Ainsley?" Matthew menarik sebuah kursi dan duduk di sana.
"Sedang tidur siang." jawab ibunya lagi.
"Jadi kak, siapa yang membayar sniper itu?" tanya Michael.
"Dia bilang Maxton."
"Maxton?" tanya Michael tidak percaya sedangkan Matthew mengangguk.
"Ini aneh, untuk apa dia mengincar nyawamu kak?"
"Ini yang sedang aku pikirkan, untuk apa dia membayar seorang sniper untuk membunuhku?"
"Sebaiknya kita mencari tahu terlebih dahulu, apakah benar dia yang ingin membunuhmu?"
"Kau benar Mich, Jika benar dia ingin membunuhku maka aku tidak akan mengampuni dan melepaskannya."
"Aku akan membantumu menyelidikinya kak," ucap Michael.
"Sudah pasti kau harus membantuku, aku tidak mau membunuh orang yang salah."
"Matthew, kau tinggal di rumah gadis yang kau sukai begitu lama. Apa orang tuanya tidak marah?" tanya ibunya seraya menghampiri kedua putranya dengan makanan di tangannya.
"Mommy tenang saja, dia hanya pendatang."
"Oh ya? Dari mana asalnya?"
"Aku sedang menyelidiknya mom," jawab Matthew.
"Oh aku sudah sangat ingin melihatnya, kapan kau akan membawanya pulang? Jika terlalu lama maka aku akan pergi menemuinya dengan nenek."
"Mom, jangan!" cegah Matthew.
"Kenapa?" Kate memandangi putranya dengan heran.
"Dia tidak tahu siapa aku mom dan aku sedang menyamar menjadi supir yang punya banyak hutang."
"Wow, jadi kau menipunya?"
"Ya, begitulah."
"Ck, padahal mommy sudah tidak sabar untuk melihatnya. Seperti apa rupa gadis yang akan menjadi menantuku nanti."
Matthew terkekeh dan memakan makanannya, sepertinya ibunya sudah sangat tidak sabar tapi dia belum bisa mempertemukan Vivian dengan ibunya karena dia belum mendapatkan hati gadis itu.
Selagi menikmati makanannya, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Vivian sedang mencurigainya bukan? Bagaimana jika?
"Mom, apa kau sangat ingin bertemu dengannya?"
"Tentu saja, jadi kau akan membawanya pulang?"
"Tidak, aku punya rencana tapi kalian harus bekerja sama denganku agar identitasku tidak ketahuan."
"Kak, sepertinya kau punya rencana licik agar mommy bisa bertemu dengannya," ucap Michael.
Matthew terkekeh dan berkata, "Jadi? Jika kalian bisa bekerja sama denganku maka aku akan mempertemukan mommy dengannya, bagaimana?"
"Tentu saja!" jawab Michael dan ibunya.
"Jadi dengarkan!"
Matthew mengatakan rencananya dan Kate terlihat penuh semangat mendengar rencana putranya. Dia sungguh sudah tidak sabar melihat gadis yang telah mencuri hati putranya dan saat bertemu dengan gadis itu, dia akan memberikan kesan yang baik. Sepertinya setelah ini Vivian akan mendapat sedikit kejutan darinya.