
Dikediaman keluarga Smith sudah terlihat ramai. Olivia sudah kembali bersama dengan keluarganya begitu juga dengan keluarga Edward.
Edward kembali terlebih dahulu dan setelah itu Olivia. Dia menunggu putrinya kembali dari luar negeri barulah dia pulang. Anak-anak tampak berlari sana sini karena bermain.
Rumah yang biasanya sepi kini menjadi ramai. Marry juga kembali bersama dengan putrinya begitu juga dengan keluarga Silvia yang ada di Australia.
Walaupun Silvia sudah tidak ada tapi anak cucunya selalu pulang ke California untuk berkumpul dengan yang lain. Tidak saja akan merayakan pernikahan Matthew dan Vivian, mereka juga akan mengenang kepergian Jhon dan Samantha, Xiau Yu dan Michael Smith juga mengenang kepergian Silvia dan Abraham.
Sebagian wanita sibuk di dapur menyiapkan sesuatu, sedangkan yang lain sibuk dengan bayi mereka. Para pria terlihat mengobrol dan anak-anak berlari sana sini, mereka tampak heboh tapi tidak ada yang memarahi mereka.
Edward berdiri di depan foto Samantha dan Jhon, dia terlihat diam saja karena dia rindu dengan mereka. Dia masih ingat ketika kepergian ayah dan ibunya, saat itu dia sangat sedih dan terpukul. Ibunya adalah orang pertama yang begitu menyayanginya, sedangkan ayahnya orang yang menerima dirinya tanpa membedakan dirinya dengan Jacob dan Olivia. Tanpa mereka berdua, dia tidak mungkin bisa ada dikeluarga itu dan menjadi bagian dari mereka. Dia juga tidak mungkin bisa seperti itu saat ini.
Edward jadi teringat masa kecilnya, di mana ibunya berjuang untuknya dan masih ingat ketika dia menyangka Jhon sebagai ayahnya. Saat-saat itu tidak bisa diulang tapi itu adalah kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan.
Jacob menghampiri Edward dan berdiri di sisinya, dia juga melihat foto kedua orang tua mereka dan dia juga rindu.
"Kau tidak menangis bukan, Brother?" tanya Jacob.
"Ck, untuk apa aku menangis?" jawab Edward.
"Ayolah, aku sudah melihatmu menangis ketika Mommy dan Daddy pergi."
"Kau juga menangis saat itu, Brother," ucap Edward.
"Kita semua menangis," ucap Jacob pula.
"Aku merindukan mereka semua," Edward memandangi foto keluarga besar mereka.
"Yeah, aku juga. Tapi sepertinya sebentar lagi kita akan menyusul mereka semua."
Pada saat itu, Olivia menghampiri mereka dan berdiri di sisi kedua kakaknya.
"Apa yang Kakak lakukan di sini?"
"Tidak ada, kami hanya mengenang Mommy dan Daddy juga yang lain," Jacob merangkul bahu Olivia begitu juga dengan Edward.
"Aku merindukan mereka, Kak," ucap Olivia.
"Bagaimana jika kita pergi ke makam mereka," ajak Edward.
"Boleh juga, ayo," ajak Jacob.
Mereka bertiga segera berpamitan kepada yang lain dan pergi mengunjungi makam Samantha dan Jhon juga Xiau Yu dan Michael Smith. Silvia dan Abraham tidak dimakamkan di California karena mereka dimakamkan di Sydney oleh anak-anak mereka.
Michael keluar dari kamar dan menghampiri Felix yang sedang berbicara dengan ibunya. Saat itu Felix masih menuntut ilmu karena dia masih muda. Dia sedang belajar berbisnis sebelum meneruskan perusahaan ayahnya.
"Mich, mana pacarmu yang waktu itu kau tunjukkan pada Aunty?" tanya Ivy ketika Michael bergabung dengan mereka.
"Hm, sudah putus," jawab Michael asal. Itu foto kakaknya yang dia tunjukkan jadi sebaiknya Aunty Ivy tidak tahu jika itu adalah kakaknya yang sedang menjadi Maria.
"Dasar playboy! Kapan kau akan serius seperti kakakmu?" tanya Ivy.
"Nanti, Aunty. Aku belum menemukan orang yang cocok."
"Baiklah, tapi di mana kakakmu? Aunty tidak melihatnya sejak tadi?"
"Sedang menjemput Kakak Ipar," jawab Michael.
"Oh aku sudah tidak sabar, aku ingin lihat gadis mana yang terjerat oleh si playboy sejak kecil."
"Sebaiknya Aunty berhati-hati dengannya karena dia galak," ucap Michael sambil terkekeh.
"Benarkah? Aku jadi ingin menggodanya. Jangan remehkan mantan artis ini," Ivy tampak begitu bersemangat.
"Berjuanglah Aunty, semoga dia tidak menendangmu."
"Dia suka menendang?"
"Yes," jawab Michael.
"Kak Mich, bisa kau ajari aku sesuatu?" pinta Felix.
"Boleh, ayo ikut aku," ajak Michael.
Mereka segera pergi meninggalkan Ivy, sedangkan Ivy juga pergi bergabung dengan yang lain.
Sementara itu, Matthew sedang di perjalanan karena dia ingin menjemput Vivian dan mengenalkannya Vivian keluarga besarnya.
Vivian berada di makan ibunya saat itu. Ini kali pertama dia mengunjungi ibunya. Tentu dia pergi ke sana bersama dengan ayah dan kakaknya.
Seikat bunga kesukaan ibunya dia letakkan di depan batu nisan ibunya dan dengan perlahan, Vivian mengusap foto ibunya yang terdapat di batu nisan.
"Hai, Mom. Apa kabar?" ucap Vivian.
"Maaf jika aku baru mengunjungi Mommy karena aku tidak tahu jika aku putri Mommy. Mommy tidak marah bukan?"
"Aku juga baru bisa datang mengunjungi Mommy karena akhir-akhir ini aku sibuk dengan pekerjaanku. Aku harap Mommy tidak marah tapi mulai sekarang aku akan sering datang mengunjungi Mommy. Aku juga ingin menyampaikan sesuatu pada Mommy, sebentar lagi aku mau menikah jadi aku harap Mommy tidak keberatan," ucap Vivian lagi.
"Mommy-mu pasti setuju sayang," ucap Jager sambil mengusap kepala putrinya.
"Aku tahu, Dad. Aku hanya minta ijin," jawab Vivian.
Jager tersenyum dan memandangi makam istrinya. Selama dua puluh lima tahun dia menyangka jika bayi yang dia kuburkan bersama dengan istrinya adalah putrinya tapi siapa yang menyangka, jika semua itu sebuah kesalahan dan sekarang dia bisa mengunjungi makam istrinya bersama dengan putri mereka.
"Dad, kenapa kau tidak menikah lagi setelah Mommy tiada?" tanya Vivian.
"Tidak, Sayang. Hanya Cristiana saja yang aku cintai sejak dulu. Walaupun banyak wanita yang dekat denganku tapi hanya Cristiana saja yang aku inginkan. Lagi pula aku dan Cristiana sudah bersumpah untuk selalu setia dan tidak ada yang lain walau maut memisahkan kami."
"Seharsnya Daddy mendapat penghargaan," ucap Vivian.
"Aku akan membelikan sebuah piala untuk Daddy besok," ucap Damian seraya mendekati mereka.
"Aku sudah tua, untuk apa aku piala itu?"
"Untuk memukul pencuri, Dad," jawab Vivian bercanda.
Jager merangkul bahu Vivian dan Damian sambil tertawa, mereka masih berada di makam itu begitu lama sampai sebuah mobil berhenti tidak jauh dari mereka.
Matthew keluar dari mobil dan segera menghampiri Vivian, dia harap dia tidak menggangu kebersamaan mereka.
"Dad, aku harus pergi," ucap Vivian ketika melihat Matthew.
"Sepertinya, setelah bertemu dengan keluarga Matthew kami harus pergi melihat tempat untuk acara pernikahan kami nanti. Apa kalian tidak mau berkenalan dengan keluarga Matthew?" tanya Vivian.
"Lain kali saja, adikku. Ada pekerjaan penting yang sedang menungguku," jawab Damian.
"Baiklah, aku harus pergi," ucap Vivian.
Matthew menyapa mereka sejenak dan setelah itu mereka pamit pergi. Jager dan Damian juga pergi karena setelah ini Damian ada pekerjaan.
Selama di perjalanan, Vivian tampak sedikit gugup karena hari ini dia akan bertemu dengan seluruh keluarga Matthew. Seperti apa mereka?
"Kenapa kau terlihat gugup, Babe?"
"Hey, ini pertama kalinya aku bertemu dengan seluruh keluargamu. Tentu saja aku gugup!"
Matthew tersenyum dan mengusap tangan Vivian dengan lembut.
"My family is a good person, Babe," ucap Matthew.
"I know."
"So?"
"Aku hanya gugup."
"Matthew terkekeh dan mengecup punggung tangan Vivian, "Tidak perlu gugup, mereka tidak akan menggigit."
"Ck, memangnya mereka Vampire!"
Matthew kembali terkekeh dan menarik Vivian agar bersandar pada bahunya.
"Don't worry, they are very good. Trust me, Babe."
"I know."
Matthew tersenyum dan mengusap kepala Vivian. Dia sudah tidak sabar mempertemukan Vivian dengan seluruh keluarganya.
Ketika mereka sudah tiba, Matthew segera membawa Vivian masuk ke dalam rumah. Vivian tampak begitu gugup karena di dalam begitu ramai.
Mereka duduk bersama di ruang keluarga dan saat itu, Ivy merasa sudah saatnya dia berakting.
"Hy, aku mantan pacar ke 115 Matthew. Salam kenal," ucap Ivy asal sambil melambaikan tangannya.
Vivian tampak bingung, mantan pacar? Tapi kenapa sudah berusia?
"Padahal dia sudah berjanji untuk menikahiku, tapi ternyata ...," Ivy menutup wajahnya pura-pura menangis.
Semua diam saja, sedangkan Viivian semakin bingung.
"Ck, itukan dulu," ucap Matthew. Maksudnya itu ucapan ketika dia masih kecil.
"Kau dengar? Dia sudah berjanji akan menikah denganku tapi kenapa kau merebutnya?" tanya Ivy.
"Aku tidak ...," Vivian jadi salah tingkah karena semua mata melihat ke arahnya.
"Tidak apa? Tidak merebutnya?" tanya Ivy dan dia kembali menangis.
"Maaf Aunty, Nyonya, eh ...," Vivian jadi serba salah. Siapa sebenarnya wanita itu?
"Aku bukan Nyonya, aku calon istrinya."
"Oh my God, Matth. Kenapa kau mempertemukan aku dengan mantan pacarmu?" Vivian bertanya dengan pelan.
"Sorry, Babe. Dia datang tanpa diundang."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Jadi? Maukah kau melepaskan Matthew dan mengembalikannya padaku?" tanya Ivy.
"Tidak bisa!" jawab Vivian dengan tegas.
"kenapa?" tanya Ivy lagi.
"Pokoknya sampai kapan pun aku tidak akan mengembalikan Matthew padamu apalagi kami sudah mau menikah."
"kenapa? Apa kau begitu mencintainya?" tanya Ivy.
"Tentu saja!" jawab Vivian tanpa ragu.
Matthew tersenyum, dia sangat senang mendengar ucapan Vivian tapi tanpa mereka duga, Vivian bangkit berdiri.
"Ayo, Nyonya. Kita keluar untuk berkelahi. Akhir-akhir ini pamor anak muda kalah sama yang lebih tua jadi ayo kita adu tenaga dan membuktikan siapa yang lebih pantas," ucap Vivian.
Semua mata melihat ke arah Vivian tapi tidak lama kemudian, tawa mereka semua pecah. Vivian tampak bingung, apa ada yang salah?
"Babe, kau benar-benar lucu," ucap Matthew dan dia kembali tertawa.
"A-ada apa?" Vivian duduk kembali dan tampak bingung karena semua yang ada di sana masih tertawa.
"Oke, Sayang. Berhenti mengerjainya," ucap Henry.
"Bagaimana aktingku, Mich? Masih bagus seperti dulu bukan?" tanya Ivy pada Michael.
Hah? Akting? Mulut Vivian menganga.
"Tentu saja, Aunty. Kau masih pantas jadi artis," jawab Michael.
Wajah Vivian merah padam, jadi dia hanya dikerjai saja dan wanita itu? Dia tidak sanggup membayangkannya.
"Ja-jadi kau?"
"Babe, kenalkan ini Aunty Ivy," ucap Matthew.
"Ti-tidak!" Vivian menutup wajahnya yang merah padam dan bersembunyi di dalam pelukan Matthew.
"Oke, sekarang giliranku," sela Alice.
"Welcome to my crazy family."
Mereka semua tertawa sedangkan Vivian menggerutu kesal, apa-apaan keluarga ini? Dari awal dia sudah curiga jika mereka memang keluarga gila tapi itu sudah tradisi bagi mereka.