
Waktu terus berjalan sedangkan Patrik dan Vivian masih berusaha memecahkan teka teki yang mereka dapatkan dan berusaha mencerna setiap kata yang terdapat dalam teka-taki yang diberikan oleh si buronan.
Bom yang ada di dalam Hard Rock Cafe sudah dijinakkan dan dibawa keluar sedangkan garis polisi sudah dipasang di tempat itu.
Vivian dan patrik membahas teka teki dan meletakkan surat di atas kap mobil polisi, mereka berdua tampak begitu serius dan saling bertukar pikiran.
"Bagaimana menurutmu Angel? Kita kehabisan banyak waktu," ucap Patrik.
"Aku tahu Patrik, kau lihat ini?" Vivian menunjuk kalimat yang ada di kertas.
"Jam dua belas berarti jam dua belas bom akan meledak dan dua sepatu Cinderela adalah dua bom. Yang jadi masalahnya di mana kita harus mencari keberadaan dua bom itu? Ini sudah malam dan bisa aku tebak, si buronan pasti meletakkannya disebuah clubs malam atau bar."
"Jadi?" tanya Patrik.
Vivian masih berpikir, sebaiknya dia meminta bantuan Matthew tapi pada saat itu, ponsel Vivian berbunyi. Vivian segera mengambil ponselnya dan sebelum menjawab dia melihat siapa yang menghubunginya terlebih dahulu.
"Sebentar Patrik," ucap Vivian karena saat itu Matthew yang menghubunginya.
Setelah Vivian pergi, Matthew tidak kembali tidur. Dia masuk ke dalam ruang pibadinya dan mulai meretas karena dia ingin melihat apa yang Vivian lakukan di Hard Rock cafe.
Ini sudah tengah malam dan dia tidak mau membangunkan adiknya, walaupun Michael lebih ahli dalam masalah meretas tapi dia juga bisa melakukannya.
"Ada apa Maria?" tanya Vivian. Jangan sampai Patrik mendengar dan memang patrik mendengar pembicaraan merekka.
"Cih dasar pasangan lesbi!! Ditinggal sebentar sudah dicari!" gerutu Patrik dalam hati.
"Hei, kenapa memanggilku Maria?!" protes Matthew.
"Stts, jangan berisik!" jawab Vivian dengan pelan.
Matthew terkekeh, kenapa Vivian begitu takut hubungan mereka ketahuan? tapi tidak masalah karena dia tahu Vivian punya alasan melakukan hal itu.
"Ada apa babe? Kalian terlihat sedang bingung?" tanya Matthew karena sedari tadi dia melihat Vivian dan rekannya sedang membahas sesuatu yang penting.
"Ya, ini karena buronanku memberikan teka teki yang menyebalkan!" jawab Vivian dengan kesal.
"Katakan padaku babe, aku bisa membantumu."
"Aku jadi bergantung padamu," jawab Vivian tidak enak hati.
"Ck, segeralah. Banyak nyawa yang sedang terancam bukan?"
"Kau benar, sebentar."
Vivian segera mendekati Patrik dan mengambil kertas teka teki yang ada di atas mobil dan mulai membacakan teka teki itu untuk Matthew.
..."Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Cinderela berlari menuruni anak tangga dan melepaskan dua sepatunya. Sang pangeran berlari mengejar tapi Cinderela terus berlari karena dia tidak mau membuat hati pangeran berdarah."...
"Oke, tunggu sebentar," pinta Matthew setelah mendengar teka teki yang diberikan oleh Vivian.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23:10 dan waktu mereka sudah tidak banyak lagi. Setelah memecahkan teka teki yang diberikan oleh Vivian, Matthew segera memberi tahu Vivian di mana dia bisa menemukan bom yang diletakkan oleh buronannya.
"Pergi ke Angel City Brewery sekarang juga!" perintahnya.
"Oke," jawab Vivian dan dia segera mematikan ponselnya.
"Patrik bawa polisi dan pencari bom menuju Angel City Brewery, aku akan pergi ke sana menggunakan motor supaya cepat sampai," perintah Vivian.
"Oke," jawab Patrik.
Angel City Brewery adalah salah satu Bar terbaik di California dan mereka segera bergegas menuju Angel City Brewery di mana bom berada.
Vivian membawa motornya dengan cepat sedangkan Patrik menuju lokasi bersama dengan beberapa mobil polisi. Mereka juga harus bergegas untuk mensterilkan lokasi.
Vivian tiba terlebih dahulu dan melihat bangunan Angel City Brewery di mana di dinding bangunan, terdapat sebuah lambang hati yang di cat berwarna putih dan tidak hanya itu saja, lambang hati itu seperti menunjukkan hati yang sedang berdarah. Inikah yang dimaksud dari isi teka teki Cinderela tidak mau membuat hati pangeran berdarah?
Oke dia akui buronannya memang cerdik tapi tetap saja dia seperti banci karena selalu bermain di belakang. Jika tertangkap lebih cocok buronannya dimasukkan ke dalam penjara khusus waria sebelum dia ditembak mati.
Vivian memasang sebuah earphone di telinganya dan segera menghubungi Matthew, waktu sudah semakin sedikit dan mereka berpacu dengan waktu.
"Matth, kau belum tidur bukan?"
"Tentu tidak sayang, aku pasti akan membantumu," jawab Matthew sambil melihat layar komputer di mana Vivian sedang berdiri di depan Angel City Brewery.
"Thanks aku benar-benar bergantung padamu."
"Oke," jawab Vivian karena dia percaya dengan Matthew.
Matthew mulai meretas cctv yang terdapat di Angel City Brewery, sedangkan Vivian menunggu Patrik dan polisi untuk mengamankan tempat itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23:35 saat Patrik tiba dan mereka hanya punya waktu dua puluh lima menit saja.
Para polisi langsung mengamankan lokasi dan meminta para pengunjung dan pegawai bar untuk keluar dan tempat itu benar-benar disterilkan dari warga sipil.
Para pencari bom juga sudah datang dengan alat-alat mereka dan mereka segera masuk ke dalam Angel City Brewery yang memiliki beberapa lantai.
Mereka segera masuk dan mulai melakukan pencarian disetiap sudut ruangan dan mereka berpacu dengan waktu yang tinggal sedikit lagi.
"Perintahkan mereka mencari di bawah tangga!" perintah Matthew karena dalam teka teki mengatakan Cinderela menuruni anak tangga.
"Oke," jawab Vivian dan mereka mulai menyelusuri setiap anak tangga untuk mencari bom yang disembunyikan oleh buronan dan memang, tidak lama kemudian sebuah bom ditemukan di bawah tangga yang ada di lantai tiga.
Vivian dan Patrik segera naik ke atas dan melihat bom yang akan meledak dalam beberapa menit lagi. Beruntungnya itu bom yang mudah dijinakkan dan para petugas mulai menjinakkan benda itu sedangkan Patrik dan Vivian kembali mencari bom yang satunya lagi.
Mereka kembali fokus mencari dan kali ini tidak mudah dan entah di mana bom itu disimpan. Matthew melihat setiap ruangan yang terdapat di dalam Angel City Brewery, dia juga sedang mencari bom yang satunya lagi.
Para petugas pencari bom juga menyelusuri semua tempat untuk mencari dan semoga mereka bisa menemukan benda itu.
"Babe, pergi ke atas gedung!" perintah Matthew setelah dia memecahkan isi teka teki yang diberikan oleh buronan Vivian.
"Roger!" jawab Vivian dan dia segera mengajak Patrik untuk naik ke atas tapi sebelum mereka tiba ke atas gedung, Mattthew menghentikan Vivian.
"Stop babe dan pergi ke pintu darurat."
"What?"
"Now!" perintah Matthew dan Vivian segera menuju pintu darurat.
Vivian dan Patrik keluar dari pintu darurat dan Matthew memerintahkan mereka untuk turun satu lantai karena disanalah bom berada sesuai dengan teka teki, Pangeran berlari mengejar dan Cinderela terus berlari yang artinya, jika tidak mau tertangkap maka larilah melalui tangga darurat.
Vivian dan Patrik terengah-engah, waktu mereka lima menit lagi dan sialnya bom itu menempel pada dinding bangunan.
"Sial!" umpat Vivian kesal melihat bom yang begitu rumit.
"Bagaimana ini Matth, eh Maria?" tanya Vivian dan Patrik melihatnya dengan curiga.
Matth? Apa maksudnya? Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu.
"Seperti yang aku duga," ucap Matthew.
"Apa?"
"Buronanmu sungguh cerdik dan segera ikuti perkataanku!" perintah Matthew.
Vivian mulai serius dan memperhatikan bom dengan teliti. Patrik memberikan alat yang dibutuhkan dan Vivian segera membuka penutup bom di mana terdapat serangkaian kabel rumit di sana.
Matthew memperhatikan bom itu dengan teliti, sepertinya itu juga bom yang dia buat tahun lalu.
Dia segera mengatakan pada Vivian apa yang harus dilakukan karena waktu tinggal beberapa menit saja.
"Raba kabel warna hijau dengan pelan dan cari kabel yeng tersembunyi dibalik kabel itu," perintah Matthew karena bom yang dia buat dengan adiknya selalu penuh dengan jebakan.
Vivian melakukan apa yang dikatakan oleh Matthew dan memang sebuah kabel halus berada dibalik kabel berwaran hijau. Tidak mau membuang waktu, Vivian segera memotong kabel itu sesuai perintah Matthew.
"Buka kabel berwarna biru, di sana ada dua warna kabel berbeda dan potong yang orange," perintah Matthew lagi.
Saat itu angka di bom sudah menunjukkan angka 1:00 dan dengan hati-hati dan nafas tertahan Vivian membuka bungkusan kabel berwarna biru. Dia harus hati-hati jangan sampai membuat kesalahan.
Angka berjalan dengan cepat dari 1:00 menjadi 00:59, 00:58 dan angka terus berubah.
"Angel," Patrik mulai khawatir Angel akan gagal.
Angka di bom sudah menunjukkan 00:10 saat Vivian sudah berhasil membuka pembukus kabel dan dengan nafas yang masih tertahan dan keringat yang mengalir di dahi, Vivian mengambil kabel berwarna orange dengan hati-hati.
"Potong sekarang!" perintah Matthew karena waktu sudah menunjukkan 00:05 yang berarti lima detik lagi.
Vivian segera memotong kabel yang terdapat di kabel dan pada saat itu angka berhenti di angka 00:02. Vivian dan patrik tampak lega tapi sayang semua itu belum berakhir karena tiba-tiba saja sebuah mobil mainan yang dikendalikan oleh seseorang dari jarak jauh berjalan menghampiri mereka dan di atas mobil mainan itu terdapat sebuah bom aktif lainnya dan angka di bom sudah menunjukkan 00:10 yang berarti akan meledak sepuluh detik lagi dan itu adalah kejutan lain yang disiapkan oleh Carlk agar Vivian sibuk sepanjang malam. Ini adalah balasan yang sangat setimpal kerena telah membuatnya menunggu.