Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Target kedua.


Setelah selesai menyerang keluarga Adison, Gary segera bergegas pergi bersama dengan anak buahnya menuju target keduanya yaitu Jager Maxton.


Anak buah yang lain sudah mengintai di rumah Jager dan memberinya informasi setiap pergerakan yang ada di rumah itu.


Kali ini tidaklah mudah karena rumah Jager selalu dijaga dengan ketat oleh anak buahnya. Oleh sebab itu dia membawa banyak anak buah untuk menyerang rumah Jager.


Sebuah teropong jarak jauh berada di tangan anak buahnya untuk mengintai rumah Jager Magton. Mereka mengintai siapa saja yang ada di rumah itu dan berapa saja orang yang berada di sana.


Beberapa anak buah Jager tampak berjaga di depan pintu dan beberapa lainnya terlihat sedang mengobrol dengan santai. Karena pesan Vivian supaya menjaga ayahnya dengan baik jadi Damian menambah anak buah untuk menjaga rumah selama dia bekerja tapi sayangnya, hari ini Gary akan melancarkan aksinya.


Gary sudah tiba dan bergabung dengan para anak buahnya yang mengintai, mereka sudah tahu di mana saja anak buah Jager dan mereka bisa langsung menyerang. Apalagi dengan wajah yang sedang dia gunakan, dia yakin tidak akan ada yang curiga sama sekali.


Gary segera memerintahkan anak buahnya untuk mengikutinya dan mereka segera mendekati rumah Jager Maxton. Begitu melihat Gary, anak buah Jager langsung membuka pagar tanpa curiga sama sekali.


"Selamat datang Tuan Smith," sambut anak buah Jager yang berjaga tapi sayangnya, Gary mengangkat tangannya dan anak buah Gary langsung menembak.


Anak buah Jager langsung tumbang setelah mendapat puluhan peluru bersarang di tubuhnya, sedangkan yang lain langsung mengambil senjata api mereka dan adu tembak terjadi.


Anak buah Jager terus menembaki musuh dan mereka juga dihujani dengan timah panas. Mereka terus menyerang tapi sayangnya mereka kalah karena anak buah Gary lebih banyak dan mereka kalah jumlah apalagi mereka mendapat serangan secara tiba-tiba.


Bukan berarti anak buah Gary tidak menjadi korban, sebagian dari mereka juga mati akibat tembakan dari anak buah Jager.


Gary terus menembak dan maju, targetnya hari ini tidak boleh lepas. Di dalam rumah tampak sepi dan sesuai dengan laporan anak buahnya, Damian tidak ada di tempat.


Di dalam rumah, Jager Maxton sedang beristirahat tapi suara tembakan yang terdengar membangunkannya apalagi Ray berlari dan berteriak memanggilnya.


"Tuan ... Tuan, kita diserang," teriak Ray.


"Siapa yang begitu berani?" Jager segera mengambil sebuah pistol yang selalu dia sembunyikan di bawah bantal.


"Matthew Smith," jawab Ray.


"Apa?" Jager sangat kaget mendengarnya.


Kenapa Matthew Smith menyerang rumahnya, apa dia telah menyinggung Matthew?


"Jangan mengada-ada kau!" teriak Jager marah.


"Aku tidak bohong, Tuan," jawab Ray tapi pada saat itu, sebuah granat sudah dilempar oleh anak buah Gary ke arah pintu rumah Jager Maxton.


"Duaarr!" ledakan terjadi dan dinding bangunan tampak bergetar akibat ledakan.


Jager berpegangan pada ujung ranjang, sedangkan Ray menunduk. Situasi benar-benar darurat jadi Jager melemparkan pisolnya ke arah Ray dan memberinya perintah.


"Hubungi Damian dan perintahkan dia untuk pulang membawa anak buah!"


"Baik, Tuan."


Jager mengambil pistol lain dan melihat isinya sedangkan di luar sana Gary sudah masuk ke dalam rumah bersama dengan anak buahnya.


Mereka bahkan menembak pelayan Jager yang berusaha melarikan diri dan mereka tidak melepas satu orangpun yang mereka lihat.


Gary berdiri di dalam rumah dan mencari musuhnya, mencari orang yang telah membunuh ayahnya.


"Jager Maxton, keluar kau!" teriak Gary lantang.


Jager berdiri di samping pintu sambil mengangkat senjatanya, di dengar bagaimanapun itu bukan suara Matthew.


"Keluar jika tidak aku akan meratakan tempat ini dan menjadikannya kuburanmu!" teriak Gary lagi.


Pintu terbuka dan Jager keluar dari kamar dengan sepucuk senjata api di tangannya yang dia arahkan ke arah Gary tapi begitu melihat kemunculannya, puluhan senjata api langsung di arahkan ke arah Maxton.


"Siapa kau? Apa maumu dan kenapa kau memakai wajah Matthew?"


"Hahahahahaha!" Gary tertawa saat melihat Jager Maxton. Akhirnya hari ini tiba, di mana dia akan membalas kematian ayahnya.


"Kau tidak mengenal aku tapi aku mengenalmu, Jager!" jawab Gary dan matanya menatap Jager dengan penuh kebencian.


"Jangan bercanda! Siapa kau sebenarnya?"


"Aku? Kau tidak perlu tahu tapi kau harus ingat seseorang yang kau bunuh lima tahun lalu dan sekarang aku menginginkan nyawamu untuk membayar kematiannya!"


"Gary Wriston!" ucapnya.


"Hahahahaha!" Gary kembali tertawa.


"Ya, aku Gary Wriston dan aku berbaik hati mengatakan padamu siapa aku agar kau tidak mati penasaran! Sekarang terimalah kematianmu Jager Maxton," Gary menekan pelatuk senjata apinya tapi pada saat itu terdengar sebuah tembakan.


"Dor!" sebuah peluru melesat ke arah gary dan mengenai pistol yang sedang dipegang oleh Gary dan pistol itu terjatuh dari tangannya. Peluru itu ditembakkan oleh Ray dari tempat tersembunyi.


Ray keluar dari persembunyiannya dan berdiri di depan Jager, dia akan melindungi majikannya.


"Tuan, jika ada kesempatan pergilah! Aku sudah menghubungi tuan Damian dan dia sudah menuju kemari," ucap Ray dengan pelan.


"Bagaimana denganmu?"


Ray tersenyum, dia akan mengorbankan nyawa untuk majikannya.


"Selamat tinggal Tuan, aku senang melayani tuan jadi selamatkan diri Tuan sampai Tuan Damian pulang," setelah berkata demikian Ray menembak beberapa anak buah Gary tapi sayangnya dia dihujani dengan timah panas.


Jager lari untuk menyelamatkan dirinya, dia tidak akan membiarkan pengoranan Ray sia-sia tapi sayangnya Gary tidak melepaskannya.


Dia memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Jager karena dia ingin membunuh Jager Maxton menggunakan tangannya sendiri agar kematian ayahnya terbalas.


Sayangnya pengorbanan Ray tidak bisa menyelamatkan majikannya karena Jager sudah tua apalagi dia punya penyakit. Jager tertangkap oleh Gary dengan mudah dan dia terkepung oleh anak buah Gary.


Jager merasa itu adalah hari kematiannya dan jika ada kesempatan dia sangat ingin melihat putrinya untuk terakhir kali. Kebersamaan mereka bahkan tidak lama tapi sekarang mereka harus berpisah untuk selamanya.


Walaupun begitu dia sudah sangat bahagia karena dia sudah bisa bertemu dan bersama dengan putrinya walaupun hanya sebentar saja.


Pelatuk pistol sudah siap ditekan oleh Gary dan Jager sudah siap mati, dia harap putrinya tidak sedih atas kematiannya begitu juga dengan Damian.


"Apa ada perkataan terakhir Jager Maxton?"


"Tidak! Aku memang pantas mati karena aku yang telah membunuh ayahmu!" jawab Jager.


"Bagus! Setelah kau mati, aku akan bermain dengan putrimu sampai puas!"


"Apa kau bilang?" Jager sangat kaget mendengarnya.


"Apa kau tuli Jager? Setelah kau mati, aku akan bermain dengan putrimu sampai puas!"


"Kurang ajar! Jangan ganggu putriku!"


"Hahahahahaha!" Gary tertawa terbahak-bahak.


"Lihatlah dari neraka sana!" Gary sudah siap menembak Jager tapi seorang anak buahnya berlari mendekatinya dengan tergesa-gesa untuk memberi laporan.


"Bos, beberapa mobil terlihat mendekat."


"Sialan! Segera bereskan dan ratakan tempat ini!" perintah Gary.


"Siap bos," jawab anak buahnya dan mereka langsung bergerak.


Di luar sana, Damian sudah hampir mencapai rumah. Dia langsung pulang setelah mendapat laporan dari Ray dan mengumpulkan anak buahnya.


Yang membuatnya tidak percaya adalah, Ray mengatakan jika yang menyerang ayahnya adalah Matthew Smith. Ada apa sebenarnya?


Mobil berhenti, Damian dan anak buahnya melompat turun. Mereka sudah bersiap dengan senjata api mereka dan melewati mayat anak buah Gary dan mayat anak buahnya.


Damian terus melangkah maju, pintu rumah tampak hancur dan dia harap ayahnya baik-baik saja. Mereka tampak bersiaga di depan pintu dan dalam hitungan ketiga, mereka keluar dan menodongkan senjata api mereka ke dalam.


Mereka terus melangkah maju dan Damian memerintahkan anak buahnya untuk mencari ayahnya. Mereka melewati mayat para pelayan dan Damian hendak menuju kamar ayahnya tapi langkahnya terhenti saat melihat sebuah bom aktif telah menyambut mereka dan bom itu berada di depan pintu kamar ayahnya.


Angka di bom sudah menunjukkan angka 00:10 yang berarti sepuluh detik lagi akan meledak.


"Sialan, lari!" teriak Damian dan tidak lama kemudian ... "Duar!" ledakan terjadi dan meratakan rumah Jager Maxton.


Gary melihat api yang melambung tinggi dan tampak puas, dia segera melepaskan topeng wajah Matthew dan menggunakan wajah orang lain dan segera pergi.