
Pesta pernikahan masih berlangsung, Vivian dan Matthew turun dari atas altar dan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir.
Mereka tampak begitu bahagia karena mereka sudah menjadi suami istri sekarang. Malam masih panjang dan masih banyak hal menyenangkan yang bisa mereka lakukan.
Mereka akan berdansa nanti tapi setelah mereka menyapa para tamu. Vivian hanya mengikuti Matthew yang menyapa para teman-temannya. Dia tidak mengenal satupun teman Matthew jadi dia hanya tersenyum saja.
Kapten Willys mengucapkan selamat untuk Vivian begitu juga dengan Ana dan Patrik. Patrik terlihat sudah tidak sabar untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya sejak tadi.
Mereka juga membawa hadiah untuk Vivian dan ketika melihat rekan-rekannya, Vivian segera menghampiri mereka.
"Kenapa kalian tidak menikmati hidangannya?" tanya Vivian.
"Oh my God, Angel. Aku ingin menculikmu," ucap Ana.
"Kenapa?" tanya Vivian heran.
"Apa kau tidak tahu? Kau bagaikan perhiasan berjalan dan oh my God, aku bisa kaya mendadak jika aku menculikmu dan mengambil semua perhiasan yang menempel di tubuhmu. Setelah aku mendapatkannya aku akan melemparmu ke laut," ucap Ana bercanda.
"Dasar agen otak kriminal!" ucap Vivian dan Ana tertawa.
"Hm!" Patrik menyela.
Dia sudah penasaran setengah mati dan sekarang waktunya dia bertanya.
"Ada apa, Patrik?" Vivian tersenyum, dia tahu pasti Patrik mau membahas sesuatu.
"Banyak yang ingin aku tanyakan padamu," jawab Patrik.
"Oh ya? Apa itu?"
"Bukankah kau bilang akan menikah bertiga? Mana Maria? kenapa aku tidak melihatnya dan lagi, kenapa kau bisa menikah dengan Mattthew Smith? Bukankah kau mencurigainya waktu itu? Lalu, kenapa namamu menjadi Vivian Adison?" Patrik melontarkan banyak pertanyaan kepada Vivian.
Senyum Vivian semakin lebar, dia jadi ingin terus mengerjai Patrik lebih dari ini.
"Namaku memang Vivian Adison, Patrik. Angel hanya nama samaranku saja. Aku memang mencurigai Matthew dan aku meminta bantuanmu untuk mencari tahu semua tentangnya karena waktu itu aku sedang menjalin hubungan dengannya," jawab Vivian.
"Benarkah?" Patrik memandangi Vivian dengan tatapan tidak percaya.
"Percayalah Patrik, dia yang membantuku menjalankan misi dan dia juga yang membantu aku memecahkan teka teki dari buronan kita."
"Ck, aku benar-benar tidak menyangka," ucap Patrik tidak percaya.
"Aku juga tidak, Patrik. Walau aku sempat mencurigainya tapi lihatlah kami sekarang, jodoh tidak ada yang tahu bukan?"
"Kau benar tapi ngomong-ngomong, mana Maria? Apa dia patah hati sehingga dia tidak datang?" tanya Patrik penasaran.
Vivian terkekeh, kenapa Patrik begitu penasaran dengan hal ini?
"Sebaiknya kau Jawab Angel jika tidak dia akan mati penasaran," ucap Ana.
"Enak saja!" protes Patik.
"Kenapa, Patrik? Apa kau menyukai Maria?" goda Vivian.
"Tidak, dia memang cantik tapi dia tidak normal. Aku tidak mau berhubungan dengan wanita tidak normal!"
"Ha ... ha ... ha ... ha ...," Vivian tertawa begitu juga dengan Ana.
"Kenapa kau tertawa? Dia pasti patah hati bukan karena tidak hanya ingin menikah dengannya tapi kau juga akan menikah dengan Matthew Smith?" tanya Patrik penasaran.
"kau benar, Patrik," Vivian menunduk dan pura-pura sedih.
"Dia tidak jadi menikah denganku karena kecewa. Mungkin aku terlalu serakah mau dua-duanya jadi dia marah," Vivian semakin memasang wajah sedih.
"Aku bisa mengerti dan aku iba dengannya. Aku bahkan tidak berani membayangkan malam pertama kalian nanti jika kalian bertiga jadi menikah," ucap Patrik.
"Pfffff!" Vivian menutup mulutnya, sial! Kenapa Patrik begitu polos?
"Jadi mana dia? Aku jadi ingin menghiburnya karena aku iba dengannya," tanya Patrik.
"Entahlah, dia begitu marah dan pergi begitu saja," jawab Vivian.
"Ck, kau benar-benar tega menyakiti perasaannya!"
Vivian benar-benar ingin tertawa, jika saja saat itu bukan acara pernikahannya mungkin dia akan menertawakan Patrik dengan keras.
Saat itu, Matthew menghampiri Vivian dan memeluk pinggangnya, "Babe, Mommy memanggil," ucap Mattthew.
"Baiklah, aku harus pergi. Semoga kalian menikmati pesta ini," ucap Vivian pada kedua rekannya.
"OKe, Kami akan menikmati hidangannya," jawab Ana.
"Terima kasih kalian sudah datang," Vivian memeluk Ana sebentar.
"Kita rekan, setelah ini kita akan tetap bertemu bukan?" tanya Ana.
"Pasti tapi jika kau ingin menculikku maka kita akan bertemu dengan cara berbeda," jawab Vivian bercanda, sedangkan Ana terkekeh.
"Kau tidak perlu memikirkan Maria, Patrik. Aku dan dia masih berhubungan dan kami sudah menikah."
"What the hell!" umpat patrik.
"Kau benar-benar gila, Angel. Dan kau, apa kau tidak keberatan menikahi gadis tidak normal ini?" Patrik bertanya pada Mattheew.
"Tidak! Bertiga itu menyenangkan!" jawab Matthew asal.
"Oh my God! Ternyata kalian pasangan gila!" Patrik menggeleng, sedangkan Vivian berusaha menahan tawanya yang hampir meledak.
"Bye, nikmati pestanya," ucap Vivian sambil melangkah pergi bersama dengan Matthew karena mereka sudah dicari oleh ibu Matthew untuk berfoto.
Patrik melihat mereka sambil menggeleng, mereka cocok karena mereka sama-sama pasangan aneh.
"Kenapa kau terus menipunya, Babe?" tanya Matthew.
"Apa kau ingin mereka tahu jika yang menjadi Maria adalah kau?" Vivian balik bertanya.
"Tidak!"
"Jika begitu biarkan dia terus salah paham. Lagi pula dia lucu," ucap Vivian sambil tertawa.
"Dasar kau!"
Vivian hanya tertawa dan mereka segera menghampiri keluarga mereka untuk berfoto. Tidak saja berfoto dengan keluarga besar mereka tapi mereka juga berfoto dengan para sahabat mereka.
Malam semakin larut dan Vivian sudah mengganti gaun pengantinya dengan gaun malam. Dia sedang berada di lantai dansa dan berdansa dengan ayahnya.
Damian sedang berbicara dengan Michael juga Felix karena mereka tidak punya pasangan sedangkan Ainsley berbincang bersama sepupu yang lain.
"Aku tidak menyangka jika kau masih bisa berdansa denganmu, Fiona," ucap Jager.
"Tidak saja berdansa, Dad. Kita bisa melakukan banyak hal, aku ingin mengajak Daddy main Boxing, Angar dan juga Berkuda. Jika bosan kita bisa main Catur," ucap Vivian.
"Kau bisa Boxing dan Anggar?"
"Itu olahraga kesukaanku, Dad. Aku suka tantangan jadi aku suka olahraga itu."
"Baiklah, kau memang putriku," ucap Jager.
Saat melihat Matthew menghampiri mereka, Jager menghentikan gerakannya dan melepaskan tangan putrinya.
"Sudah saatnya kau bersama dengan suamimu, Daddy juga ingin beristirahat," ucapnya.
"Baiklah, Dad," jawab Vivian.
Jager melangkah pergi, sedangkan Matthew mendekati istrinya.
"Apa aku menggangu waktu kalian?"
"Tidak, apa kau tidak mau berdansa denganku?"
"Tentu saja aku mau, Sayang," Matthew melingkarkan tangannya ke pinggang Vivian, sedangkan satu tangannya lagi memegang tangan Vivian.
Musik merdu masih terdengar dan mereka mulai bergerak mengikuti irama musik.
"Kau terlihat luar biasa malam ini, Babe," puji Matthew.
"Kau juga, Matth," Vivian tersenyum saat Matthew menempelkan dahi mereka berdua.
"Ke mana kita akan berbulan madu?" tanya Matthew.
"Hawaii."
"Kau ingin berbulan madu ke Hawaii?"
"Yes, aku sangat ingin ke sana," jawab Vivian.
"Seperti keinginanmu dan kita akan segera berangkat."
"Thanks."
"Sttss," Matthew mengecup bibir Vivian dengan lembut.
"Apa kau sudah siap membuat pasukan?" tanyanya.
"Tentu," jawab Vivian sambil terkekek.
Mereka menghentikan gerakan mereka dan berciuman dengan mesra di lantai dansa. Mereka benar-benar bahagia dan pada saat itu, musik ceria terdengar.
Mereka berdua saling pandang dan setelah itu mereka berjoget dengan gembira bersama dengan yang lain. Mereka bahkan mengajak semua keluarga mereka untuk bergabung dan di lantai dansa jadi heboh karena gelak tawa mereka.
Mereka bersenang-senang dan ketika para tamu undangan telah bubar, Matthew segera menarik kakeknya ke lantai dansa karena dia ingin kakeknya menepati janji.
"Hey, kenapa menarikku?" protes Jacob.
"Sekarang waktumu beraksi, Kakek," jawab Matthew.
"What?"
Semua menyingkir dan membentuk lingkaran, sedangkan Jacob berdiri di tengah-tengah. Sebuah lampu sorot menyorot ke arah Jacob dan semua mata melihatnya.
"Wow ... wow ... sepertinya kalian ingin mengerjaiku," ucap Jacob.
"Ayolah, Jac. Tunjukkan kehebatanmu," ucap Alice.
"Jangan bercanda, Honey!"
"Do it! Brother," terdengar suara Edward.
"No!"
"Kakek ... kakek ...kakek!" terdengar suara sorakan cucunya.
Yang lain juga bersorak, Albert tidak ketinggalan begitu juga dengan Olivia dan Edward. Mereka semua bersorak dan bertepuk tangan memberi semangat untuk Jacob.
Keluarga Vivian tampak heran begitu juga dengan Jager dan Damian, apa yang akan dilakukan oleh Jacob? Mereka sangat penasaran.
"Oke, baiklah. Semua pria tua yang ada di sini harus ikut. Ini pertunjukkan terakhir kita," ucap Jacob.
"Setuju!" semua bersorak.
Jacob tampak puas, akhirnya tidak dia saja yang harus menari perut. Dia segera membawa Edward yang menolak dengan keras tapi berkat Amanda, dia tidak berdaya. Dia juga mengajak David Adison dan Jager Maxton untuk ikut serta.
Dua personil baru tidak paham dan ikut-ikut saja tapi ketika pakaian yang digunakan untuk Belly Dance melekat di tubuh mereka, mereka berdua tercengang sedangkan Edward frustasi.
"Apa-apaan ini?!" protes David dan Jager.
"Dilarang protes! Kalian sudah bergabung dalam keluarga kami so, welcome to my family," ucap Jacob.
Jager dan David saling pandang, sepertinya mereka sudah bergabung dalam keluarga aneh.
"Come on guys, it's show time and this is our last show," ucap Jacob.
Walau memalukan tapi ini akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh seluruh keluarga mereka.
Jager dan David tidak berdaya, mereka bisa menolak tapi untuk seumur mereka, mereka belum pernah melakukan hal segila itu dan mereka sangat ingin mencobanya.
"Kak Ed," Jacob memanggil kakaknya kerena Edward hendak kabur.
Edward hanya menggeleng, baiklah. Dia akan melakukannya. Lagi pula dia tidak sendirian bukan?
Mereka mulai keluar dan pada saat melihat mereka, semuanya bersorak, "Yeah ...."
Damian tercengang melihat ayahnya, sedangkan keluarga Adison tak kalah kagetnya melihat penampilan David Adison.
keempat pria tua berdiri di tengah-tengah lantai dansa dan ketika musik mulai dimainkan, mereka mulai menari.
Charles dan Marta saling pandang begitu juga dengan putra dan putri David yang lain, apa mereka tidak salah lihat? Itu ayah mereka bukan?
Suasana di sana terdengar ceria karena suara sorakan, tidak ada yang menertawakan penampilan keempat pria tua itu dan mereka juga tampak gembira. Sebelum pesta berakhir, mereka semua melewatkannya dengan gembira.