
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Vivian meminta Matthew menunggunya sebentar karena dia ingin melihat keadaan Patrik.
Walaupun sebenarnya tubuhnya masih terasa sakit dan dadanya masih terasa nyeri akibat benturan tapi hari ini dia harus bekerja karena dia sudah berjanji akan menemui Jager Maxton.
Dia tidak mau menundanya lagi apalagi dia hanya punya waktu satu minggu untuk membuktikan jika Damian dan Jager Maxton tidak bersalah dan Damian bukanlah buronan yang selama ini dicari oleh mereka.
Pada saat melihat Patrik, Vivian tampak lega dan menghampiri Patrik yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Patrik, bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Vivian seraya duduk di samping Patrik.
"Seperti yang kau lihat Angel,"
"Syukurlah kau?"
"Stop!" Patrik langsung menyela ucapan Vivian.
"Kau pasti akan berkata seperti ini, syukurlah kau baik-baik saja Patrik jika tidak seluruh warga Bikini Bottom akan menangisi kepergianmu dan Spongebob tidak akan punya teman lagi," ucap patrik.
"Hahahahahaha!" Vivian tertawa terbahak-bahak, sedangkan Patrik tampak menggerutu.
"Tepat sekali dan yang pasti Squidward akan senang jika kau mati."
"Ck, aku bukan Patrik star!"
"Oke maaf, aku hanya bercanda saja."
"Kau mau ke mana Angel?" tanya Parik setelah melihat penampilan Vivian yang terlihat rapi.
"Ke kantor, kapten Willys memanggilku dan ada hal penting yang harus aku lakukan."
"Hei kenapa tidak beristirahat dulu?"
"Tidak bisa Patrik, aku harus segera menemui Jager dan Damian. Aku harus segera membuktikan jika mereka tidak bersalah kepada kapten Willys."
"Ck, aku heran padamu! Biarkan saja Damian ditangkap, toh pada akhirnya dia akan diintrogasi dan jika memang dia terbukti tidak bersalah maka dia akan kita lepaskan!"
"Tidak bisa begitu Patrik. Menangkapnya memang mudah tapi kita juga tidak bisa sembarangan menangkap orang apalagi kita tahu buronan kita selalu menggunakan wajah orang lain saat beraksi."
"Kau memang benar tapi kenapa kau sampai mengorbankan karirmu?" Patrik masih tidak percaya Vivian melakukan hal ini.
"Aku punya perhitungan sendiri Patrik, beristirahatlah aku sudah harus pergi. Nanti aku akan meminta Spongebob untuk menjengukmu dan membawakan Krabby Patty kesukaanmu," ucap Vivian seraya bangkit berdiri.
"Hei!" protes Patrik dan Vivian hanya tertawa sambil berjalan keluar.
"Angel jangan lupa kentang gorengnya!" teriak Patrik sebelum Vivian keluar dari ruangannya.
"Ya, Squidward akan mengantarkannya utukmu," jawab Vivian sambil sedikit berteriak.
Vivian segera turun ke bawah karena Matthew telah menunggunya di mobil, sebelum menemui Jager dia harus ke kantor untuk menemui kapten Willys.
Begitu melihat mobil Matthew, Vivian segera menghampirinya dan mengetuk kaca jendela dengan pelan agar Matthew membukakan pintu mobilnya.
"Sudah selesai?" tanya Matthew saat Vivian masuk ke dalam.
"Ya, maaf telah membuat menunggu."
"Tidak apa-apa," jawab Matthew dan dia segera memerintahkan supir pribadinya untuk menjalankan mobil.
"Matth, kau sudah meminta James membawa motorku ke kantor bukan?"
"Tentu saja babe tapi kenapa kau tidak memakai mobil saja? Mobil lebih aman untuk kondisimu saat ini," jawab Matthew seraya memberikan kunci motor Vivian.
"Tidak perlu khawatir oke," Vivian mendekati Matthew dan mencium pipinya.
Matthew tersenyum dan mengusap kepala Vivian dengan mesra, "Nanti malam mau lihat pemandangan kota denganku?"
"Wow, tentu saja mau? Apa kau mau mengajakku ke gedung yang paling tinggi dan melihat pemandangan dari sana?"
"Are you serious?" mata Vivian berbinar dan dia sudah tampak tidak sabar.
"Tentu saja babe, kau mau bukan?"
"Oh Matth, jika aku menolak berarti aku bodoh!"
"Oke, aku akan mempersiapkan semuanya untukmu."
"Thanks Matth," Vivian memeluknya dengan senyum di wajahnya.
Selama diperjalanan, Vivian memesan makanan yang Patrik minta dan setelah tiba di kantornya, Vivian meminta Matthew menghentikan mobilnya sedikit jauh dari kantornya.
Sebuah ciuman dia berikan untuk Matthew dan setelah itu Vivian berlari memasuki kantornya. Seperti biasa para agen yang ada di sana tampak sibuk dengan tugas dan pekerjaan mereka masing-masing.
Vivian segera mencari sang kapten karena dia tidak mau membuang waktu apalagi setelah itu, dia harus menyiapkan beberapa berkas sebelum dia pergi menemui Jager Maxton.
Sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk pergi ke sana karena dia sudah sangat ingin melihat wajah istri Jager yang mirip dengan wajahnya.
Dia benar-benar tidak percaya sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri apalagi dia tidak mengenal Jager Maxton dan ibunya tidak punya saudara yang tinggal di Amerika.
"Selamat pagi kapten," ucap Vivian seraya mengetuk pintu ruangan sang kapten dengan pelan.
"Masuk," terdengar suara kapten Willys dan Vivian segera masuk.
"Kapten mencariku?"
"Ya, duduk!" jawab sang kapten seraya mempersilahkan Vivian untuk duduk.
"Terima kasih kapten," Vivian segera duduk dan memandangi kapten Willys yang tampak begitu serius.
"Atasanmu yang ada di Inggris akan mengirimkan dua agen lagi kemari untuk membantumu agar misi yang kau jalani cepat selesai."
"Apa? Benarkah?"
"Ya, aku menyetujuinya karena aku juga ingin kasus ini segera selesai dan bagaimana dengan Maxton, apa kau sudah mengintrogasinya?"
Vivian tampak berpikir, kenapa kapten Ston mengirim dua agen lagi? Dia harus menanyakan hal ini tapi nanti karena dia harus menemui Jager Maxton terlebih dahulu.
"Aku akan menemuinya hari ini kapten dan besok aku akan memberikan bukti pada kapten jika mereka tidak bersalah dan Damian bukan buronan yang kita cari."
"Baiklah, kembalilah bekerja," ucap sang kapten.
"Terima kasih kapten," Vivian segera keluar dari ruangan kapten Willys dengan pertanyaan di hati, siapa yang akan dikirim oleh kapten Ston?
Dia segera kembali ke mejanya untuk menyiapkan berkas sedangkan di tempat lain, Jager berdiri di bawah foto istrinya dan tampak sudah tidak sabar.
Dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Vivian bahkan Jager memerintahkan pelayan pribadinya untuk menyiapkan banyak makanan karena dia ingin mengajak Vivian makan siang bersama.
Waktu terasa berputar begitu lama bagi Maxton dan tak henti-hentinya dia melihat jam di dinding. Dia benar-benar sudah tidak sabar dan ketika pelayan pribadinya menghampiri dan mengatakan jika Vivian sudah datang, Maxton tersenyum dan memerintahkan pelayan pribadinya untuk segera membawa Vivian masuk.
"Cristiana, lihatlah gadis yang mirip denganmu sudah datang. Dia pasti putri kita bukan?" Jager memandangi foto istrinya dengan senyum di wajahnya.
Walaupun hasil tes DNA belum dia dapatkan karena butuh waktu, tapi entah kenapa dia sangat meyakini akan hal itu. Perasaannya mengatakan jika Vivian memang putrinya apalagi saat melihatnya, ada sebuah kerinduan mendalam di dalam hatinya.
"Selamat siang tuan Max," sapa Vivian setelah dia di bawa masuk oleh pelayan pribadi Jager.
"Akhirnya kau datang, kemarilah nak," pinta Jager sambil melihat Vivian dengan senyum di wajahnya.
Vivian mengangguk dan berjalan dengan pelan mendekati Jager Maxton yang sedang melihat ke arahnya dan mata Vivian tertuju pada Foto yang ada di belakang Maxton.
Vivian semakin mendekat dan pada saat melihat wajah istri jager Maxton dengan jelas, langkah Vivian terhenti dan berkas yang dia bawa langsung jatuh dari tangannya.
Mata Vivian melotot dan dengan nafas yang tertahan, sebuah ucapan meluncur dari bibirnya, "Impossible!"
Dia benar-benar tidak percaya melihat wajah istri Jager yang begitu mirip dengan wajahnya. Apa ini hanya kebetulan saja?