Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Panic mode


Matthew berdiri di depan jendela dan memandangi jalanan yang gelap di luar sana. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi kenapa Vivian belum pulang?


Entah mengapa dia sangat menghawatirkan gadis itu. Jujur saja selama ini tidak pernah ada wanita yang membuatnya seperti ini.


Apa karena Vivian berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini dia kenal? Dia juga tidak tahu tapi dia sudah jatuh hati dengan Vivian pada pertemuan pertama mereka.


Matthew melihat jam yang melingkar di tangannya seraya menghembuskan nafasnya, apa Vivian masih belum menyelesaikan tugasnya?


Karena bosan menunggu, Matthew berjalan menuju dapur dan pada saat melewati kamar Vivian, tiba-tiba saran ayahnya dan sebuah ide muncul di kepalanya. Dari pada menunggu lebih baik dia menyelinap masuk kedalam kamar Vivian untuk mencari tanda pengenal gadis itu.


Ini bukan ide yang buruk jadi Matthew kembali mendekati jendela dan mengintip untuk melihat keadaan di luar sana. Sekarang dia berharap Vivian tidak cepat pulang sampai dia mendapatkan kartu pengenal gadis itu. Vivian pendatang bukan? Pasti dia meninggalkan paspornya di rumah.


Setelah melihat keadaan di luar, Matthew segera menghampiri pintu kamar Vivian, dia akan masuk kedalam kamar gadis itu dan masalah cctv bisa diatasi oleh Michael nanti.


Dengan perlahan Matthew memutar handle pintu dan berharap pintu dapat dibuka tapi sayang, Vivian mengunci pintu kamarnya.


Matthew kembali memutar handle pintu dan mengumpat kesal, sepertinya dia butuh sesuatu untuk membuka pintu kamar Vivian dan jangan kira dia tidak bisa.


Dia segera berjalan kesebuah meja dan membuka laci kecil yang ada di sana untuk mencari alat yang bisa dia gunakan untuk membuka pintu.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Matthew kembali kepintu kamar Vivian. Dia berjongkok di depan pintu dan memasukkan benda yang dia dapat kelubang kunci.


Matthew begitu serius dan tidak lama kemudian, kunci pintu terbuka dan Matthew bersorak dalam hati.


Tanpa membuang waktu karena khawatir Vivian pulang, Matthew segera masuk kedalam kamar Vivian dan melihat isi kamar gadis itu dengan teliti.


Misi mencari kartu pengenal tidak boleh gagal dan dia segera menghampiri sebuah lemari yang ada disamping ranjang.


Matthew membuka sebuah laci dan mengacak isi di dalamnya, dia harap dia menemukan identitas Vivian di sana tapi sayang, mana mungkin Vivian menyimpan paspornya sembarangan?


Karena tidak mendapatkan apapun di laci itu, Matthew segera menghampiri lemari, mungkin yang dia cari ada di sana.


Dia mulai sibuk mencari dan tidak lama kemudian, terdengar suara motor Vivian di luar sana.


"Oh no!" Matthew tampak panik dan merapikan barang-barang yang dia bongkar.


Semua barang-barang itu harus kembali seperti semula dan jangan sampai Vivian tahu jika dia masuk kedalam kamarnya.


Ketika Matthew sedang sibuk merapikan barang-barang yang dia bongkar, Vivian masuk kedalam rumahnya dan tampak heran, kenapa rumah begitu sepi?


Vivian berjalan kearah dapur dan meletakkan makanan dan minuman yang dia beli, dia berniat menikmati makanan dan minuman itu bersama dengan Matthew sebagai tanda terima kasihnya karena pria itu sudah membantunya.


"Fredd?" Vivian memanggilnya karena dia tidak melihat pria itu dimana pun.


Matthew benar-benar panik saat mendengar Vivian memanggilnya, habislah sudah jika Vivian melihatnya berada di dalam kamar dan sedang membongkar isi lemarinya.


"Fredd, apa kau tidur?" Vivian berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Matthew.


Matthew benar-benar tidak punya pilihan, jika dia keluar sekarang maka akan ketahuan jadi dia berlari kearah pintu kamar dan memutar kunci pintu dengan perlahan, jangan sampai pada saat Vivian membuka pintu kamarnya, pintu itu dalam keadaan tidak terkunci yang bisa membuat gadis itu curiga jika ada pencuri yang masuk kedalam rumahnya.


Untuk sementara dia akan bersembunyi di dalam kamar dan pada saat ada kesempatan dia akan keluar.


Mungkin Matthew sedang di kamar mandi jadi tanpa curiga, Vivian berjalan menuju kamarnya dan mengeluarkan kunci dari dalam saku jaketnya.


Ketika terdengar suara kunci yang di putar, Matthew semakin panik karena dia tidak tahu harus bersembunyi dimana. Jika dia masuk kedalam kamar mandi maka Vivian akan memergokinya di sana, di bawah selimut juga tidak mungkin.


"Oh my, aku benar-benar menggali lubang kuburku sendiri!" gerutu Matthew dengan pelan dan karena tidak punya pilihan, dia masuk kedalam lemari pakaian dan bersembunyi di sana.


Pada saat yang bersamaan Vivian membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam. Dia berjalan menuju ranjang seraya membuka jaket yang dia pakai.


Matthew mengintip dari celah pintu lemari dengan jantung berdebar, semoga Vivian tidak membuka pintu lemari itu dan tidak melihatnya di sana.


Dia juga berharap Vivian segera masuk kedalam kamar mandi agar dia bisa segera keluar tapi mata Matthew melotot saat melihat Vivian membuka baju dan celana yang dia pakai.


"Oh my God, siksaan yang bagus!" ucapnya dalam hati tapi matanya tidak lepas dari tubuh Vivian.


Tanpa tahu jika Matthew berada di dalam lemari, Vivian membuka bra yang dia pakai sedangkan Matthew semakin mengumpat kesal saat melihat punggung mulus Vivian karena saat itu Vivian sedang berdiri membelakanginya.


Entah mengapa dia merasa seperti seorang ba*ingan jadi Matthew berhenti melihat dan bersandar pada dinding lemari sambil menghela nafasnya.


Dia tidak berniat mengintip dan ini benar-benar diluar perkiraannya. Dia harap Vivian segera mandi tapi sayang saat itu ponsel Vivian berbunyi yang membuat Vivian duduk disisi ranjang dengan keadaan setengah te*anjang untuk menjawab panggilan yang masuk kedalam ponselnya.


Matthew semakin frustasi tapi dia tidak bisa melakukan apapun, dia diam saja sambil mendengar pembicaraan Vivian dengan seseorang.


"Aku baik-baik saja kakek," jawab Vivian karena kakeknya yang menghubunginya.


"Kakek hanya menghawatirkanmu Vivi," ucap kakeknya.


"Kakek tidak perlu khawatir karena ada yang membantuku di sini."


"Baguslah, kakek hanya takut terjadi sesuatu padamu saat kau sedang bertugas."


Karena dia ingin membuka kepangan rambutnya jadi Vivian mengaktifkan speaker yang ada diponselnya dan meletakkan benda itu di atas ranjang.


"Aku berjanji akan jaga diri jadi kakek jangan khawatir." jawab Vivian seraya membuka kepangan rambutnya.


"Kakek percaya dengan kemampuanmu Vivi tapi kau harus berhati-hati."


"Jadi namanya Vivi?" tanya Matthew dalam hati dan dia semakin penasaran. Siapa sebenarnya gadis ini?


"Kakek jangan terlalu memikirkan aku, sebaiknya kakek jaga kesehatan kakek baik-baik!"


Vivian bangkit berdiri dan berjalan kearah lemari dimana Matthew sedang bersembunyi.


"Oh damn!" umpat Matthew kesal saat menyadari Vivian berjalan kearahnya.


Dia segera melangkah mundur dan bersembunyi dibalik pakaian, Vivian berdiri di depan pintu lemari dan masih berbicara dengan kakeknya.


Jantung Matthew seakan mau copot saat Vivian hendak membuka pintu lemari, habislah sudah!