Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Perasaan Vivian


Vivian duduk termenung di meja makan saat pagi hari. Setelah mendapat mimpi buruk, dia tidak bisa tidur lagi dan dia lebih memilih bangun diam-diam dan duduk di meja makan ditemani segelas kopi.


Vivian meninggalkan matthew yang sedang tidur, dia tidak mau menggangunya karena dia membutuhkan waktu sendiri. Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi dan dia tidak mengantuk sama sekali, rasanya ingin memejamkan matanya tapi bayang-bayang mimpi yang dia alami menghantuinya sehinga sulit membuatnya untuk memejamkan matanya.


Kopi adalah teman terbaiknya saat ini, Vivian meminta salah seorang pelayan yang sedang sibuk membersihkan rumah untuk membuatkan segelas kopi untuknya.


Di dalam otaknya sedang memikirkan banyak hal, memikirkan mimpinya dan apa maksudnya?! Setelah dia pikirkan baik-baik, ternyata sampai sekarang dia belum begitu mengenal Matthew. Yang dia tahu Matthew adalah seorang Ceo sebuah perusahaan dan selebihnya dia tidak tahu.


Entah mengapa muncul rasa curiga di dalam hatinya. Sepertinya Matthew Smith bukan sekedar Ceo biasa dan sebaiknya dia mencari tahu akan hal ini. Patrik mungkin tahu dan dia akan menanyakan hal ini nanti.


Bukan tanpa alasan Vivian curiga, selama ini yang dia tahu matthew adalah orang yang sangat berbahaya dan dia juga hebat menangani bom yang tidak bisa dia tangani.


Untuk seorang Ceo perusahaan dia rasa tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu. Dia yakin matthew pasti punya profesi lain dan dia pasti akan mencari tahu akan hal ini. Walaupun dia percaya dengan Matthew tapi dia harus tetap waspada karena dia tidak mau mimpi buruk yang dia alami menjadi nyata apalagi pesan kakeknya sangat jelas diingatannya, "Jangan pernah berhubungan dengan seorang pria yang menggeluti dunia gelap!"


Entah kenapa Vivian jadi gelisah karena tiba-tiba fellingnya mengatakan jika Matthew termasuk salah seeorang yang menggeluti dunia gelap. Dia tidak ragu menembak musuh bahkan jika mengingat ucapannya semalam, bahwa dia akan menggantung tangan kedua puluh pria yang memukulnya di tiang lampu jalan menunjukkan jika memang dia adalah psikopat yang harus dihindari.


Vivian menghela nafasnya dengan panjang dan menyeruput kopinya. Apa Matthew adalah seorang mafia? Jika tebakannya benar lalu apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus pergi dari pria itu? Bagaimanapun dia adalah penegak hukum dan mafia adalah penjahat dan mereka bagaikan dua mata pedang yang berlawanan arah.


Sepertinya dia harus memikirkan hal ini baik-baik dan sebaiknya dia menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Dia tidak mau terjebak perasaan seperti hubungannya dengan Carlk dan dia harus mengambil keputusan dengan benar. Apakah dia mau tetap bersama dengan Matthew atau tidak saat dia tahu siapa sebenarnya Matthew Smith!


Gelas kopi diletakkan di atas meja dan Vivian bangkit berdiri. Sebelum kembali ke dalam kamar, Vivian meneguk segelas air putih terlebih dahulu. Entah kenapa pikirannya jadi kacau gara-gara mimpi buruk yang dia alami. Selama ini dia tidak pernah bermimpi seperti itu dan mimpi semalam benar-benar membuatnya takut.


Setelah masuk ke dalam kamar, Vivian naik ke atas ranjang dengan pelan di mana Matthew sedang tidur. Vivian memandangi langit kamar sejenak dan setelah itu, Vivian memutar tubuhnya dan memandangi wajah Matthew yang sedang tidur.


Dengan perlahan, Vivian mengangkat tangannya dan jari jemarinya sudah menyelesuri rambut Matthew. Bagaimana jika suatu hari mereka berpisah? Entah kenapa pertanyaan itu muncul di hatinya.


Jari jemarinya masih menyelusuri rambut Mattew, saat membayangkan mereka akan berpisah tiba-tiba dadanya merasa sesak. Entah perasaan apa yang dia rasakan tapi rasanya ingin menangis jika hal itu terjadi. Apa dia sudah jatuh cinta pada Matthew?


Vivian hendak menarik tangannya tapi tiba-tiba saja, Matthew menangkap tangannya dan membuka matanya. Wajah Vivian memerah karena dia sangat malu, sedangkan Matthew tersenyum dan mencium telapak tangannya.


"Kenapa kau tidak tidur babe?"


"Aku tidak bisa tidur," jawab Vivian seraya merapikan rambutnya.


"Kenapa? Apa kau mimpi buruk lagi?"


"Tidak, aku hanya tidak bisa tidur."


Matthew mendekati Vivian dan mencium dahinya, setelah itu Matthew turun dari atas ranjang karena mau ke kamar mandi.


Vivian memandanginya dalam diam dan banyak pertanyaan kembali berputar di dalam kepalanya, "Siapa sebenarnya Matthew?"


Rasa ingin tahu ini benar-benar bisa membunuhnya tapi dia akan mencari tahu hal ini secara diam-diam dan dia tidak mau sampai Matthew tahu.


Setelah keluar dari kamar mandi, Matthew berjalan menghampiri Vivian yang tampak sedang melamun di atas ranjang. Ada apa dengan Vivian?


"Babe?" Matthew naik ke atas ranjang dan mendekati Vivian.


"Kenapa kau jadi termenung seperti ini?"


"Tidak apa-apa Matth, aku hanya memikirkan arti mimpiku!"


"Bodoh!" Matthew memeluk Vivian dan mencium wajahnya.


"Itu hanya sebuah mimpi buruk, untuk apa kau memikirkannya?"


"Aku tahu, tapi aku takut jika mimpi itu menjadi nyata!"


"Jadi menurutmu aku akan melakukan apa yang ada di dalam mimpimu? Jadi kau pikir aku akan membunuh kakekmu?"


"Jadi?"


"Maaf, gara-gara mimpi itu pikiranku jadi kacau."


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kau memikirkan cara mencari bukti untuk menangkap penghianat yang ada diorganisasimu dari pada kau memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi karena aku tidak mungkin melakukannya."


"Aku tahu, tapi aku merasa hal buruk akan terjadi."


"Babe, bukankah sudah aku katakan padamu jika aku tidak mungkin melakukan hal itu? Aku sangat mencintaimu jadi mana mungkin aku melakukannya!"


Vivian diam saja dan rasanya dia ingin tahu, kenapa Matthew sangat mencintainya? Padahal dia hanyalah gadis biasa.


"Kenapa kau begitu mencintaiku Matth?" Vivian memandangi Matthew dengan lekat.


"Karena kau istimewa dan aku tidak akan sembarangan jatuh cinta!"


"Oh ya?"


"Yes!"


Vivian naik ke atas pangkuan Matthew dan memandangi wajahnya, "Katakan lagi jika kau mencintaiku Matth, aku sangat ingin mendengarnya."


Matthew tersenyum dan mengusap wajah Vivian dengan lembut, "Seperti keinginanmu sayang, aku akan mengatakan padamu berapa kalipun yang kau mau jika aku sangat mencintaimu."


Vivian tersenyum dan memeluk leher Matthew, "Lagi?" pintanya.


"I love you Vivi," ucap Matthew lagi.


"Lagi?" pinta Vivian dan seperti yang diinginkan oleh Vivian, Matthew mengatakan cintanya lagi dan lagi sampai Vivian puas.


"Aku ingin kau merekamnya dan memperdengarkan pada setiap orang yang ada di jalan!" pinta Vivian.


"Hei!" protes Matthew.


"Aku hanya bercanda!" ucap Vivian sambil tertawa. Sekarang dia sudah tahu bagaimana perasaannya terhadap Matthew Smith.


"Sudah lebih baik?"


"Ya, aku hanya terbawa suasana."


"Bagus, aku tidak suka melihatmu melamun. Jika ada masalah katakan padaku dan jangan pernah ragu!"


"Thanks," ucap Vivian sambil tersenyum. Siapapun Matthew dia akan mencari tahu dengan diam-diam dan siapapun Matthew, dia akan menerimanya karena Matthew benar-benar tulus mencintainya. Dia tidak akan menanyakan hal ini pada Matthew karena dia takut saat dia mendengar kebenarannya dari mulut Matthew, dia akan kecewa dan hubungan mereka menjadi retak.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya Matthew seraya mencium pipinya.


"Hari ini aku akan mulai mencari bukti untuk menangkap si penghianat!" jawab Vivian dengan penuh percaya diri.


"Kau punya ide bagus?"


"Tentu saja, jangan meremehkan otakku!"


"Oh babe, aku sudah tidak sabar melihat apa yang kau rencanakan!"


Vivian tersenyum dan memeluk Matthew dengan erat. Dia akan mengesampingkan masalah yang tidak penting terlebih dahulu karena saat ini dia harus fokus untuk menangkap si penghianat yang ada di organisasi.