
Begitu bangun dari tidurnya, Vivian mengusap punggungnya yang terasa nyeri. Ini akibat permainan panas mereka semalam dan dia tidak akan mengeluh karena dia juga menikmatinya.
Vivian tersenyum saat melihat Matthew masih tertidur, Matthew pasti lelah karena semalam dia benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan nilai yang bagus dari Vivian tapi sayangnya, Vivian sengaja memberi Matthew nilai buruk atas aksinya.
Tentu hal itu membuat Matthew tertantang dan mereka bermain sampai mereka lelah. Dengan perlahan, Vivian bangun dari tidurnya dan segera berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Setelah selesai, Vivian membuka sebuah laci dan mengambil obat dari sana. Itu adalah pil kontrasepsi yang dia konsumsi setiap hari. Tentu dia memerlukan obat itu supaya dia tidak hamil karena selama ini Matthew tidak pernah memakai pengaman.
Vivian melihat pil obatnya yang tinggal sedikit, sebaiknya nanti siang dia pergi membeli obat itu. Setelah mendapatkan obatnya, Vivian keluar dari kamar dan pada saat suara pintu tertutup, Matthew terbangun dari tidurnya.
Di dalam dapur, Vivian mengambil segelas air dan mengambil sebutir obatnya tapi pada saat itu tiba-tiba saja Matthew memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Matthew seraya mencium pipinya.
"Minum obat," jawab Vivian tanpa ragu.
"Obat? Kau sakit?"
"Tidak, ini pil kontrasepsi."
"Kau mengkonsumsi pil itu?"
"Tentu saja Matth, aku harus mencegahnya dan aku tidak mau hamil terlebih dahulu karena misiku sangat berbahaya, jika sampai aku hamil aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita saat aku menjalankan misi."
"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini padaku babe?"
"Hei, seharusnya kau tahu dan aku tidak bermaksud menyembunyikannya!" Vivian memutar tubuhnya dan memeluk leher Matthew sambil tersenyum.
"Dengar Matth, lebih baik kita mencegah dari pada terjadi sesuatu nantinya. Kau tidak mau kehilangan calon anak kita bukan? Dan kau tahu bahaya apa yang harus aku hadapi saat menghadapi buronanku, jadi kau tidak marah bukan aku mengkonsumsi obat itu?"
"Tentu saja tidak babe," Matthew mengusap pipi Vivian sejenak dan menciumnya.
"Aku tahu kau orang yang penuh perhitungan dan aku tahu apa yang kau lakukan pasti telah kau pikirkan dengan baik. Aku tidak akan marah hanya karena obat itu tapi sejak kapan kau mengkomsinya?"
"Tentu saja sejak kita melakukan hal itu! Jika aku tidak mengkonsumsinya aku rasa perutku sudah membesar karena ulahmu yang menerkamku setiap hari!"
Matthew terkekeh dan mencium dahi Vivian, dia kira Vivian tidak mengerti hal seperti itu tapi apa yang dikatakan oleh Vivian memang ada benarnya, lebih baik Vivian tidak hamil sampai misi yang dia jalankan selesai.
"Ayo mandi," ajak Matthew seraya menggendong Vivian.
"Tapi jangan menerkamku lagi, pinggangku sakit," pinta Vivian.
Matthew kembali terkekeh dan mencium bibirnya, "Aku tidak tahan karena kau begitu menggoda," bisiknya seraya meremas bokong Vivian.
"Matth!" protes Vivian tapi Matthew sudah membungkam bibirnya dan membawa Vivian kembali ke dalam kamar mereka.
Karena masih pagi mereka menghabiskan waktu berdua di dalam bathup. Vivian memainkan busa sabun sedangkan Matthew mengusap punggungnya dan menciumnya.
"Babe."
"Hm?"
"Selama ini aku sangat penasaran dengan rupa Carlk, apa kau punya fotonya?"
"Untuk apa Matth?" tanya Vivian sambil mengernyitkan dahi.
"Aku hanya ingin tahu, bagaimana rupa pria bodoh yang telah menyia-nyiakan cintamu."
Vivian bersandar di dada Matthew dan mengusap wajahnya, "Kau jauh lebih tampan darinya bahkan kau jauh lebih baik darinya dalam segala hal."
"Oh ya?"
"Yes," jawab Vivian.
"Jadi? Apa kau masih punya fotonya?"
"Maaf Matth, sudah aku hapus."
"Ck, sayang sekali! Tapi jika suatu hari nanti kau bertemu dengannya, kau tidak akan meninggalkan aku bukan?"
"Kau tidak perlu khawatir Matth, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan aku sudah bertemu dengannya."
"What?" Matthew sangat kaget, kenapa dia tidak tahu?
"kapan? Kenapa kau tidak mengatakan hal ini padaku?"
"Sorry Matth, aku rasa ini tidak penting jadi aku tidak mengatakannya padamu," jawab Vivian.
"Hei apa maksudmu tidak penting? Setidaknya kau harus mengatakan hal ini padaku bukan?"
"Matth, aku tidak ingin membuatmu marah dan lagi pula aku tidak pergi menemuinya lagi."
"Apa maksudmu babe dan lihat aku!" Matthew mengangkat dagu Vivian dan menatap matanya.
"Apa maksudmu tidak pergi menemuinya?"
"Waktu itu tanpa sengaja kami bertemu dan dia mengajakku makan malam di restoran pinggir pantai untuk memperbaiki hubungan kami, hanya itu. Aku tidak mau pergi menemuinya lagi dan aku tidak mengatakan hal ini padamu karena aku merasa tidak penting. Aku sudah memilihmu Matth jadi percayalah padaku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu."
Matthew menghela nafasnya, padahal dia ingin melihat, siapa Carlk? Jika saja Vivian mengatakan bahwa dia sudah bertemu dengan Carlk dan mereka akan bertemu tentu dia akan pergi bersama dengan Vivian ke restoran untuk menemui Carlk.
Dia harus menunjukkan pada Carlk jika Vivian sudah menjadi miliknya dan dia juga harus memperingati Carlk agar tidak menggangu Vivian lagi. Jangan sampai Carlk mengganggu hubungan mereka hingga Vivian goyah, bagaimanapun Carlk adalah cinta pertama Vivian dan dia tidak mau Vivian kembali dengan Carlk dan meninggalkanya.
"Matth," Vivian memutar tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Matthew.
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah memilihmu dan aku tidak akan bersama dengannya lagi. Seharusnya kau tahu jika aku tidak bermain-main dengamu."
"Aku tahu babe, aku tidak suka jika dia merayumu dan aku sangat ingin melihat rupanya."
"Hei memangnya aku gampang dirayu?" protes Vivian.
"Bukan begitu, kau bilang masih ada cinta di dalam hatimu untuk Carlk bukan? Aku hanya takut kau goyah dan memilih kembali bersama dengannya."
"Bodoh!" Vivian menarik hidung Matthew sambil terkekeh.
"Jika aku kembali dengannya maka aku orang paling bodoh! Setelah membuatku menunggu selama lima tahun dan memberiku alasan yang tidak masuk akal, tentu aku tidak mau dengannya lagi dan lagi pula, sudah ada kau yang begitu mencintaiku. Aku minta maaf Matth karena tidak mengatakan hal ini padamu tapi aku berjanji jika kami bertemu lagi aku akan mengatakannya padamu."
"Janji babe?"
"Pasti, bahkan jika dia mengajakku bertemu lagi maka aku akan membawa bodyguardku," ucap Vivian bercanda.
"Calon suami!" ralat Matthew sambil mengusap wajah Vivian.
"Yes, kau calon suamiku dan dia mantanku."
"Aku tidak sabar ingin melihat wajah dungunya."
"Hei kenapa kau berkata demikian?"
"Karena aku akan menciummu di depannya dan dia akan melihat kita dengan tampang bodoh! Aku harap dia menyesal karena telah menyia-nyiakan cintamu dan aku sudah tidak sabar melihatnya."
"Aku jadi penasaran dan ingin melihatmu saat cemburu," ucap Vivian.
"Sebaiknya jangan coba-coba!"
"Oh MR Smith, aku sangat ingin mencobanya dan ingin melihatmu cemburu," goda Vivian.
"Oh my, awas jika kau berani!"
"Memangnya apa yang mau kau lakukan?"
"Aku tidak suka milikku disentuh orang lain jadi aku akan membunuhnya!" ucap Matthew seraya menggigit bahu Vivian.
"Au, jangan gigit!"
"Akan aku gigit!" ucap Matthew dan dia kembali menggigit Vivian.
Teriakan Vivian terdengar di kamar mandi karena Matthew terus mengigitnya, sedangkan di tempat lain, Carlk menunda pekerjaanya hari ini karena dia berencana menemui Vivian untuk membujuknya. Dia harap Vivian mau memaafkannya dan memperbaiki hubungan mereka sehingga Vivian bisa masuk ke dalam perangkapnya.