Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Poor guy


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, dari sebuah gedung tampak seorang pria baru saja keluar dan pria itu adalah orang yang menolong Vivian beberapa hari yang lalu.


Dia baru saja pulang bekerja dan pria itu berjalan di atas trotoar dengan santai tanpa tahu ada yang sedang mengawasinya dan mengikutinya dari belakang.


Saat berada di rumah sakit, James menemuinya dan sesuai perintah Matthew, James memberikan sebuah cek untuknya sebagai tanda terima kasih karena telah menolong Vivian dan tidak hanya itu saja, James juga menawarkan pria itu pekerjaan dan seorang pengawal yang akan menemaninya beberapa hari ke depan untuk berjaga-jaga tapi pria itu menolak karena dia pikir tidak akan ada yang mengincarnya apalagi dia hanya orang biasa yang tidak punya apa-apa.


Tanpa tahu jika dia sudah terlibat dengan sesuatu yang serius, pria itu menolak tawaran yang James berikan dan hanya mengambil cek dari James saja.


Dia tidak tahu jika pria yang membantunya dengan gadis itu adalah Matthew Smith dan dia juga tidak tahu jika orang yang mengutus dua mata-mata saat menyerangnya dengan gadis itu juga bukan orang sembarangan.


Pria itu terus berjalan dan tanpa dia sadari, dua orang pria sudah berjalan di belakangnya dan sebuah mobil Van berjalan dengan pelan tidak jauh darinya.


Dia kira mereka hanya pejalan kaki biasa seperti dirinya yang hendak menuju halte bis tapi siapa yang menyangka ketika tidak ada orang, kedua pria itu menghampirinya, memepet tubuhnya dan menodongkan pistol di pinggangnya.


"Ikut dengan kami!" ucap salah seorang yang ada di belakangnya.


"A...apa mau kalian?" pria itu ketakutan.


"Jangan banyak bertanya! ikuti saja!"


Pada saat itu mobil Van yang mengikuti mereka sudah berhenti dan pria itu di bawa masuk kedalam mobil dengan ancaman.


Tanpa tahu apa yang terjadi pria malang itu mengikuti mereka dan begitu dia masuk ke dalam, mobil langsung melesat pergi dan selama di mobil, pria itu diikat menggunakan tali.


"Apa mau kalian dan kenapa menangkapku?!" tanya pria itu sebelum mulutnya dibungkam.


"Bos ingin mengintrogasimu dan jika ingin nyawamu selamat sebaiknya jawab pertanyaannya baik-baik jika tidak? Sebaiknya segera menulis surat wasiat!" ucap orang yang menangkapnya.


Pria itu tidak mengerti, dia berusaha memberontak tapi pisau yang ditodongkan dilehernya sejak tadi sudah menggores kulitnya.


"Tidak diam maka mati!"


Karena nyawanya terancam mau tidak mau pria itu diam saja bahkan saat dia dibawa kesuatu tempat yang sepi, dia tidak berdaya dan hanya bisa pasrah saat dia ditarik masuk kedalam sebuah bangunan.


Seorang pria sudah menunggunya dan pria itu adalah Carlk. Dialah yang memerintahkan anak buahnya untuk menangkap orang yang membantu Vivian dan melalui orang itu dia akan mencari tahu siapa yang membantu Vivian.


Ketika anak buahnya membawa orang yang membantu Vivian masuk kedalam, Carlk segera menghampirinya sedangkan orang yang membantu Vivian benar-benar tidak mengerti sama sekali.


"Siapa namamu?" tanya Carlk.


"Scot, siapa kau?!" teriak pria itu.


"Kau tidak perlu tahu Scot tapi jika kau masih sayang dengan nyawamu maka kau harus menjawab pertanyaanku dengan benar!" jawab Carlk.


"Apa yang ingin kau tahu?!" Scot memandangi Carlk dengan tajam. Dia hanya pegawai biasa dan tidak punya informasi apa-apa lalu apa yang ingin pria itu tahu darinya?


"Beberapa hari yang lalu kau membantu seorang gadis bukan?" Carlk memutar langkahnya dan berjalan menuju jendela. Dia berdiri membelakangi Scot dan memandang keluar sana.


"Benar, apa hubungannya denganmu?!" Scot masih tidak mengerti dengan situasi yang dia alami.


"Ketahuilah, kedua orang yang menyerang kalian adalah anak buahku!" ucap Carlk tanpa ragu.


"Apa?" Scot benar-benar kaget mendengarnya.


Carlk kembali mendekati Scot dan berdiri di depannya sambil menatap pria itu dengan tajam.


"Aku tidak tahu!" jawab Scot karena dia memang tidak tahu siapa pria yang membawa pedang waktu itu.


"Jangan pura-pura!" Carlk sudah tampak kesal.


"Aku sungguh tidak tahu! Saat aku di rumah sakit seorang pria bernama James mendatangiku dan hanya itu yang aku tahu!" jawab Scot.


"Kalian, pukul dia agar dia mau mengaku!" perintah Carlk pada anak buahnya.


"Aku sudah berkata jujur, aku sungguh tidak tahu!" teriak Scot tapi sayang, anak buah Carlk sudah memukulnya.


Scot berteriak saat mendapat pukulan dan tendangan dari anak buah Carlk. Dia sudah berkata jujur tapi kenapa pria itu tidak percaya?


"Masih tidak mau mengatakan padaku siapa yang membantu kalian waktu itu?" tanya Carlk lagi.


"Aku sungguh tidak tahu!" jawab Scot dengan keadaan babak belur.


"Jika masih tidak mau mengatakannya maka aku akan memotong lidahmu!" ancam Carlk.


Scot ketakutan mendengarnya, sepertinya dia terlibat dalam masalah besar. Tapi dia benar-benar tidak tahu siapa pria yang membantu mereka waktu itu.


Jika dia tahu akan seperti ini maka dia akan mengambil kartu nama yang diberikan oleh James dan menerima tawaran yang dia berikan.


"Aku sungguh tidak tahu! Aku hanya tahu seorang pria bernama James mendatangiku dan memberikan selembar cek padaku. Dia juga memberikan sebuah kartu nama tapi aku tidak menerimanya jadi aku tidak tahu!" teriak Scot. Dia harap dia dilepaskan dari sana dan jika ada kesempatan dia akan mencari James dan meminta bantuannya.


"Ck, dasar tidak berguna!" ucap Carlk kesal. Sepertinya pria itu memang tidak tahu apa-apa dan sepertinya sia-sia mengintrogasi pria itu.


"Kalian semua, kuliti wajahnya dan hancurkan agar tidak ada yang bisa mengenalinya dan setelah itu bunuh. Buang mayatnya ke hutan dan jangan sampai ada yang tahu!" perintah Carlk.


"Baik bos!" jawab para anak buahnya.


Sebelum wajah Scot dikuliti, Carlk memerintahkan anak buahnya untuk memegangi Wajah Scot karena dia mau memotret wajahnya.


Wajah pria itu sangat berguna baginya dan setelah selesai, anak buah Carlk mulai melaksanakan tugasnya, menguliti wajah Scot dan menghancurkannya sampai tidak ada yang bisa mengenalinya.


Mulut Scot dibungkam agar dia tidak bisa berteriak saat kulit wajahnya ditarik dengan paksa dan dihancurkan oleh anak buah Carlk.


Carlk tampak puas dan mengirimkan wajah Scot kepada seorang ilmuwan yang adalah sahabat baiknya. Dialah yang membuatkan wajah palsu untuk Carlk gunakan saat melakukan transaksi agar tidak ada yang mengenali dan wajah yang dia pakai adalah wajah orang-orang yang dia bunuh.


Dengan begitu tidak akan ada yang tahu identitas aslinya apalagi wajah-wajah yang dia pakai adalah wajah orang mati. Berkat kehebatan sahabatnya, modifikasi wajah dibuat sedemikan rupa dan pihak berwajib tidak akan pernah menemukannya.


"Aku ingin kau membuat wajah baru untukku menggunakan wajah pria ini!" Carlk mengirimkan pesan itu dan gambar wajah Scot pada sahabatnya.


"Serahkan padaku dan mengenai permintaanmu?"


Pada saat pesan itu itu dikirimkan oleh sahabatnya, sebuah bentuk wajah yang berhasil dibuat oleh sahabatnya muncul dilayar ponselnya dengan sebuah tulisan di bawah gambar.


"Delapan puluh persen sudah hampir selesai dan sebentar lagi wajah ini akan sempurna!"


"Bagus! Kau memang sangat bisa diandalkan dan aku akan menggunakan wajahnya nanti. Kita berdua akan menghancurkan reputasinya!"


Sebuah seringai menghiasi wajah Carlk setelah mengirimkan pesan itu pada sahabatnya. Dia melihat gambar wajah yang berhasil dibuat oleh sahabatnya kembali dan berkata dalam hati, "Tunggulah kehancuranmu Matthew Smith!"


Kehancuran pria itu tidak akan lama lagi karena pada saat wajah itu sudah jadi maka dia akan langsung menjalankan rencananya.