
Setelah melewatkan malam indah berdua di taman Nasional Death Valley, mereka pulang saat jam tiga pagi dan langsung tertidur dengan pulas.
Vivian begitu bahagia karena Matthew memberikan kejutan seperti itu. Dia benar-benar merasa sangat dicintai oleh Matthew dan dia sangat bersyukur telah memilih Matthew dan melupakan Carlk.
Sejak pertemuan mereka kembali, dia tidak tahu begaimana dengan Carlk. Dia juga tidak perduli Carlk mau marah atau tidak karena dia tidak datang. Lagi pula Carlk hanya menunggunya beberapa jam saja bukan? Sedangkan dia harus menunggu selama lima tahun di dalam ketidakpastian. Jika dia tidak datang ke Amerika dan bertemu dengan Matthew, dia yakin saat ini dia masih berharap dan menunggu Carlk seperti orang bodoh.
Suara alarm yang berbunyi membangunkan Vivian dari tidurnya, dengan perlahan Vivian membuka matanya dan tersenyum saat melihat Matthew masih tidur di sampingnya.
Vivian segera meraba ponselnya dan mematikan alarm karena dia tidak mau Matthew terbangun karena hal itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi dan sebaiknya dia bangun untuk menyiapkan sarapan. Dia ingin mereka sarapan bersama sebelum pergi ke kantor walaupun setiap hari mereka melakukan hal demikian.
Setelah mencuci wajahnya, Vivian segera keluar dan menuju dapur. Dia disambut dengan ramah oleh pelayan yang ada di sana karena mereka sudah terbiasa dengan kehadirannya.
Vivian mengambil roti karena dia ingin membuat sandwich, itu saja sudah cukup untuk mengganjal perut mereka berdua dipagi hari.
Hari ini dia akan memberikan bukti kepada kapten Willys dan menunjukkan jika Jager Maxton tidak melakukan kejahatan sama sekali dan Damian bukan buronan yang sedang mereka cari.
Dengan bukti yang dia dapatkan sudah cukup untuk meyakinkan kapten Willys dan mereka harus mengganti target lain.
Selagi Vivian sedang sibuk membuat telur goreng untuk menjadi isi sandwich, Matthew memeluknya dari belakang dan mencium bahunya.
"Morning babe."
"Matth, kau membuatku kaget saja!"
"Sepertinya kau begitu serius?"
"Tidak, aku hanya sedikit melamun."
"Oh ya? Apa yang sedang kau pikirkan babe?"
"Hanya masalah pekerjaan," jawab Vivian.
"Apa hari ini kau akan sibuk?"
"Aku selalu sibuk setiap hari Matth tapi hari ini aku akan memberikan bukti yang sudah aku dapatkan kepada atasanku dan membuktikan jika Jager Maxton juga Damian tidak bersalah."
"Itu sangat bagus tapi ngomong-ngomong babe, apa kau tidak mau menghubungi ibumu dan menanyakan apa dia punya saudara atau tidak di sini?"
"Untuk apa?" tanya Vivian seraya mengernyitkan dahinya.
"Babe, aku merasa wajahmu yang begitu mirip dengan istri Jager bukan hanya kebetulan semata."
"Apa maksudmu Matth? Sudah aku katakan bibiku tidak tinggal di Amerika dan aku juga tidak mengenal Jager Maxton."
"Aku tahu, tapi?"
"Matth!" Vivian sedikit berteriak.
"Tolong jangan dibahas lagi," pinta Vivian karena dia takut memikirkan lebih jauh masalah ini.
"Baiklah, maafkan aku babe, Aku tidak akan membahasnya lagi," ucap Matthew seraya mencium pipinya.
Vivian berusaha tersenyum, dia sungguh tidak mau memikirkannya dan setelah nanti malam dia tidak akan mau bertemu dengan Jager Maxton lagi.
Sementara itu di rumah Maxton, Damian baru kembali dari lari pagi. Sambil mengelap keringat yang mengalir dari dahinya, Damian pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Setelah meneguk segelas air, Damian segera berjalan menuju kamarnya karena dia ingin mandi. Jager berada di ruang keluarga sambil menikmati segelas teh dan berbicara dengan pelayan pribadinya.
Jager memerintahkan pelayan pribadinya membuat makanan lezat untuk nanti malam karena dia telah mengundang Matthew dan Vivian untuk makan malam bersama.
Dia sungguh tidak sabar menantikannya dan sudah tidak sabar bertemu dengan Vivian lagi. Entah kenapa dia ingin selalu bertemu dengan Vivian karena gadis itu bisa mengobati kerinduan yang ada di dalam hatinya.
Setelah selesai mandi, Damian segera mencari ayahnya, "Ohayo otosan," sapa Damian.
Jager hanya mengangguk dan menyeruput tehnya tapi matanya tidak lepas dari Damian, dia sangat ingin tahu info penting apa yang didapat oleh Damian semalam.
"Bagaimana Damian, apa yang dia katakan?"
Damian belum menjawab dan segera duduk di depan ayahnya, dia menuang teh dan mengambil sepotong makanan yang ada di atas piring.
"Dia bilang orang yang membunuh istri dan putri daddy adalah David Adison," jawab Damian seraya mengambil gelas tehnya.
"Jadi benar David Adison yang membunuh Cristiana dan putriku?" Jager sudah tampak marah.
"Dad, sebaiknya kita tidak mempercayai hal ini begitu saja."
"Kenapa? Sudah sangat jelas bukan apa yang dia katakan dan aku rasa orang itu tidak berbohong."
"Jangan buru-buru dad, kita harus mencurigainya kenapa dia mau memberikan informasi ini secara cuma-cuma."
"Apa orang itu tidak meminta sesuatu?" Jager memandangi putranya dengan serius.
"Tidak. Dia bilang teman lama daddy memintanya mengatakan hal ini dan teman daddy juga mengenal istri daddy. Siapa orang itu dad?"
"Hng, temanku? Aku tidak punya teman!" jawab Jager dengan sinis.
"Jadi boleh aku bertanya pada daddy?"
"Apa yang ingin kau tahu Damian?"
Jager masih menatap putranya sedangkan Damian menyeruput tehnya, dia sangat berharap ayahnya berkata jujur.
"Selama ini yang aku tahu istri daddy meninggal saat melahirkan tapi sepertinya kejadiannya tidak seperti itu, benarkan dad?"
Jager diam saja, apa sebenarnya yang ingin Damian tahu?
"Akhir-akhir ini aku baru tahu jika daddy mencari pelaku yang membunuh istri dan putri daddy bahkan daddy membongkar makam untuk tes DNA. Jika istri daddy meninggal saat melahirkan, seharusnya daddy tidak melakukan hal itu bukan? Scott juga mengatakan jika istri daddy menyembunyikan diri di Inggris dan menjadi korban, sebenarnya apa yang telah terjadi dan apa yang telah daddy sembunyikan? Aku juga ingin tahu, siapa baj*ngan yang selalu daddy sebutkan?" tanya Damian sambil memandangi ayahnya dengan serius.
Jager diam saja masih belum menjawab, ini kenangan yang paling tidak ingin dia ingat dan dia menyembunyikan hal ini karena dia tidak ingin melukai perasaan ibu Damian dan juga Damian.
"Dad, kenapa kau diam saja? Walau aku bukan darah dagingmu tapi aku sangat menyayangimu. Katakan padaku apa yang telah terjadi dad? Mungkin aku bisa membantu daddy untuk balas dendam dan mencari pelaku yang membunuh istri dan putri daddy. Bagaimanapun kita tidak boleh percaya dengan informasi yang kita dapatkan dengan mudah."
Jager menghela nafasnya dan bangkit berdiri, dengan perlahan Jager berjalan menghampiri foto istrinya dan melihatnya.
Mungkin sudah saatnya Damian tahu semua yang terjadi, lagi pula dia tidak bisa menyembunyikan hal ini selamanya.
"Aku harap kau tidak menyalahkan dirimu setelah mendengar ini," ucap Jager sambil menghela nafas.
"Kenapa? Apa ini ada hubungannya denganku?" tanya Damian penasaran sedangkan Jager sedikit mengangguk.
Damian segera bangkit berdiri dan berjalan menghampiri ayahnya, dia benar-benar penasaran, apa sebenarnya yang terjadi?