
Operasi untuk mengeluarkan peluru sudah selesai dan kedua orangtua Vivian sudah dipindahkan untuk dirawat lebih lanjut begitu juga dengan kakek Vivian.
Mereka masih belum sadarkan diri akibat obat bius dan David dalam kondisi kritis. Itu diakibatkan peluru mengenai organ vitalnya belum lagi kepalanya dipukul oleh Gary berkali-kali.
Hal itu membuat Mariam sangat khawatir begitu juga Hilary dan Ben. Di dalam hati mereka tidak henti-hentinya mengutuki dan menyalahkan Vivian.
Rasanya ingin membawa mereka pulang ke Inggris tapi keadaan mereka tidak memungkinkan dan mereka harus dirawat secara intensif terutama David Adison.
Mereka dirawat di dalam ruangan yang sama. Itu permintaan Hilary dan Ben agar mereka mudah mengawasi semuanya tanpa perlu repot-repot.
Mariam duduk di samping ibunya dan menggenggam tangannya, dia tampak menangis dan berharap ibunya cepat sadar. Peluru yang mengenai ibunya cukup dalam, walaupun tidak mengenai organ vital tapi cukup membahayakan nyawa.
Mariam masih kecewa terhadap adiknya karena Vivian melindungi orang yang telah mencelakai keluarga mereka. Apa Vivian tidak percaya jika pria itulah pelakunya?
Jika Vivian datang lagi maka dia akan menanyakan hal ini lagi. Dia tidak percaya Vivian akan melindungi seorang penjahat apalagi adiknya seorang penegak hukum.
Diluar sana, Vivian sedang mencari kakaknya.Dia tidak tahu diruangan mana keluarganya sedang dirawat sedangkan Matthew meminta James mengurus semuanya karena malam ini juga keluarga Vivian akan dipindahkan ke rumah sakit pribadi keluarganya.
Vivian mencoba menghubungi kakaknya tapi tidak ada jawaban.Mau tidak mau dia bertanya pada perawat dan setelah tahu di mana keluarganya dirawat, Vivian bergegas menuju ruangan itu.
Hilary dan Ben duduk di samping ayah mereka ketika pintu ruangan terbuka. Amarah langsung menguasai hati mereka ketika melihat Vivian dan Matthew masuk ke dalam.
Hilary langsung bangkit berdiri dan menghampiri Vivian dan tanpa banyak bicara, Hilary mengangkat tangannya hendak memukul wajah Vivian tapi Matthew segera menangkap tangan Hilary.
"Jangan keterlaluan, Nyonya!" Matthew melepaskan tangan Hilary dan menarik Vivian agar mendekat padanya.
"Aunty, aku ingin melihat keadaan kakek, Mommy dan Daddy," ucap Vivian.
"Kau tidak perlu tahu keadaan mereka!"
"Ada yang ingin aku bicarakan juga, Aunty."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Sebaiknya pergi dan jangan menunjukkan wajahmu dan pembunuh ini?" Hilary menatap mereka dengan penuh kebencian.
"Dia bukan pembunuh Aunty," jawab Vivian.
"Masih juga membelanya? Aku melihatnya begitu juga dengan pamanmu. Kakakmu saksi pertama tapi kau masih menyangkalnya? Apa kau pikir kami buta?" teriak Hilary penuh emosi.
"Nyonya, bisa kau tidak berteriak?" ucap Matthew. Jika bukan bibi Vivian sudah dia lempar keluar jendela sedari tadi.
"Diam kau! Kau orang luar tidak berhak ikut campur permasalahan kami dan kau seorang penjahat dan pembunuh!"
"Diam, Aunty!" teriak Vivian marah.
"Kalian boleh menyalahkan aku, boleh memukulku sampai puas tapi aku tidak terima kalian menyalahkan Matthew karena bukan dia yang melakukannya!"
"Apa kau punya bukti berkata seperti itu, Vivian?" Ben bangkit berdiri dan menghampiri mereka.
"Uncle, percayalah padaku. Aku akan menunjukkan buktinya tapi sekarang lebih baik kita memindahkan mereka demi keamanan mereka."
"Apa maksudmu? Mereka sudah aman di sini," ucap Hilary.
"Tidak Aunty, aku takut orang itu kembali lagi untuk mencelakai Mommy, Dadddy dan Kakek."
"Bukankah orang itu bersama denganmu, Vivi?" Mariam bangkit berdiri dan menghampiri adiknya.
Jujur saja dia semakin kecewa karena Vivian masih bersama dengan orang yang mencelakai keluarga mereka bahkan masih membelanya.
"Jawab pertanyaanku Vivi, kenapa kau membelanya? Apa kau tidak percaya dengan kami? Kau seorang penegak hukum dan seharusnya kau menangkapnya tapi kenapa kau membela orang yang sudah jelas-jelas hampir membunuh keluarga kita? Apa kau dibutakan oleh cinta hingga kau jadi bodoh?" tanya Mariam.
"Kak, percaya padaku. Karena aku seorang penegak hukum jadi aku tahu bukan Matthew yang melakukannya. Yang melakukannya orang lain dan orang itu menggunakan wajah Matthew," jawab Vivian.
"Benarkah?" Mariam memandangi adiknya juga Matthew. Apakah yang dikatakan oleh adiknya benar?
"Percayalah padaku, Kak. Kau tahu aku sangat menyayangi kalian, mana mungkin aku membela orang yang mencelakai Mommy dan Daddy? Kau juga tahu aku sangat menyayangi Kakek, apa kau pikir aku akan tinggal diam saja saat ada orang yang mencelakai mereka?"
Mariam diam saja, dia tahu adiknya sangat menyayangi mereka. Tapi untuk mempercayai jika orang yang bersama dengan adiknya saat ini bukanlah pelakunya sangat sulit. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika orang itulah yang telah mencelakai keluarganya, apa dia bisa mempercayai ucapan adiknya begitu saja?
"Kak," Vivian menghampiri kakaknya dan meraih tangannya.
"Percayalah padaku. Orang yang mencelakai Mommy dan Daddy juga Kakek sedang merencanakan sesuatu dan aku takut dia menemukan kalian dan mencelakai kalian lagi."
"Omong kosong!" ucap Hilary dengan sinis.
"Jelas-jelas orangnya ada di sini dan kau menyalahkan orang lain demi melindunginya!" ucap Hilary lagi.
"Aunty, tolong percaya padaku sekali ini saja," pinta Vivian.
"Tidak akan! Mereka akan tetap dirawat di sini! Jika kau berani memindahkan mereka maka langkahi dulu mayatku!" Hilary masih dengan pendiriannya.
"Kak, please. percaya padaku," Vivian hanya bisa memohon pada kakaknya karena paman dan bibinya tidak bisa diajak bicara.
"Jangan dengarkan dia, Mariam! Dia hanya akan memperburuk keadaan."
"Aunty, aku rasa yang diucapkan Vivian benar. Sebaiknya kita waspada," ucap Mariam.
"Diam kau Mariam! Sekarang kau juga mempercayai adikmu yang lebih membela pembunuh itu?"
Matthew diam saja, terserah mereka mau berbicara apa. Lagipula jika berada diposisi mereka siapapun akan seperti itu.
"Aunty, aku mohon, ijinkan aku memindahkan mereka ke rumah sakit keluarga Matthew. Mereka akan aman di sana," Vivian mendekati bibinya untuk membujuknya.
"Tidak!" Hilary membuang wajahnya.
"Aunty," Vivian memegangi tangan bibinya dan memohon.
"Aku bilang tidak!" Hilary mendorong tubuh Vivian dengan sekuat tenaga sampai Vivian jatuh ke atas lantai.
"Aunty, jangan sampai kau menyesal nanti!" teriak Vivian marah.
Matthew mendekati Vivian dan membantunya bangkit berdiri, cukup sudah diamnya. Dia tidak terima Vivian diperlakukan seperti itu.
"Nyonya, kau benar-benar keterlaluan!"
"Diam kau pembunuh!"
"Ya, aku memang pembunuh! Aku suka membunuh orang apalagi orang sepertimu!" Matthew menatap Hilary dengan tajam, sedangkan Hilary melangkah mundur.
"Aku ingin memindahkan orangtua Vivian demi keamanan mereka karena seseorang sedang merencanakan perbuatan jahat dan entah apa yang akan dia lakukan. Jika yang ada di atas ranjang itu adalah kau, aku tidak akan mau repot memindahkan kau dan aku akan membiarkan kau mati! Dan jika aku yang melakukan penembakan itu, mereka bertiga pasti sudah mati karena aku lebih suka melihat orang yang aku bunuh mati di tempat dari pada sekarat!"
Hilary diam saja sedangkan Vivian mendekati bibinya lagi dan berkata, "Please Aunty, believe me."
"Aunty, kita harus mempercayai Vivian," ucap Mariam.
Hilary masih belum menjawab dan pada saat itu James masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru.
"Master, anak buahku mengatakan ada yang mencari mereka di beberapa rumah sakit."
"See, apa kalian masih tidak percaya?" tanya Matthew.
Hilary dan Ben saling pandang, apakah benar?
Matthew segera memerintahkan James untuk memindahkan keluarga Vivian dari rumah sakit dan dia juga memerintahkan James untuk menghapus jejak keberadaan keluarga Vivian di rumah sakit itu agar tidak ada yang menemukan keluarga Vivian.
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Hilary dan Ben mengikuti keluarganya dibawa yang pastinya keluarganya akan dirawat di rumah sakit terbaik dan mereka aman. Anak buah Gary tidak akan pernah menemukan mereka dan pencarian Gary akan sia-sia.