Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Sungguh hari yang sial


Setelah selesai mandi, Vivian enggan keluar dari kamar karena dia khawatir Matthew akan membalas perbuatannya.


Lagi pula bukan dia yang salah. Gerakan refleks yang dia lakukan hanya sebagai perlindungan diri saat dia terpojok.


Dia sungguh tidak mau menendang area terlarang Matthew tapi apalah daya, dia terlalu menghayati dan membayangkan Matthew adalah seorang ba*ingan yang hendak melecehkannya.


Sekarang dia enggan keluar tapi dia harus segera pergi ke kantor dan dia juga harus membuat sarapan sebelum pergi.


Dengan perlahan Vivian membuka pintu kamarnya dan mengintip, dia melihat situasi di luar dan beruntungnya Matthew tidak ada di luar sana.


Vivian bernafas dengan lega dan segera keluar, dia berjalan ke arah dapur dengan cepat karena setelah membuat sarapan dia akan segera pergi.


Di dalam kamarnya, Matthew ke luar dari kamar mandi. Tadi itu sangat sakit apalagi tenaga Vivian tidak main-main.


Untung saja adiknya baik-baik saja jika tidak bagaimana dia bisa membuat Vivian mengerang nikmat karena perbuatannya?


Untuk seumur hidupnya baru kali ini adiknya ditendang oleh seseorang dan sialnya orang yang menendangnya adalah gadis yang dia sukai.


Matthew keluar dari kamarnya dan melihat pintu kamar Vivian, apa gadis itu masih belum keluar?


Dia berniat berjalan menghampiri pintu kamar Vivian tapi dia urungkan karena terdengar suara dari dapur.


Matthew segera berjalan menuju dapur dan pada saat melihat Vivian sedang sibuk membuat makanan, dia menghampiri Vivian dengan senyum di wajahnya.


"Apa perlu aku bantu babe?"


Vivian meliriknya sejenak dan berkata, "Tidak perlu Fredd, aku sudah mau selesai."


"Kau yakin?"


"Hm," jawab Vivian mengangguk dan dia mematikan api kompornya karena dia mau meminta maaf pada Matthew.


Vivian menunduk, dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk meminta maaf atas perbuatannya tadi.


"Hm, Fredd."


"Yes babe."


"Aku, aku minta maaf karena telah menendangmu. Aku terlalu menghayati dan menganggap kau seorang ba*ingan yang hendak melecehkan aku jadi aku minta maaf."


"Jadi kau menendangku karena itu?"


Vivian mengangguk dengan wajah memerah, sungguh dia tidak enak hati telah melakukan hal seperti itu.


Matthew tersenyum dan mengusap ujung kepalanya, "Tidak apa-apa babe, aku yang terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja jadi kau tidak perlu khawatir."


Setelah berkata demikian, Matthew melangkah pergi. Vivian memandangi kepergiannya dan memegangi kepalanya yang baru saja disentuh oleh Matthew.


Walaupun mereka baru saja saling mengenal tapi dia bisa merasakan jika pria itu orang baik, dan dia merasa tidak rugi memberikan tumpangan untuknya.


Vivian kembali menyelesaikan sarapan yang dia buat dan setelah selesai dia segera menghampiri meja makan sambil membawa makanan yang dia buat dan Matthew sedang duduk di sana.


"Apa kau mau kopi Fredd?" tanya Vivian basa basi.


"Boleh, tanpa gula!" jawab Matthew.


Vivian mengangguk dan berjalan pergi, sadangkan mata Matthew tidak lepas darinya. Entah mengapa dia merasa mereka seperti sepasang suami istri dan dia ingin sedikit menggoda Vivian.


"Babe."


"Hm?" Vivian berjinjit karena dia ingin mengambil serbuk kopi yang dia simpan di dalam lemari.


"Apa kau tidak merasa jika kita seperti pengantin baru?"


"A..apa?" karena perkataan Matthew membuat Vivian gugup dan tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas yang dia simpan di atas meja hingga jatuh ke bawah dan pecah.


"Oh my God!" Vivian segera berjongkok untuk membersihkan pecahan beling yang berserakan di atas lantai.


"Hati-hati tanganmu babe," Matthew bangkit berdiri dan segera menghampirinya.


"Biar aku yang bersihkan dan awas kakimu!" ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa," Jawab Vivian seraya memunguti pecahan beling yang ada di atas lantai.


Dia tidak perduli jarinya mengeluarkan darah karena tergores pecahan beling tapi Matthew sangat tidak suka melihatnya.


"Babe!" Matthew memegangi tangan Vivian yang mengeluakan darah. Dia bahkan menarik Vivian hingga bangkit berdiri dan membawanya menuju wastafel.


"Jarimu berdarah apa kau tidak lihat?!"


"Hanya luka ringan saja jangan dipermasalahkan!"


"Tapi aku tidak suka melihatnya!"


Matthew menyalakan keran air dan mencuci tangan Vivian, jangan sampai ada pecahan beling diluka yang terdapat di jari Vivian.


Vivian diam saja membiarkan Matthew mencuci tangannya, padahal hanya luka ringan saja untuk apa dipermasalahkan?


Karena darah tidak juga berhenti, tanpa ragu Matthew memasukkan jari Vivian ke dalam mulutnya dan menghisapnya.


Vivian kaget setengah mati dan wajahnya merah padam.


"Fre...Freddy!" entah kenapa jantungnya jadi berdetak dengan cepat.


Matthew memandangi Vivian dan menghentikan aksinya tapi jari Vivian masih ada di mulutnya.


Vivian sangat malu dan membuang wajahnya yang memerah, jantungnya semakin berdetak dengan cepat sampai dia sendiri dapat mendengarnya. Dia sangat ingin menarik jarinya tapi entah mengapa tidak bisa dia lakukan.


Matthew menarik jari Vivian dari mulutnya saat melihat tingkah gadis itu, entah mengapa dia jadi ingin menggodanya jadi tanpa berkata apa-apa, Matthew menarik tangan Vivian hingga tubuh Vivian masuk kedalam pelukannya.


"Ma..mau apa kau?!" Vivian mulai gugup.


"Angel," Matthew berbisik di telinganya dan menggigit daun telinganya.


Jantung Vivian seperti hendak melompat keluar dan dia berusaha mendorong tubuh Matthew.


"Fre...Freddy, lepaskan!" pinta Vivian tapi Matthew tidak perduli.


"Angel," bisik Matthew lagi.


Wajah Vivian semakin memerah, rasanya dia ingin menendang pria itu hingga terpental di tembok tapi dia baru saja minta maaf karena telah menendangnya.


Matthew tersenyum dan mengusap wajah cantik Vivian yang semakin memerah, Vivian benar-benar gugup dan dia merasa sebentar lagi kepalanya akan mengeluarkan asap.


Jari Matthew mulai menyelusuri bibir seksi Vivian dan mengusapnya, mata Vivian membulat dan tanpa sadar dia juga menahan nafasnya.


Senyum Matthew semakin lebar dan karena ini adalah kesempatan, tanpa menunggu lagi Matthew mencium pipi Vivian dan berbisik, "Morning kiss dan darah di jarimu sudah berhenti."


Vivian mematung di tempatnya karena ini pertama kali seseorang menciumnya bahkan saat Matthew melepaskannya dan melangkah pergi sambil bersiul karena senang, Vivian masih melongo seperti orang bodoh.


Perlu beberapa menit baginya sampai dia menyadari apa yang baru saja terjadi, Vivian mengepalkan tangannya dan tampak marah. Beraninya pria itu mengambil kesempatan dalam kesempitan? Jika dia tidak menendang bokongnya hari ini maka dia tidak akan puas.


"Freddy!" geramnya marah dan tanpa sepengetahuan Matthew, Vivian berlari ke arahnya dan menendang bokongnya.


Matthew sangat kaget karena mendapat tendangan yang tiba-tiba hingga tubuhnya terjungkal ke depan.


"Oh my, babe! Kenapa kau menendangku?" Matthew segera bangkit berdiri dan memegangi kedua bokongnya.


"Kurang ajar, beraninya kau menciumku saat aku belum siap!" jawab Vivian kesal.


"Oh jadi aku boleh menciummu saat kau sudah siap?" tanya Matthew seraya mengusap bokongnya. Sungguh hari yang sial, sudah mendapat tendangan dari depan, sekarang dia juga harus mendapat tendangan dari belakang.


"Jangan sembarangan menyimpulkan!"


"Oh come on babe, kau pasti sudah siap bukan? Come to me, aku sangat ingin mencium bibirmu!" Matthew membuka kedua tangannya lebar-lebar.


"What?"


"Come on babe," Matthew berjalan mendekati Vivian. Akan dia cium bibir gadis itu karena sudah menendangnya dua kali.


Vivian melangkah mundur, jangan sampai tertangkap jika tidak habislah dia.


Matthew benar-benar akan menangkap dan semakin membuat Vivian terpojok ketembok.


"Pergi kau!" bentak Vivian tapi Matthew tidak juga bergeming dan terus mendekati Vivian.


Vivian mulai lari dan Matthew mengejarnya. Dia kira dia bisa menangkap Vivian tapi dia salah, Vivian berlari ke atas tembok dan setelah itu dia bersalto ke atas untuk melewati Matthew.


"Wow!" Matthew mendongak dan memutar tubuhnya untuk melihat Vivian yang sudah mendarat di atas lantai.


"Dalam mimpimu!" ucap Vivian dan dia segera kabur.


"Wow, i like it babe. Tapi lain kali kau tidak akan aku lepaskan!" ucap Matthew dan dia kembali mengusap bokongnya yang masih terasa sakit. Semoga Michael tidak melihat hal ini dari cctv, jika sampai adiknya tahu dia pasti akan jadi bahan tertawaan.