
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore dan Matthew masih berada di kantornya, dia sedang sibuk melihat beberapa berkas yang diberikan oleh James.
Itu adalah hasil laporan yang James dapatkan setelah beberapa hari anak buah yang dia perintahkan mengikuti Ella. Dia ingin tahu apa tujuan Ella berpura-pura mengelabui Vivian waktu itu. Dia tahu Ella adalah wanita jal*ng yang rela melakukan apa saja demi tujuanya dan sepertinya Ella melakukan hal itu dimintai oleh seseorang apalagi hasil penyelidikan yang diberikan oleh anak buahnya, Ella selalu terlihat bersama dengan Gary Wriston.
Dia juga tahu siapa Gary Wriston, Gary dan Ella adalah perpaduan yang sempurna karena mereka sama-sama licik, mungkin sebaiknya dia ganti target. Sebaiknya dia meminta seseorang untuk mengikuti Gary Wriston atau meminta adiknya menyusup keperusahaan Gary untuk memantau gerak geriknya.
"Mich," Matthew bangkit berdiri dan menghampiri adiknya.
"Ada apa kak?"
"Aku ingin kau menyusup ke dalam perusahaan Wriston untuk memantau gerak gerik Gary," pintanya.
"Untuk apa? Apa kakak mencurigainya?"
"Ya, kau tahu bukan dari dulu dia memang benci denganku dan sangat ingin membunuhku tapi dia tidak berani datang menantangku walaupun aku sudah mengirimkan banyak surat tantangan untuknya. Aku curiga dia dan Ella bekerja sama untuk melawanku. Jangan-jangan dia sudah tahu hubunganku dengan Vivian dan mengira Vivian adalah kelemahanku."
"Ck, hanya orang bodoh yang mengira kakak ipar adalah kelemahanmu kak," ucap Michael.
"Who knows," ucap Matthew seraya mengangkat bahu.
"Baiklah, besok aku akan melakukannya. Aku akan memantau gerak geriknya tapi jangan memintaku memantau Gary di rumahnya karena aku tidak mau melihat adegan menjijikkannya bersama Ella," ucap Michael bercanda.
"Hei, it's a live show," ucap Matthew sambil terkekeh.
"Hng, jangan sampai aku melihatnya!" dengus Michael.
Matthew berjalan pergi sambil terkekeh dan mengambil ponselnya karena dia ingin menghubungi Vivian, dia ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Vivian saat ini.
Saat itu Vivian sedang saling berkirim email dengan kapten Ston, ini mengenai dua agen yang hendak kapten Ston kirimkan untuk membantunya.
"kapten, aku dengar kau ingin mengirim dua agen lagi untuk membantuku?" tanya Vivian di dalam email yang dia kirimkan.
"Yes Angel, Charlie dan Felicia akan segera berangkat untuk membantumu menjalankan misi di sana."
"Apa tidak terlalu berlebihan kapten?" tanya Vivian lagi.
"Tidak Angel, setelah misimu selesai, aku ingin mengirimmu ke Meksiko untuk menangkap seorang penjahat di sana," jawab Kapten Ston.
Selagi Vivian menulis pesan untuk membalas email kapten Ston, ponsel Vivian berdering dan dia segera meraihnya.
"Ada apa?" tanya Vivian setelah tahu jika yang menghubunginya adalah Matthew.
"Babe, apa kau belum pulang?"
"Belum, kenapa?"
"Kau tidak lupa bukan babe jika malam ini kita akan pergi makan malam ke rumah Maxton?"
"Oh my God," Vivian menepuk dahinya. Dia lupa akan hal ini karena terlalu sibuk, itu dikarenakan Patrik dan Jerry masih dirumah sakit dan pekerjaan Patrik dilimpahkan padanya.
"Aku lupa," ucap Vivian.
"Ck, kau ini? Segeralah pulang untuk bersiap-siap, jangan sampai membuat Jager menunggu, itu tidak sopan."
"Baiklah, cerewet!" ucap Vivian sedangkan Matthew hanya terkekeh.
Setelah berbicara dengan Matthew, Vivian kembali mengirimkan email untuk kapten Ston. Dia menanyakan kapan Charlie dan Felicia akan datang karena dia sudah tidak sabar bisa bekerja sama lagi dengan mereka, tapi dia tidak tahu, jika salah satu diantara mereka adalah penghianat sesungguhnya dan orang itu yang sangat membenci dirinya selama ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Vivian segera bergegas untuk pulang. Dia sudah bertekad, setelah malam ini dia tidak mau betemu dengan Jager Maxton lagi. Ini karena wajahnya yang mirip dengan istri Maxton dan dia tidak mau Maxton berpikir hal lain tentangnya.
Lagi pula dia sudah mengintrogasi Maxton dan sudah tidak ada urusan lagi dengannya, jangan sampai kemiripan wajahnya dengan istri Maxton disalah artikan.
Ketika dia tiba, ternyata Matthew belum pulang. Tidak mau membuang waktu, Vivian segera mandi karena banyak yang harus dia lakukan. Memilih baju, merapikan rambut dan masih banyak lagi.
Dia bahkan mandi dengan cepat dan berdiri di depan lemari begitu lama untuk melihat baju yang pantas dia kenakan untuk acara makan malam nanti.
Selama matanya sedang sibuk memilih, pintu kamar terbuka dan Matthew masuk ke dalam dengan senyum di wajahnya.
"Hy babe, kau sedang apa?"
"Apa semua baju itu jelek dan kau tidak suka? Jika tidak aku akan mengganti semuanya dengan yang baru."
"Tidak bukan begitu, kenapa kau baru kembali?"
Matthew mendekati Vivian dan meraih pinggangnya, "Aku sedikit sibuk," jawabnya.
"Baiklah, pergilah mandi," Vivian tersenyum dan mencium pipi Matthew.
"Aku rindu denganmu babe."
"Hei kita baru beberapa jam tidak bertemu."
"Aku tahu tapi aku tidak bisa berjauhan terlalu lama denganmu."
"Baiklah, dasar gombal. Tapi Matth, setelah malam ini aku tidak mau bertemu dengan Maxton lagi."
"Kenapa?" tanya Matthew heran.
"Wajahku mirip dengan istrinya dan aku tidak mau dia memanfaatkan hal ini. Lagi pula kami tidak saling mengenal dan aku rasa sudah tidak perlu bertemu dengannya lagi."
"Itu terserah padamu babe, jika kau tidak ingin bertemu dengannya lagi maka kau tidak perlu menemuinya."
"Ya, memang itu yang akan aku lakukan. Segeralah pergi mandi nanti kita terlambat," ucap Vivian sambil tersenyum.
"Oke Mrs Smith," Matthew mengangkat dagu Vivian dan mengecup bibirnya dengan lembut.
Mereka saling pandang sesaat dan setelah itu, mereka kembali berciuman dengan mesra. Matthew mendekap Vivian dengan erat dan rasanya tidak ingin dia lepaskan, jika saja mereka tidak harus pergi, dia lebih suka menghabiskan waktu dengan Vivian di kamar mandi dan melakukan hal menyenangkan di sana.
"S*h*it, jika kita tidak pergi sudah aku gendong kau masuk ke dalam kamar mandi dan kita bermain di sana sampai puas!"
"Ck, dasar kau mesum! Sana mandi, aku mau pakai baju!" ucap Vivian.
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Matthew mencium pipi Vivian sejenak dan setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Vivian mengambil baju yang telah dia pilih dan segera memakainya.
Vivian merapikan rambutnya dan membiarkan rambutnya yang panjang tergerai begitu saja, sebuah jepitan dia pakai untuk mempercantik penampilannya malam ini.
Matthew menghampiri Vivian setelah selesai mandi dan melihat penampilannya dengan penuh selidik.
"You look so beautiful babe," puji Matthew seraya memeluk Vivian dari belakang dan mencium pipinya.
"Thanks Matth, segeralah bersiap-siap, sudah mau jam tujuh."
"Hm," jawab Matthew sambil mencium pipi Vivian kembali. Dia segera memakai bajunya, sedangkan Vivian membantunya.
Vivian membantu memakaikan dasi sedangkan Matthew mengancing lengan kemejanya dan setelah selesai Vivian memandangi Matthew sambil tersenyum.
"Perfect," puji Vivian sambil menepuk dada Matthew.
"Ck, aku lebih suka kau memuji aksiku di atas ranjang babe!"
"Hng, kau benar-benar mesum!"
"Serius babe, kau harus memujiku nanti."
"Baiklah, aku akan memujimu tapi sekarang lebih baik kita pergi Mr Smith agar kita bisa cepat pulang dan setelah itu?" Vivian menggigit bibirnya dan memainkan jari jemarinya di dada Matthew.
"Oh aku suka ini babe, bersiaplah nanti malam, aku tidak akan membiarkan kau tidur dan sebelum kau memberi nilai yang bagus maka aku tidak akan berhenti!" ucap Matthew sambil tersenyum lebar.
"Ao, aku menanti aksimu Mr Smith," jawab Vivian sambil tersenyum nakal.
Matthew mengangkat dagu Vivian dan mengecup bibirnya sejenak, "Siap untuk pergi?" bisiknya.
"Pasti," jawab Vivian.
Mereka kembali berciuman dan setelah itu mereka pergi kerumah Maxton untuk makan malam bersama. Saat itu, Jager dan Damian sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka dan Jager tidak tahu jika setelah malam ini Vivian sudah bertekad untuk tidak bertemu dengannya lagi.