Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Ajakan makan siang


Selama di perjalanan menuju kantornya, Matthew diam saja dengan banyak pikiran di dalam kepalanya. Dia sudah tahu ternyata bukan Maxton yang ingin membunuhnya jadi sebaiknya dia harus meminta Michael untuk berhati-hati, jangan sampai orang yang ingin membunuhnya salah sasaran.


Setelah keluar dari rumah Maxton, dia meminta anak buahnya untuk kembali sedangkan Matthew meminta James mengantarkannya ke kantor.


Matthew memandangi bangunan yang dia lalui dan teringat nasehat Maxton. Entah mengapa dia jadi sangat merindukan Vivian dan ingin melihatnya.


Apa yang sedang dilakukan oleh Vivian saat ini? Matthew melihat jam dipergelengan tangannya yang menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Sebentar lagi jam makan siang sebaiknya dia mengajak Vivian makan bersama.


Matthew mengambil ponselnya dan menulis pesan di sana, dia tidak mau menghubungi Vivian karena dia tidak mau mengganggu gadis itu.


"Babe, apa kau sedang sibuk?"


Saat mendapat pesan dari Matthew, Vivian sedang serius di depan komputernya Karena dia sedang mengirimkan email untuk kapten Ston yang ada di Inggris.


Vivian mengambil ponselnya dan melihatnya, sebuah senyuman menghiasi wajahnya saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Matthew.


"Tidak, kenapa?" Vivian segera membalas pesan Matthew.


"Kalau begitu bagaimana jika kita makan siang bersama?" ajak Matthew.


"Boleh, aku akan segera kesana!" Vivian menyetujui ajakan Matthew.


"Baiklah babe, aku akan menjemputmu!"


"Tidak perlu Matth, kirimkan alamatnya dan aku yang akan pergi kesana, waktu makan siangku tidak banyak dan jangan membuang waktu."


Selama membalas pesan dari Matthew, tak henti-hentinya Vivian tersenyum. Dia tidak menyadari jika Patrik memperhatikannya dengan tanda tanya di hati, dengan siapa Vivian sedang berbicara saat ini?


Karena penasaran, Patrik bangkit berdiri, dia mau mengajak Vivian makan siang berama dan dia harap Vivian tidak menolak.


Vivian tidak menyadari jika Patrik sudah berdiri di belakangnya karena dia terlalu serius membalas pesan dari Matthew.


"Hm, Angel," panggil Patrik.


"Ya?" Vivian segera menyimpan ponselnya.


"Sudah waktunya makan siang, bagaimana jika kita pergi makan siang berdua? Aku akan mengajakmu pergi kesebuah restoran yang menyediakan makanan enak di dekat sini."


"Terima kasih Patrik, tapi aku tidak bisa," tolak Vivian sambil tersenyum.


"Kenapa? Jangan katakan kau sudah ada janji dengan seseorang," tebak Patrik karena dia sangat penasaran dengan siapa Vivian saling berkirim pesan barusan?


"Tidak Patrik, aku tidak ada janji dengan siapapun!" dusta Vivian.


"Lalu? Jika tidak ada kenapa kau tidak mau makan siang denganku?"


"Aku ada tugas dari kapten jadi aku tidak bisa makan siang denganmu!"


"Tugas?" Patrik memandangi Vivian dengan tatapan tidak percaya.


"Yes, jadi aku sudah harus pergi!" ucap Vivian seraya bangkit berdiri.


"Baiklah, kita pergi berdua dan setelah itu kita makan siang."


"Tidak jangan! Aku bisa sendiri lagi pula, bukan hal penting jadi kau tidak perlu repot!" tolak Vivian lagi.


Rasa penasaran dan rasa curiga Patrik semakin bertambah karena Vivian selalu menolak niat baiknya. Sepertinya memang ada yang disembunyikan oleh Vivian dan memang ada seseorang berada di dekat Vivian saat ini dan jangan-jangan orang itulah yang menolong Vivian selama ini.


"Kenapa kau selalu menolak Angel?"


"Maaf Patrik jangan salah paham! Selama aku di sini aku tidak mau berhutang budi pada siapapun jadi jangan salah paham! Lagi pula aku harus melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh kapten jadi maaf."


Patrik tanpak kecewa dan menghembuskan nafasnya dengan berat. Vivian mengambil ponselnya dan sebelum pergi, Vivian menepuk bahu Patrik sejenak sedangkan Patrik menatap kepergiannya dengan rasa penasaran yang semakin besar, apapun yang terjadi dia harus tahu siapa yang ada di dekat Vivian.


Karena jam makan siangnya tidak banyak jadi Vivian segera membawa motornya melesat dengan cepat menuju restoran di mana Matthew sudah menunggunya.


Di restoran, Matthew sudah memesan makanan dan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasih hatinya. Dia harap Vivian cepat tiba karena dia juga sudah tidak sabar untuk menciumnya.


Setelah menunggu kurang lebih setengan jam, Vivian sudah tiba di restoran. Dia segera memarkirkan motornya dan berjalan dengan terburu-buru menghampiri restoran sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Ketika melihat Vivian sebuah senyuman menghiasi wajah Matthew dan entah mengapa dia jadi teringat dengan wajah istri Maxton yang baru saja dia lihat. Pantas saja dia merasa sangat familiar ternyata Wajah Vivian sedikit mirip dengan wajah istri Maxton sewaktu muda. Apa ini hanya kebetulan belaka?


"Sory membuatmu menunggu," ucap Vivian seraya duduk di depan Matthew.


"Tidak apa-apa babe," jawab Matthew tapi matanya tidak lepas dari wajah Vivian.


Vivian sangat heran, kenapa Matthew melihatnya seperti itu? Apa diwajahnya ada sesuatu?


"Oh babe, diwajahmu banyak debu," jawab Matthew berdusta.


"Benarkah?" Vivian kembali mengusap wajahnya.


"Yes, kemarilah. Aku akan membersihkannya!" Matthew menepuk kursi yang ada di sampingnya.


Vivian bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Matthew, setelah duduk di sampingnya Matthew memegangi dagu Vivian dan mencium pipinya.


"Hei kau bilang banyak debu?" protes Vivian.


"Memang dan aku sedang membersihkannya!" jawab Matthew seraya mencium pipi Vivian kembali.


"Modus!"


Matthew terkekeh dan mengusap kepala Vivian, selama menunggu makanan yang dia pesan sebaiknya dia menanyakan beberapa hal kepada Vivian.


"Babe, apa keluargamu ada yang tinggal di Amerika?"


"Tidak, ada apa?"


"Apa kau tidak punya paman dan bibi yang tinggal di sini?"


"Tidak ada Matth, jika ada maka aku sudah tinggal dengan mereka selama aku bertugas di sini!"


"Kau benar."


"Kenapa kau menanyakan hal demikian?" tanya Vivian dengan heran.


"Tidak ada apa-apa babe," Matthew kembali mencium pipi Vivian.


Mungkin hanya kebetulan saja wajah Vivian mirip dengan wajah istri Maxton sewaktu muda apalagi ada istilah Doppelganger alias wajah ‘kembar’ tanpa hubungan darah.


Makanan yang dipesan oleh Matthew sudah dihidangkan di atas meja dan mereka segera makan karena waktu makan siang Vivian tidak banyak.


Mereka menikmati makanan sambil membicarakan banyak hal dan terkadang Matthew menyuapi makanan ke dalam mulut Vivian dan terkadang dia juga mengambil makanan yang ada di dalam mulut Vivian menggunakan mulutnya sampai membuat wajah Vivian merah padam.


Matthew senang-senang saja Karena dia senang menggoda Vivian dan setelah selesai makan, Matthew mengantar Vivian menuju parkiran di mana motornya berada.


"Jam berapa kau akan pulang babe?" tanya Matthew saat Vivian memakai jaketnya.


"Oh aku lupa mengatakannya padamu, nanti malam aku tidak akan pulang jadi kau tidak perlu menunggu. Aku akan berada di kantor sampai misiku dijalankan."


"Baiklah, jika begitu?" Matthew meraih pinggang Vivian dan memeluknya.


"Kabari aku jika kau sudah mau berangkat."


"Tidak bisa Matth, aku berencana menyita semua ponsel rekan-rekanku agar misi ini tidak bocor."


"Oh babe, aku suka gadis cerdik sepertimu dan kau semakin membuatku jatuh cinta."


"Oh ya?"


"Yes," Matthew mengusap wajah Vivian dan menciumnya.


"Aku akan mengawasimu dan aku akan berada di dekatmu untuk membantumu."


"Terima kasih."


"Berhati-hatilah babe, aku tidak mau melihatmu terluka seperti kemarin."


"Kau tidak perlu Khawatir Matth," Vivian mengusap wajah Matthew dan tersenyum.


"Aku sudah biasa menjalankan misi dan kemarin aku hanya sedang sial jadi kau tidak perlu khawatir. Aku bahkan pernah melompat dari atas pesawat dengan ketinggian ribuan kaki."


"Wow, aku sangat ingin melihatnya. Pasti menyenangkan dapat menciummu di atas udara."


"Ck, itu saja yang ada di dalam otakmu!"


Matthew terkekeh dan mendekatkan bibir mereka berdua, "Aku dan adikku akan membantumu dan misimu pasti akan berhasil!"


"Thanks," jawab Vivian dan Matthew sudah mencium dan me*umat bibir Vivian dengan lembut.


Setelah berciuman beberapa saat, Matthew melepas kepergian Vivian yang sudah harus kembali ke kantornya. Dia masih belum beranjak dan setelah motor Vivian tidak terlihat lagi, Matthew segera berjalan ke mobilnya karena dia akan kembali ke kantor dan menyiapkan anak buah untuk membantu Vivian nanti malam.