Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Menahan rindu


Malam itu Michael sedang bosan dan tidak bisa tidur, karena tidak ada yang dia lakukan jadi Michael duduk didepan komputer untuk mencari tahu siapa orang yang mencari data kakaknya beberapa yang hari lalu.


Dia masih akan mencari tahu karena bisa saja orang yang sedang mencari data kakaknya adalah musuh mereka, jangan sampai membuat kesalahan sehingga musuh bisa mengambil kesempatan.


Karena sibuk, dia tidak mencari tahu lagi tapi sekarang dia sedang bosan jadi Michael kembali mencari tahu. Dia sudah tahu lokasinya dan dia tidak akan mengalami kesulitan sama sekali.


Cctv yang ada dijalan menjadi incarannya dan tidak lama kemudian sebuah rumah muncul dilayar komputernya.


Michael memainkan jari jemarinya di keyboard komputer dan tampak serius, dia sedang berusaha mencari tahu apa di dalam rumah itu sudah ada cctv atau tidak?


Beberapa menit kemudian, dia sudah berhasil menyusup dan dari layar komputernya muncul gambar-gambar yang dia inginkan.


Michael melihat layar komputernya dengan serius untuk mencari si pemilik rumah, tapi cctv hanya ada di teras, ruang tamu dan dapur.


Mungkin orang yang tinggal di sana sudah tidur karena sudah malam dan ini tidak masalah, karena dia sudah bisa melihat kedalam. Lagi pula besok dia bisa kembali mengintai tapi siapa yang menyangka saat Michael hendak mematikan layar Komputernya, cctv yang ada didalam rumah menunjukan seorang wanita berjalan kearah ruang tamu dengan segelas minuman ditangannya.


Michael menghentikan niatnya dan tampak kaget, bukankah itu wanita yang sedang dikejar oleh kakaknya?


Sepertinya kakaknya harus tahu jadi Michael segera keluar untuk memanggil kakaknya.


"Kak, apa kau sudah tidur?" Michael mengetuk pintu kamar kakaknya.


"Belum kenapa?" jawab Matthew dari dalam.


"Ikut denganku dan lihatlah siapa yang mencari datamu beberapa hari yang lalu."


"Apa kau sudah mengetahui siapa pelakunya?" Matthew membuka pintu dan memandangi adiknya.


"Kakak pasti akan senang melihatnya," ucap Matthew seraya berjalan pergi, sedangkan Matthew mengikutinya dari belakang.


"Lihatlah siapa ini," Ucap Michael sambil menunjukkan seorang gadis yang tampak termenung.


"Wow," gumam Matthew saat melihat Vivian dari layar komputer adiknya.


"Ternyata dia yang mencari dataku? Aku jadi ingin tahu kenapa dia begitu membenciku?" tanya Matthew sambil memainkan jari didagunya.


"Kak, dia anggota polisi bukan? Apa dia sedang mencurigaimu dalam kasus yang sedang dia tangani?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Matthew dan dia mulai berpikir, sepertinya dia harus mencari tahu kenapa Vivian sangat ingin mencari tahu tentangnya dan sangat ingin menendang bokongnya.


Matthew melihat layar komputer dengan teliti dimana Vivian masih diam saja dan pada saat itu, tangan Vivian bergerak seperti sedang menghapus air mata. Apa gadis itu sedang menangis?


Saat di pantai Vivian memang sudah terlihat sedih dan entah kenapa tiba-tiba dia jadi seperti itu.


"Mich, jika besok mommy mencariku katakan padanya aku sedang menghibur calon menantunya."


"Kakak mau pergi menemuinya?"


"Yes, matikan komputermu, jangan melihatnya terlalu lama!" ucap Matthew dan dia segera melangkah keluar.


Michael hanya mengangguk dan mematikan komputernya, sedangkan Matthew segera pergi kerumah Vivian. Entah kenapa gadis itu menangis tapi dia sangat ingin menghiburnya.


Vivian menangis karena dia begitu merindukan Carlk, satu-satunya pria yang ada dihatinya. Karena trauma yang dia alami, hanya Carlk saja yang bisa mengambil hatinya saat itu dan sampai sekarang dia masih mencintai Carlk.


Walaupun dia bisa mengontrol emosinya saat berdekatan dengan laki-laki tapi baginya, mereka semua tidak jauh berbeda dengan pria yang melecehkannya dulu.


Carlk sangat mengerti dirinya dan selama mereka bersama, Carlk tidak pernah memaksakan kehendaknya. Karena perlakuan dan bantuan Carlk membuatnya bisa mengontrol emosi ketika berdekatan dengan laki-laki lain oleh sebab itu, dia begitu setia menunggu Carlk tapi kenapa dia belum juga kembali?


Vivian menghapus air matanya yang mengalir jatuh membasahi pipinya, kenangan saat berpisah dengan Carlk kembali muncul. Saat itu dia merasa sangat berat berpisah dengan Carlk tapi dia tidak punya pilihan karena Carlk telah memutuskan untuk pergi dan Vivian benar-benar merasa kehilangan.


Vivian kembali menghapus air matanya yang terus mengalir, pandangannya tampak kosong dan dia berusaha menahan rindu yang ada dihatinya.


Dia diam saja dan pada saat itu, sensor yang dia pasang berbunyi. Karena curiga apalagi ini sudah tengah malam, Vivian mengambil pistol yang dia sembunyikan dibawah bantal.


Vivian segera mematikan sensor yang terus berbunyi dan berjalan mendekati jendela, dari sana dia mengintip keluar untuk melihat siapa yang datang tapi matanya tampak membulat saat melihat Matthew berada di luar.


"Freddy?" gumamnya.


Kenapa Freddy ada di sana dan bagaimana dia bisa tahu rumahnya?


"Babe," Matthew mengetuk pintu rumahnya sambil memanggilnya.


Vivian menghapus air matanya yang tersisa, jangan sampai ada yang melihat keadaannya yang menyedihkan dan setelah menyimpan pistolnya, Vivian segera membuka pintu.


"Fredd, kenapa kau bisa tahu rumahku?"


"Kebetulan, saat pulang aku dikejar debcolector dan tanpa sengaja melihat motormu!" jawab Matthew berdusta.


"Jadi kau dikejar lagi?"


"Yes."


"Cepat masuk!" Vivian membiarkan Matthew masuk dan segera menutup pintu rumahnya sebelum debcolector yang mengejarnya tahu jika pria itu masuk kedalam rumahnya.


"Kenapa sih kau banyak hutang?" tanya Vivian sambil menggerutu kesal.


"Sory babe, tidak bermaksud menyusahkanmu tapi aku tidak punya tujuan dan pada saat melihat motormu, aku terpaksa masuk kerumahmu!" jawab Matthew.


"Sudahlah lupakan!" Vivian berjalan melewati Matthew dan berjalan menuju dapur, sedangkan Matthew mengikuti langkahnya.


"Babe, kau seperti habis menangis, apa ada yang membuatmu sedih?"


"Tidak ada! Aku hanya sakit mata!" jawab Vivian asal.


Matthew hanya tersenyum, walaupun saat ini dia tidak tahu apa yang telah membuat Vivian sedih tapi cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya dan dia juga akan mencari tahu kenapa gadis itu sedang mencari data dirinya.


"Jadi babe, bolehkah mulai malam ini aku tinggal bersama denganmu? Jika aku kembali kerumah, maka para debcolector itu pasti akan menangkapku dan membunuhku."


Vivian memandanginya sejenak dan menghembuskan nafasnya, entah kenapa dia merasa iba. Membantu seseorang selama dia berada di sana tidak ada salahnya dan lagi pula, bukankah Freddy sudah berjanji akan mengajarinya?


"Baiklah tapi ingat, ada beberapa hal yang harus kau patuhi," jawabnya.


"Jadi kau mau menampungku babe?"


"Ya, aku kasihan denganmu dan besok aku akan membuat peraturan yang tidak boleh kau lakukan selama tinggal di rumahku!"


"Yes!" Matthew bersorak dalam hati, ini benar-benar di luar dugaan.


"Apapun peraturannya, akan aku ikuti!" jawabnya dengan penuh semangat.


"Bagus, untuk malam ini kau tidur di sofa dan besok bersihkan kamar itu sendiri!" Vivian menunjuk kearah sebuah kamar.


"Oke babe," jawab Matthew dengan senyum diwajahnya sedangkan Vivian berjalan menuju kamarnya.


Walaupun malam ini dia harus tidur di sofa dan harus mengikuti beberapa aturan tapi setidaknya dia sudah berada dekat dengan gadis itu dan peluang untuk mendapatkan hati Vivian semakin besar, kesempatan seperti ini tidak akan dia sia-siakan.