Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Mereka sedikit gila.


Pesta telah usai, keluarga mereka sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Mereka semua menginap di Ojai Valley Inn & Spa karena Matthew telah menyewa seluruh tempat itu.


Dia ingin semua keluarganya dan juga keluarga Vivian nyaman dan tidak diganggu oleh orang luar.


Sebelum kembali ke kamar pengantin yang telah disediakan, Vivian melihat keadaan ayahnya yang kelelahan kerena dia harus menari perut bersama dengan yang lain.


Mereka benar-benar lupa dengan waktu karena setelah para pria tua selesai menari perut, mereka bergabung untuk berjoget bersama.


Kebersamaan seperti itu tidak mudah terulang kembali jadi mereka semua menikmatinya.


Vivian duduk di sisi ranjang sambil memegang gelas kosong yang baru saja dia ambil dari ayahnya, sedangkan Jager duduk di atas ranjang.


"Apa Daddy baik-baik saja?" tanya Vivian dan dia terlihat khawatir.


"Daddy baik-baik saja, Sayang. Daddy hanya kelelahan jadi tidak perlu khwatir," jawab ayahnya.


"Seharusnya Daddy tidak memaksakan diri tadi."


"Tidak apa-apa, itu menyenangkan. Aku tidak menyangka mereka akan segila itu padahal menurut kabar yang beredar mereka terkenal kejam dan tanpa ampun menghabisi musuh."


"Mereka sedikit gila, Dad," ucap Vivian.


Jager terkekeh dan mengusap tangan putrinya dengan lembut.


"Tapi mereka sangat hangat dan begitu sayang keluarga. Daddy bisa melihat itu dan kau beruntung bisa menjadi bagian mereka."


"Daddy benar, aku sangat beruntung," ucap Vivian sambil tersenyum.


"Kembalilah ke kamarmu, Vivi. Aku yang akan menemani Daddy," ucap Damian seraya menghampiri mereka.


"Baiklah, aku akan kembali," Vivian bangkit berdiri dan meletakkan gelas yang dia pegang ke atas meja.


"Good night, Dad," Vivian mencium dahi ayahnya.


"Good night, Sayang," Jager memeluk putrinya sejenak.


Setelah mengucapkan selamat malam pada ayahnya, Vivian menghampiri kakaknya dan mencium pipinya.


"Good night, Kak."


"Good night, Vivi," Damian memeluk Vivian sebelum Vivian pergi.


Vivian keluar dari kamar setelah mengucapkan selamat malam pada kakak dan ayahnya. Dia mau berendam setelah ini untuk merenggangkan otot tubuhnya yang lelah.


Dia ingin melihat keluarganya tapi dia urungkan. Mereka pasti sudah beristirahat karena sudah lelah dan lagi pula ini sudah larut.


Vivian berjalan menuju kamar, Matthew pasti sudah menunggunya sedari tadi. Dengan perlahan Vivian mengetuk pintu karena dia tidak membawa kunci. Dia menunggu sebentar dan tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan Matthew tampak tersenyum ketika melihatnya.


"Apa ayahmu baik-baik saja, Babe?"


"Ya, dia hanya kelelahan," jawab Vivian seraya berjalan masuk ke dalam kamar.


"Sebaiknya memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya."


"Tidak perlu, Matth. Daddy hanya butuh istirahat."


"Baiklah," Matthew mendekati Vivian dan memeluknya dari belakang.


"Apa kau mau mandi?" tanyanya sambil mencium bahu Vivian yang terbuka.


"Hm, kau ingin memandikan aku?"


"Dengan senang hati," jawab Matthew dan tanpa menunggu, Vivian sudah berada di dalam gendongannya.


Matthew membawa Vivian masuk ke dalam kamar mandi dan melepaskan pakaian Vivian sambil mencium bibirnya dengan lembut.


Vivian memeluk leher Matthew dengan erat dan membiarkan Matthew membuka gaun dan pakaian dalam yang dia pakai.


Ciuman ringan mereka menjadi liar dan rasanya ingin menerkam Vivian saat itu juga tapi Matthew tidak mau menerkam Vivian di kamar mandi.


"Mandi?" bisik Matthew sambil mengusap bibir Vivian, sedangkan Vivian mengangguk.


Bathtup telah diisi dan Vivian sudah berada di dalamnya. Matthew sedang menggosok punggung Vivian bahkan mencuci rambutnya sampai bersih karena terdapat gliter di sana.


Vivian diam saja dan setelah selesai, Matthew melilitkan sebuah handuk ke tubuh Vivian dan menggendongnya keluar. Matthew bahkan mengeringkan rambut Vivian yang basah dan saat itu mereka berdua duduk di sisi ranjang.


"Matth."


"Hm?"


"Kapan kita akan pergi ke Hawai?"


"Segera sayang," jawab Matthew dan dia mulai menunduk untuk mencium bahu Vivian.


"Rasanya sudah tidak sabar."


"Aku juga."


Matthew masih mencium bahu Vivian dan tangannya sudah menurunkan handuk yang dipakai oleh Vivian.


"Ngh," Vivian menggigit bibirnya karena kedua tangan Matthew sedang mere*as kedua dadanya dan memainkan jarinya di sana.


"Babe, kita sudah lama tidak melakukannya. Jadi boleh bukan?"


"Are you serious?"


"Yes, rubuhkan ranjang ini!" jawab Vivian.


"Ha ... ha ... ha ...! Jika tidak rubuh maka aku akan menggergajinya!" ucap Matthew.


Dengan perlahan, Matthew membaringkan Vivian ke atas ranjang dan mengusap wajahnya dengan lembut.


"I love you, Babe."


"I love you too, Matth."


Ciuman ringan mereka lakukan, tidak saja mencium bibir Vivian, Matthew juga mencium wajah Vivian dan membisikkan kata cinta berkali-kali untuknya.


Vivian begitu bahagia karena dia merasa begitu dicintai. Ciuman lembut selalu dia dapatkan dan perkataan cinta selalu dia dengar.


Matthew kembali mencium bibir Vivian dengan mesra dan tangannya menarik handuk yang masih melilit sebagian tubuh Vivian. Tangannya mulai merayap dan menggusap bokong Vivian, sedangkan tangan Vivian sudah masuk ke dalam bajunya.


(SKIP UNTUK YANG DI BAWAH UMUR)


Ciuman mereka semakin liar dan panas. Lidah mereka berdua sudah saling menaut dan nafas mereka sudah berat. Vivian mendesah karent Tangan Matthew sudah naik ke atas dan mer*mas dadanya.


Vivian kembali mengerang di balik ciuman mereka karena sentuhan tangan Matthew. Dengan tidak sabar, Matthew membuka bajunya dan melemparnya. Dia kembali mencium bibir Vivian dan menjelajahi tubuh Vivian menggunakan bibirnya.


Tangan Vivian mengelus tubuh Matthew dari dada dan terus ke bawah bahkan tanpa ragu, Vivian memasukkan tangannya ke dalam celana yang dipakai Matthew untuk mengelus si jamur beracun.


Matthew mengerang, sial! Dia semakin tidak sabar. Bibirnya masih mencium leher Vivian dan meninggalkan beberapa tanda di sana.


"Akh!" Vivian mengerang karena Matthew sedang menikmati dadanya dan mengh*sapnya dengan kuat sedangkan jarinya sedang memainkan ujung dada yang lain.


"Matth, akh ...," Matthew menikmati dada Vivian dan memenuhi mulutnya dengan dada Vivian dan mengh*sapnya.


Tangan Matthew mulai meraba turun dan mengusap perut Vivian yang rata. Semoga Vivian bisa cepat hamil dan dia akan bekerja dengan keras.


"Matth," Vivian mulai gelisah kerena tangan Matthew hanya mengelus-elus pahanya.


"Hm?" bibir Matthew turun ke bawah dan mencium perutnya. Vivian semakin gelisah bahkan jantungnya semakin berdebar.


Kedua kakinya dibuka dan ketika Matthew menunduk dan mencicipi tubuhnya, Vivian mengerang dan tubuhnya bergetar dengan hebat. Erangannya terus terdengar karena Matthew tidak berhenti memainkan lidahnya di bawah sana.


Nafasnya memburu dan kepalanya terasa pusing, rasanya dia benar-benar sudah tidak tahan karena lidah Matthew masih bermain di sana.


"Matth, stop!" pinta Vivian dengan nafas memburu karena dia sudah mau mencapai puncaknya.


Matthew tersenyum dan menghentikan aksinya. Dia kembali mendekati Vivian dan mencium wajahnya.


"Katakan kau menginginkan aku, Sayang," bisiknya.


"Tanpa aku katakan kau pasti sudah tahu bukan jika aku sangat menginginkanmu," jawab Vivian.


"How much do you want me?"


"Very much."


Matthew tersenyum dan mencium bibir Vivian dengan lembut, "Siap menerima bibit jamurku?"


"Yes, kita akan menghasilkan pasukan yang unggul dari bibit itu."


Matthew kembali terkekeh dan mencium bibir Vivian kembali. Tidak mau menunggu lama, Matthew membuka pakaiannya yang tersisa dan sebelum menyatukan tubuh mereka berdua, Matthew mencium bibir Vivian dan membisikkan kata cinta kembali.


Vivian memeluk lehernya dengan erat dan ketika Matthew memasukkan jamurnya, Vivian memekik karena nikmat.


Dengan perlahan, Matthew menggerakkan tubuhnya tapi semakin lama semakin cepat. Nafas mereka terdengar memburu dan erangan Vivian terdengar. Matthew mengangkat satu kaki Vivian dan meletakkannya di atas bahunya karena saat itu mereka bermain di sisi ranjang.


Gerakan Matthew semakin lama semakin cepat dan ranjang mulai bergoyang. Tidak saja mengerang tapi terkadang Vivian memekik setiap kali tubuh Matthew menghantam dan si jamur masuk semakin dalam.


Sensasi itu bisa membuat mereka gila dan tidak hanya sampai di situ saja, Matthew membalikkan tubuh Vivian dan memukul bokongnya sebelum dia menyuntikkan jamurnya kembali.


"Matth!" protes Vivian karena dua pukulan dia dapat di bokongnya.


"Awas kau, akh ...," Vivian memekik karena si jamur sudah menerobos masuk ke dalam.


"Kau begitu menggoda, Sayang," Matthew menunduk, mencium bahu Vivian dan merem*as dada Vivian dari balik punggungnya tapi gerakannya semakin cepat.


"Ngh, faster Matth," pinta Vivian karena dia sudah hendak mencapai puncaknya.


"As you wish, Babe," ucap Matthew semakin mempercepat gerakannya.


Deritan ranjang terdengar begitu juga suara benturan tubuh mereka. Erangan mereka juga memenuhi ruangan dan nafas mereka semakin memburu. Gerakan Matthew semakin cepat karena dia sudah akan menyemprotkan bibit unggulnya.


Kedua tangannya memegangi bokong Vivian dan hentakkan tubuhnya semakin cepat, cepat dan tidak lama kemudian, mereka berdua mengerang saat mencapai puncaknya dan Matthew menyemprotkan banyak bibitnya ke dalam sana.


Mereka terengah-engah, Vivian sudah tampak lemas. Mereka mengatur nafas mereka berdua dan setelah itu Matthew membaringkan diri di samping Vivian dan memeluknya.


"Mau lagi?" tanya Matthew.


"Nanti," jawab Vivian dengan nafas yang masih berat.


Matthew mencium dahi Vivian dan merapikan rambutnya yang berantakan. Mereka istirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan bercocok tanam mereka kembali.


#DUH, UDAH LAMA GAK NULIS ADEGAN GINI JADI KAGOK πŸ˜‚ SIAP-SIAP REVISI ABIS INIπŸ˜…#