Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Everything will be okay


Jam sudah menunjukkan angka sembilan pagi saat itu. Vivian sedang berbincang dengan keluarganya sambil menunggu kedatangan Jager Maxton.


Vivian menceritakan bagaimana dia menjalankan tugasnya selama di Amerika dan dia juga menceritakan bagaimana Matthew membantunya memecahkan teka teki dan menjinakkan bom.


Matthew banyak membantunya walaupun dia sempat mencurigainya tapi Matthew bisa diandalkan dan tidak lupa, dia juga mengatakan pada keluarganya jika dia sudah bertemu dengan Carlk karena ayahnya menggodanya.


Ketika Vivian sedang menceritakan bagaimana dia menjebak penghianat yang ada di organisasi, terdengar suara ketukan pintu dari luar sana.


Vivian segera berlari menuju pintu dan membukanya, begitu daun pintu terbuka tampak Matthew berdiri di depan pintu dan tersenyum saat melihatnya.


"Bagaimana babe, apa Jager sudah datang?"


"Belum," jawab Vivian singkat dan pada saat itu, Matthew meraih pinggang Vivian dan merapatkan tubuh mereka.


"Aku sangat rindu denganmu babe," bisiknya sambil mencium pipi Vivian.


"Hei kita hanya tidak bertemu kurang lebih dua belas jam."


"Aku tahu tapi tanpa kau, di rumah seperti ada sesuatu yang hilang."


Vivian tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Matthew, "Aku juga," ucapnya.


Matthew mengusap pipi Vivian dan mencium bibirnya dengan lembut, dia harap nanti malam Vivian bisa pulang dengannya jika tidak dia tidak akan bisa tidur lagi malam ini tanpa Vivian.


Vivian segera mengajak Matthew masuk ke dalam dan mereka menghampiri keluarganya yang ada di ruang keluarga. Matthew berbincang dengan ayah dan kakek Vivian sedangkan Vivian menghampiri ibunya yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telephone genggamnya.


"Dengan siapa mommy berbicara?" tanya Vivian setelah ibunya selesai berbicara dan menyimpan ponselnya.


"Kakakmu sayang, karena kita baik-baik saja jadi dia pergi liburan ke Hawai beberapa hari dengan paman juga bibimu."


"Wow, aku iri," ucap Vivian sedangkan ibunya terkekeh.


"Ngomong-ngomong Vivi, kenapa mereka belum datang? Apa telah terjadi sesuatu?"


"Entahlah mom, mungkin sebentar lagi," jawab Vivian.


"Kau benar, ayo buat minuman untuk Matthew," ajak ibunya dan mereka berjalan menuju Dapur.


Selama membuat minuman, tak henti-hentinya Vivian melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Dia jadi khawatir, apa telah terjadi sesuatu dengan Jager selama diperjalanan? Dia harap mereka baik-baik saja apalagi ada yang ingin membunuh Jager, dia memang sudah mengingatkan Damian dan dia harap Damian bisa menjaga Jager.


Sementara saat itu di jalanan, mobil yang dibawa Damian sedang menuju alamat yang diberikan oleh Vivian. Mereka tertahan begitu lama karena kendaraan yang memenuhi jalan akibat segerombolan orang turun di jalanan untuk unjuk rasa dan memboikot jalan.


Untungnya polisi sudah mengamankan situasi hingga jalanan kembali normal dan jujur saja selama di jalan, Jager benar-benar tampak tidak sabar dan khawatir menyinggung orang yang sudah mengasuh putrinya karena telah membuat mereka menunggu lama.


Dia bahkan meminta Damian membawa mobilnya dalam kecepatan tinggi dan ketika mereka tiba di alamat yang mereka tuju, Damian menghentikan mobilnya dan melihat sebuah rumah berlantai dua yang tampak sederhana.


"Sepertinya di sini dad," ucap Damian sambil memandangi rumah yang ada di depan mereka.


"Ayo kita segera turun," ajak ayahnya.


Tidak ingin membuang waktu, Jager dan Damian segera turun dari mobil dan mereka segera berjalan menuju pintu.


Damian mengetuk pintu dan tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki seperti orang berlari dari dalam dan begitu pintu terbuka, tampak Vivian tersenyum melihat mereka.


"Aku kira kalian tidak jadi datang," ucap Vivian basa basi.


"Sorry Angel, mobil kami tertahan oleh sejumlah demonstran," jawab Damian.


"Tidak apa-apa, ayo masuk. Kakek sudah menunggu," ucap Vivian.


Jager dan Damian segera mengikuti langkah Vivian masuk ke dalam rumah dan pada saat melihat kedatangan mereka, David segera bangkit berdiri begitu juga dengan Marta dan Charles. Jadi pria itukah yang mengaku sebagai orang tua Vivian?


"Mom, dad, tuan Maxton sudah datang," Vivian segera menghampiri Matthew dan duduk di sampingnya sedangkan Jager dan David saling pandang.


"Benar, aku jager Maxton," Jager mengulurkan tangannya.


"David Adison," David menjabat tangan Jager tapi Jager sangat kaget saat mendengarnya.


David Adison? Bukankah dia tentara yang dimaksud oleh orang yang memberinya informasi waktu itu? Apa benar dia yang membunuh istrinya dan jangan-jangan apa yang dikatakan oleh orang itu adalah benar.


"Jadi kau David Adison?" tanya Jager dengan nada sedikit menekan.


"Ya, apa kita saling kenal?" tanya David heran.


"Tidak tapi kau adalah tentara yang membunuh istriku!"Jager melepaskan tangan David dan meraih kerah bajunya tanpa pikir panjang.


Semua yang ada di sana sangat kaget karena Jager ingin memukul David tapi beruntungnya Damian bergerak cepat untuk menahan tangan ayahnya.


"Dad, apa yang kau lakukan?" tanya Damian.


"Dia yang membunuh istriku Damian, dia!! Apa kau lupa apa yang orang itu katakan? Dia yang telah membunuh istriku!" ucap Jager dengan suara bergetar.


"Dad, bukankah sudah aku katakan padamu? Orang itu hanya menipu kita dan ingin mengadu domba kita jadi jangan percaya dengan ucapannya."


Vivian menghampiri kakeknya untuk melihat keadaannya, "Kakek, apa kau baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa Vivi, kakek baik-baik saja," ucap David sambil mengusap kepalanya.


"Tuan Max, jika kedatanganmu ke sini hanya untuk memukul kakekku maka lupakan, kalian bisa pergi," ucap Vivian.


"Tidak, aku minta maaf, aku tidak bermaksud demikian," ucap Jager Maxton.


"Jangan begitu Vivi, mungkin ada yang menipunya dan memang saat aku menemukanmu dan membawamu pulang, aku sedang bertugas tapi bukan aku yang membunuh wanita yang melindungimu waktu itu," jelas David.


"Maafkan ayahku tuan Adison," Damian tampak tidak enak hati.


"Maafkan aku, aku terlalu cepat emosi," ucap Jager pula.


"Tidak apa-apa, ayo kita bicarakan hal ini baik-baik," ajak David dan mereka segera duduk bersama.


Vivian kembali duduk di samping Matthew dan tampak gelisah, dia takut terjadi pertengkaran sedangkan Matthew mengusap punggungnya untuk menghiburnya.


"Don't worry babe, everything will be okay," bisik Matthew dan vivian mengangguk.


Suasana hening karena tidak ada yang memulai pembicaraan sedangkan jantung Vivian berdetak dengan cepat.


"Aku benar-benar minta maaf padamu tuan Adison," ucap Jager memecahkan keheningan diantara mereka.


"Tidak apa-apa, apa ada yang menghasutmu tuan Max?" tanya David pula.


"Ya, aku sudah mencari penyebab kematian putri dan istriku selama puluhan tahun dan yang aku tahu seorang tentara yang membunuh mereka saat istriku dibawa ke Inggris. Aku sudah berupaya mencari tapi tiba-tiba saja ada yang menghubungiku dan mengatakan jika kau membunuh istri dan putriku jadi maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar tuan Adison," ucap Jager dengan tidak enak hati.


"Aku bisa mengerti dan memang saat itu, aku sedang bertugas dan memimpin anak buahku untuk mengamankan dua kubu penjahat yang sedang bentrok."


"Sebenarnya apa yang terjadi tuan Adison, tolong katakan padaku. Aku sangat ingin tahu kenapa istriku bisa menjadi korban?"


"Boleh aku melihat foto istrimu tuan Max, kau membawanya bukan?" pinta David, dia ingin tahu apakah wanita yang melindungi Vivian saat itu adalah ibunya atau bukan.


"Tentu saja," jawab Jager maxton.


Untung saja Damian memintanya membawa foto istrinya dan ternyata mereka membutuhkannya. Jager mengeluarkan foto Cristiana dan meletakkannya di atas meja sedangkan David mengambil foto itu dan melihatnya dan tidak lama kemudian, david memandangi cucunya.


Vivian memandangi kakeknya dan bertanya dalam dalam hati, kenapa kakeknya melihatnya seperti itu?