
Vivian pulang ke rumah dengan keadaan lelah, dia baru saja pergi menemui seorang pria yang ada di dalam daftar.
Dia pergi menemui orang itu karena dia merasa orang itu mencurigakan tapi sayang, dia tidak mendapatkan apa-apa.
Tadinya dia berniat menghubungi orang yang bernama Maxton tapi dia urungkan dan besok dia akan menghubungi orang itu dan mengajaknya bertemu untuk diintrogasi.
Semoga saja orang yang bernama Maxton tidak keberatan dan mau bertemu dengannya. Vivian turun dari atas motor dan menghela nafasnya, kasus yang dia jalani saat ini tidaklah mudah.
Mungkin dia harus melihat wajah-wajah yang digunakan pria berinisail M, siapa tahu salah satu wajah yang dia gunakan ada di dalam daftar.
Ini bukan ide yang buruk, dia akan meminta kapten Ston mengirimkan gambar-gambar wajahnya nanti agar dia punya petunjuk.
Sepertinya malam ini dia akan bergadang untuk mengerjakan pekerjaannya, tidak mudah mencari seorang buronan yang memakai inisial dan menggunakan banyak wajah. Apa dia penjual topeng? Yang pasti orang ini sangat licik dan tidak bisa diremehkan begitu saja.
Vivian memutar pintu rumahnya yang ternyata masih terkunci, itu karena Matthew masih berada di rumahnya dan belum kembali.
Vivian sangat heran, ini sudah jam tujuh malam kemana Freddy? Kenapa belum kembali?
Dia tidak mau memikirkannya dan mengambil kunci rumahnya, lebih baik dia segera mandi dan bekerja.
Lagi pula dia sudah biasa sendiri sebelum pria itu tinggal dengannya, anggap saja dia baru menemukan seekor anjing liar dan merawatnya dan setelah itu anjing itu pergi.
Entah mengapa dia jadi ingin memelihara seekor anjing lucu untuk menemaninya jika dia pulang, tapi jika dia sedang bertugas siapa yang menjaga anjingnya? Dia juga harus memikirkan hal ini baik-baik.
Setelah masuk ke dalam rumah, Vivian menyalakan semua lampu dan setelah itu dia masuk kedalam kamarnya.
Dia mandi dengan cepat dan setelah itu dia makan malam, entah kenapa suasana rumah jadi sepi dan rasanya ada yang kurang.
Vivian menghela nafasnya dan berhenti menikmati makanannya, dia jadi tidak berselera dan sebaiknya dia mulai bekerja saja.
Suasana yang sepi membuat perasaanya tidak menentu dan dia benci itu, niatnya untuk menghampiri meja komputer Vivian urungkan dan entah kenapa kakinya membawanya menuju kamar yang di tempati oleh Matthew.
Vivian membuka pintu kamar dan memanggil, "Freddy?" tapi kamar itu gelap dan sepi.
Sambil menghembuskan nafasnya, Vivian menutup pintu kamar itu kembali. Apa yang sedang dia lakukan?
Sebaiknya dia bekerja saja, lagi pula dia sudah terbiasa sendiri bukan? Vivian menghampiri meja komputer dan segera menyalakan benda itu.
Dia segera mengirimkan email untuk kapten Ston untuk meminta wajah-wajah yang digunakan pria berinisial M saat melakukan aksinya.
Tidak butuh lama emailnya sudah dibalas dan puluhan wajah yang berbeda-beda muncul dilayar komputernya.
Vivian merenggangkan otot tanganya, lupakan hal tidak penting dan sekarang lebih baik dia bekerja agar dia bisa menyelesaikan tugasnya dan pulang ke rumah.
Tanpa terasa dia tenggelam dalam pekerjaannya dan pada saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Matthew kembali.
Dia pulang semalam itu karena ibunya membuatkan makanan untuk Vivian dan memintanya menunggu. Matthew turun dari mobilnya dan berjalan dengan santai memasuki pekarangan rumah Vivian dan pada saat sensor berbunyi, Vivian mengambil pistol dari dalam laci dan segera berjalan menuju pintu dengan perlahan.
Ketika dia sudah mendekati pintu tiba-tiba saja daun pintu terbuka dan Vivian langsung menodongkan pistolnya ke dahi Matthew karena dia mengira penjahat yang masuk kedalam rumahnya.
"Wow babe, ada apa ini?" Matthew mengangkat kedua tangannya.
"Ck, aku kira siapa!" Vivian menurunkan pistolnya dan berjalan pergi.
"Babe, kau tidak lupa aku masih menumpang di sini bukan?"
Vivian menyimpan pistolnya dan tersenyum secara diam-diam, dia kira pria itu sudah pergi dan tidak akan kembali lagi.
"Aku kira kau sudah mendapat tumpangan dari wanita cantik lainnya!" jawab Vivian asal.
"Apa kau cemburu babe?"
"Siapa yang cemburu? Sana mandi! Aku akan buatkan makanan untukmu!" jawab Vivian kesal seraya berjalan ke dalam dapur.
"Tidak perlu, ini ada makanan untukmu. Panaskan saja kita akan makan bersama."
Matthew berjalan mendekati Vivian dan memberikan makanan yang dia bawa. Vivian mengambil makanan itu dan tampak heran, dari mana Freddy mendapatkan makanan itu?
"Dapat dari mana?" tanyanya sambil menatap Matthew.
"Hm, istri majikanku yang memberikan makanan ini untukku," dustanya.
"Oke baiklah, aku akan memanaskannya dan pergilah mandi!"
Matthew tersenyum dan mendekati Vivian dan sebelum Vivian melangkah pergi untuk memanaskan makanan, Matthew meraih pinggangnya dan mengusap pipinya.
"Ma..mau apa?" tanya Vivian dengan gugup.
"Jangan menggombal!" ucap Vivian dengan wajah memerah.
"Aku serius babe, rasanya aku tidak mau berjauhan darimu."
"Ck, mimpi saja! Kerja yang rajin sana untuk membayar hutang-hutangmu!"
Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian, dia jadi ingat gaun yang dibelikan oleh adiknya dan gaun itu belum sempat dia berikan.
"Jangan khawatir babe, demi dirimu aku akan membayar semua hutangku dan setelah mandi ada yang ingin aku berikan padamu."
"Sana mandi dan jangan bawa-bawa aku dalam hutangmu! Aku akan membantumu semampuku dan aku harap saat aku sudah harus pergi semua hutangmu sudah lunas!"
Vivian mendorong tubuh Matthew dan berjalan pergi, sedangkan Matthew melihat kepergiannya dengan senyum di wajahnya.
"Percayalah babe, aku tidak akan membirkanmu pergi ke manapun!" ucapnya dalam hati.
Selagi Vivian memanaskan makanan, Matthew mengganti bajunya karena sebenarnya dia sudah mandi di rumah. Setelah selesai Matthew mengambil paper bag yang ada di dalam lemari dan membawanya keluar.
Itu adalah gaun yang dibelikan oleh adiknya, semoga saja Vivian suka dengan gaun itu.
"Babe ini untukmu," Matthew memberikan paper bag yang dia bawa pada Vivian saat gadis itu sedang meletakkan makanan ke atas meja.
"Apa ini?" tanya Vivian seraya mengambil paper bag yang diberikan oleh Matthew.
"Kau lihat saja sendiri, semoga kau suka."
Dengan rasa penasaran, Vivian mengeluarkan gaun dari dalam paper bag dan melihatnya.
"Wow!" gumamnya saat melihat sebuah gaun merah seksi yang ada di depannya.
"Ini gaun mahal, dari mana kau mendapatkannya?" Vivian menatap Matthew dengan curiga.
Waduh, Matthew memutar otaknya. Jangan sampai Vivian curiga.
"Itu hadiah!" jawabnya dengan cepat.
"Ck, orang sinting mana memberikan hadiah sebuah gaun pada seorang pria?" ucap Vivian dan dia melihat gaun itu dengan teliti.
"Percayalah babe, itu hadiah yang aku pinta untukmu."
"Oh ya? Entah mengapa aku curiga kau punya hobi lain!" Vivian kembali menatap Matthew dengan curiga.
"Enak saja! Aku masih normal!"
Vivian terkekeh dan memasukkan gaun itu kembali.
"Terima kasih, tapi jika kau mau menggunakan gaun itu katakan padaku, aku akan mengembalikkannya!"
"Sembarangan, aku bukan banci!"
Vivian diam saja dan membayangkan Matthew memakai gaun itu dan tidak lama kemudian tawanya pecah karena dia membayangkan Matthew memakai sebuah rambut palsu saat memakai gaun itu.
Matthew tersenyum dan meraih pinggang Vivian, entah apa yang sedang Vivin pikirkan tapi dia suka melihat gadis itu tertawa.
"Apa kau suka gaunnya?" tanyanya sambil berbisik di telinga Vivian.
"Hm, thanks."
"Aku akan mengajakmu makan malam romantis dan aku ingin kau memakai gaunnya."
"Kau punya uang?"
"Jangan Khawatir babe."
"Baiklah, aku menantikannya," ucap Vivian sambil tersenyum.
Dia kira malam ini dia akan sendirian lagi tapi ternyata dia salah.
"Terima kasih, aku kira kau sudah pergi dan tidak akan kembali lagi," ucap Vivian.
"Bodoh! Sudah aku katakan padamu bukan? Aku tidak akan meninggalkanmu!"
Vivian kembali tersenyum, walaupun mereka tidak memiliki hubungan apa-apa tapi selama di sana, dia akan menikmati kebersamaan mereka dan belajar melupakan Carlk.