
Jam pulang sudah tiba, Vivian sudah bersiap-siap untuk pulang karena dia sudah tidak sabar ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Matthew.
Lagi pula dia rindu dengan Matthew padahal mereka baru satu hari tidak bertemu. Biasanya mereka selalu bersama tapi kali ini dia harus meluangkan waktu untuk keluarganya dan yang pastinya setelah keluarganya kembali ke Inggris dia harus sering-sering menginap di rumah ayahnya supaya ayahnya senang.
Vivian menutup laci meja setelah memasukkan berkas terakhir yang ada di atas meja dan pada saat itu Charlie dan Felicia menghampirinya.
"Angel, mau makan malam bersama dengan kami?" ajak Felicia.
"Sorry, Fel. Aku tidak bisa dan sudah harus kembali," tolak Vivian.
"Aku jadi ingin tahu, di mana kau tinggal?" tanya Charlie.
"Benar, seharusnya kita tinggal bersama dalam satu rumah dinas yang sudah tersedia tapi kau tidak tinggal bersama dengan kami," ucap Felicia.
Vivian hanya tersenyum dan bangkit berdiri, sebaiknya kedua rekannya tidak tahu jika dia tinggal bersama dengan Matthew.
"Aku tinggal dengan sepupuku," dusta Vivian.
"Kau punya sepupu di Amerika?" kedua rekannya tampak tidak percaya.
"Yes, sepupu yang sudah terpisah lama," jawab Vivian asal sambil berjalan keluar.
Charlie dan Felicia saling pandang karena tidak mengerti maksud yang diucapkan oleh Vivian. Tapi mereka hanya mengangkat bahu dan setelah itu mereka juga berjalan keluar.
Vivian segera pulang sedangkan Matthew sudah menunggunya. Seperti Vivian, dia juga merindukan Vivian. Rasanya ada yang kurang jika tidak ada Vivian di rumah bahkan dia memilih pulang ke rumah orang tuanya dan bersama dengan mereka.
Begitu suara motor Vivian terdengar, Matthew segera menghampiri pintu dan membukanya. Dia sudah tidak sabar memeluk Vivian dan mencium bibirnya.
Begitu melihat Matthew, Vivian segera berlari dan melompat masuk ke dalam pelukannya.
"Wow, apa kau begitu merindukan aku Babe?"
"Tentu saja Matth, aku benar-benar rindu denganmu."
"Aku juga," ucap Matthew dan mereka berciuman dengan mersa.
Rasanya sudah lama tidak bertemu padahal baru satu hari saja, mereka berciuman cukup lama untuk melepaskan kerinduan mereka dan setelah itu, Matthew mengusap pipi Vivian dan menciumnya dengan lembut.
"Pergilah mandi setelah itu kita makan malam," ajak Matthew.
"Mau memandikan aku?" goda Vivian.
"Dengan senang hati!"
Matthew segera menggendong Vivian dan membawanya menuju kamar mandi. Sesuai dengan keinginan Vivian, Matthew membantunya mandi dan membantu Vivian mencuci rambutnya dan dia senang melakukannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan Matth?" Vivian sudah tidak sabar dengan hal ini.
"Nanti saja babe, ada yang ingin aku tunjukkan padamu juga tapi kita akan membahas hal ini setelah kita makan," jawab Matthew sambil mengeringkan tubuh Vivian dan membantunya memakaikan baju.
Vivian tersenyum dan membiarkan Metthew memanjakannya dan melakukan apa yang dia mau. Setelah selesai, mereka segera keluar dari kamar sambil bergandengan tangan dan menuju meja makan.
"Bagaimana harimu di rumah ayahmu Babe, apa menyenangkan?"
"Sangat menyenangkan," jawab Vivian sambil tersenyum.
"Kau menikmatinya?"
"Tentu saja Matth, aku sangat menikmati kebersamaan kami dan aku akan menginap di sana lagi."
"Itu terdengar bagus tapi Babe, mintalah ayahmu untuk selalu berhati-hati dan aku juga sudah memerintahkan anak buahku untuk menjaga keluargamu. Aku sedang mencari Gary jadi sebaiknya kita semua berhati-hati sebelum aku menemukannya!"
"Aku tahu tapi kenapa terdengar begitu serius?" tiba-tiba saja Vivian punya firasat tidak bagus.
"Apa kau sudah selesai makan?" tanya Matthew.
"Ya," jawab Vivian sambil mengangguk.
"Ayo ikut denganku," ajak Matthew dan mereka segera bangkit berdiri.
Mereka berjalan menuju ruangan yang biasa Matthew gunakan untuk bekerja dan setelah mereka masuk ke dalam, Matthew menunjukkan beberapa foto pada Vivian dan foto itu adalah foto yang diambil oleh Michael.
"LIhat ini Babe, apa kau mengenal mereka?"
Vivian mengambil foto-foto itu dan melihatnya tapi tidak lama kemudian Vivian menggeleng karena wajah mereka tidak begitu jelas, itu dikarenakan si penghianat dan Thomas menyamar atas saran Gary.
"Ada apa dengan kedua orang ini?"
"Dengar," Matthew duduk disebuah kursi dan menarik Vivian hingga duduk di atas pangkuannya.
"Wanita yang menyerang ayahmu sewaktu di restoran adalah Ella dan aku ...." ucapan Matthew tertahan karena Vivian menyela ucapannya.
"Yes, tapi itu tidak penting Babe. Yang paling penting adalah setelah aku mengintrogasi Ella dia mengatakan jika ada seorang wanita yang datang dari Inggris beberapa hari lalu dan wanita itu adalah sekutu Gary."
"Jadi? Wanita ini adalah sekutu Gary?" tanya Vivian sambil menunjukkan foto si penghianat.
"Yes, dan terus terang saja aku curiga dengan salah satu rekanmu yang baru datang dari Inggris. Kemungkikan salah satu dari mereka adalah sekutu Gary dan aku mengatakan hal ini bukan tanpa alasan. Setelah kedatangan rekanmu tidak lama kemudian, sekutu Gary datang menemui Gary dan wanita itu juga berasal dari Inggris. Apa kau tidak merasa curiga?"
Vivian diam saja, memikirkan setiap ucapan Matthew. Dia memang berhati-hati pada kedua rekannya tapi dia tidak menaruh curiga sama sekali. Apakah yang dikatakan oleh Matthew adalah benar jika salah satu dari mereka adalah penghianat?
"Babe, dengar. Aku ingin kau berhati-hati pada kedua rekanmu dan jangan mempercayai mereka dengan mudah."
"Aku tahu Matth, aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi jadi kau tidak perlu khawatir tapi apa kau tahu?"
"What?" tanya Matthew sambil mengusap pipi Vivian.
"Setelah kejadian di restoran, aku pergi bersama dengan kedua rekanku untuk menangkap penjahat bernama Mosha. Walaupun dia sempat melarikan diri tapi kami berhasil melumpuhkannya dan apa kau tahu apa yang terjadi setelah kami menangkapnya?
Matthew menggeleng sedangkan Vivian kembali melanjutkan ucapannya.
"Tiba-tiba Kapten Willys mengumpulkan kami dan mengatakan jika Mosha kemungkinan adalah buronan yang sedang kami cari."
"Wow, kenapa tiba-tiba penjahat itu bisa dicurigai sebagai buronanmu?"
"Aneh bukan? Mungkin kau benar, mungkin salah satu rekanku adalah penghianat dan bisa saja dia membuat sebuah kesepakatan tanpa sepengetahuanku."
"Katakan padaku, di mana kalian menangkapnya. Aku bisa meminta adikku untuk meretas cctv yang ada di sana."
"Itu hanya bangunan tua Matth, tidak ada cctv di sana."
"Ck, sayang sekali!" ucap Matthew.
"Patrik juga tidak percaya jika Mosha adalah buronan yang kami cari padahal kami sudah mencarinya begitu lama tapi setelah kedua rekanku datang, tiba-tiba buronan tertangkap. Sungguh luar biasa tapi dengan begini tugasku selesai dan Gary bebas padahal aku mencurigainya," ucap Vivian.
"Biarkan saja mereka mengira Mosha adalah buronan yang dicari."
"Maksudmu?"
"Babe, buronanmu sudah jelas Gary dan tidak diragukan lagi. Sudah aku katakan aku sedang mencari Gary jadi serahkan dia padaku. Biarkan Mosha menjadi buronanmu dengan begitu, kasus di tutup bukan? Mungkin Gary dan sekutunya berpikir dia sudah bebas dari hukum tapi dia tidak akan bebas dari tanganku. Aku ingin lihat berapa lama dia mau bersembunyi karena pada akhirnya dia akan tertangkap olehku dan pada saat itu terjadi, dia akan lebih suka mendekam di penjara dari pada berada di tanganku."
"Terdengar tidak bagus," ucap Vivian.
"Percayalah Babe, memang tidak bagus!"
"Oke baiklah, ke mana Ella? Serahkan dia padaku karena aku akan menjebloskannya ke dalam penjara."
"Entahlah, aku tidak tahu binatang mana yang memakannya."
"What?" Vivian tidak percaya dan mengira jika Matthew hanya bercanda saja.
"Jangan bercanda Matth, serahkan dia padaku karena dia harus menjalani hukumannya di dalam penjara."
"Aku tidak bercanda Babe, Ella sudah aku hukum sesuai dengan perbuatannya dan jika kau tidak percaya kau bisa mendatangi binatang peliharaanku dan bisa mencari Ella di dalam perut Hiena peliharaanku."
"Hey, aku serius!"
Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian dengan lembut, "Dari pada membicarakan Ella bagaimana jika kita membicarakan pernikahakan kita? Keluargamu ada di sini dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk membahas hal ini dengan mereka," ucap Matthew.
"Boleh juga, mereka juga belum bertemu dengan keluargamu."
"Kita akan segera mempertemukan mereka," ucap Matthew dan setelah itu mereka berciuman dengan mesra.
Ciuman ringan mereka menjadi panas, tangan Matthew sudah masuk ke dalam baju Vivian dan membelai tubuhnya sedangkan lidah mereka berdua juga sibuk.
Nafas mereka menjadi berat dan setelah melepaskan bibir Vivian, Matthew mengusap wajah Vivian dengan lembut.
"Mau pindah ke kamar?"
"Boleh, tapi kali ini aku yang akan melakukannya. Boleh bukan?" tanya Vivian.
"kau ingin melakukannya Mrs. Smith?"
"Yes, women on top!"
"Dengan senang hati Babe, dan kau boleh melakukan apapun yang kau mau. Aku milikmu malam ini," ucap Matthew.
"Bersiaplah Mr. Smith," ucap Vivian dan mereka kembali berciuman.
Matthew segera menggendong Vivian dan membawanya menuju kamar, mereka masih berciuman dan setelah masuk ke dalam kamar, mereka akan menikmati malam mereka berdua.