Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Apa semua ini hanya lelucon?


Vivian menunggu dalam kecemasan, menunggu kabar mengenai pesawat yang ditumpangi oleh kedua orangtuanya.


Dia sungguh sangat berharap ada sebuah keajaiban tapi sayang, petugas bandara yang dia hubungi juga mengatakan jika mereka masih mencari keberadaan pesawat.


Cuaca buruk semakin memperburuk keadaan, hujan tidak juga berhenti begitu juga dengan suara petir yang terus terdengar diluar sana.


Vivian benar-benar takut, takut terjadi sesuatu pada kedua orangtua juga kakeknya. Jika sampai terjadi sesuatu pada mereka maka dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena permasalahannya yang membuat mereka harus datang ke Amerika.


Kakaknya juga pasti akan marah apa lagi dengan paman dan bibinya, mereka pasti akan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.


Dia dan kakaknya yang ada di Inggris saling bertukar informasi mengenai keberadaan kedua orang tua mereka yang belum ada kabar sama sekali bahkan begitu ponselnya berbunyi, Vivian segera menyambar benda itu dan menjawabnya dengan cepat.


"Bagaimana kak?" tanya Vivian dengan tidak sabar.


"Belum ada kabar Vivi, aku sedang di bandara saat ini dan jika tidak ada kabar sampai sore maka aku akan berangkat ke Amerika bersama dengan uncle dan aunty."


"Cuaca sedang buruk kak, sebaiknya kalian tidak datang," cegah Vivian.


"Jangan khawatir, kami tidak bisa menunggu seperti ini Vivi. Kabar yang aku dapatkan pesawat yang mereka tumpangi sudah hampir tiba ke California tapi tiba-tiba saja lost contact. Kita hanya bisa berdoa semoga mereka baik-baik saja," ucap kakaknya.


"Aku juga berharap begitu kak, aku takut?"


"Hei jangan berpikiran buruk! Mereka pasti baik-baik saja jadi jangan berpikiran buruk," ucap kakaknya. Dia berkata demikian untuk menghibur Vivian padahal dalam hatinya juga dipenuhi kekhawatiran.


"Aku tahu kak, jika belum ada kabar aku akan ke bandara. Sebentar lagi aku ada rapat penting yang tidak bisa aku tinggalkan," ucap Vivian.


"Baiklah Vivi, aku akan terus mencari informasi di sini," ucap kakaknya.


Setelah berbicara dengan kakaknya, Vivian meletakkan ponselnya. Walaupun ada masalah tapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja karena dia adalah penegak hukum apa lagi, kapten Willys mengatakan rapat kali ini sangat penting dan semua agen harus hadir.


Jika rapat sudah selesai, dia akan meminta ijin pada kapten Willys dan dia akan segera pergi ke bandara untuk mencari informasi. Dia harap pesawat yang ditumpangi keluarganya baik-baik saja.


Vivian segera makan sup yang diberikan Damian dengan perasaan tidak menentu, walau dia sedang tidak berselera makan tapi dia perlu mengisi perutnya dan selama makan, air mata Vivian mengalir.


Jangan katakan di saat dia bertemu dengan ayah kandungnya di saat itu juga dia harus kehilangan orang yang membesarkan dan menyayanginya selama ini.


Semoga saja hal itu tidak terjadi karena ini adalah takdir yang benar-benar kejam.


Vivian makan sup nya kembali sambil bergumam, "Enak" dan saat itu air matanya kembali mengalir.


"Mom, dad, kakek, aku harap kalian baik-baik saja," ucap Vivian seraya menghapus air matanya.


Dia benar-benar tidak sanggup kehilangan mereka begitu cepat apa lagi mereka harus mengalami hal seperti ini gara-gara dirinya.


Waktu makan siang telah berlalu dan para agen sudah berkumpul di ruang rapat. Selama mengikuti rapat, Vivian benar-benar tidak berkonsentrasi dan dia sangat berharap rapat cepat selesai tapi waktu terasa berjalan begitu lama baginya.


Vivian benar-benar frutasi karena rapat tidak juga selesai. Itu karena banyak hal yang dibahas oleh kapten Willys dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, rapat baru selesai dan para agen sudah diperbolehkan untuk pulang.


Begitu keluar dari ruang rapat, Vivian segera menghubungi kakaknya tapi kakaknya tidak menjawab panggilan darinya.


Vivian semakin frustasi, sebaiknya dia segera pergi ke bandara untuk mencari tahu keadaan keluarganya menggunakan mobil dinas tapi sebelum itu dia harus menghubungi Matthew dan memintanya untuk tidak menjemputnya.


Sambil berjalan menuju mejanya, Vivian menghubungi Matthew. Dia akan meminta Matthew agar dia tidak datang tapi saat itu Matthew sedang menuju kantornya.


"Ada apa babe?"


"Matth, kau tidak perlu menjemputku."


"Kenapa?" tanya Matthew heran.


"Pesawat yang ditumpangi orangtuaku lost contact dan belum ada kabar sampai sekarang jadi aku mau pergi ke bandara untuk mencari tahu bagaimana dengan keadaan mereka."


"Belum Matth! Cuaca buruk seperti ini apa saja bisa terjadi di atas sana dan aku takut?" ucap Vivian frustasi.


"Baiklah babe, aku sedang diperjalanan menuju kantormu jadi tunggu aku. Kita akan ke bandara memastikan keadaan mereka bersama-sama. Lost contact belum tentu terjadi kecelakaan dan bisa saja pesawat mereka dibajak oleh penjahat."


"Kau benar Matth, aku sangat berharap mereka baik-baik saja. Aku akan menunggumu di cafe jadi segeralah datang," ucap Vivian dan untuk pertama kalinya dia berharap, pesawat yang membawa orangtuanya memang dibajak.


Vivian segera keluar dari kantor setelah selesai berbicara dengan Matthew. Dia akan menunggu Matthew di cafe karena dia tidak mau ada yang melihat Matthew.


Hujan masih turun rintik-rintik dan awan gelap menyelimuti langit bahkan kilat dan petir masih menyambar di atas sana.


Vivian berjalan menuju cafe dan pada saat melihatnya, Carlk mengikuti langkah Vivian. Dia sudah menunggu Vivian sejak tadi dan kali ini dia tidak akan gagal memperbaiki hubungan mereka berdua.


Sebelum tiba di cafe tiba-tiba saja Vivian dikagetkan oleh seseorang yang menarik tangannya hingga membuat langkahnya terhenti.


"Hei, kau?!" teriak Vivian marah tapi ketika melihat Carlk, Vivian benar-benar tidak percaya. Apa dia penguntit?


"Vivi, kenapa sekarang kau berubah? Mana Vivian yang aku kenal dulu?" Carlk memasang wajah sedih untuk mencari simpati.


"Jangan ganggu aku Carlk, sudah aku katakan padamu, aku bukan Vivian yang dulu lagi!" jawab Vivian sambil menarik tangannya dan dengan diam-diam, Vivian menekan tombol yang ada di gelangnya.


Dia harap Matthew cepat datang karena dia tidak mau berlama-lama dengan Carlk dan memang begitu mendapat tanda, Matthew semakin menambah kecepatan mobilnya.


"Vivi, aku benar-benar minta maaf dan berikan kesempatan padaku untuk memperbaiki semua ini."


"Tidak ada kesempatan lagi Carlk karena aku sudah mencintai pria lain," jawab Vivian seraya melangkah pergi tapi Carlk masih mengikutinya.


"Tidak Vivi, tidak ada pria yang boleh memiliki kau selain aku!" ucap Carlk tapi Vivian tidak perduli dan terus berjalan pergi.


"Vivi, aku mencintaimu dan aku juga yakin, kau pasti masih mencintaiku bukan?"


"Stop Carlk!" teriak Vivian marah.


Dia sedang memikirkan keadaan orangtuanya tapi Carlk semakin membuat suasana hatinya memburuk.


"Vivi maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu marah," ucap Carlk dan dia hendak menyentuh Vivian tapi tiba-tiba saja, sebuah mata pedang yang tajam melintas di depan matanya dan tidak lama kemudian Carlk berteriak karena jarinya putus akibat sabetan mata pedang yang ditebaskan oleh seseorang dan orang itu adalah Matthew.


Begitu tiba Matthew sangat marah melihat Gary Wriston mengganggu Vivian dan tanpa menunggu, Matthew mengambil pedangnya dan segera menghampiri mereka bahkan dia menebaskan pedangnya tanpa ragu karena dia tidak mau Vivian disentuh Gary.


Vivian sangat kaget saat melihat Carlk sedang meringis dan memegangi tangannya di mana dua jarinya putus akibat sabetan mata pedang Matthew.


"Matth, apa yang kau lakukan?" tanya Vivian tapi Matthew menatap Carlk dengan api kemarahan.


Carlk juga tak kalah kaget dan segera memandangi orang yang baru saja menebas jarinya, " Matthew Smith," ucap Carlk.


"Gary Wriston, beraninya kau menyentuh kekasihku?!" ucap Matthew dengan kemarahan di hati.


"Apa?" Vivian sangat kaget mendengarnya dan matanya melotot tidak percaya.


"Matthew Smith beraninya kau menebas jariku?!" Carlk memegangi tangannya yang terus mengeluarkan darah.


"Aku bahkan tidak ragu menebas kepalamu Gary!" jawab Matthew.


Matthew dan Gary saling pandang dengan tatapan penuh kebencian, sedangkan Vivian melangkah mundur dengan exspresi tidak percaya.


"Ti...tidak mungkin," ucapnya sambil menggeleng.


Vivian tampak shock dan tidak percaya, jadi Gary Wriston adalah Carlk? Apa semua ini hanya lelucon?