Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Mission


Long Beach adalah kota terbesar ke-36 di Amerika Serikat dan ke-7 di California. Long Beach memiliki pelabuhan terbesar di dunia dan di kota ini juga memiliki industri minyak bumi besar. Minyak dapat ditemukan baik di bawah tanah ataupun di pantai dan di pelabuhan Long Beach adalah tempat keluar masuknya barang-barang import maupun eksport.


Kapal-kapal besar yang berjajar disepanjang pelabuhan menandakan bahwa pelabuhan Long Beach adalah pelabuhan yang begitu aktif belum lagi dengan tumpukan-tumpukan peti kemas yang ada di pelabuhan.


Mobil berukuran besar mondar mandir keluar masuk pelabuhan begitu juga dengan kapal yang bersandar untuk mengambil muatan dan setelah itu pergi lagi.


Di pelabuhan inilah, Vivian dan para rekannya akan menyergap dan menggagalkan transaksi gelap yang akan dilakukan sebentar lagi.


Pelabuhan sudah sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Vivian dan para agen sudah mengintai dilokasi mereka masing-masing.


Target mereka adalah sebuah kapal barang yang bersandar didermaga dan kapal itu akan membawa barang-barang ilegal keluar dari California.


Waktu transaksi diperkirakan jam satu pagi yang artinya sebentar lagi, tidak saja Vivian dan para rekannya tapi Matthew juga sudah berada di tempatnya bersama dengan James dan beberapa anak buahnya. Mereka sudah tiba dipelabuhan terlebih dahulu sebelum Vivian dan rekannya tiba sehingga tidak ada yang tahu mereka ada di sana.


Tidak akan ada yang melihat mereka karena mereka ada di atas tumpukan peti kemas yang terususun tinggi. Mereka akan menembak musuh dari atas. Matthew telah memerintahkan para anak buahnya untuk berada tidak jauh dari Vivian dan mereka harus menembak dari peti kemas dan tidak boleh ketahuan.


Di luar sana, target mereka sudah datang dan beberapa mobil sudah memasuki pelabuhan. Seorang agen yang menyamar menjadi petugas pelabuhan sesuai dengan perintah Vivian membiarkan target masuk ke dalam.


Mobil mulai bergerak masuk dan sang agen memberi laporan melalui Talkie Walkie, "Target sudah masuk ke dalam!"


"Siap!" jawab Vivian.


Setelah mendapat laporan, Vivian memerintahkan rekan-rekannya untuk bersiaga begitu juga dengan Matthew Karena Michael mengatakan jika beberapa mobil sudah masuk ke dalam pelabuhan.


Michael masih memperhatikan dari layar komputer dan entah mengapa matanya tidak lepas dari seorang agen yang tampak gelisah dan mencurigakan.


Sebaiknya dia merekam dan memyimpannya, akan dia tunjukkan pada kakaknya nanti. Mungkin saja rekaman itu dibutuhkan oleh kakak iparnya.


Mobil mulai berhenti dan keluar sekelompok orang berjumlah sekitar lima belas orang. Mereka diam saja seperti menunggu orang lain dan tidak lama kemudian, Vivian mendapat laporan lagi dari rekannya jika beberapa mobil masuk ke dalam pelabuhan.


Dia belum memberi perintah dan masih mengintai, saat transaksi sudah dilaksanakan dan barang bukti sudah keluar maka dia akan memberikan perintah untuk menyergap.


Agen yang menjadi penghianat tampak semakin gelisah, dia tidak tahu harus melakukan apa. Apakah dia harus ikut menembak nanti? Tapi supaya tidak ketahuan dia akan berpura-pura menembak target mereka.


Beberapa mobil mulai berhenti dan dari dalam mobil keluar sekitar dua puluh orang dan diantaranya membawa dua buah koper kecil di tangan mereka.


Salah satu dari mereka memakai sebuah topi dan menghampiri seorang pria berkulit hitam yang sudah menunggu mereka sedari tadi.


Mereka bersalaman dan berbincang sejenak dan setelah itu, kedua orang yang membawa koper menghampiri pria yang sedang memakai topi.


Kedua koper diletakkan di atas kap mobil dan pria yang memakai topi membuka salah satu koper. Dari dalam koper tampak bungkusan-bungkusan berwarna putih dan pria yang memakai topi mengambil salah satu bungkus yang adalah obat terlarang dan memberikannya kepada pria berkulit hitam yang ada di sampingnya.


Kantong obat diambil dan pria berkulit hitam membuka bungkusan obat dan mencicipinya, tidak lama kemudian pria itu mengangguk dan mereka sudah berjabat tangan tanda sepakat.


Koper lain di buka dan pria berkulit hitam kembali mengangguk. Kesepakatan sudah terjalin dan pada saat itu, pria yang memakai topi menghubungi seseorang dan beberapa menit kemudian, sebuah mobil truck dengan sebuah kontainer besar berada di belakangnya menghampiri mereka.


Mereka tampak puas karena kesepakatan sudah terjalin dan barang sudah siap di bawa naik ke dalam kapal yang sudah menunggu.


Kontainer mulai terbuka karena pria berkulit hitam ingin mengecek isinya dan pada saat itu, Vivian memberi perintah kepada para agen untuk segera menyergap.


"Sekarang!" perintah Vivian dan dia dengan para agen mulai keluar dari persembunyiannya.


"Dor..dor...dor!" Mereka mulai menembak para penjahat yang ada di sana.


Segerombolan penjahat itu mulai kelabakan, mereka mencari tempat untuk bersembunyi dan juga menarik senjata api mereka untuk melawan.


Baku tembak mulai terjadi, para penjahat bersembunyi di balik-balik kontainer yang ada tapi mereka tidak menyangka mereka mendapat tembakan lain dan itu dilakukan oleh Matthew dan para anak buahnya.


Vivian dan para agen terus menyergap, menembaki siapa saja yang mereka lihat. Pria berkulit hitam dan pria yang memakai topi mengumpat kesal dan mereka sedang bersembunyi dibalik sebuah mobil berwarna merah yang ada di sana.


"Kenapa ada petugas yang menyergap!" teriak pria berkulit hitam dengan sebuah pistol di tangannya.


Vivian dan rekannya Ana berjalan menghampiri mobil truk dengan cara mengedap-endap untuk mencari dua tersangka mereka.


Di depan komputernya Michael mengawasi gerak gerik tersangka dan mengatakan di mana saja posisi mereka kepada kakaknya.


"Kak, dua berada di kontainer berwarna hijau dan dua lagi berada di dekat mereka," ucap Michael.


"Oke," jawab Matthew dan dia mulai mengintip targetnya melalui teropong yang ada di senjata api laras panjangnya.


"James, dua itu bagianmu!" perintahnya.


"Yes master." jawab James dan dia juga mulai membidik sasarannya.


Pelatuk senjata api ditekan dan peluru melesat dengan cepat ke arah buruan mereka dan tanpa buruan mereka sadari, peluru melesat dengan cepat dan menembus kepala mereka.


Matthew dan James tidak memberi celah dan mereka terus menembak begitu juga dengan anak buah mereka yang ada di bawah. Vivian tahu jika Matthew membantunya jadi dia tidak kaget saat target mereka tiba-tiba ambruk bersimbah darah.


Puluhan target mereka tinggal sedikit tapi kedua orang tadi belum di temukan dan Michael belum mengatakan pada kakaknya di mana posisi mereka.


Patrik dan yang lainnya masih mengejar dan menembaki para tersangka yang hendak melarikan diri, sedangkan Vivian dan Ana masih mencari dan pada saat itu salah seorang penjahat keluar dari dalam kontainer dengan senjata api laras panjang di tanggannya dan benda itu dia ambil dari dalam.


"Oh damn! Lari!" teriak Vivian kepada rekannya dan mereka segera berpencar berlari berlawanan arah.


Peluru terus mengejar mereka dan kali ini, dua orang sedang menembaki mereka. Vivian berlari sekuat tenaga untuk menghindari peluru sedangkan Ana berlari ke arah mobil berwarna merah.


Karena kedua orang itu masih berada di atas kontainer sehingga Matthew dan James tidak bisa melihatnya. Vivian masih berlari dan segera melompat untuk bersembunyi disebuah kontainer, sedangkan Ana tertangkap oleh pria berkulit hitam dan si pemakai topi yang sedang bersembunyi.


Mereka keluar dari persembunyian sambil menyandera Ana, sepucuk pistol menempel di dahi Ana dan pria itu berteriak, "Keluar jika tidak rekanmu akan mati!"


"Oh my God, Ana?" ucap Vivian sambil mengintip.


"Kami hitung sampai tiga!" ucap pria yang memakai topi.


"One," pria itu mulai menghitung.


"Kak, kenapa kau tidak menembak?" tanya Michael yang melihat kejadian itu.


"Sabar Mich, tunggu sebentar lagi!" jawab Matthew.


Dengan terpaksa Vivian keluar dari persembunyiannya dan dia langsung ditodong dengan senjata api, agen lain yang melihat kejadian itu segera bersembunyi dan akan mencari kesempatan bagus untuk menolong rekan mereka yang sedang disandera.


"Buang senjatamu!" perintah pria berkulit hitam.


Sesuai dengan keinginan pria itu, Vivian meletakkan senjatanya ke bawah tapi matanya menatap dua pria yang ada di dalam kontainer Karena merekalah yang harus diwaspadai.


"Sekarang bawa kami pergi dari sini!" ucap pria berkulit hitam itu lagi.


"Sory, sepertinya kalian tidak bisa pergi!" jawab Vivian sambil tersenyum.


"Apa kau bilang?" pria itu hendak menekan pelatuk pistolnya tapi sayang, dua buah peluru sudah melesat ke arah mereka dan kedua peluru itu ditembakkan oleh Matthew juga James.


Sebelum pistol ditembakkan peluru sudah menembus kepala si pria kulit hitam dan pria yang memakai topi. Hal itu mengalihkan perhatian dua pria yang ada di kontainer dan ini adalah kesempatannya jadi Vivian berlutut di atas aspal dan menarik dua buah pisau yang ada dipinggangnya. Dia segera melemparkan benda itu ke arah dua pria yang ada di dalam kontainer.


Mata mereka berdua membulat karena pisau sudah menancap di dahi mereka dan beberapa detik kemudian tubuh mereka ambruk kebawah.


Dari tempatnya Matthew melihat aksi Vivian sambil meletakkan senjatanya di atas bahu dan berkata, "Wow, i like it!"


Para agen mulai berkumpul di bawah sana dengan tanda tanya dihati, siapa yang membantu menembak? Tapi mereka harus mengevakuasi korban dan barang bukti terlebih dahulu.


Matthew tampak puas dan segera mengajak James juga para anak buahnya untuk pergi Karena misi mereka membantu Vivian sudah selesai begitu juga dengan Michael, dia sudah menyimpan rekaman yang dia ambil dan mematikan komputernya karena dia mau tidur.