Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Aku yang akan melakukannya untukmu.


Senang dan bahagia, itulah yang dirasakan oleh Damian dan Vivian saat ini. Apalagi dokter yang memeriksa keadaan ayah mereka berkata, jika kesehatan Jager Maxton semakin membaik.


Itu karena keinginan Jager sendiri, dia sudah tidak sabar untuk mengajak putra dan putrinya pergi piknik, mengajak mereka ke tempat di mana dia dan istrinya selalu kunjungi. Dia juga ingin berbaring di bawah pohon Meadow bersama dengan putra dan putrinya, menikmati alam bersama dengan mereka.


Vivian duduk di samping ayahnya dan menyuapinya makan, ini pertama kalinya dia melakukan hal itu dan tentunya, Jager sangat bahagia karena bisa makan dari tangan putrinya.


Walaupun hanya hal yang sederhana, tapi itu sudah cukup membuatnya bahagia apalagi, dia tidak memiliki kenangan apapun bersama dengan putrinya. Sekarang dia ingin membuat kenangan baru dan melakukan banyak hal yang menyenangkan bersama dengan putrinya disisa hidupnya yang tidak banyak lagi.


Dia berharap dia masih bisa hidup sampai sepuluh atau dua puluh tahun kedepan walau sejak awal, dia sudah di vonis hanya akan bertahan sampai beberapa tahun saja.


Damian mendekati ayahnya setelah ayahnya selesai makan. Ada yang ingin dia sampaikan dan dia harap ayahnya tidak sedih saat mendengarnya.


"Dad," Damian menarik sebuah kursi dan duduk di samping ayahnya.


"Ada apa? Apa kau sudah ingin menikah?" goda ayahnya.


"Bukan begitu, Dad. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Daddy."


"Katakan? Ada apa?"


"Rumah kita hancur," jawab Damian.


"Hancur?" Jager sangat kaget mendengarnya. Dia tidak tahu akan hal ini karena saat Gary membawanya pergi dan sebelum Gary meledakkan rumahnya, Gary sudah membuatnya pingsan.


"Ya, semua barang-barang juga hancur, begitu juga foto istri Daddy."


Jager menunduk dan tampak sedih tapi yang lebih membuatnya sedih ketika dia teringat dengan Ray, pelayan pribadinya yang setia. Ray mati karena melindungi dirinya saat itu dan dia merasa sangat sedih akan hal itu.


"Maafkan aku, Dad," Damian menyentuh tangan ayahnya.


"Maafkan kau kerena aku tidak bisa menjaga Daddy. Aku sudah memerintahkan orang untuk mencari foto istri Daddy di antara puing bangunan tapi mereka hanya menemukan serpihannya saja. Aku benar-benar minta maaf untuk hal ini tapi aku berjanji pada Daddy jika aku akan membangun rumah itu seperti semula."


"Tidak apa-apa, Damian. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Rumah itu akan menjadi rumahmu kelak jadi bangunlah sesuai dengan keinginanmu. Daddy tidak mungkin membawa rumah itu bersama dengan Daddy jika Daddy sudah mati, jadi bangun rumah itu untuk istri dan anak-anakmu nanti."


"Tapi aku tidak ingin Daddy sedih," ucap Damian.


Jager tersenyum dan mengusap tangan Damian. Dia tahu jika Damian telah melakukan yang terbaik untuknya dan tidak ingin membuatnya sedih tapi dia tidak mau melihat putranya merasa bersalah dan sedih.


"Tidak apa-apa, itu hanya rumah dan foto saja. Lagi pula Cristiana selalu ada di hatiku dari dulu dan sampai kapanpun juga dia akan selalu berada di dalam hatiku. Aku tidak mungkin melupakan wajah dan senyumnya dan aku akan selalu mengingat wajah cantiknya walaupun sudah tidak ada fotonya lagi di rumah."


"Daddy tidak sedih bukan jika tidak ada foto istri Daddy lagi?" tanya Damian memastikan.


"Tidak, Damian. Ada kalian berdua bersama dengan Daddy sekarang dan itu sudah cukup untuk Daddy. Aku sangat bersyukur dan bahagia karena aku masih diberikan kesempatan untuk bersama dengan kalian tapi ada satu hal yang membuat aku sedih ...."


"Apa itu Dad?" tanya Damian.


"Ray adalah pelayan pribadiku yang setia sejak dulu tapi dia harus mati karena mengorbankan nyawanya untukku. Apa kau menemukan mayatnya, Damian?"


"Aku sudah memakamkan tubuhnya dengan layak jadi Daddy tidak perlu khawatir," jawab Damian.


Jager sedikit lega mendengarnya. Sejak dulu Ray sudah melayaninya, tanpa menikah dan tidak memiliki keluarga. Setidaknya Damian sudah memakamkan tubuhnya dengan layak dan setelah keadaannya lebih baik maka dia akan pergi mengunjungi makam Ray untuk meminta maaf padanya.


"Sebaiknya Daddy segera beristirahat," ucap Vivian yang sedari tadi jadi pendengar.


"Benar, Daddy harus banyak beristirahat supaya keadaan Daddy cepat pulih," ucap Damian pula.


Vivian tersenyum dan mencium dahi ayahnya sambil berkata, "Aku ingin melihat keadaan keluargaku, Daddy tidak keberatan, bukan?"


"Tidak, Sayang. Bagaimana keadaan mereka?"


"Mereka baik-baik saja, Dad. Mungkin mereka akan menjenguk Daddy nanti."


"Tidak perlu merepotkan mereka, Sayang."


"Baiklah, segeralah beristirahat," ucap Vivian.


Jager tersenyum, walaupun mereka baru bertemu tapi ternyata putrinya sangat menyayanginya dan dia sangat mensyukuri hal itu. Putrinya mau mengerti dan tidak marah atas kesalahan yang telah dia lakukan.


Setelah Jager tertidur, Vivian segera pergi bersama dengan Matthew, sedangkan Damian menemani ayahnya.


"Babe, setelah mengantarmu ke rumah sakit aku harus pergi," ucap Matthew kepada Vivian ketika mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Mau ke mana?"


"Menyapa Gary dan sekutunya. Hari ini mereka akan mulai membayar apa yang telah mereka lakukan. Aku sudah berjanji padamu akan membalas perbuatan mereka jadi aku akan pastikan mereka tidak akan mati begitu saja."


"Baiklah, Mr. Smith. Kuliti wajah mereka satu persatu dan setelah itu, siksa mereka sampai mati!"


Matthew terkekeh, "Ternyata kau sadis juga," ucapnya.


"Mereka pantas mendapatkannya terutama Gary. Setiap mengingat perbuatan yang dia lakukan terhadap keluargaku, aku benar-benar benci dan rasanya aku ingin mengeluarkan hati dan jantungnya!!" jawab Vivian dengan penuh emosi.


"Kau tidak perlu mengotori tanganmu," Matthew menarik Vivian hingga bersandar pada bahunya.


"Aku yang akan melakukannya untukmu dan Gary akan mendapatkan siksaan yang lebih kejam dibandingkan yang lainnya. Dia pasti akan mendapatkannya karena telah melukai keluargamu dan telah menyakiti perasaanmu."


Vivian tersenyum, dia tahu jika Matthew akan melakukannya. Dia tidak akan iba sedikitpun pada Gary walaupun dia adalah cinta pertamanya. Lagi pula dia sudah kecewa pada Gary dan sekarang hanya ada rasa benci di dalam hatinya untuk Gary.


Ketika tiba di rumah sakit, mobil yang dibawa oleh James berhenti. Vivian mengambil tasnya karena dia sudah mau turun dari mobil.


"Aku akan menjemputmu nanti," ucap Matthew.


"Aku akan menunggumu," Vivian mengecup bibir Matthew.


"I love you, Babe," ucap Matthew seraya mengusap pipi Vivian.


"I love you too, Matth," jawab Vivian.


Sebelum Vivian turun dari mobil, Matthew mencium bibirnya dengan mesra dan setelah itu, dia melepaskan Vivian.


Vivian berjalan dengan cepat memasuki rumah sakit dan setelah melihatnya masuk, Matthew memerintahkan James untuk menjalankan mobilnya.


"Segera ke markas James, aku harap mereka sudah siap."


"Siap, Master," jawab James.


Mobil berjalan pergi menuju markas dan tentunya, Gary, Bruke dan Thomas akan merasakan siksaan yang tidak bisa mereka hindari bahkan mereka tidak akan pernah membayangkan jika mereka akan mengalaminya.