
Ketika sudah hampir tiba di depan pintu gerbang bangunan, Vivian semakin membawa motornya dengan kecepatan tinggi. Felicia melihat jam dipergelangan tangannya dan jika dalam lima detik lagi Vivian belum muncul maka dia akan meledakkan bom yang ada di tubuh Jager Maxton tanpa ragu.
Di luar sana, suara motor sudah terdengar. Vivian menerobos masuk ke dalam tempat itu dengan kecepatan tinggi, sedangkan Matthew melihatnya dari jauh.
James dan Damian juga sudah bersiap untuk menyelamatkan Maxton dan tentunya dia harus menghadapi anak bauh Gary yang sedang berjaga.
Vivian memutar motornya dan mengerem benda itu secara mendadak sampai membuat roda ban motor berdecit di atas aspal.
Felicia bangkit berdiri melihat kedatangan Vivian, dia tahu Vivian pasti datang dan dia tidak terkejut melihat Vivian datang sendiri karena dia tahu, Vivian bukan pengecut.
Vivian membuka helm yang dia pakai dan segera menarik dua pistolnya. Benda itu dia arahkan ke arah anak buah Gary yang sedang mengepungnya. Matanya tampak waspada mencari keberadaan Gary dari antara satu dari mereka.
"Aku tahu kau akan datang," ucap Felicia seraya berjalan mendekati Vivian.
"Apa maumu, Felicia? Tidak saja menghianati organisasi dan mempermalukan negara kita tapi kau juga melakukan hal kotor seperti ini. Sebenarnya apa maumu?" Vivian turun dari atas motor dan mengarahkan dua pistolnya ke arah Felicia.
"Sudah aku katakan, aku menginginkan kematianmu! Aku muak selalu berada di belakangmu!"
"Sungguh konyol dengan alasan yang tak masuk akal! Aku sudah mau mengundurkan diri dan jika kau tidak berhianat maka karirmu akan semakin cemerlang di agensi tapi sayangnya ... kau memalukan!"
"Diam! kau tidak tahu bagaimana rasanya selalu menjadi bayang-bayang orang lain!" teriak Felicia.
"Jika begitu ayo kita adu kekuatan, kita lihat apakah kau pantas menyaingi aku atau tidak!" ucap Vivian. Dia harus mengulur waktu sampai James dan kakaknya menyelamatkan ayahnya.
"Aku terima tantanganmu dan akan aku buktikan jika aku lebih hebat darimu!" jawab Felicia.
"Bagus! Setidaknya kau tidak seperti si pengecut Gary!"
Gary sangat marah mendengarnya! Jadi di mata Vivian dia adalah seorang pengecut? Sungguh dia tidak terima tapi dia harus diam untuk melihat situasi karena bisa saja Matthew tiba-tiba muncul dan memang saat itu, Matthew sedang mengawasi Vivian.
Vivian menyimpan dua pistolnya dan menarik dua pedang yang ada di punggungnya dan setelah itu dia melemparkan satu pedang ke bawah kaki Felicia.
"Aku tahu kau tidak akan melepaskan ayahku begitu saja jadi ayo kita bertarung sampai salah satu dari kita mati!" ucap Vivian dan matanya melihat ke atas di mana ayahnya masih tergantung.
Dia harap James dan kakaknya segera menyelamatkan ayahnya. Dia akan mengulur waktu selama mungkin dan dia harap mereka berhasil.
Felicia memungut pedang yang dilemparkan oleh Vivian dan menyeringai. Vivian pasti akan menyesali keputusannya ini karena dia akan menebas kepala Vivian.
Padang sudah terangkat dan mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan tajam. Mereka berdua berjalan memutar dan sudah siap berduel.
"Siap mati di tanganku, Angel," tanya Felicia.
"Sangat siap menendang wajah sialanmu itu!" jawab Vivian.
"Kaulah yang sialan!" teriak Felicia.
Mereka berteriak dan berlari mendekati lawan dan "Traanggg!" pedang mereka berdua sudah saling beradu.
"Wow!" ucap Albert melihat aksi calon menantunya, boleh juga.
"Kau harus mencari wanita yang lebih hebat dari dia, Boy," Albert berkata seperti itu kepada Michael.
"Aku lebih suka yang lemah lembut, Dad," jawab Michael.
Mata mereka kembali fokus ke layar komputer untuk melihat pertarungan Felicia dan Vivian, anggap saja mereka sedang bermain game.
Felicia melangkah mundur, begitu juga dengan Vivian. Mereka kembali mengambil kuda-kuda dan setelah itu mereka berteriak dan mengadukan pedang mereka kembali.
"Trang ... trang ... trang," bunyi benturan kedua pedang terdengar memecah keheningan malam. Felicia terus menyabetkan pedangnya begitu juga dengan Vivian.
Mereka terus menyerang dan menangkis setiap sabetan pedang dan terkadang mereka juga menendang lawan mereka.
Vivian menyabetkan pedangnya dengan sekuat tenaga ke arah Felicia tapi Felicia segera menangkisnya. Vivian terus mendorong tubuh Felicia hingga mundur ke belakang sedangkan Felicia tampak begitu kesal.
"Kau tidak akan bisa membunuhku dengan mudah!" ucap Felicia.
"Kita lihat saja nanti!" jawab Vivian dan tanpa Felicia duga, Vivian mengangkat kakinya dan segera menendang perut Felicia.
Felicia berteriak dan terhempas ke belakang dan pada saat itu, anak buah Gary sudah mengarahkan pistolnya ke arah Vivian karena sesuai dengan perintah, dia tidak boleh membiarkan Felicia kalah.
"Awas Kakak ipar, seseorang ingin menembakmu dari arah jam tiga," ucap Michael.
"Dor ... dor!" dua tembakan dilepaskan setelah Michael memberi tahu dan dua peluru yang dilepaskan melesat dengan cepat ke arah Vivian.
Perhatian Vivian teralihkan oleh suara tembakan dan itu adalah kesempatan bagi Felicia. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Felicia menyabetkan pedangnya ke arah Vivian.
"Crash!" pedang Felicia mengenai lengan Vivian sedangkan Vivian mengumpat kesal sambil bersalto ke belakang untuk menghindari peluru dan memegangi luka yang ada di lengannya.
"Sialan! Boleh aku keluar sekarang!" umpat Matthew kesal karena dia tidak suka jadi penonton.
"Tahan Kak, jika kau keluar maka semua rencana kita akan hancur," ucap Michael.
Vivian terhuyung ke belakang sambil memegangi lukanya dan untungnya tidak dalam, sedangkan Felicia tersenyum puas melihatnya.
"Sial!" umpat Matthew.
Darah Matthew sudah mendidih di otaknya dan rasanya dia ingin menerobos masuk tapi dia harus bersabar sampai James dan Damian menyelamatkan Maxton. Mereka tidak boleh gegabah karena mereka tidak tahu pemicu bom ada di tangan siapa. Walaupun Michael sudah mengawasi tapi Gary dan Felicia masuk ke dalam bangunan yang belum jadi saat mereka menyusun rencana mereka tadi.
"James, bagaimana dengan kalian? Apa kalian sudah menyelamatkan Maxton?" tanya Matthew.
"Sedikit lagi, Master. Kami baru saja melumpuhkan anak buah Gary," jawab James.
James dan Damian baru saja melumpuhkan anak buah Gary yang berjaga-jaga dan supaya tidak ketahuan, mereka menyerang secara diam-diam. Mereka menutup mulut anak buah Gary dan menusuk dada mereka menggunakan pisau dan tentunya mereka melakukan hal itu dengan sangat hati-hati.
"Cepatlah! Aku sudah tidak sabar mencincang si ja*ang itu!" perintah Matthew.
Damian dan James segera bergerak untuk menurunkan tubuh Maxton dari Tower crane, sedangkan Felicia mengangkat pedangnya kembali.
"Selanjutnya kepalamu, Angel dan aku tidak akan gagal!"
Vivian tersenyum dan berkata, "Cara yang curang, Felicia. Sungguh memalukan!"
"Diam! Ambil pedangmu dan kita kembali bertarung. Selanjutnya aku akan menebas kepalamu jika tidak, aku akan meledakkan ayahmu sekarang juga!" teriak Felicia.
Senyum Vivian semakin lebar, itu yang dia inginkan dan targetnya adalah tangan Felicia.
"Jaga lenganmu baik-baik, Felicia!" ucap Vivian seraya memungut pedangnya kembali.
Di tempat persembunyiannya Gary tampak heran, kenapa Matthew belum juga muncul? Padahal dia sudah siap menyerang Matthew ketika dia menampakkan diri dan ini sangat aneh jadi dia semakin curiga.
Gary tampak waspada dan melihat sekitarnya dan pada saat itu, Michael meminta James untuk berhenti.
"Stop, James!" ucap Michael.
James menghentikan mesin karena saat itu mereka sudah hendak menurunkan tubuh Maxton dari Tower crane. Tubuh Maxton sudah sedikit turun dan segera berhenti saat Gary mendongak ke atas untuk melihat tawanan mereka.
James tampak waspada dan entah kenapa jantungnya jadi berdegup. Untungnya tubuh Maxton berhenti di saat yang tepat karena jika sampai Gary melihat tawanannya diturunkan maka rencana mereka akan ketahuan.
Gary memalingkan wajahnya dan melihat pertarungan Vivian dan Felicia kembali dan pada saat itu, Michael memerintahkan James untuk segera menurunkan tubuh Maxton secepatnya.
Itu kesempatan yang tidak boleh dia sia-siakan jadi tubuh Maxton segera di turunkan dan tentunya dengan hati-hati jika tidak mungkin Maxton akan gagal jantung.
Felicia dan Vivian kembali menyabetkan pedang mereka dan Vivian harap James segera menurunkan tubuh ayahnya karena dia sudah ingin menyelesaikan pertarungan mereka.
Gesekan dan suara pedang yang saling beradu kembali terdengar, Felicia sudah mulai terpojok dan terus melangkah mundur karena Vivian terus menyerang dan tidak memberi Felicia celah. Sesuai dengan laporan James, tubuh ayahnya sudah hampir diturunkan jadi dia akan terus menyerang Felicia, sedangkan Matthew sudah siap menyergap dari persembunyiannya.
Felicia mulai kewalahan dan dia mendapat beberapa luka di bagian perut dan lengannya. Dia sudah sangat kesal tapi Vivian benar-benar tidak memberinya celah.
Vivian terus menyabetkan pedangnya dan melukai Felicia, sedangkan Felicia terus menangkis dan tidak lama kemudian ... "Crash!" pedang Vivian memotong lengan Felicia dan Felicia berteriak karena lengannya sudah berada di atas aspal.
Felicia menahan rasa sakit yang ada di lengannya dan mengumpat kesal. Karena merasa sudah tidak bisa menang, Felicia mengeluarkan pemicu bom dari saku celananya menggunakan tangannya yang lain.
"Matilah!" ucapnya.
"Tidak!" teriak Vivian dan dalam hitungan detik, Felicia menekan pemicu dan tidak lama kemudian ... "Duaaaaarrrr!" ledakan dahsyat dari bawah Tower crane terjadi dan mengguncang tempat itu.