
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat itu. Seperti biasa, suasana tenang sebelum badai akan terjadi dan semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing begitu juga dengan Vivian.
Dia sudah berada di kantor dan dia sedang memikirkan cara untuk menangkap si penghianat. Dia selalu memantau ponselnya karena dia ingin tahu, apa yang direncanakan oleh si penghianat dan Gary tapi sayangnya semenjak pesan terakhir yang si penghianat terima, tidak ada pesan lagi dikirimkan untuk si penghianat.
Sepertinya tugas si penghianat memang untuk memantau gerak geriknya saja dan melaporkannya pada Gary. Dia akan tetap waspada dan dia juga akan mengawasi si penghianat.
Entah apa yang sedang direncanakan oleh Gary hari ini dan dia rasa kali ini Gary tidak main-main karena ayahnya berada di tangan Gary. Dia harap Gary tidak melukai ayahnya dan dia juga berharap ayahnya dalam keadaan baik-baik saja saat ini.
Memang pada saat itu, Gary sedang menuju ke tempat dia menyekap Maxton. Tentu saja dia menggunakan wajah palsu agar tidak ketahuan. Dia harus tetap waspada agar rencana hari ini tidak boleh gagal.
Hari ini Jager akan Gary bawa pergi tapi setelah dia melihat situasi dan setelah Thomas melancarkan aksinya, dia juga akan melancarkan aksinya secara bersama-sama.
Thomas juga sedang menuju target pertamanya dan setelah mendapat target pertama dia akan menuju target kedua untuk menangkapnya. Disaat semua orang sibuk dengan aksi Thomas dan setelah Thomas membunuh Matthew, di saat itu pula dia akan memancing Vivian agar datang kepadanya untuk menyelamatkan ayahnya tapi tentu dia tidak akan membiarkan Jager hidup setelahnya.
Gary sudah memerintahkan anak buahnya untuk membantu Thomas dan dia akan mengawasi pergerakan mereka dari juah. Mereka akan melakukan aksi mereka dibeberapa tempat dan tentunya tidak saja Vivian dan para polisi yang akan sibuk, tapi Matthew juga akan sibuk begitu juga dengan adiknya. Tidak mungkin bukan Michael bisa mengawasi banyak tempat secara bersamaan?
Pada saat itu, Jager mengangkat kepalanya saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Matanya masih tertutup dan dia tidak tahu siapa yang sedang berjalan mendekatinya.
Gary berdiri di depan Jager dan ketika melihat wajah Jager Maxton, amarah menguasai hati Gary apalagi wajah ayahnya yang mati kembali teringat.
Dia masih ingat betul saat dia kembali dari Inggris dan mendapati tubuh ayahnya sudah terbujur kaku dalam peti mati. Dia bersumpah akan membalas kematian ayahnya dan hari ini adalah hari pembalasannya.
Rasanya sangat ingin membunuh Jager Maxton saat itu juga tapi dia berusaha menahannya. Bagaimanapun membunuh Maxton begitu saja tidaklah menarik dan dia akan membalas perbuatan maxton dengan cara menjadikan Vivian miliknya dan membunuh Maxton di depan Vivian.
Gary menarik penutup mata Jager Maxton dan ketika melihatnya, Jager sangat heran karena dia tidak mengenali Gary yang sedang menggunakan wajah palsu.
"Siapa kau dan di mana Gary Wriston?" tanya Jager Maxton.
Gary membakar sebuah cerutu dan menghisapnya sedangkan sebuah seringai menghiasi wajahnya, bagus jika si tua bangka itu tidak mengenalnya karena memang dia tidak mau Jager Maxton mengenalnya. Anak buahnya yang sedang menggunakan wajahnya akan membantu Thomas hari ini dan tidak akan ada yang tahu jika anak buahnya adalah Gary Wriston yang palsu.
"Sebaiknya jangan banyak bicara karena sebentar lagi kau akan mati!" jawab Gary.
"Bunuh aku sekarang! Gary menginginkan nyawaku bukan?"
"Hahahahahahaha!" Gary tertawa, membunuh Jager sekarang? Dia tidak akan membiarkan Jager mati dengan mudah.
"Dengar!" Gary mengangkat satu kakinya dan meletakkannya di dada Jager. Dia juga menekan dada Jager menggunakan kakinya sampai Jager kesakitan.
"Membunuhmu adalah perkara mudah tapi kau tidak akan mati dengan mudah karena Gary ingin membunuhmu di depan putrimu dan dia ingin putrimu merasakan bagaimana kehilangan seorang ayah. Setelah kau mati dia akan bermain dengan putrimu sampai dia puas!"
"Jangan ... jangan libatkan putriku! Aku yang membunuh Marck Wriston jadi aku yang harus membayar kematiannya!" pinta Jager.
Sungguh dia tidak mau putrinya terlibat karena kesalahan yang dia perbuat.
"Kau tahu Jager Maxton bagaimana perasaan seorang anak kehilangan ayahnya? Kau membunuh Marck Wriston tanpa tahu jika dia memiliki seorang putra dan kau tidak tahu bagaimana perasaan Gary ketika melihat ayahnya mati!" Gary mengepalkan tangannya, rasa ingin membunuh Maxton semakin tumbuh besar dalam hatinya.
"Kau tidak tahu apa-apa dan pertemukan aku dengan Gary. Aku ingin berbicara dengannya," pinta Jager.
"Tidak ada yang perlu kau bicarakan dengannya!" jawab Gary dengan dingin.
"Diam kau, diam!" teriak Gary sambil menendang dada Jager karena emosi.
Dia tahu kenapa Jager membunuh ayahnya tapi dia tetap tidak terima dan dia akan tetap menuntus balas kematian ayahnya.
"Apapun alasanmu tapi kau sudah membunuh Marck Wriston dan hari ini terimalah kematianmu! Putrimu akan menyaksikannya nanti agar dia merasakan apa yang dirasakan oleh Gary dan setelah itu dia tidak akan membiarkan arwahmu tenang karena putrimu akan bersama dengannya!"
"Katakan pada Gary jangan banyak bermimpi! Putriku tidak sebodoh itu mau bersama dengannya dan tentunya Matthew Smith tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"
"Hahahahahaha!" Gary kembali tertawa.
"Ketahuilah! Matthew akan mati di tangan seseorang dan sekarang dia sedang menangkap umpan untuk memancing Matthew!"
"Jangan terlalu sombong! Apa kalian pikir kalian bisa membunuhnya dengan mudah? Sebaiknya selagi ada kesempatan kau bunuh aku sekarang karena situasi akan berubah nanti! Putraku tidak akan tinggal diam begitu juga dengan putriku!" ucap Jager.
"Diam kau tua bangka sialan!" Gary memukul wajah Jager berkali-kali sampai darah segar mengalir dari bibirnya.
"Anak muda yang mudah marah dan kau sangat mirip dengan ayahmu, Gary Wriston!" ucap Jager karena dia tahu sekarang siapa yang berbicara dengannya saat ini.
"Ck, ternyata kau bisa tahu. Tidak diragukan memang karena kau pemimpin organisasi Black King tapi sebentar lagi kau akan mati di tanganku!" jawab Gary.
"Kau menyia-nyiakan kesempatan besar untuk membunuhku, Gary!"
"Aku tidak menyia-nyiakan apapun dan aku hanya membuat kau hidup lebih lama!" jawab Gary dengan penuh penuh percaya diri.
Gary segera melangkah mundur dan mengambil ponselnya, dia ingin menghubungi Thomas dan mengetahui dia sudah mendapatkan targetnya atau belum.
"Bagaimana, Thomas?"
"Target baru kembali dan sebentar lagi aku akan menemuinya," jawab Thomas.
"Bagus, jangan kecewakan aku!"
"Tentu tidak!" jawab Thomas lagi.
Pembicaraan mereka berakhir dan Thomas mengawasi targetnya dari mobilnya. Seorang wanita cantik yang baru kembali dari berlibur dan wanita itu adalah tergetnya dan tentunya tidak wanita itu saja targetnya.
Sekian lama dia menunggu wanita itu kembali dan sekarang waktunya menjadikan wanita itu sebagai umpan untuk memancing Matthew.
Setelah wanita itu masuk ke dalam, Thomas segera turun dari mobil dan tentunya dia memeriksa penampilannya terlebih dahulu. Jangan sampai ada yang mencurigainya karena dia tidak boleh gagal.
Begitu melihat wajah Thomas, penjaga gerbang langsung membuka pintu karena mereka telah mengenal wajah yang sedang dipakai oleh Thomas.
Thomas tersenyum, ini benar-benar mudah dan berkat wajah yang dia pakai rencananya berjalan dengan lancar.
Dia berjalan menuju pintu dan mengetuk pintu dengan perlahan, tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul wanita incarannya. Begitu melihatnya wanita itu tersenyum dan memanggilnya, "Matthew," Thomas tersenyum, ini benar-benar mudah.