
Disneyland & Disney's California Adventure adalah tujuan Vivian dan beberapa rekannya. Mereka berpencar menjadi dua team, team lain menuju perpustakaan untuk menemukan bom yang diletakkan di sana.
Taman bermain sudah disterilkan oleh para petugas yang sudah sampai terlebih dahulu dan para warga sipil di amankan bahkan mereka tidak boleh mendekati taman bermain dalam jarak sepuluh meter. Mengingat bom yang meledak beberapa hari lalu, mereka harus waspada karena bisa saja bom yang ada di sana adalah bom yang sama.
Para polisi mulai mendatangi lakosi dan membantu para agen untuk mengamankan tempat kejadian dan alat permainan yang ada ditempat bermain diberhentikan.
Garis polisi juga sudah dipasang agar tidak ada warga sipil yang nekat masuk untuk melihat apa yang terjadi di dalam taman bermain.
Begitu Vivian tiba, dia segera berlari masuk kedalam taman bermain bersama dengan Matthew. Waktu mereka tinggal setengah jam lagi dan mereka harus segera menemukan bom yang di simpan oleh pria berinisila M.
"Angel, warga sipil dilarang masuk!" seorang rekannya mencegat saat melihat Matthew.
"Dia temanku, tidak masalah! Dia akan membantu kita!" jawab Vivian.
"Kau yakin?" rekannya melihat Matthew dengan teliti.
"Percayalah, aku jamin!" Vivian menarik Matthew untuk mengikutinya sedangkan Matthew tersenyum.
Mereka segera bergabung dengan yang lain dimana peta taman hiburan sudah ada di atas meja. Dalam waktu kurang lebih setengah jam mereka harus segera menemukan bom yang ada ditaman hiburan.
Saat Vivian sedang membahas sesuatu dengan rekannya, diam-diam Matthew menghubungi adiknya karena dia membutuhkan bantuan adiknya yang bisa melihat seluruh taman bermain dari atas.
"Mich, seseorang menyimpan bom di tanam bermain Disneyland & Disney's Adventure dan memberikan sebuah teka teki," ucapnya saat Michael sudah menjawab panggilannya.
"Wow, apa teka tekinya kak?" Michael langsung duduk di depan komputer karena dia siap membantu kakaknya.
"Dua kembang api akan meledak diwaktu yang bersamaan dan Saat matahari sudah hendak tenggelam, dua bayang Malaikat mengepakkan sayapnya akan melindungi manusia yang ada disekitarnya! Ini teka tekinya. Aku ingin kau melihat seluruh taman bermain ini dari Satelite dan katakan padaku dimana bom itu disimpan, ingat waktu tidak banyak dan kami hanya punya waktu kurang lebih setengah jam saja!" perintahnya.
"Serahkan padaku kak, aku akan menemukan benda itu dengan cepat," jawab Michael dan dia mulai memainkan jari jemarinya di keyboard komputer.
"Bergegaslah." ucap Matthew.
"Yes!" jawab Michael dan dia mulai mencari lokasi taman bermain dari satelite yang dia retas.
Vivian segera menghampiri Matthew karena mereka akan berpencar mencari bom yang ada ditaman bermain.
"Ikut denganku," ajaknya.
"Apa kau sudah menemukan lokasinya?" tanya Matthew.
"Tidak, tapi ada hal yang ingin aku pastikan!"
Vivian segera pergi sedangkan Matthew mengikutinya dari belakang, dia memang meminta adiknya mencari lokasi bom itu tapi dia jadi ingin tahu kemampuan Vivian, apakah gadis itu bisa memecahkan teka teki yang ada dan menemukan dimana bom berada?
Sepertinya dia harus melihatnya dan jika memang Vivian tidak bisa dan waktu sudah hampir habis maka dia yang akan turun tangan.
"Apa yang ingin kau pastikan, babe?"
Vivian diam saja dan berlari kearah lapangan yang berada disamping sebuah kincir angin raksasa dan dua rel roller coaster yang menjulang tinggi, dia diam saja dan mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat matahari yang sudah berada di arah barat dan setelah itu dia melihat sekelilingnya.
"Aku paham sekarang mengenai teka teki itu," ucapnya.
"Oh ya?"
"Kak, aku sudah memecahkan teka tekinya dan menemukan lokasi bomnya," terdengar suara Michael dari alat komunikasi yang dia pakai.
Matthew diam saja, sungguh dia ingin melihat kemampuan Vivian, sedangkan Michael melihat kakaknya dari layar komputer.
"Kak, kenapa kau diam saja? Bom ada di komedi putar!"
"Mich, masih ada waktu. Aku ingin melihat kemampuannya, apakah dia bisa menemukan benda itu?"
"Kakak ingin mengujinya?"
"Yes, jika tidak bisa memecahkan- kasus ini bagaimana dia bisa mengbuka kotak cintaku!"
Michael terkekeh dan berkata, "Aku rasa dia tidak akan bisa membuka kotak yang kita buat!"
"Kita lihat saja dan Mich, kau sudah lihat bukan bom yang terpasang di pesta dan itu adalah bom yang kita buat tahun lalu. Kita menjual bom itu dengan beberapa orang dan selidiki siapa yang memesan bom itu dari mereka."
"Serahkan padaku kak!" jawab Michael.
Setelah berbicara dengan adiknya, Matthew menghampiri Vivian yang sedang melihat peta dan terkadang dia melihat alat permainan yang ada disekitarnya.
"Apa kau menemukan sesuatu babe?"
"Ya, dua bayangan yang dimaksud adalah dua bayangan rel roller coaster," Vivian menunjuk rel roller coaster yang ada disebelah kanan mereka.
Matthew menganggat satu alisnya, sepertinya dia tidak boleh meremehkan gadis ini.
"Manusia yang ada disekitarnya?" tangan Vivian menuju kearah jatuhnya bayangan roller coaster dimana komedy putar berada.
"Itu yang dimaksud dengan teka teki ini, anak-anak dan orang dewasa menaiki komedy putar dan mereka akan ada disekitarnya karena benda itu berputar dan bom itu ada di sana!"
"Wow!" ucap Matthew kagum.
Vivian segera berlari kearah komedy putar dan meminta rekannya datang kesana. Dia juga meminta rekannya membawa alat penjinak bom dan dia yakin benda berbahaya itu ada di sana.
Matthew mengikutinya dengan senyum di wajahnya, dia benar-benar kagum dan Vivian bener-benar banyak memberinya kejutan.
Para agen mulai berkumpul di komedy putar dan alat pelacak bom diaktifkan, mereka menyelusuri mainan itu dengan teliti dan pada saat alat sensor melewati kuda mainan, alat itu berbunyi.
Mereka segera memeriksa kuda mainan itu dan ternyata sudah di modifikasi dan di dalam badan kuda terdapat sebuah bom aktif yang siap meledak dalam waktu kurang lebih sepuluh menit.
"Sialan, siapa sih yang membuat mainan berbahaya ini?!" umpat Vivian kesal saat melihat bom yang tidak biasa.
Bom itu hampir mirip dengan bom yang meledak di pesta cuma bedanya, di bom itu hanya satu bola saja yang berputar di tengah lingkaran yang ada.
"Bagaimana Angel?" tanya rekannya.
"Akan aku atasi, bagaimana dengan team yang lain? Apa mereka sudah menemukan bom yang ada diperpustakaan?" tanyanya.
"Sebentar," rekannya segera menghubungi Patrik yang bertugas di sana.
Vivian mengambil sebuah obeng dan mulai membuka penutup bom dimana lagi-lagi, banyak terdapat kabel yang begitu rumit di sana.
"Oh my God!" Vivian benar-benar frustasi.
Selama dia berlatih menjinakkan bom, dia belum pernah melihat bom dengan bola berputar ditengahnya bahkan kakeknya juga tidak pernah mengajarinya menjinakkan benda itu. Apa produk Amerika dan Inggris berbeda?
"Perlu aku bantu babe?" Matthew mendekatinya dan melihat bom yang ada dilantai komedy putar dan lagi-lagi itu bom buatannya dan adiknya.
Siapa sebenarnya yang membeli benda itu? Mereka menjualnya dengan banyak orang dan pastinya benda itu sudah berpindah tangan.
"Fredd, aku bergantung padamu," ucap Vivian.
Mereka tidak punya banyak waktu karena waktu tersisa lima menit saja.
"Angel, Patrik ingin berbicara denganmu," salah satu agen mendekatinya dan memberikan sebuah earphone untuknya.
"Patrik, apa kau sudah menemukan bom nya?"
"Sudah, tidak sulit karena bom ada didekat patung Albert Einstein."
"Bagaimana model bom nya?"
"Sebuah bola berputar ditengahnya dan kami sedang berusaha mempelajarinya."
"Oh my God, ternyata bomnya sama!" gerutu Vivian dan dia mulai melihat kabel-kabel yang terdapat di bom.
"Babe, rileks!" Matthew menepuk bahunya dan berjongkok didekatnya.
"Fredd, tinggal dua menit!" ucap Vivian dan para agen lainnya tampak was-was dan jantung mereka berdetak dengan cepat.
"Ikuti aku dan katakan pada rekanmu apa yang harus dia lakukan!" perintah Matthew.
Vivian mengangguk, dia percaya dengan pria itu.
"Potong kabel hijau!"
"What?"
"Potong babe, jangan tertipu dengan warnanya!"
Vivian mengangguk dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Matthew, dia juga mengatakan pada Patrik apa yang harus dia lakukan.
"Kuning dan jangan sentuh yang merah!" ucap Matthew lagi dan Vivian mengikutinya.
Angka di bom sudah menunjukkan tiga puluh yang menandakan tiga puluh detik lagi benda itu akan meledak, dengan jantung yang berdetak dengan kencang dan sambil menahan nafasnya, Vivian menggunting kabel berwarna kuning dan sungguh dia merasa jantungnya akan melompat keluar dari dadanya.
Setelah beberapa detik kabel terpotong, angka berhenti begitu juga dengan bola yang berputar di tengah-tengah bom.
"Apa sudah?" tanyanya.
"Yes!" jawab Matthew.
Para agen bersorak karena bom sudah bisa dijinakkan dan tanpa Matthew duga, Vivian melompat kedalam pelukannya dan dia lupa dengan traumanya karena dia begitu senang.
"Fredd, kau memang bisa diandalkan!"
"Wow!" Matthew menangkap tubuh Vivian dan sedikit kaget, apa dia tidak sedang bermimpi?
"Te..terima kasih!" Vivian tersadar dan mendorong tubuhnya.
Matthew tersenyum sedangkan Vivian bangkit berdiri dan melangkah pergi dengan wajah memerah.
Seorang agen menghampiri Matthew dan menepuk bahunya.
"Bung, kau sangat hebat. Bagaimana jika bergabung dengan organisasi kami?" tawarnya.
"Tidak, aku tidak tertarik!" tolak Matthew dan dia berjalan mendekati Vivian yang sedang berbicara dengan Patrik.
"Babe, jangan lupa janjimu dan bawa benda itu pulang. Aku akan mengajarimu!"
"Tentu, aku akan menepati janjiku!" jawab Vivian dengan senyum di wajahnya dan dia kembali mendekati bom yang sudah dijinakkan untuk melihat benda itu.
Matthew kembali tersenyum, awas saja jika gadis itu ingkar janji.
"Kak, dia luar biasa!" ucap Michael yang melihat kejadian itu sedari tadi.
"Tentu saja, aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang yang salah!"
"Boleh aku menggodanya kak?" tanya Michael bercanda.
"No, awas kau!" ancam Matthew sedangkan adiknya tertawa.