Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Surat ancaman.


Vivian duduk di samping kakeknya yang masih terbaring di atas ranjang. Entah kenapa kakeknya belum juga sadarkan diri dan hal itu benar-benar membuat Vivian takut, takut kakeknya tidak mau bangun lagi.


Sebelum Vivian berangkat ke kantor, dia menjenguk keadaan keluarganya terlebih dahulu dan untungnya ibu dan ayahnya baik-baik saja tapi kakeknya?


Dia harap kakeknya baik-baik saja jika tidak dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena semua yang terjadi adalah kesalahannya. Tidak seharusnya Gary mengincar keluarganya dan jika dia sudah menangkap Gary, dia akan menanyakan hal ini padanya. Apa kesalahan yang diperbuat oleh keluarganya sehingga Gary mencelakai mereka?


"Vivi, apa kau tidak mau pergi bekerja?" Mariam mendekati adiknya dan menyentuh bahunya.


"Tentu mau kak, aku ada rapat penting hari ini."


"Apa kau baik-baik saja? Aku melihat aksimu semalam dari televisi dan sepertinya kau terluka."


"Tidak apa-apa, hanya luka ringan jadi Kak Mariam tidak perlu menghawatirkan aku," jawab Vivian sambil tersenyum.


"Pekerjaanmu penuh dengan bahaya, Vivi. Kenapa kau tidak berhenti saja?"


"Ini misi terakhirku, Kak. Setelah ini aku akan mengundurkan diri dan menikah dengan Matthew," Vivian menyentuh tangan kakaknya yang berada di atas bahunya.


"Aku senang medengarnya dan aku harap misimu cepat selesai," ucap Mariam.


"Terima kasih, Kak," Vivian bangkit berdiri dan menghampiri ibunya yang sedang melihat berita di mana Wali Kota sedang mengadakan konferensi pers untuk membersihkan nama Matthew. Clarina juga terlihat bersama dengan ayahnya karena dia juga bersaksi untuk membersihkan nama sahabat baiknya.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Mom?" Vivian duduk di samping ibunya.


"Mommy baik-baik saja, Sayang. Mommy bangga padamu karena telah menyelamatkan banyak orang. Jika kakekmu melihatnya, dia juga pasti sangat bangga."


"Terima kasih, Mom. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa."


"Ngomong-ngomong Sayang, bagaimana dengan keadaan ayahmu? Apa kau sudah menemukannya?"


Vivian menggeleng dan tampak sedih, sedangkan ibunya terlihat khawatir. Pasti putrinya sangat menghawatirkan keadaan ayahnya saat ini dan dia harap putrinya bisa segera menemukan ayahnya.


Marta mengusap punggung putrinya sambil tersenyum, "Semoga ayahmu baik-baik saja, Tuhan pasti akan menjaga orang baik," hibur ibunya.


"Aku tahu, Mom. Carlk menginginkan aku jadi aku yakin dia tidak akan membunuh ayahku," jawab Vivian.


Dia tahu Carlk ingin melakukan pertukaran dengannya dan tidak mungkin membunuh ayahnya begitu saja tapi bagaimana jika Jager Maxton berada di tangan orang lain?


"Dia menginginkanmu?" Marta tampak semakin khawatir.


"Yes, Mom. Dia bilang menginginkan aku dan dia ingin melakukan pertukaran."


"Oh my God, kenapa dia begitu jahat, Sayang?"


"Entahlah, Mom. Tapi Mommy tidak perlu khawatir karena dia tidak akan mendapatkan apa yang dia mau," ucap Vivian.


"Mommy harap begitu, Sayang. Mommy juga harap kau bisa menemukan keberadaan ayahmu secepatnya."


"Thanks, Mom," Vivian memeluk ibunya sejenak.


Dia masih berada di rumah sakit beberapa saat, setelah berbicara dengan ibunya, Vivian juga melihat keadaan ayahnya yang sudah baik-baik saja. Paman dan bibinya sudah tidak menunjukkan kebencian mereka seperti sebelumnya. Walaupun mereka tidak banyak bicara tapi mereka sudah bersikap sedikit baik pada Vivian.


Setelah melihat keadaan keluarganya, Vivian segera pergi ke kantor karena dia sudah harus menghadiri rapat. Dia harap kapten Willys menutup kasus ini apalagi Mosha sudah mau dieksekusi.


Dia dan Matthew tidak mau para penegak hukum terlibat untuk menangkap Gary karena penjara terlalu baik untuk Gary.


Ketika dia tiba, seseorang melihatnya dari jauh. Tugas orang itu mengantarkan sebuah surat untuknya dan tentunya dia harus menunggu timing yang tepat untuk memberikan surat itu.


Vivian masuk ke dalam kantor dan pada saat itu Charlie menghampirinya karena ada hal penting yang ingin dia bahas. Charlie langsung menarik tangan Vivian dan membawanya ke tempat sepi.


"Ada apa, Charlie?" Vivian tampak heran melihat rekannya.


"Ini mengenai Felicia," jawab Charlie sambil melihat keadaan.


"Kenapa?"


"Charlie, dengarkan aku," Vivian memegangi tangan rekannya.


"Dia adalah aib dan dia telah mempermalukan nama agensi kita. Jangan sampai pemerintahan Amerika tahu jika salah satu agen yang dikirim dari Inggris adalah seorang penghianat yang selalu membantu buronan sehingga misi para penegak hukum di sini gagal."


"Tapi, Angel?"


"Percayalah padaku, Charlie. Aku akan mencari keberadaan Felicia dan aku berani bertaruh jika dia tidak akan berani kembali ke agensi karena penghianatan yang dia lakukan telah kita ketahui. Aku akan membuat perhitungan dengannya dan membersihkan nama agensi jadi aku harap kau mau bekerja sama denganku," pinta Vivian.


Charlie diam saja, sedangkan Vivian semakin menggenggam tangan rekannya dengan erat.


"Trust me, Charlie," pinta Vivian.


"Baiklah, aku akan bekerja sama denganmu," Charlie menyetujui permintaan Vivian.


"Thanks," Vivian memeluk Charlie sejenak.


"Hm," Patrik berdehem ketika tanpa sengaja melihat mereka.


"Hey, 3 in 1. Jangan bermesraan di sini! Apa kau tidak puas dengan kedua pacarmu dan sekarang mengincar rekanmu?"


"Hahahahaha!" Vivian tertawa dan melepaskan pelukannya.


"Patrik, apa kau mau bergabung dengan mereka?" goda Vivian.


"Tidak berminat!" jawab Patrik sambil mendengus.


"Ayolah, Charlie belum punya pacar dan aku rasa kalian cocok," Vivian mendorong tubuh Charlie sampai membuat Charlie terjungkal ke depan dan masuk ke dalam pelukan Patrik.


"Hey!" protes mereka berdua sedangkan Vivian tertawa.


Patrik memandangi wajah Charlie, boleh juga tapi Charlie melotot galak ke arah Patrik.


"Lepaskan!" bentak Charlie sambil menorong tubuh Patrik.


"CK, jangan katakan kau juga tidak normal?" ucap Patrik.


"Memang tidak!" jawab Charlie asal dan dia segera menarik tangan Vivian.


"Astaga, jangan katakan para wanita yang dikirim dari Inggris ini tidak normal!" gerutu Patrik frustasi.


Vivian tertawa dan merangkul bahu Charlie, biarkan Patrik semakin salah paham karena ini menyenangkan. Mereka segera menuju ruang rapat di mana Kapten Willys akan membahas permasalahan yang mereka hadapi semalam dan sesuai dengan permintaan Vvian, Charlie juga memberi keterangan jika Felicia sudah gugur saat menjalankan misi.


Memang puing akibat ledakan yang terjadi di gedung San Francisco City Hall belum selesai dievakuasi dan tahap pencarian korban masih dikerjakan jadi Kapten Willys mempercayai keterangan kedua agennya apalagi mereka sedang bertugas bersama saat itu.


Para agen tampak berduka karena mereka kehilangan salah satu rekan mereka tapi sebenarnya saat itu, Felicia sedang menjalankan rencananya sendiri tanpa sepengetahuan Gary.


Dia sudah mengutus seseorang untuk memberikan sebuah surat untuk Vivian dan tentunya dia memberikan uang yang banyak untuk orang itu. Dia bahkan mengelabui anak buah Gary yang sedang berjaga-jaga dan dia akan melakukan semuanya sediri tanpa bantuan Gary.


Gary sedang pergi saat itu jadi Felicia bisa melancarkan aksinya dengan lancar. Malam ini dia akan mengakhiri semuanya dan Vivian pasti akan datang.


Rapat sudah selesai ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dan orang yang mengantarkan surat dari Felicia mendekati kantor Vivian karena sudah saatnya dia memberikan surat itu.


Dia memberikannya pada penjaga yang ada di kantor Vivian dan tidak lama kemudian, surat sudah tersimpan di atas meja Vivian.


Ketika Vivian kembali, dia tampak mengernyitkan dahi dan melihat surat yang ada di atas mejanya. Dia bahkan melihat amplop surat itu berkali-kali karena tidak ada nama pengirimnya. Karena penasaran, Vivian membuka surat itu dan membaca isinya.


..."Malam ini temui aku, jika tidak si tua bangka itu mati! Ingat datang sendiri karena jika aku melihatmu bersama dengan seseorang maka aku tidak akan ragu untuk membunuhnya! Aku tidak seperti si pengecut itu karena aku tidak main-main dengan perkataanku jadi datanglah sendiri jika kau masih mau si tua bangka itu hidup. Tunggu kabar dariku lagi dan sebaiknya persiapkan peti matimu karena aku pasti membunuhmu hari ini!"...


Vivian bangkit berdiri setelah membaca surat itu, pasti Felicia yang mengirimkan surat itu dan si tua bangka yang dia maksud apakah ayahnya? Tapi kenapa ayahnya bisa berada di tangan Felicia? Apa yang terjadi?


Apapun itu dia tahu jika Felicia tidak main-main dengan perkataannya dan akan membunuh ayahnya. Sebaiknya dia menunggu kabar lagi dari Felicia dan setelah itu dia akan pergi menyelamatkan ayahnya. Jangan sampai Felicia membunuh ayahnya dan dia perlu rencana yang bagus untuk menghadapi Felicia nanti.