Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Hanya kau yang pantas.


Matthew terbangun lebih awal karena dia ingin tahu keadaan Vivian. Dengan perlahan, Matthew menyentuh dahi Vivian yang sudah tidak sepanas semalam.


Selama perjalanan pulang dari bandara, tubuh Vivian menggigil bahkan dia tampak bersandar pada kursi dan memejamkan matanya.


Dia benar-benar lelah bahkan dia tidak punya tenaga dan terlihat lemas. Karena keadaannya tampak menghawatirkan, Matthew memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Vivian dan beruntungnya Vivian hanya demam saja. Itu karena Vivian kehujanan dan dia kelelahan.


Vivian bahkan langsung tidur dengan nyenyak setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter pribadi Matthew, dia melakukan hal itu agar keadaannya segera pulih dan dia sudah tidak sabar hari esok segera datang karena dia sudah sangat ingin bertemu dengan keluarganya.


Hari melelahkan dalam ketakutan sudah dia lalui dan hari ini dia akan berangkat ke New York untuk menjemput keluarganya.


Setidaknya cuaca hari ini lebih baik walaupun langit tampak mendung tapi keadaan masih bersahabat untuk bepergian. Sebelum mereka pulang semalam, Vivian sudah meminta kakeknya untuk menunggu di New York dan mengatakan jika dia akan pergi ke sana untuk menjemput mereka.


Walaupun kakeknya menolak tapi Vivian bersikeras dan meminta kakeknya untuk menunggu kedatangannya.


Vivian terbangun saat merasakan sentuhan tangan Matthew di dahinya, sedangkan Matthew tersenyum melihat Vivian membuka matanya dan memandanginya.


"Bagaimana dengan keadaanmu babe?"


"Sudah lebih baik," jawab Vivian.


"Jika keadaanmu tidak memungkinkan, sebaiknya hari ini beristirahat saja. Aku bisa pergi sendiri menjemput keluargamu di New York."


"Aku sudah tidak apa-apa Matth, lagi pula cukup beristirahat sebentar lagi maka keadaanku pasti sudah baik-baik saja."


"Baiklah, masih pagi sebaiknya kau tidur lagi. Aku akan meminta pelayan membuatkan sup untukmu," ucap Matthew seraya mencium pipinya.


Vivian mengangguk sambil tersenyum, ngomong-ngomong soal sup dia jadi ingat dengan sup yang diberikan oleh Damian.


Walaupun belum terbukti dia putri Jager atau bukan tapi Jager memperlakukannya dengan penuh kasih sayang dan dia rasa sebentar lagi kebenarannya akan terungkap karena keluarganya sudah datang.


Entah bagaimana nanti dia menerima kenyataannya tapi dia sudah menyiapkan hati untuk hal ini. Walaupun sebenarnya dia takut, dia tahu Jager Maxton adalah orang yang paling sedih atas kejadian semua ini dan dia harap, Jager tidak menipunya.


Karena masih pagi, Matthew dan Vivian tidur lagi sedangkan ditempat lain, Jager sangat senang karena Damian mengatakan padanya bahwa Vivian memanggilnya kakak.


Bisa dia simpulkan jika Vivian mulai menerima mereka walaupun Vivian belum memanggilnya daddy dan dia sudah tidak sabar menantikan moments itu tiba.


Sepertinya hari ini dia harus mengajak Vivian makan siang bersama, semakin sering mereka bertemu maka Vivian akan semakin terbiasa dengan mereka dan bisa menerima mereka.


Dia juga akan meminta pelayan pribadinya membuatkan makanan untuk Vivian bawa pulang nanti, apapun akan dia lakukan agar dia bisa semakin dekat dengan putrinya.


"Hubungi adikmu Damian dan ajak dia makan siang bersama dengan kita nanti," perintah Jager.


"Ini masih pagi dad, aku rasa dia masih tidur apalagi ini akhir pekan," jawab Damian.


"Oh kau benar tapi aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi, siapa tahu hari ini dia mau memanggilku daddy dan baru kali ini aku iri padamu, seharusnya aku yang pergi mengantarkan sup itu untuknya."


Damian terkekeh, dia juga tidak menyangka jika Vivian akan memanggilnya kakak dan itu adalah hal paling membahagiakan yang dia rasakan karena Vivian mau menganggapnya kakak walaupun hasil tes DNA belum ada dan dia hanya anak angkat dari Jager Maxton.


"Dad, aku rasa aku tidak bisa menggantikan posisi daddy," ucap Damian.


"Kenapa? Apa kau mau kembali ke Jepang?"


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya anak adopsi mu dan sekarang, daddy sudah bertemu dengan putri kandung daddy dan dia yang paling berhak menjadi pemimpin organisasi Black King menggantikan mu dad."


Jager tersenyum, walaupun dia sudah bertemu dengan putrinya tapi yang pantas menggantikan posisinya hanya Damian.


"Tidak Damian, kau putra sulung ku dan kau yang berhak menjadi pengganti ku. Jangan selalu berkata jika kau hanya anak adopsi ku sehingga hubungan kita memiliki jarak. Kau yang pertama memanggilku daddy dan kau yang mendapat kasih sayangku pertama kali jadi aku tidak pernah menganggap kau hanya anak adopsi. Hanya kau yang pantas menggantikan aku dan aku akan memberikan semua yang aku punya padamu. Aku hanya ingin kau menjaga adikmu baik-baik dan aku rasa dia juga tidak mau menjadi pemimpin organisasi apalagi dia menjalin hubungan dengan Matthew Smith. Percayalah, kita bukan apa-apa dibandingkan dengan kekuasaan pria itu."


"Aku berjanji padamu dad, aku akan menjaga adikku baik-baik. Seperti daddy menyayangiku, begitu juga aku akan menyayanginya dan jika suatu hari dia ingin menjadi pemimpin maka aku akan memberikannya."


Jager kembali tersenyum, dia benar-benar bangga memiliki Damian tapi dia tidak tahu, Damian lebih bangga dan bersyukur memiliki ayah seperti dirinya.


Saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, Jager segera menghubungi Vivian karena dia ingin mengajak Vivian makan siang dan pada saat itu, Vivian sedang di dalam perjalanan menuju bandara pribadi milik keluarga Smith.


Jangan katakan mereka akan naik helikopter menuju New York, walaupun bisa sampai tapi mereka ingin menjemput keluarganya bukan untuk jalan-jalan.


Begitu suara ponselnya berbunyi, Vivian segera mengambilnya dan ketika melihat nama Maxton tertera di sana, Vivian segera menjawab tanpa membuang waktu.


"Selamat pagi tuan Max, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Vivian basa basi.


"Tidak, aku ingin mengajakmu makan siang, itu jika kau tidak keberatan," jawab Jager.


"Maaf tuan Max, hari ini aku tidak bisa kerena aku mau pergi ke New York untuk menjemput keluargaku yang tertahan di sana."


"Keluargamu sudah berada di New York?"


"Benar dan aku rasa besok kalian bisa bertemu," jawab Vivian.


"Oh aku sudah tidak sabar. Berhati-hatilah nak, cuaca sedang tidak baik," pesan Jager.


"Pasti tuan Max, aku akan mengabari mu lagi nanti."


Jager benar-benar senang, jadi orang yang mengasuh putrinya sudah datang? Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka karena dia ingin tahu, bagaimana putrinya bisa diasuh oleh mereka dan bagaimana mereka menemukan putrinya?!


Setelah berbicara dengan Jager, Vivian menyimpan ponselnya dan matanya tertuju pada sebuah rumah megah yang ada di depannya.


"Matth, kau ingin membawaku ke New York atau kau ingin mengajakku bertamu ke rumah orang lain?" tanya Vivian.


Matthew terkekeh dan mengusap kepalanya, "Tentu untuk membawamu ke New York dan menjemput keluargamu babe."


"Tapi kenapa kita tidak ke bandara dan ini rumah siapa?"


"Ini rumah pribadi keluargaku babe dan ini bandara pribadi kami."


"What?" Vivian sangat kaget mendengarnya.


"Are you kidding me?" tanya Vivian tidak percaya.


"No," jawab Matthew sambil terkekeh.


Pada saat mobil yang di bawa Matthew memasuki pekarangan rumah, mata Vivian melotot tidak percaya melihat deretan pesawat pribadi dan beberapa helikopter yang terparkir ditempat itu. Tidak hanya itu saja, beberapa mobil Tank juga ada dan sekarang dia tahu, jika Matthew tidak bercanda saat mengatakan jika dia bisa mengemudikan benda itu.


Mulut Vivian menganga bahkan matanya tidak lepas dari tempat itu dan dia tidak sadar jika mobil sudah berhenti dan Matthew sudah membukakan pintu untuknya.


"Babe, hei!" Matthew memanggilnya karena dia diam saja.


"Oh my God, apa aku bermimpi? Ini semua milikmu?"


"Tidak, ini semua milik keluargaku dan siapa saja boleh memakainya. Keluargaku banyak dan kami suka bepergian, tempat ini sudah ada sejak dulu dan aku akan mengenalkan mereka padamu nanti," jawab Matthew seraya mengulurkan tangannya pada Vivian.


"Oke Mr Smith, aku takut bertemu dengan semua keluargamu nanti tapi sepertinya aku tidak akan bangkrut jika bersama denganmu," ucap Vivian sambil menerima uluran tangan Matthew.


Matthew kembali terkekeh dan berkata, "Aku jamin kau tidak akan bangkrut babe, katakan apa yang kau inginkan, aku pasti akan memberikannya untukmu."


"Terima kasih tapi aku hanya ingin dirimu saja, itu sudah cukup untukku. Pria sepertimu bisa menyukaiku dan ini adalah keajaiban bagiku, thanks Matth padahal masih banyak wanita diluar sana yang pantas untukmu, " jawab Vivian sambil tersenyum.


"Stts, sejak dulu keluargaku tidak pernah memandang rendah orang lain dan siapapun yang kami pilih untuk jadi pasangan hidup maka akan kami cintai sampai mati, aku sudah pernah mengatakannya padamu bukan dan hanya kau yang pantas menjadi pendamping hidupku"


"Thanks, aku adalah wanita paling beruntung," ucap Vivian seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Matthew.


"Aku juga beruntung mendapatkan mu babe."


Vivian tersenyum, dia yakin pasti banyak yang ingin menjadi pasangan Matthew dan dia adalah wanita paling beruntung. Bukan karena harta berlimpah yang Matthew punya tapi kasih sayang dan cinta yang Matthew berikan tiada habisnya.


Mereka berdua berjalan mendekati sebuah pesawat yang sudah siap terbang yang akan membawa mereka ke New York untuk menjemput David Adison dan kedua orangtua Vivian.