Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Menghubungi Maxton 2


Pagi itu, seorang pria bangun dari tidurnya setelah bermimpi bertemu dengan kekasih yang telah lama dia tinggalkan. Siapa lagi jika bukan Carlk atau yang dipanggil Maxton.


Entah sudah berapa lama dia tidak memimpikan gadis itu tapi pagi ini, tidak saja bermimpi bertemu dengannya tapi dia juga memimpikan kebersamaan mereka dulu.


Carlk mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa dia memimpikan gadis itu? Apakah masih ada cinta di dalam hatinya untuk Vivian?


Walaupun ada, akan dia singkirkan. Apapun yang terjadi dia akan tetap membalas dendam atas kematian ayahnya dan menghancurkan mereka.


Dia akan menyingkirkan Vivian tapi tidak menggunakan tangannya, karena seseorang akan menjadi perantaranya. Dia akan membawa Vivian mendekati orang itu dan supaya Vivian mencurigainya dan pada saat mereka saling bunuh maka dia akan tertawa dengan wajah puas dan ayahnya pasti akan bangga dengannya karena telah membalaskan kematiannya.


Carlk duduk di sisi ranjang dan pada saat itu, seorang wanita tanpa busana terbangun dari tidurnya dan segera menghampiri Carlk.


"Tuan Maxton, apa yang kau pikirkan?" tanya wanita itu seraya memeluk Carlk dari belakang.


"Pergi!" usir Carlk.


"Apa? Apa pelayananku kurang memuaskan tuan Maxton?"


"Jangan sampai aku mengulangi ucapanku Ella jadi sebaiknya segera pergi karena suasana hatiku sedang tidak baik!"


"Ck, baiklah!" desis Ella.


Wanita itu turun dari atas ranjang dan memunguti pakaiannya, jika saja dia tidak butuh pria itu untuk membunuh Matthew Smith yang telah menolaknya maka dia tidak akan melakukan hal seperti itu.


Lagi pula, Maxton telah menemui ayahnya dan mengajaknya bekerja sama. Mereka sama-sama mengambil keuntungan satu sama lain apalagi musuh mereka sama yaitu Matthew Smith.


Dengan bergabungnya mereka, mereka yakin bisa membunuh Matthew Smith yang selalu menghalangi langkah mereka.


Setelah Ella keluar, Carlk kembali mengusap wajahnya. Dia diam saja beberapa saat di sisi ranjang dan setelah itu Carlk berjalan menuju kamar mandi.


Entah kenapa dia jadi ingin melihat wajah Vivian, mungkin dia harus memancing gadis itu keluar agar dia dapat melihatnya tapi jangan sampai Vivian tahu keberadaannya.


Dia akan menyusun rencana untuk hal ini, rencananya harus matang karena untuk melihat Vivian dia harus langsung turun di tempat kejadian.


Dia juga harus mencari tempat yang ramai agar tidak ada yang melihat dan menyadari keberadaannya. Sepertinya untuk melancarkan rencananya dia perlu seorang korban dan tentu saja, dia juga akan meletakkan bom supaya Vivian sibuk dengan benda berbahaya itu.


Setelah dia mandi dan sedang mengambil pakaiannya, seorang pelayan mengetuk pintu kamar dan mengatakan jika ada yang mencarinya dan ingin berbicara dengannya.


"Tuan, ada yang ingin berbicara denganmu," ucap pelayan pribadinya.


"Siapa?" tanya Calrk.


"Tidak tahu tuan."


"Baiklah, gantikan aku untuk sebentar. Setelah selesai aku akan keluar!"


"Baik tuan!" ucap pelayan pribadinya.


Carlk memakai bajunya dengan cepat dan setelah selesai, dia segera keluar dari kamar untuk mencari tahu, siapa yang mencarinya.


Kembali ke Vivian, saat mendengar suara seorang pria yang menjawab ponselnya, entah kenapa jantungnya berdebar.


Pria itu bertanya pada Vivian tapi Vivian diam saja dan pada saat pria itu kembali bertanya, Vivian langsung menjawabnya. Jangan sampai orang yang bernama Maxton marah dan tidak mau bertemu dengannya.


"Maaf tuan Maxton, apa saya bisa berbicara dengan anda?" tanya Vivian dengan sopan.


"Siapa ini?" tanya pria itu lagi.


"Saya Agen Amerika, bisakah tuan Maxton meluangkan waktu untuk bertemu denganku?"


Pria itu diam saja dan tidak menjawab, Vivian sangat heran karena beberapa detik telah berlalu, tidak ada jawaban dari seberang sana.


"Tuan Maxton?"


"Untuk apa seorang agen mencariku?!" terdengar suara seorang pria lainnya dan nada bicaranya terdengar tidak senang.


Jantung Vivian kembali berdebar, entah mengapa saat mendengar suara pria itu mengalir sebuah perasaan aneh di dalam hatinya dan dia tidak tahu itu apa.


"Maaf tuan, ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan padamu, jadi bisakah meluangkan waktu untuk bertemu denganku?" pinta Vivian sesopan mungkin.


"Untuk apa? Apa kau mencurigaiku?" tanya Maxton dengan nada tidak senang.


"Tidak tuan, aku hanya ingin memberikan beberapa pertanyaan saja pada anda, jadi maukah tuan Maxton meluangkan waktu untuk bertemu denganku?"


"Aku tidak punya waktu!" jawab pria itu dengan sinis.


"Mohon kerja samanya tuan, hanya sebentar saja, aku berjanji." ucap Vivian lagi.


"Sudah aku katakan aku tidak punya waktu dan jangan pernah mencurigaiku jika kau tidak ingin mati! Aku tidak takut sekalipun kau seorang agen dan asal kau tahu aku benci dengan kalian!" teriak orang itu marah seraya mematikan ponselnya.


"Tuan Max?" Vivian mencoba memanggil tapi sayang, sambungan ponselnya sudah terputus. Vivian memandangi ponselnya dan mengghela nafasnya dengan berat.


Ternyata tidak semudah yang dia bayangkan, mungkin dia harus mencari cara lain untuk menemui pria itu.


Dengan sikapnya yang pemarah, entah mengapa membuat Vivian semakin mencurigai Maxton. Biasanya orang seperti itu memang terlibat dengan sesuatu dan berusaha menyembunyikannya. Sebaiknya dia menyelidiki pria ini baik-baik.


Memang tidak semua orang senang diintrogasi seperti seorang tersangka dan dia sudah biasa menghadapi orang seperti Maxton tapi dia tidak akan menyerah dan akan menemui orang itu apapun caranya karena dia harus mencari orang itu demi penyelidikannya


Vivian menghela nafasnya dan keluar dari kamar. Percobaan pertama gagal dan dia akan mencari cara lain, mencari tahu di mana rumah pria itu dan mendatanginya mungkin tidak buruk.


Jika dia mencarinya di sana mungkin saja Maxton mau menemuinya dan berbicara dengannya, baiklah ini ide bagus jadi dia akan mulai mencari. Semoga saja setelah dia mendatangi pria itu nanti, dia berubah pikiran dan mau menemuinya.


Sementara itu, Maxton mengumpat marah. Beraninya seorang agen ingin mengintrogasinya? Jika sampai agen itu berani menghubunginya lagi maka tidak akan dia biarkan.


Dia tidak perduli, mau agen dari Amerika atau dari manapun, dia benci dengan mereka semua.


"Jika agen itu menghubungi lagi, abaikan saja dan jika dia terus memaksa maka cari tahu siapa dia? Aku tidak akan segan membunuhnya saat aku tahu jati dirinya!" perintah Maxton pada pelayan pribadinya.


"Baik tuan!" jawab pelayan pribadinya.


Maxton menyeruput kopi yang sudah dihidangkan untuknya, entah mengapa suara agen itu mengingatkannya dengan seseorang yang ada di masa lalunya.


"Tuan Max, ini data-data orang yang anda inginkan," ucap pelayan pribadinya seraya meletakkan sebuah daftar nama di depan Maxton.


Maxton hanya mengangguk dan melihat daftar nama yang diberikan oleh pelayannya, dia sedang mencari seseorang dari daftar nama tersebut dan dia harap dapat menemukannya karena dia butuh informasi dari orang yang sedang dia cari.