Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Dinner


Jager tampak gelisah di rumahnya karena dia pikir Vivian tidak jadi datang malam ini. Makanan sudah terhidang dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi Vivian dan Matthew belum juga tiba.


Jager bahkan mondar mandir sambil melirik jam di dinding, dia benar-benar khawatir dan takut Vivian tidak jadi datang.


Pada saat itu, pelayan pribadinya menghampiri karena di luar sana, Matthew dan Vivian sudah tiba.


"Tuan, mereka sudah tiba," ucap palayan pribadinya.


Wajah Jager langsung berseri dan dia segera berjalan menuju pintu keluar, dia benar-benar sudah tidak sabar melihat Vivian.


Di dalam hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan dan Jager berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan mereka.


Di luar sana, Matthew keluar dari mobilnya dan segera membukakan pintu mobil untuk Vivian. Matthew mengulurkan tangannya dan Vivian menyambut uluran tangan Matthew sambil tersenyum.


"Thanks," ucap Vivian dengan pelan.


Jager tersenyum melihat mereka, sepertinya mereka memiliki hubungan yang spesial. Jika Vivian benar-benar putrinya ini akan menjadi hal yang sangat bagus dan dia sudah tidak sabar untuk tahu kebenarannya.


"Maaf tuan Max, kami terlambat," ucap Matthew.


"Jangan dipikirkan tuan Smith, aku senang kalian sudah datang," jawab Jager sambil melihat ke arah Vivian.


Vivian tersenyum dan memeluk lengan Matthew dengan erat, jujur saja dia tidak suka Jager selalu memadanginya.


"Mari masuk," ajak Jager seraya masuk ke dalam.


Vivian dan Matthew segera mengikuti langkah Jager dan masuk ke dalam rumahnya. Begitu sudah berada di dalam, mata Vivian tertuju pada foto istri Maxton dan sebuah perasaan aneh mengalir dalam hatinya.


Entah kenapa dia jadi ingin tahu penyebab kematian istri Jager Maxton, tapi sebaiknya dia tidak penasaran karena rasa penasaran bisa membunuhnya.


"Silahkan tuan Smith, Angel, duduklah terlebih dahulu sambil menunggu Damian dan maaf jika telah membuat kalian tidak nyaman," ucap Jager basa basi.


"Tidak apa-apa tuan Max, terima kasih sudah menjamu kami," jawab Vivian sambil tersenyum.


"Baiklah, aku tinggal sebentar karena aku ingin memanggil Damian," ucap Jager.


Matthew dan Vivian mengangguk sedangkan Jager berlalu pergi, di dalam ruangan itu hanya mereka berdua saja jadi Vivian berjalan menghampiri foto istri Jager dan berdiri di bawah fotonya.


Vivian diam saja sementara itu Matthew berjalan mendekati Vivian, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Vivian karena dia terlihat diam saja.


"Ada apa babe?" tanya Matthew seraya berdiri di samping Vivian.


"Tidak ada apa-apa, kenapa istrinya meninggal Matth?"


"Sepertinya kau penasaran sekarang."


"Aku hanya ingin tahu," jawab Vivian.


"Jika kau ingin tahu aku bisa menceritakannya padamu," ucap Jager tiba-tiba dan dia segera berjalan menghampiri mereka.


"Tidak tuan Max, aku minta maaf," jawab Vivian tidak enak hati.


"Tidak apa-apa nak, jika kau ingin tahu maka aku akan mengatakannya padamu."


"Tidak tuan Max, aku benar-benar minta maaf."


Jager berjalan menghampiri Vivian dan berdiri di sampingnya, matanya menatap istrinya dan sebuah senyuman menghiasi wajah tuanya.


"Dia adalah satu-satunya wanita yang aku cintai tapi sayangnya kebersamaan kami tidak lama. Mungkin Tuhan menghukumku dengan cara ini, akibat dosa yang telah aku lakukan sejak muda, Dia mengambil istri dan juga putriku."


"Tuan Max, aku tidak bermakud?" Vivian tambah tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Angel, dengan melihatmu kenangan tentang dirinya kembali muncul tapi jangan salah paham, itu karena wajah kalian yang mirip membuatku ingat dengannya."


Vivian mengangguk dan kembali memandangi foto istri Jager dan dia tidak menyadari jika Damian berjalan mendekati mereka. Dia juga tidak menyadar jika Damian berdiri di belakangnya seperti ingin memastikan sesuatu.


Matthew memperhatikan Damian penuh selidik, apa yang ingin dia lakukan? Tapi Damian diam saja dan matanya fokus pada Vivian. Dia ingin melihat apakah di belakang telinga Vivian ada tanda lahir atau tidak tapi sayang, terhalang oleh rambut Vivian.


Karena tidak bisa melihat apapun jadi Damian semakin berjalan mendekat tapi sayangnya, Vivian menyadari keberadaannya dan segera memutar tubuhnya.


"Tuan Max," Vivian benar-benar kaget saat melihat Damian berada di belakangnya. Dia benar-benar tidak menyadari kehadiran Damian. Kenapa dia tidak mendengar langkah kaki pria itu? Apa dia berada di belakangnya karena ditiup angin?


"Tidak...tidak apa-apa," jawab Vivian seraya mendekati Matthew.


"Sepertinya kalian memiliki hubungan spesial?" tanya Jager sambil memandangi mereka berdua.


"Angel pacarku," jawab Matthew seraya merangkul pinggang Vivian.


"Baiklah, kalian terlihat serasi. Ayo kita makan malam," ajak Jager Maxton.


Matthew dan Vivian mengangguk dan Mereka segera menuju ruang makan di mana makanan sudah terhidang di atas meja.


"Maafkan jamuan yang biasa saja ini tuan Smith, Angel," ucap Jager.


"Tidak apa-apa, ini sudah cukup," jawab Matthew.


Mereka duduk bersama dan menikmati hidangan, mata Jager tidak lepas dari Vivian karena saat itu, Vivian memakan makanan kesukaan istrinya. Dia memang sengaja meminta pelayan pribadinya menyiapkan makanan kesukaan istrinya karena dia ingin melihat, apa Vivian akan menyukai makan itu sama seperti istrinya?


"Sepertinya kau suka dengan hidangannya Angel," ucap Damian.


"Oh maaf, apa gaya makanku keterlaluan?" tanya Vivian dengan wajah memerah.


Dia benar-benar malu dan langsung melihat Matthew, jangan sampai ada cream yang menempel di bibirnya. Matthew hanya terkekeh dan mengusap kepalanya Vivian sedangkan wajah Vivian semakin bertambah merah.


"Tidak, kau bisa menghabiskan semuanya jika kau memang suka," jawab Jager. Dia terlihat senang karena Vivian juga suka makanan itu seperti istrinya.


"Hm, maafkan aku tuan Max, hidangan ini membuatku teringat dengan ibuku."


"Dari mana asalmu nak dan di mana kau tinggal?" tanya Jager sambil melihatnya.


"Maaf aku tida bisa menjawab pertanyaan tuan Max," jawab Vivian.


Jager tampak kecewa tapi dia akan berusaha mencari tahu nanti, setelah ini dia harap Vivian mau bertemu lagi dengannya. Setelah selesai makan, meja dibersihkan dan makanan penutup dihidangkan. Mereka kembali menikmati hidangan dan pada saat itu, Jager mengeluarkan sebuah kotak dan meletakkannya di depan Vivian.


"Ini untukmu Angel, aku ingin kau menyimpannya," ucapnya.


"Apa ini tuan Max?" tanya Vivian seraya membuka kotak itu.


"Itu gelang peninggalan istriku dan itu gelang kesukaannya. Aku ingin kau memilikinya sekarang."


"Apa? Tidak, aku tidak bisa menerimanya tuan Max," tolak Vivian seraya mengembalikan kotak itu.


"Terimalah, tolong jangan menolak dan jangan mengecewakan orang tua ini."


"Tapi tuan Max, aku?"


"Babe, terima saja," ucap Matthew.


"Tapi Matth?" Vivian benar-benar tidak enak hati.


"Istriku sudah tidak ada dan usiaku sudah tidak lama lagi, Damian juga tidak bisa menggunakan gelang itu jadi aku ingin kau yang menyimpan benda itu menggantikan kami. Kau mau bukan?"


Vivian diam saja, sedangkan semua mata tertuju padanya, dia jadi sedikit kesal, kenapa semua melihatnya seperti itu? Matthew juga hanya diam saja tidak membantunya untuk menolak pemberian Jager, bukankah dengan demikian dia akan semakin merasa tidak enak hati? Dengan menerima pemberian Jager, dia akan semakin sulit menolak jika Jager ingin bertemu dengannya lagi.


Karena tidak punya pilihan dan dengan berat hati akhirnya Vivian mengangguk, seharusnya benda berharga seperti itu diberikan pada istri Damian.


Jager tampak bahagia, dia tidak akan menyesal memberikan benda itu pada Vivian walaupun nanti terbukti bahwa dia bukan putrinya, dia yakin istrinya juga akan senang.


Setelah selesai makan malam, Matthew dan Vivian pamit pulang. Vivian benar-benar tidak enak hati karena harus menerima benda berharga milik istri Jager.


Jager dan Damian masih berdiri di depan pintu melihat kepergian Matthew dan Vivian.


"Lihatlah Damian, dia benar-benar mirip dengan Cristiana dan aku merasa dia benar-benar putriku," ucap Jager sambil menghela nafas.


"Bersabarlah dad, untuk mendapat hasil yang baik kita tidak boleh gegabah dan kau tahu Matthew Smith bukan orang bodoh yang mau membantu kita jika tanpa bukti apalagi mereka memiliki hubungan spesial," jawab Damian.


"Kau benar, aku hanya sudah tidak sabar," ucap Maxton.


Setelah mobil Matthew keluar dari gerbang rumahnya, Jager dan Damian segera masuk ke dalam. Jager sangat berharap Vivian benar-benar putrinya dan dia harap kebenarannya segera terkuak, tapi pada saat itu tiba, apakah Vivian mau menerima Jager Maxton sebagai ayahnya?