
[Chapter 272.]
[Gerbang Akhir muncul.]
[Silahkan Dibaca.]
Dua hari telah berlalu.
Ryuto dan para istrinya telah menghabiskan waktunya bersama. Mereka sekarang berada di dalam Dunia Jiwa duduk di dekat danau.
“Aku hanya membawa sebagian saja. Tidak bisa membawa keseluruhan, bagaimanapun kondisi kandungan sudah seperti itu.”
Ryuto menatap ke seluruh istrinya. Dia hanya bisa membawa beberapa istrinya untuk perang akhir ini. Para istrinya paham dan mengangguk tanda setuju.
Dari 210 istri hanya terpilih sepuluh orang. Bagaimanapun juga, dari 150 istri yang disiksa Jack sebelumnya hanya beberapa yang sudah mencapai Prajurit Alam tahap puncak.
Di antara lain, ialah Tifa, Evelyn, Shima, Mona, Alsace, Rose, Kasumi, Valeria, Chu Lin, dan Sania. Sepuluh istri tersebut sudah mencapai Ranah Prajurit Alam tahap puncak.
Kesepuluh istri itu akan ikut dalam pertempuran. Selain mereka, beberapa harus merawat yang hamil dan berlatih agar tidak menjadi beban nantinya.
Ryuto juga membawa kera api perkasa, monster itu benar-benar jinak sekarang. Zen dan Jordan tidak ikut, mereka sedang menemani istri mereka masing-masing karena perang akhir bertepatan dengan musim kawin.
Ular putih dan ular hitam tidak ikut juga, kedua ular itu akan memiliki anak sebentar lagi. Ryuto mengangguk paham, bagaimanapun juga hewan lebih cepat berkembang biak dibanding manusia.
“Jadi, hanya kita yang akan terjun di medan perang akhir. Kong berapa tingkatan dari para monster itu?”
Kong, nama pemberian dari Ryuto untuk kera api perkasa. Mendengar namanya di sebut Kong dia sangat senang karena baginya Kong adalah Kong.
Ryuto sendiri bingung, akan tetapi author juga bingung dengan nama Kong tersebut.
Kembali sekarang.
Ryuto mendapatkan informasi terkait musuhnya, bahwa hanya Monster tingkat dua sampai enam.
Ryuto paham dan menatap ke arah peserta perang akhir. “Ayo kita pergi ke markas terlebih dahulu, Zero semoga sudah siap.”
Para siluman Kucing atau Yokai Kucing menunduk. Para istri Ryuto tersenyum. Mereka semuanya menatap ke arah tuan dan suaminya. Kemudian, seluruhnya mengucapkan kata secara bersamaan.
“Hati-hati, Sayang / Tuan.”
Ryuto mengangguk, kemudian kesebelas orang dan satu monster menghilang dari Dunia Jiwa.
***
Kediaman Utama Kurokami.
Terlihat berbagai orang berpakaian hitam dengan lambang sayap hitam dan putih. Pakaian mereka ketat, menampilkan tubuh yang mengalami pelatihan neraka.
Jumlah pasukan Kurokami mencapai 500 juta pasukan. Mereka di bagi menjadi 2 wilayah. Wilayah pertama adalah Kerajaan Kurokami utama, wilayah kedua adalah bekas Kerajaan Star.
Zero, Lion, Gin, Alpha, dan Eleven menatap ke arah pasukan yang siap untuk perang akhir dini hari nanti.
“Sekitar 5 Juta pasukan yang siap untuk perang. Mereka semua berada di ranah prajurit alam tahap delapan.”
Zero menjelaskan hal tersebut. Lion yang berada di sampingnya berkata, “Tuan mengatakan bahwa ranah prajurit alam tahap lima minimal? Kenapa kamu mengambil yang delapan?”
“Kalau kita hitung minimal dari tahap lima, hanya ada 15 juta. Jika, kita hitung dari minimal tahap satu, hanya ada 100 juta. 400 juta sisanya itu berada di bawah prajurit alam.”
“Dari 15 juta, kita potong menjadi tiga. Satu penjaga wilayah asli dan satu penjaga wilayah kedua. Sisanya ikut perang bersama kita.”
Zero mengungkapkan secara detail. Lion mengangguk paham, dia tidak menyangka bahwa sudah terperinci seperti itu.
Wush.
Ryuto dan kelompoknya tiba di Markas utama. Zero dan keempat pemimpin pasukan melesat dan melakukan salam hormat kepada Ryuto.
“Salam, Yang Mulia.”
Para pasukan juga melakukan hal sama. Ryuto mengangguk dan melambaikan tangannya tanda penghormatan sudah selesai.
“Jadi, Zero berapa orang yang siap untuk perang?”
Ryuto langsung bertanya ke intinya. Zero mengangguk dan memberikan detail tadi kepada Ryuto.
Melihat bahwa semuanya sudah tersusun rapi, Ryuto mengangguk puas. Dia benar-benar senang akan kinerja dari anak buahnya tersebut.
Dooooooommmmmmm.
Ryuto dan seluruh kelompoknya melayang dan pergi terbang menuju ke lautan.
***
Di sebuah bukit yang sangat tinggi.
Cohza menatap ke arah kelompoknya, di sana juga terdapat Kurht, Simon, Rider, dan Zehard. Dia melihat ada sekitar 30 juta orang yang siap ikut berperang.
“Ingat, jangan sampai lengah dan mati sia-sia. Ini demi Dunia kita.” Teriakan Zehard membuat para petarung berteriak dengan keras.
“Ohhhh,” teriak para pasukan dengan penuh semangat. Ranah para pasukan milik Cohza adalah Prajurit langit tahap delapan sampai puncak.
Dooooooommmmmmm.
Cohza menatap ke arah laut. Dia bisa melihat apa yang terjadi di laut. Ia melihat sebuah pulau besar yang tengah mendarat di tengah-tengan laut tersebut.
Pulau besar dengan permukaan yang halus tanah tanpa ada pepohonan maupun rerumputan. Pulau yang hanya tanah yang sangat luas.
“Sepertinya sudah dimulai, ayo kita pergi ke sana!” Cohza memberi perintah, kemudian dia memimpin kelompoknya menuju ke arah pulau tersebut.
***
Pegunungan Xinjia.
Seorang kakek tua terlihat tengah berdiri. Dia menatap ke arah pulau yang sudah muncul di tengah lautan tersebut.
“Semuanya, ini adalah perang akhir. Tunjukkan hasil latihan dan kultivasi kalian melawan musuh, ayo kita maju!”
Seluruh orang dengan pakaian pelatihan seni bela diri berwarna putih seketika menunduk. Mereka secara bersamaan dengan lantang berteriak, “Siap, Master.”
Kakek tua itu terbang di ikuti oleh 1 juta muridnya menuju ke arah pulau tempat perang terakhir di mulai.
***
Jdrrrr Jddrrrrr Jdrrrrr.
Kilatan, gemuruh petir menjadi lebih ganas ketika kemunculan pulau tersebut. Berbagai badai terus bermunculan bahkan badai menjadi lebih besar.
Kehadiran pulau itu benar-benar membuat aliran angin laut benar-benar kacau. Beberapa jam terus terjadi gempa yang besar di laut, akan tetapi perlahan gempa menjadi rendah.
Sriingggg.
Perlahan-lahan dari kehampaan muncullah sebuah gerbang yang tertutup. Gerbang itu memiliki aksara, bahkan gambar-gambar orang yang aneh.
Di gerbang yang paling nampak jelas hanya satu gambar kata. END, E sebelah kiri N sebelah tengah terbelah D sebelah kanan. END memiliki makna yang berarti adalah Akhir.
***
Ryuto dan pasukannya tiba di tempat, kemudian Cohza juga tiba, lalu terakhir yaitu adalah kakek tua beserta para muridnya. Ketiga kelompok itu tiba di tempat dan memandang ke arah gerbang tersebut.
“Apakah itu gerbang akhir?”
“Apakah dibalik gerbang itu adalah monster-monster yang mengerikan berada?”
Berbagai pertanyaan dari para pasukan terdengar jelas ke telinga para pasukan lainnya. Mereka tidak bisa tidak bertanya karena baru kali ini mengalami hal yang aneh tersebut.
Cohza menatap ke arah Ryuto, kemudian tatapannya beralih ke kakek tua. Dia tersenyum ketika mengalihkan pandangannya ke gerbang akhir tersebut.
Ryuto menatap datar ke arah gerbang akhir tersebut. Dia tidak peduli akan kehadiran, kakek tua dan muridnya. Baginya kelompok itu lemah dan pasti memiliki hal yang berguna untuk keselamatan mereka.
“Zero, Gin, Lion, Alpha, Eleven, persiapkan pasukan. Sebentar lagi, gerbang akhir terbuka.”
Kelima pemimpin pasukan mengangguk, mereka dengan cepat melakukan perintah dari tuannya.
Ryuto tersenyum dan menatap ke arah gerbang akhir yang mulai menunjukkan pergerakan.
“Waktunya di mulai, Perang Akhir.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.