
[Chapter 161.]
[Pengakuan.]
[Silahkan Dibaca.]
Pantai Bali.
“Baiklah, tapi sebelum itu, perkenalkan namaku adalah Olivia Alson, salam kenal,” ucap Perempuan tersebut.
“Ya, salam kenal. Namaku adalah Ryuto,” ucap Ryuto, kemudian dia berdiri diikuti oleh Olivia.
Mereka berdua berjalan bersama menuju ke tepi pantai, namun terdapat beberapa istri Ryuto yang melihat hal tersebut.
“Ara~ apakah itu Ryuto, dia sudah mau menambah Saudari lagi?” ucap Amy, kemudian Yui dan Yuka melihat ke arah Ryuto.
“Hmm, sepertinya, Bu,” ucap Yui, dia walaupun sama-sama memiliki derajat sebagai istri Ryuto, dia tetap akan memanggil Amy, Ibu.
Begitu juga Yuka, keduanya mirip, keduanya sangat menyayangi Ibunya. Karena mereka ingat pengorbanan Ibunya.
“Tidak masalah, lagipula itu pilihan, Ryuto,” ucap Yuka, dia setuju dan senang kalau ada saudari baru.
“Baiklah, kita pergi ke yang lainnya, sepertinya mereka juga sudah tahu,” ucap Amy, melihat ke arah rombongan para saudarinya.
“Ayo, bu,” ucap keduanya, lalu mereka bertiga pergi menuju ke rombongan para istri Ryuto.
Di sisi Ryuto.
Ryuto sudah mengetahui bahwa para istrinya berada di pantai, dia menatap ke arah para istrinya dan tersenyum.
Para istrinya juga membalas senyuman tersebut, kemudian Ryuto berjalan bersama dengan Olivia menuju ke laut.
“Nah, ayo kita berenang,” ucap Ryuto, kemudian dia mulai berenang di laut. Diikuti oleh Olivia.
Mereka berenang hanya beberapa menit saja, karena waktu sudah mulai akan malam. Para istri Ryuto duduk di pantai sambil memandang matahari terbenam.
Ryuto dan Olivia selesai berenang, kemudian Ryuto berkata dengan nada lembut.
“Nah, Olive. Bagaimana kalau kita kesana, bersama dengan para istriku?” ucap Ryuto, sementara Olivia terkejut dengan ucapan Ryuto.
Dia segera menatap ke arah yang ditunjuk oleh Ryuto, dia melihat banyak perempuan disana, lalu dia bertanya.
“Yang mana istrimu?” ucap Olivia dengan gugup, dia takut disalahi menjadi seorang pencuri Suami.
“Mereka semua,” ucap Ryuto, lalu menarik Olivia yang masih memproses ucapan Ryuto, mereka pun berjalan menuju ke arah para istri Ryuto.
Namun, klise selalu saja ada. Terdapat tiga pemuda yang mendekat ke arah para istri Ryuto.
“Hai, Manis. Bagaimana kalau kita bermain?” ucap Pemuda1, dia dengan santai menyapa para istri Ryuto.
Semua istri Ryuto, menatap ke arah ketiga pemuda tersebut, lalu Silvia berkata dengan senyuman.
“Bermain? Bermain apa?” ucap Silvia, kemudian ketiga pemuda tersebut menyeringai.
“Sesuatu yang akan memuaskan kalian semua,” ucap Pemuda2, lalu Lilia menjawab dengan nada mengejek.
“Memuaskan, kalian bertiga ingin memuaskan kami, Pffft,” ucap Lilia, dia menahan tawanya mendengar ucapan Pemuda tersebut.
Pemuda3 mulai merasa marah. Kemudian, dia berkata dengan seringai miliknya.
“Mau mencoba?” ucap Pemuda3, kemudian para istri Ryuto menatap dengan jijik. Kemudian, Ryuto menatap sosok pemuda4 di belakang mereka.
“Oi, kalian. Jangan mengganggu para perempuan,” ucap pemuda4, namun Ryuto yang melihat itu tersenyum.
‘Trik lama.’
Para istri Ryuto, melihat itu mereka mengabaikan kehadiran 4 Pemuda tersebut. Mereka berjalan menuju ke Ryuto.
Ke empat pemuda tersebut menatap ke arah para istri Ryuto, mereka melihat bahwa para istri Ryuto berjalan ke arah Ryuto.
“Kalian diganggu oleh lalat kah?” ucap Ryuto, sambil tersenyum. Membuat para istri Ryuto cemberut mendengar hal tersebut.
“Kenapa kau tidak menghalangi mereka seperti para lelaki semestinya?” ucap Erika, sementara Ryuto menjawab.
“Mereka belum bertindak lebih, kalau mereka bertindak lebih mungkin sudah hilang,” ucap Ryuto, sedikit keras.
Alhasil keempat pemuda tersebut terpancing. Lalu, mereka mendatangi Ryuto, dengan tampang marah.
“Hei, kami masih mendengarnya,” teriak Pemuda1, kemudian diikuti oleh Pemuda2.
“Kau, memancing emosi kami. Minta maaflah sambil mencium kaki kami,” ucap Pemuda2 tersebut.
“Heh, hanya cecunguk saja. Kalian berani sombong di depanku,” ucap Ryuto, sementara Olivia yang berada di sampingnya, entah kenapa merasa menarik.
Ryuto pun mendekat ke arah empat orang tersebut, dia memandang dengan tatapan tajam miliknya.
Pemuda1, Pemuda2, Pemuda3, Pemuda4 gemetar saat mendapati tatapan tersebut, tanpa sadar mereka mundur satu langkah.
“Kau...” ucap Pemuda1, dia marah. Lalu, dia melesat dan mengayunkan tendangan ke arah tubuh Ryuto.
Boommm.
Ryuto tidak bergerak, dia terkena tendangan tersebut. Namun, terlihat Ryuto tidak bergerak mundur sama sekali.
Ryuto menatap ke arah Pemuda1, lalu menatap ke arah kaki yang berhenti di dadanya.
“Apakah itu tendangan?” ucap Ryuto, membuat Pemuda1 gemetar. Dia benar-benar takut.
“Mari, kau kuajari apa itu tendangan,” ucap Ryuto, kemudian mengangkat kakinya dan menendang perut Pemuda1.
Booommmm.
Pemuda1 terpental dan terbang mundur sampai di sisi pantai lain. Pemuda2 sampai Pemuda4 melebarkan mata mereka.
Namun, sebelum mereka berkata. Ryuto sudah tiba di depan mereka dengan sebuah kaki terangkat di depan wajah mereka.
Booommmmm.
Ketiga pemuda tersebut terpental dan terbang lebih jauh dari Pemuda1, Ryuto hanya mendengus biasa.
“Hm, banyak bicara, tapi lemah,” ucap Ryuto, kemudian dia berbalik ke arah para istrinya.
Ryuto tersenyum, lalu dia mendekat ke arah para istrinya, kemudian Ryuto memeluk mereka satu persatu.
“Kami merindukanmu,” ucap para istri Ryuto, mereka memeluk satu persatu. Kemudian, Ryuto mencium kening dan bibir mereka.
Olivia yang melihat itu, entah kenapa dalam hatinya timbul rasa iri, dia juga ingin diperlakukan seperti mereka.
Amy dan Lilia, mengetahui apa yang diinginkan Olivia, mereka bisa tahu dari tatapan Olivia. Keduanya tersenyum dan tertawa pelan.
Mereka berdua datang ke arah Olivia, sementara Olivia melihat kedatangan Amy dan Lilia, dia sedikit gelisah.
“Fufu~ apakah kau menyukai Ryuto?” ucap Lilia, kemudian mereka bertiga melakukan percakapan.
(Note : Aku ga faham pembicaraan para ibu-ibu, aku pernah mendengar, namun tidak paham sama sekali.)
Selesai reuni dengan para istri, Ryuto menatap ke arah Amy, Lilia, dan Olivia. Dia mengangkat alisnya melihat mereka berjalan bersama.
‘Jangan bilang mereka berdua menarik Olivia untuk menjadi istriku lagi, kalau itu benar. Aku hanya bisa menerima dan mencintai dengan sepenuh hati,' batin Ryuto.
Dia benar-benar tersenyum tak berdaya, dia ingin berteman. Namun, istrinya selalu menarik perempuan untuk menjadi istrinya.
Alasannya selalu saja sama, yaitu mereka ingin mengalahkan Ryuto di ranjang. Dia hanya menghela nafas.
“Amy, Lilia, kalian sudah berkenalan dengan Olivia?” ucap Ryuto, mereka berdua tersenyum dan mengangguk.
“Itu benar, serta dia ingin menjadi istrimu selanjutnya Ryuto,” ucap Lilia, membuat Olivia memerah sementara para istri lainnya tersenyum senang.
Ryuto kemudian menatap ke arah Olivia, lalu dia berjalan ke arahnya.
Tiba di depan Olivia, Ryuto memegang tangan Olivia, kemudian dia berkata dengan nada serius.
“Apakah kau yakin, ingin menjadi salah satu dari mereka? Kau tahu, jalan yang akan kami ambil penuh bahaya, apakah kau yakin?” ucap Ryuto.
Olivia menghela nafas, kemudian dia memandang ke arah Ryuto dengan tatapan serius disertai rasa malu.
“Aku ingin menjadi istrimu, bahaya apapun akan kulalui,” ucap Olivia, entah kenapa dia menjadi lebih berani.
‘Bersama dengan mereka, walaupun baru beberapa jam. Itu sudah membuatku bahagia, tidak ada yang bisa melebihi bahagia ini,' batin Olivia.
“Kalau begitu, selamat datang di keluarga Kurokami,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.