
[Chapter 166.]
[Menikmati Ombak.]
[Silahkan Dibaca.]
Mall.
Para pasukan Garuda, benar-benar merasakan krisis hidup, mereka mundur dan tidak berbicara kepada para istri, pasukan, maupun Maid Ryuto.
(Istri + pasukan + maid : Keluarga Ryuto ✓.)
Mereka memberi jalan kepada keluarga Ryuto untuk turun ke lantai 1, walaupun para keluarga Ryuto sudah tiba di lantai 1, mereka tetap diam.
Sisi Ryuto.
Selepas mendengar ucapan dari topeng, Ryuto hanya tersenyum biasa. Kemudian, dia menatap lantai 1 dari lantai 5.
“Oh, mereka sudah turun. Baiklah, aku lompat saja,” ucap Ryuto, kemudian lompat dari lantai 5 menuju ke lantai 1.
Wushhhh.
Booommmm.
Seketika Ryuto tiba di lantai 1, para pasukan Garuda yang melihat itu terkejut, dalam fikiran mereka hanya satu.
‘Manusia terjun dari atas dan tidak kenapa-kenapa?’ batin mereka semua, mereka menatap Ryuto dengan pandangan kagum dan takut.
“Ayo kita pergi,” ucap Ryuto, para istrinya yang semula muram dan emosi, berubah menjadi senang.
Pasukan Ryuto, yang semula tajam berubah menjadi tenang, Zero pun hanya tersenyum kecil.
Maid, juga berubah. Awalnya mereka muram seperti istri Ryuto, namun berubah menjadi senang dan tersenyum hangat.
Mereka semua keluar dari Mall, lalu disambut oleh banyak mobil polisi dan beberapa wartawan.
Polisi yang melihat para keluarga Ryuto, mereka ingin mengarahkan tembakan ke mereka semua.
Namun, para sandra sebelumnya, mereka berlari dan berhenti tepat di depan keluarga Ryuto.
Mereka semua menundukkan kepala, lalu berkata dengan nada yang tulus.
“Terimakasih telah menyelamatkan kami,” ucap mereka semua, Ryuto dan keluarganya tersenyum.
“Bukan masalah apapun, lain kali berlatihlah agar tidak mengalami kejadian yang sama,” ucap Ryuto, dia berjalan ke arah mobil.
Begitu juga para keluarganya. Kemudian, mereka masuk ke dalam mobil secara bersamaan.
Mobil pun menyala, mereka pun pergi menuju ke sebuah wisata pantai yang sangat indah.
Mereka menjalankan mobil dengan santai, menikmati pemandangan Bali dengan senyum diwajah mereka.
Beberapa menit kemudian.
Mereka tiba di pantai tersebut, mereka benar-benar menghabiskan waktu penuh di Mall. Tiba di pantai pun, hari sudah sore.
Ryuto dan para istrinya keluar dari mobil, mereka berjalan menuju ke tempat makan dekat pantai tersebut.
Mereka berjalan sambil menikmati pemandangan dan hembusan angin pantai yang sejuk.
Tiba di tempat makan, mereka duduk di bawah, pelayan pun datang menghampiri mereka semua.
(Note : duduk di bawah, kalau di jawa Lesehan guys.)
“Pesan apa saja, Tuan dan Nyonya?” ucap pelayan tersebut, dia benar-benar pelayan profesional, namun tidak seprofesional Maid Ryuto.
Ryuto dan para istrinya, mulai memilih makanan. Mereka memesan banyak makanan di tempat makan tersebut.
Pelayan pun masih tetap bersikap selayaknya pelayan, namun dalam hati, dia benar-benar terkejut dengan pesanan sebanyak itu.
“Mohon tunggu, Tuan dan Nyonya,” ucap pelayan dengan cepat undur diri dan berjalan cepat menuju ke belakang.
Ryuto dan para istrinya, menatap ke arah laut. Dimana terdengar suara ombak yang menerjang tepi pantai.
Brushhh.
Mereka benar-benar merasa damai, entah bagaimana menikmati hembusan angin sejuk dengan suara ombak, itu benar-benar menyenangkan hati.
“Nah, Zero. Liburan benar-benar terbaik bukan?” ucap Ryuto, dia benar-benar menikmati pemandangan laut.
“Kau benar, Tuan,” ucap Zero, dia adalah pasukan dan sopir pribadi Ryuto, dia yang selalu diandalkan oleh Ryuto, dan juga empat lainnya.
Ryuto yang melihat hal tersebut, tidak bisa tidak tersenyum, kemudian dia mulai berfikir.
‘Memiliki banyak istri dan rukun satu sama lain, benar-benar terasa nyaman,' batin Ryuto.
Beberapa menit kemudian.
Pelayan mengantarkan satu persatu menu yang di pesan oleh Ryuto dan para istrinya.
Melihat makanan sudah tiba, Ryuto dan para istrinya mulai memakan makanan tersebut.
Mereka makan dengan lahap, mereka benar-benar menyukai makanan dari tempat makan tersebut.
1 jam kemudian.
Mereka selesai makan, Ryuto dan para istrinya tetap di tempat, mereka akan membahas sesuatu.
“Kalian, apakah akan ikut ke Jawa?” ucap Ryuto, kemudian para istrinya saling memandang, lalu Lilia berkata.
“Apakah tidak masalah?” ucap Lilia, kemudian Ryuto membalas sambil menganggukkan kepalanya.
“Tidak, hanya saja nanti kita pergi cari rumah dulu,” ucap Ryuto, mereka pun tersenyum dan mengangguk setuju.
“Juga aku ingin nanti kalian menyiapkan kejutan kepada kedua orang itu,” ucap Ryuto, para istrinya menjadi senang dan menyeringai.
“Baik, sayang,” ucap mereka bersama dengan nada lemah lembutnya. Ryuto tidak tahan dan mencium kening mereka satu persatu.
Mereka tidak sadar, bahwa mereka masih di tempat umum. Banyak para pejalan kaki, menatap mereka dengan kagum.
Kemudian, para pejalan kaki tersebut, mulai berhenti dan mulai bertepuk tangan.
Prok prok prok prok.
Tepuk tangan meriah terdengar oleh Ryuto dan para istrinya, sadar dengan apa yang terjadi.
Ryuto dan para istrinya tersenyum, lalu dengan cepat keluar dari tempat makan dan menuju ke mobil.
Pasukan Ryuto dan para Maid juga ikut pergi, mereka semua masuk ke dalam mobil secara bersamaan.
Mobil pun melaju menuju ke Hotel yang di tempati oleh Ryuto dan para istrinya, mereka melaju dengan santai, sambil menunggu malam tiba.
Di suatu tempat.
Blub blub blub.
Di sebuah dasar lautan, terdapat sebuah Istana yang sangat megah, pilar tersusun dengan rapi dan berbagai terumbu karang menjadi hiasan di luar.
Di dalam Istana tersebut, terdapat sebuah ruangan yang megah, banyak perempuan yang berbaris dengan rapi membentuk sebuah jalan.
Tap tap tap tap.
Seorang perempuan dengan pakaian serba hijau, memakai sebuah tongkat dengan sebuah bola kristal berwarna hijau.
Mahkota yang sangat indah terpasang di kepalanya, yang menandakan Perempuan tersebut ialah seorang Ratu.
Ratu tersebut berjalan dengan anggun menuju ke tempat duduk yang memiliki trisula di belakangnya, Ratu pun tiba dan duduk disana.
Ratu menatap ke depan dengan tajam, iris mata hijau miliknya menyala dengan cerah, hanya beberapa orang yang tau maksud hal tersebut.
Tatapan tersebut, menandakan Ratu sedang dalam marah. Mereka tidak boleh berbicara maupun menatapnya.
“Beraninya, manusia rendahan membunuh pasukanku. Ambil orang lagi, yang berani memakai pakaian hijau di pantai,” perintah Ratu tersebut.
“Baik, Yang mulia Ratu,” ucap beberapa orang laki-laki, kemudian dengan cepat melesat keluar dari Istana.
“Hijau adalah kesuburan dan kemakmuran, Manusia tercela yang mengotori lingkungan, tidak berhak memakai warna yang melambangkan hal tersebut,” ucap Ratu tersebut.
Ya, Ratu tersebut ialah Ratu Pantai Selatan, Karlina Diana Tania.
[To be Continued.]
Note : Aku bingung ngasih namanya, kubuat gitu saja. Jangan tertawa.
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.