
[Chapter 139.]
[Balapan.]
[Silahkan Dibaca.]
Rumah Ryuto.
Ryuto tiba di rumahnya, lalu dia memarkirkan mobilnya di dalam garasi mobil di rumahnya.
Ryuto dan Yuuko turun dari mobil, lalu melihat bahwa rumah sepi. Ryuto, akhirnya sadar bahwa mereka berada di restoran.
“Aku lupa, mereka berada di restoran,” ucap Ryuto, lalu dia menatap ke arah Yuuko dan berkata.
“Ayo kita ke restoran,” ucap Ryuto, lalu Yuuko mengangguk setuju, dia benar-benar gugup namun tetap tenang dalam permukaan.
“Tidak perlu gugup,” ucap Ryuto, kemudian dia mendekat dan menepuk kepala Yuuko, lalu berkata.
“Ayo kita pergi,” ucap Ryuto, kemudian mereka berdua berjalan keluar dari halaman rumah.
Mereka keluar dari gerbang rumah, lalu menuju ke restoran yang tidak jauh dari rumah tersebut.
Beberapa menit kemudian.
Mereka tiba di restoran, Ryuto mengajak Yuuko menuju ke belakang restoran.
Sampai di belakang pintu restoran, mereka berdua mendapati Amy yang akan masuk ke dalam restoran.
“Ara~ sayang, kamu kesini. Serta, siapa wanita tersebut?” ucap Amy, sambil tersenyum. Ryuto pun mendekat diikuti oleh Yuuko.
“Yah, dia adalah Yuuko. Seperti yang kubicarakan kemarin malam,” ucap Ryuto.
Amy mengangguk, lalu menatap ke arah Yuuko yang terlihat gugup. Amy tersenyum, kemudian dia menarik Yuuko.
“Aku Amy Kurokami, kita kenalan di dalam bersama yang lainnya,” ucap Amy, lalu membawa Yuuko masuk.
“Oh ya, kamu tadi dicari oleh Zero, sayang. Katanya, telponmu tidak aktif, jadi dia kemari dan sekarang dia berada di markas,” ucap Amy.
Tanpa menunggu jawaban Ryuto, dia masuk bersama dengan Yuuko. Sementara Ryuto, mengerutkan keningnya.
Lalu, dia berjalan masuk ke restoran, terlebih dahulu. Sebelum dia pergi menemui Zero.
Saat Ryuto masuk, dia mendapati bahwa semuanya sedang berbicara dengan Yuuko. Mereka benar-benar langsung akrab satu sama lain.
“Kalian, aku akan pergi. Tapi sebelum itu,” ucap Ryuto, mereka berhenti berbicara dan menatap ke arah Ryuto yang mendekat.
Ryuto tiba di depan mereka, beruntung restoran belum di buka. Mereka masih bersih-bersih terlebih dahulu.
Kemudian, Ryuto mencium kening mereka satu persatu, semua Istrinya senang dengan tingkah Ryuto.
Satu dicium, semuanya akan dicium. Satu pelukan, semuanya akan dipeluk. Satu bermain, semuanya akan bermain bersama.
Mereka senang bahwa Ryuto tidak membedakan mereka, mereka tahu bahwa benar-benar menyayangi mereka sepenuhnya.
“Ciuman dan pelukan pagi dari kalian memang menyegarkan,” ucap Ryuto. Mereka terkekeh dengan tingkah Ryuto, begitu juga Yuuko.
Lalu, mereka berbicara tentang banyak hal, serta Aoi sudah memperbaharui surat nikah mereka, menjadi berisi 50.
Sementara itu, yang sudah di tulis baru 23, di tambah Yuuko menjadi 24. Ryuto tersenyum melihat surat tersebut.
Lalu, Ryuto menceritakan soal Himiko, Amy dan Lilia benar-benar terkejut dan menangis mendengar kabar Himiko.
Namun, saat Ryuto bilang bisa mengembalikannya, mereka benar-benar senang.
Walaupun semua Istrinya yang berada disana bingung, mereka benar-benar menangis dengan kehilagan tersebut, lalu mereka juga senang bahwa Ryuto bisa mengembalikan Himiko.
Ryuto pun keluar dari restoran, Lilia dan Amy akan memberikan informasi kepada Kiba dan Agnes.
Ryuto berjalan ke arah rumahnya untuk mengambil mobil miliknya.
Tiba di rumah, Ryuto berjalan ke arah garasi mobil. Kemudian, masuk ke dalam mobil Lamborghini Aventador.
Vroommm.
Mesin menyala, mobil keluar dan berjalan pergi meninggalkan rumah Ryuto.
Di jalan.
Raungan mobil membuat banyak orang menatap ke arah mobil Ryuto. Banyak tatapan iri kepada Ryuto.
Namun, Ryuto mengabaikannya. Melihat jalanan sepi, dia menginjak gas yang membuat mobilnya melesat cepat.
Lalu, dari belakang muncul mobil sport yang menyamai kecepatan mobil Ryuto.
Lampu merah menghentikan mobil mereka berdua, kemudian pemilik mobil sport berkata.
“Bro, bagaimana kalau kita balapan,” ucap pemilik mobil Sport.
“Baiklah, batas lampu merah setelah melewati gunung tersebut,” ucap Ryuto.
“Oke,” ucap pemilik mobil Sport. Kemudian kedua mobil mulai melakukan pemanasan
Lampu hijau menyala.
Vroommm.
Jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya berkisar 30M saja.
Mereka tiba di tikungan tajam, pemilik mobil Sport menurunkan kecepatan untuk berbelok.
Lalu, Ryuto menyalip mobil Sport dan menambahkan kecepatan.
“Bung, apakah kau ingin mati?” ucap pemilik mobil Sport, dia benar-benar terkejut melihat Ryuto tidak mengurangi kecepatan.
Sliddddd.
Ryuto dengan santai membelokkan mobilnya dengan tajam, lalu menambah kecepatan dan meninggalkan mobil Sport.
“Itu....” ucap pemilik mobil Sport, tertegun. Ryuto hanya tersenyum setelah melewati mobil Sport tersebut.
Beberapa menit kemudian.
Ryuto tiba lebih dulu di lampu merah. Kemudian, mobil Sport berhenti di sebelahnya.
“Aku pergi dulu, suatu hari nanti mungkin ketemu lagi,” ucap Ryuto, dia melajukan mobilnya saat lampu sudah hijau.
“Yaaaaa,” teriak pemilik mobil Sport tersebut, entah kenapa sudut mulut orang tersebut naik ke atas.
Di sisi Ryuto.
“Suara pemilik mobil Sport tersebut, terdengar seperti perempuan,” ucap Ryuto, mengendarau dengan santai ke markas.
“Mungkin perempuan,” ucap Ryuto, dia benar-benar menjadi rileks setelah balapan tersebut.
Beberapa menit kemudian.
Ryuto tiba di markas, lalu dia memarkirkan mobilnya di parkiran markas.
Ryuto turun dan masuk ke dalam markas, dia benar-benar terkejut melihat halaman penuh dengan pasukan yang berlatih seni beladiri.
Ryuto tersenyum dan masuk ke dalam markas, kemudian One menundukkan kepalanya.
“Selamat datang, Tuan,” ucap One, kemudian Ryuto berkata dengan santai.
“Oke, jadi dimana Zero, One?” ucap Ryuto, lalu One menjawab.
“Ketua, ada di lantai 5 ruang rapat, Tuan,” ucap One.
“Baiklah, aku akan kesana, kerjamu bagus, One. Pertahankan,” ucap Ryuto berjalan menuju ke lantai 5.
One tersenyum senang, lalu dia berkata, “Terimakasih, Tuan.”
Di sisi Ryuto.
Ryuto berjalan menaiki tangga, sampai akhirnya tiba di lantai 5. Dia berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.
Zero, Alpha, Eleven, Gin, dan Lion berdiri saat melihat Ryuto masuk.
Mereka menundukkan kepala dan berkata dengan tegas.
“Selamat datang, Tuan,”
Ryuto yang mendapatkan salam tersebut, hanya tersenyum dan melambaikan tangannya sambil berkata.
“Duduklah, mari kita mulai apa yang dibahas,” ucap Ryuto, kemudian duduk di kursi tengah.
Di restoran.
Lilia dan Amy menatap ke arah dua orang yang sedang minum coffe disana, Lilia dan Amy mengenali salah satunya.
“Apa yang kamu lakukan disini, Khurt?”
Lilia akhirnya membuka obrolan, lalu Khurt tersenyum tak berdaya, karena meninggalkan kesan buruk kepada keduanya.
“Yah, aku kesini ingin bertemu dengan Bocah itu, serta jangan salah sangka, kami kesin-“ ucap Kurht terpotong oleh laki-laki di depannya.
“Aku yang mencarinya, namun dia terlihat tidak ada disini,” ucap Laki-laki tersebut, tak lain Zehard.
“Kalau begitu, Nona. Beritahu dia, bahwa aku menunggu dia besok di gunung Fuji, katakan saja urusan laki-laki,” ucap Zehard.
Dia menyeringai, yang membuat Lilia dan Amy merasa menatap monster, lalu Zehard berdiri dan diikuti oleh Kurht.
“Oh ya, serta maaf, soal Mafia yang kutempatkan disini, Mafia kami tidak pernah menyuruh tentang hal budak dll,” ucap Zehard dengan suara dalam.
Keduanya keluar dari restoran, suasana restoran tetap tenang dan tidak terganggu, hanya saja para istri Ryuto menghela nafas.
Lalu, keduanya kembali masuk ke dapur restoran.
Sementara itu, Zehard yang berada di mobil menyeringai.
“Seluruh keturunan Kurokami, selalu saja memiliki banyak Istri, aihh aku sedikit iri,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.