
[Chapter 266.]
[Permintaan Bantuan.]
[Silahkan Dibaca.]
Kyoto.
Ryuto, Rina, Nina, dan Tifa berjalan bersama. Mereka berempat, jalan-jalan di sekitar kota Kyoto. Bagaimanapun juga destinasi wisata Kyoto membuat mereka senang dan damai.
“Kita akan memesan hotel di sini. Juga untuk masalah tidur, kita akan kembali ke Dunia Jiwa.” Ketiga istri Ryuto mengangguk setuju. Mereka paham karena mereka tidak mungkin bisa memuaskan Ryuto.
Ryuto dan ketiga istrinya tiba di sebuah hotel bernama ‘Kyoto Star.’ Mereka berempat masuk ke dalam Hotel tersebut.
Namun, saat keempat orang itu masuk. Ada seseorang memanggil Ryuto dengan akrab. “Ryuto.”
Ryuto mendengar itu menoleh ke belakang dan melihat dua orang kekar. Dia sedikit mengerutkan keningnya.
“Cohza dan... Seida?”
Ryuto sedikit terkejut melihat Seida yang berbeda. Bagaimanapun sekarang pria itu terlihat lebih besar dan berotot banyak.
“Ya, ini kami. Juga seperti biasa, kamu menjadi lebih kuat lagi, bahkan melebihi aku dan lainnya.”
Cohza menyeringai, dia benar-benar senang melihat Rivalnya menjadi lebih kuat kembali. Ryuto tersenyum dan menjawab, “Hal normal, juga kamu sepertinya menjadi tambah kuat.”
Ryuto kemudian menjadi serius dan bertanya, “Tidak mungkin bukan, kamu menemuiku untuk saling sapa. Ini bukan gayamu, jadi beritahu aku, apa ada masalah?”
Cohza dan Seida tersenyum, Ryuto tetaplah Ryuto, selalu tajam dan pengumpul perempuan. Keduanya menggelengkan kepalanya ketika mengingat kata akhir.
“Kami butuh bantuanmu namun tidak baik berbicara di sini.” Cohza berkata dengan serius. Ryuto mengangguk dan menatap ke arah tiga istrinya.
“Apakah kalian ikut?” ketiganya saling memandang dan mengangguk bersama.
“Kami ikut.” Rina, Nina, dan Tifa berkata secara bersamaan. Ryuto mengangguk dan menatap ke arah Cohza dan Seida.
“Tunjukkan jalannya.” Cohza mengangguk mendengar hal itu. Mereka berenam pergi menuju ke lantai empat hotel, lantai tersebut adalah area makan.
***
Tiba di lantai empat, Cohza membawa semuanya ke ruang VIP. Keenam orang itu masuk ke dalam dan mulai diskusi.
“Kyoto membuka gerbang terlalu awal.” Mendengar ucapan dari Cohza, Ryuto mengerutkan keningnya.
“Maksudmu, ada orang yang membuka gerbang Alam Menengah di Kyoto?” Cohza mengangguk. Ryuto sedikit menjadi serius sekarang.
“Jadi, kamu tahu tempat kejadiannya, bukan?” Cohza mengangguk dan mengeluarkan peta yang mencakup seluruh Kyoto. Dia menunjukkan sebuah lingkaran berwarna biru.
“Dekat sini ada sebuah gua, bekas lab. Di sana adalah pembukaan gerbang secara paksa dilangsungkan.”
“Alasan mereka membuka gerbang Alam Menengah terlebih dahulu karena orang-orang ini tidak sabar ingin memasukinya.”
“Mereka juga mengklaim bahwa bisa membunuhmu dengan mudah.” Cohza mengakhiri dengan senyum seringai.
Ryuto sedikit mengerutkan keningnya dan mulai merenung. Dia memejamkan matanya untuk berpikir. Dirinya mengingat tujuan datang ke Kyoto.
Namun, di saat mengingat perempuan yang akan dicarinya. Ryuto membuka matanya dengan dingin, pancaran aura kematian juga keluar namun berhasil dia tekan.
“Nah, apakah kunci dari gerbang itu adalah perempuan kuil Sika?”
Cohza melebarkan matanya, dia tidak menyangka Ryuto tahu akan hal itu. Melihat reaksi Cohza, tebakan Ryuto benar.
“Aku datang ke Kyoto, tujuanku adalah dirinya sebelum perang akhir dan pergi ke Alam menengah.”
Cohza paham sekarang. Tujuan keduanya sama yaitu menyerang orang-orang yang akan mengaktifkan gerbang secara paksa.
“Kalau begitu, kita berangkat ke sana sekarang.” Ryuto berdiri, dia benar-benar tidak bisa membuat istrinya menunggu lama untuk diselamatkan.
Cohza, Seida, Rina, Nina, dan Tifa juga ikut berdiri. Tujuan mereka semua adalah gua tempat gerbang akan di buka.
Namun, sebelum mereka pergi. Pelayan datang dengan beberapa makanan, keenam orang lupa bahwa barusan membeli makanan karena lapar.
Terpaksa mereka berenam kembali duduk dan mulai menikmati makanan. Ryuto merasa bahwa makanan enak, dia memesan terus menerus sampai akhirnya 500 piring tertumpuk.
“Fuhhh, benar-benar enak... Kalian hanya makan 200 piring saja kah, Hahahaha.”
Pelayan yang melayani keenam orang itu benar-benar tercengang. ‘Mereka apakah bukan manusia?’
Ryuto memandang ke arah pelayan dan berkata, “Apakah masih ada makanan ini? Jika ada keluarkan, entah kenapa aku ingin lagi.”
Pelayan terkejut, bahunya merosot. Dia terjatuh ke bawah dan berkata, “I-itu sudah habis, Tuan. Koki kami semuanya pingsan dalam sekejap.”
Ryuto mengangguk dan memahami akan hal itu. Dirinya menatap ke pelayan kembali dan bertanya, “Berapa total seluruhnya?”
Pelayan dengan cepat menghitung dan menjawab, “10 Milyar Yen, itu sudah terpotong dengan disk-“
“Hitung keseluruhan, jangan memakai diskon.” Ryuto menyela dengan cepat. Dia tidak ingin diskonan atau potongan harga.
“Total keseluruhan adalah 100 Milyar Yen Tuan.” Pelayan itu berkata dengan gugup, jika Ryuto tidak bisa membayar semuanya.
Ryuto mengangguk dan mengeluarkan Kartu berwarna Ungu. Pelayan melebarkan matanya ketika melihat kartu itu.
“Di-Diamond Card... Tu-tuan apakah anda membayar dengan ini?” Ryuto mengangguk dan melemparkan dengan ringan kartu tersebut.
“Isi di dalamnya ada 400 Triliun Yen, bayar saja sisanya bagi dengan seluruh karyawan di sini, Paham!”
“Juga, jika kamu menipu... Kartu dan nyawamu akan menjadi taruhannya.” Pelayan mendengar hal itu seketika membeku, dia tidak menyangka bahwa akan mendapatkan hadiah sebesar ini.
“Ayo kita pergi, juga bersihkan ruangan ini, oke?” Ryuto berjalan pergi melewati pelayan diikuti oleh kelima orangnya.
Pelayan gemetar dan menundukkan tubuhnya, inilah Tiran. Uang hanyalah kertas, buang saja agar bermanfaat bagi orang lain.
“Baik, Tuan.” Pelayan berkata dengan nada penuh hormat. Dia kemudian mulai memanggil berbagai temannya dan mulai menata ruangan Vip kembali.
Pelayan juga akan mengumpulkan karyawan lainnya terkait pembagian uang tersebut. Dia memang serakah, akan tetapi tidak bodoh. Peringatan orang kaya pasti akan terjadi, maka dari itu dia mengikuti saran Ryuto.
***
Ryuto sendiri tidak peduli, bahkan kelima orang di belakangnya juga tidak peduli akan uang tersebut.
Ryuto melihat sekitar dan tidak menemukan mobil sama sekali. Dia menatap ke arah Cohza dan bertanya, “Mana kendaraan untuk kita pergi ke gua?”
Cohza tersenyum dan menunjuk ke arah area parkir. “Aku menyewa Sepeda motor dari para Geng sebelah, yah walaupun begitu lebih tepatnya kuambil motornya.”
Ryuto menepuk keningnya, dia menggelengkan kepalanya dan bertanya, “Apakah perlu taat hukum lalu lintas?”
Ryuto berjalan ke arah motor, diikuti oleh kelima orang itu. Masing-masing memakai motor yang sudah tersedia.
“Tidak perlu, hukum ada untuk dilarang.” Cohza menaiki motornya dan menyalakan, begitu juga yang lainnya. Mereka dengan sengaja menaikkan suara motor.
Vrooommmm.
Ryuto sedikit mengerutkan keningnya. ‘Kenapa suaranya terlihat seperti Mobil pembalap?’ Ryuto bertanya-tanya dan menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, ayo kita berangkat.”
***
Gua gerbang.
Terlihat ada 10 orang berjubah Hijau. Mereka mengikat di tiang 3 orang perempuan dengan pakaian Miko, pakaian perempuan kuil.
“Kalian akan menjadi tumbal agar gerbang menuju ke Alam menengah terbuka, Hahahaha.”
Tiga perempuan menatap dengan amarah, akan tetapi mereka tidak berdaya dan hanya memiliki satu pikiran.
‘Tolong, seseorang tolong selamatkan kami..’
Air mata ketiganya jatuh ke tanah, apakah Ryuto dan yang lainnya tiba tepat waktu atau Mereka telah berhasil dikorbankan untuk membuka gerbang?
Nantikan kelanjutannya...
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.