
[Chapter 174.]
[Organisasi Red Devil.]
[Silahkan Dibaca.]
Hutan besar, Jakarta.
Ryuto, Yui, Yuka, Yuna, Iris, dan Zero, mereka sedang menatap ke arah dua penjaga hutan tersebut.
“Kami ingin pergi ke dalam, apakah boleh?” tanya Ryuto, membuat kedua penjaga tersebut mengerutkan keningnya.
“Nak, bukannya kami tidak mengizinkannya, tapi kau harus paham, hutan ini lebih berbahaya dari hutan normal,” ucap Penjaga1.
“Kami sudah tahu, Pak. Tujuan kami kesini, adalah Buaya Putih tersebut,” ucap Ryuto, membuat kedua penjaga terkejut.
“Kau yakin?” tanya Penjaga 2, dia benar-benar sedikit terkejut dengan ucapan dari Ryuto tersebut.
“Ya, untuk masalah hidup dan mati kami, tidak akan menjadi masalah kalian,” ucap Ryuto, membuat keduanya menghela nafas.
“Baiklah, Nak. Kalau kau ingin masuk, masuk saja,” ucap Penjaga1, kemudian Ryuto mengangguk dan berkata.
“Terimakasih, Pak,” ucap Ryuto, kemudian dia berbalik dan menatap ke arah Zero, lalu berkata.
“Kau berada disini,” ucap Ryuto, sementara Zero mengangguk setuju, dia menjawab dengan serius.
“Baik, Tuan,” ucap Zero, kemudian Ryuto dan keempat istrinya pergi masuk ke dalam hutan besar.
Kedua penjaga membukakan pintu, mereka berdoa keselamatan untuk Ryuto dan keempat istrinya.
Di dalam hutan.
Ryuto mengikuti anak panah yang ditunjukkan oleh Sistem, Yui, Yuka, Yuna, dan Iris mengikuti Ryuto dari belakang.
Kelima orang tersebut, masuk hutan yang lebih dalam, mereka juga melihat sekitar mereka.
“Benar-benar masih asri, apakah hanya Buaya Putih saja, disini?” tanya Yui, dia benar-benar terpesona dengan pohon yang besar dan tinggi.
“Entah, mungkin ada selain Buaya Putih yang memiliki ukuran besar di hutan ini,” jawab Yuka.
“Sayang, menurut mu apakah ukuran Buaya Putih besar?” tanya Yui, kemudian Ryuto yang fokus tanda panah, menjawab.
“Ya, hampir setinggi pohon itu,” ucap Ryuto, membuat keempat istrinya senang, kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali.
Beberapa menit kemudian.
Ryuto berhenti, membuat keempat istrinya juga berhenti, mereka juga melepaskan persepsi milik mereka.
“Sepertinya, kita disambut dengan meriah,” ucap Yuna, tersenyum senang saat merasakan sesuatu mendekat.
“Kau benar,” ucap Yui, dia mempersiapkan diri. Begitu juga yang lainnya, sementara Ryuto menatap datar ke depan.
“Keluarlah, aku sejak tadi sudah curiga,” ucap Ryuto, kemudian beberapa orang keluar dari hutan.
“Wah Wah, kau menyadari kita ternyata,” ucap salah satu orang tersebut, sementara Ryuto mengerutkan keningnya.
‘Tampilan mereka mengapa seperti Bandit?’ batin Ryuto, kemudian dia berkata dengan nada datar.
“Siapa kalian?” tanya Ryuto dengan datar, orang tersebut berkata dengan nada sombong.
“Heh, sebelum kau mati, akan ku beritahu siapa kami,” ucap orang tersebut, kemudian mengangkat lengan bajunya.
“Kami adalah Organisasi Red Devil,” ucap orang tersebut, menunjukkan tato Iblis berwarna merah.
‘Red devil? Bukankah itu Organisasi kelas rendah yang dibicarakan Zero?’ batin Ryuto, kemudian dia menyeringai.
“Yah, bagus lah. Ada sekitar 500, mari kita selesaikan, anggap saja mereka pemanasan,” ucap Ryuto.
“Baik, sayang,” ucap keempat istrinya dengan nada senang, mereka berempat dengan cepat melesat ke arah para pasukan Organisasi tersebut.
Boom Boom Boom Boom.
Pemimpin pasukan tersebut terkejut melihat keempat istri Ryuto mulai membantai satu persatu pasukannya.
“Oi, kalian. Jangan melamun, lumpuhkan para perempuan itu,” teriak pemimpin pasukan tersebut.
Namun, suaranya tidak terdengar, karena setiap mereka akan menjawab, pasti mereka akan mati.
Pemimpin pasukan terkejut dengan hal tersebut, lalu dia menatap ke arah Ryuto yang masih berdiam diri.
Bodohnya, pemimpin pasukan menganggap Ryuto adalah beban keempat istri Ryuto. Alhasil, dia mengeluarkan perintah.
“Semuanya, serang laki-laki itu, hahahaha. Aku tahu, dia yang paling lemah disini,” ucap Pemimpin pasukan.
Membuat beberapa pasukan diam, begitu juga para istri Ryuto. Melihat reaksi para istri Ryuto, membuat pemimpin pasukan menyeringai.
“Serang,” teriak pemimpin pasukan, kemudian seluruh pasukan yang tersisa sekitar 200 an, melesat menuju ke arah Ryuto.
Sementara itu, para istri Ryuto berdiam diri di tempat, mereka menatap ke arah pasukan dan pemimpinnya.
“Orang bodoh,” gumam keempatnya, melihat pasukan dan pemimpin seperti orang tolol dan bodoh.
Ryuto yang melihat musuh datang, dia hanya tersenyum. Kemudian, serangan pisau pertama melesat ke arah lehernya.
Wushhh.
Ryuto hanya memiringkan kepalanya sedikit, membuat pisau melewati lehernya, kemudian sebuah tendangan dari arah samping.
Ryuto dengan mudah berputar ke samping, lalu dia disambut oleh sebuah pedang dari belakangnya.
Wushh.
Ryuto menghindarinya, semua serangan di hindari dengan mudah, bagaimanapun Ryuto melihat mereka seperti siput sedang berjalan.
Beberapa menit kemudian.
“Hah hah, apa kau hanya bisa menghindar, Si*lan,” ucap pasukan, begitu juga beberapa pasukan lainnya.
Sementara itu, pemimpin pasukan merasakan keanehan tersebut, dia benar-benar merasa terkejut.
‘Tidak mungkin, orang bisa menghindari seluruh serangan itu, yang berarti di-‘ batin pemimpin pasukan terpotong oleh suara Ryuto.
“Oh, kau ingin aku menyerang, baiklah,” ucap Ryuto, kemudian dia menatap tajam ke arah para pasukan.
Lalu, dia menyeringai sebelum melesat dengan cepat ke arah salah satu pasukan tersebut.
Bughhh.
Ryuto menendang tepat kepala pasukan tersebut, senjata belati milik pasukan terlempar ke atas.
Wushhh.
Pasukan tersebut melesat ke belakang, dia teebang dan melewati pemimpin pasukan, lalu menabrak sebuah pohon besar.
Booommm.
“Mari menari,” ucap Ryuto, kemudian mengambil belati tersebut dan melemparkan ke arah kepala pasukan.
Wushh.
Jlebbb.
Belati menusuk tepat kepala pasukan tersebut, membuat beberapa pasukan linglung, melebarkan matanya terkejut.
“Dalam perang, jangan sampai kehilangan fokus,” ucap Ryuto, kemudian melesat ke arah pasukan yang linglung tersebut.
Boomm Booommm Boommm.
Ryuto menjadi lebih liar, memukul, menendang, menusuk, menebas, seluruh hal dia lakukan.
Dia terlihat bermandikan darah, jika tidak memakai spiritual untuk menghilangkan darah menempel ke dirinya.
Boomm Slashh.
Tanah di sekitar membentuk sebuah kawah kecil, banyak kepala pasukan menggelinding di tanah.
Melihat pemandangan tersebut, pemimpin pasukan pucat dia benar-benar ketakutan sekarang.
Sementara itu, keempat istrinya tertawa pelan melihat reaksi dari pemimpin pasukan, mereka benar-benar suka melihat ekspresi takut seseorang.
Ryuto memandang ke arah pemimpin pasukan tersebut, dengan ganas. Kemudian, dia berjalan santai ke arah pemimpin pasukan tersebut.
Pemimpin pasukan tersadar, dia dengan cepat berbalik dan berlari menuju ke dalam hutan tersebut.
“Sepertinya, dia ingin main kejar-kejaran,” ucap Ryuto sambil tersenyum, kemudian dia melesat mengejar pemimpin pasukan.
Keempat istrinya juga ikut mengejar, mereka semua mengejar dengan pelan, mereka benar-benar menikmati ekspresi ketakutan dari pemimpin pasukan tersebut.
Tanpa di sadari, pemimpin pasukan tersebut masuk ke wilayah rawa hutan, dia menerobos masuk.
Sementara Ryuto dan keempat istrinya berhenti mengejar dan berdiri di tepi rawa.
Pemimpin pasukan melihat hal tersebut senang, lalu dia ingin mencemooh Ryuto dan istrinya.
Namun, sosok hitam besar dari bawah melompat dan memakan pemimpin pasukan tersebut.
Byuuur.
Kemudian, sosok tubuh atas berwarna putih muncul di atas air rawa tersebut, kemudian sebuah kepala mencuat ke atas.
Ryuto dan keempat istrinya menatap ke arah sosok tersebut dengan tatapan tajam dan senang dalam hati.
“Akhirnya muncul,”
[To be Continued.]
Promosi
atas itu milik teman.
Lalu, atas ini milikku.
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.