
[Chapter 234.]
[Pergi ke Markas Sendirian.]
[Silahkan Dibaca.]
Parkiran Restoran Aizawa, tepatnya di dekat sebuah Mobil Limosin berwarna hitam. Terlihat banyak orang dengan pakaian rapi dan memakai jas hitam yang terbaring lemah, orang-orang itu entah hidup atau mati.
Pelaku dari seluruh kejadian itu ialah Zero. Dia membuat seluruh orang-orang tersebut terbaring dengan tulang yang patah dan nyawa sekarat. Zero tidak peduli akan hal itu, dia bersandar di mobil sambil merokok menunggu seseorang yang dimaksud Tuannya.
Beberapa saat kemudian, terlihat tiga perempuan berjalan masuk ke tempat parkiran. Mereka bertiga mencari sebuah mobil dan berhenti di mobil tepat Zero bersandar yaitu Limosin hitam. Ketiganya berjalan ke sana dan berhenti tepat beberapa meter dari mobil Limosin.
Tiga perempuan tersebut terkejut melihat banyak orang berpakaian rapi terbaring di tanah. Zero melihat ke-3nya dan berkata, “Apakah kalian yang ditunggu Tuan?” ke-3nya sadar dan mengangguk bersama menandakan benar.
Zero menyunggingkan senyum. “Kalau begitu, silahkan masuk. Tuan dan Nyonya menunggu kalian di dalam.” Pengawal itu kemudian pergi ke tempat sopir. Ke-3 perempuan saling memandang, kemudian berjalan pergi ke dalam mobil Limosin tersebut.
***
Ryuto dan para istrinya yang berada di dalam mobil, mendengar suara pintu terbuka. Seluruhnya menatap ke arah pintu dan mendapati 3 perempuan yang masuk dengan wajah terkejut ketika melihat isinya. Di ekspresi mereka bertiga terlihat sebuah kata-kata, ‘Bagaimana bisa?’.
Ryuto dan para istrinya tertawa pelan melihat ekspresi ke-3 perempuan tersebut. “Masuklah dan duduk di tempat yang kau inginkan.” Ke-3 perempuan tersadar dari rasa terkejutnya ketika mereka mendengar suara Ryuto.
Ke-3nya mengangguk dan berjalan masuk dengan hati yang penuh dengan penasaran. Mereka ber-3 duduk di dekat para istri Ryuto. Ke-3 perempuan berharap bisa menjadi salah satu dari istri Ryuto, akan tetapi hal itu mustahil bagi mereka.
Para istri Ryuto menyadari hal itu, tapi mereka memilih diam terlebih dahulu. Dalam fikiran mereka akan bertindak saat sudah sampai di kediaman. Ryuto juga menyadari, dia sendiri setuju-setuju saja karena dia tidak dirugikan. Namun dia memiliki prinsip jika istrinya setuju dia akan setuju, jika tidak dia tidak akan menerima. Semuanya tergantung para istrinya.
“Sepertinya kau banyak pertanyaan, bukan?” Ryuto mengawali dengan pertanyaan. Ke-3 perempuan mengangguk ketika diberi pertanyaan tersebut. “Nanti kita bahas di rumah. Bagaimanapun kita masih dalam perjalanan.” Ke-3 perempuan diam dan mengangguk patuh.
Ryuto lalu berjalan dan duduk di dekat ruang sopir. “Kau tahu markas mereka, Zero?” tanya Ryuto dengan sedikit serius. Zero yang diberi pertanyaan tersebut, menjawab, “Selepas aku mengintrogasi mereka. Saya menemukan hal menarik dan lokasi markas mereka.”
“Bagus, berikan lokasinya. Aku akan bergerak sendiri, sudah lama tidak bergerak dan menghajar beberapa orang.” Ryuto meregangkan otot-otot tubuhnya. Zero mengangguk dan memberikan sebuah peta lokasi markas musuh tersebut.
Ryuto menerimanya dan berjalan ke arah para istrinya yang berbicara akrab dengan ke-3 perempuan. Mereka berhenti berbicara ketika melihat Ryuto berjalan kearah mereka. Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Aku akan keluar. Kalian pergilah ke pantai terlebih dahulu.”
“Kau mau kemana, sayang?” Anri bertanya dengan penasaran. Ryuto tersenyum dan menjawab, “Hanya membersihkan beberapa orang. Juga kalian tidak perlu ikut, aku ingin melakukan pemanasan saja.” Para istrinya terdiam sebentar, mereka sebenarnya tidak setuju.
Ryuto tersenyum dan mencium seluruh istrinya tersebut satu persatu. Kemudian, Ryuto menatap ke arah 3 perempuan dan berkata, “Kalau kalian istriku, nanti akan seperti mereka.” Ke-3 perempuan panas dan memerah mendengar hal itu. Namun, ke-3nya terkejut ketika Ryuto mencium tepat kening mereka.
“Sementara, disitu dulu. Selanjutnya pasti akan disini,” ucap Ryuto sambil memegang bibir seperti menggoda ke-3nya. Seluruh istrinya tertawa pelan ketika melihat ekspresi keinginan ke-3 perempuan tersebut.
Ryuto berbalik dan pergi keluar ketika mobil berhenti sepenuhnya. “Aku pergi.” Ryuto berkata dengan ringan. Para istrinya mengangguk dan berkata, “Hati-hati sayang.” Ke-3 perempuan juga berkata, tapi sangat pelan.” Hati-hati sayang.”
Namun, walaupun pelan Ryuto dan para istrinya mendengar ucapan tersebut. Ryuto keluar, kemudian para istrinya saling memandang. Lalu, mereka menatap ke arah ke-3 perempuan masih memerah. “Waktunya kita beraksi.”
***
Ryuto berjalan di gang kota Tokyo. Dia sudah lama tidak berjalan di sekitar gang tersebut, Ryuto tersenyum ketika melihat gedung-gedung pencakar langit. Pemuda itu berjalan dengan santai sambil menatap ke arah sekelilingnya.
Selepas itu, dia melihat ke arah peta yang diberikan oleh Zero. Ryuto melihat bahwa markas orang-orang yang menyerangnya di sekitar lokasi antara pabrik-pabrik yang telah lama tidak terpakai. Pemuda itu terus berjalan mengikuti petunjuk dalam peta.
***
Dalam ruang pabrik tersebut, terlihat seorang pemuda yang duduk dengan wajah yang tenang. Namun wajah yang ditampilkan tersebut tidak asing bagi Ryuto bahkan para istrinya. Wajah yang sudah anggap Ryuto sebagai saudara sendiri.
Pemuda itu menatap ke arah depan, yaitu seorang perempuan yang selalu mendampingi dirinya. Namun, pada akhirnya perempuan itu terlihat diikat di meja besi tanpa sehelai benang pakaianpun. Perempuan itu terlihat sangat sedih dan kosong.
Pemuda itu berdiri dan tersenyum ketika melihat hal itu. “Kau tahu, inilah akibatnya kau dulu mempermainkanku. Percuma kau berteriak, tidak ada orang yang akan menyelamatkanmu, bahkan Ryutopun tidak akan menyelamatkanmu.”
Perempuan itu menatap ke arah pemuda tersebut dengan penuh kebencian. “Dasar Ba*ingan, lepaskan aku. Apakah begini caramu memperlakukan seorang perempuan, kau bukan seperti yang dulu kukenal. Dimana kau yang ku- Arhhh.”
Perempuan itu berhenti berteriak kepada pemuda tersebut ketika salah satu alat mirip milik laki-laki masuk ke dalam area milik perempuan itu. Dia merintih sakit, bagaimanapun alat yang dimasukkan begitu besar dan terus bergerak di dalam dirinya.
Perempuan itu tidak ada pilihan lain selain merintih kesakitan sambil menangis. Dia benar-benar tersiksa, dalam hatinya dia berharap bahwa ada yang menyelamatkan dirinya. ‘Ryuto, tolong selamatkan aku.’
***
Ryuto yang tiba di dekat pabrik tersebut berhenti. Dia merasakan firasat buruk dan mendengar suara hati seorang perempuan. Pemuda itu menatap ke arah pabrik yang berada di depannya, persepsi miliknya aktif seketika.
Ryuto terkejut dan tercengang, apa yang dia lihat benar-benar membuatnya shock. Dia melihat seorang pemuda yang dikenalnya bahkan lebih menyiksa perempuan atau pacarnya sendiri. Ryuto tidak percaya akan hal itu, sampai akhirnya persepsinya menjadi lebih tajam.
Apa yang Ryuto lihat sangat nyata. Dia tidak habis fikir melihat hal itu, Ryuto juga merasakan hati perempuan atau pacar orang yang dikenalnya tersebut. “Aku tidak menyangka, kau akhirnya menunjukkan taringmu, Raul..”
[Data Istri Ryuto : Anri Kurokami.]
Anri adalah Pemain AV terkenal. Namun dia bosan karena para laki-laki tidak ada yang menarik baginya. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah restoran baru, ketika dia masuk dia bertemu dengan Aoi teman seperjuangannya.
Aoi melihat kesulitan Anri. Kemudian menawari Suaminya yang sangat menarik. Anri penasaran dan hal itulah awal pertemuan Ryuto dan Anri, selepas itu hubungan mereka semakin berkembang dan akhirnya menikah.
(Nama : Anri Kurokami.)
(Umur : 34 Tahun.)
(Tingkat : Prajurit Alam tahap 9.)
(Kondisi : Senang, Hamil, bahagia, puas.)
(Persentase mencintai Ryuto : 100%.)
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.