Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 152


[Chapter 152.]


[Surat akhir Seida.]


[Silahkan Dibaca.]


Kediaman Yakuza Mitsu.


Di sebuah ruangan, dimana Seida sedang duduk dengan seiza. Di depannya adalah istrinya yang tak lain Eimi.


“Eimi, aku ingin kau pergi kembali ke rumah Kurokami, sampaikan surat ini, kepadanya,” ucap Seida dengan wajah serius.


Eimi yang mendengar hal tersebut, dia mengerutkan keningnya. Kemudian, dia menerima surat tersebut.


Seida pun berdiri, kemudian dia berkata dengan jelas dan sedikit senyum.


“Jaga dirimu, baik-baik Eimi,” ucap Seida, sementara Eimi melebarkan matanya dan sedih.


“Apakah hari ini?” ucap Eimi, dia benar-benar sedih, dia menatap lekat Suaminya tersebut.


“Ya, penyakitku mulai menyebar, aku akan mati dan aku akan bertarung dengan dia,” ucap Seida.


Tanpa menunggu jawaban dari Eimi, Seida berjalan keluar dari ruangan tersebut. Eimi mengeluarkan air mata dan menangis di tempat.


Dia menangis tanpa berteriak, dia benar-benar tidak menyangka hari ini adalah hari yang akhirnya terjadi.


Kemudian, Eimi mengingat kenangan dulu. Dimana seorang laki-laki berdiri di depannya dan berteriak.


“Aku tidak akan membiarkanmu mati, karena kau belum menemukan kebahagian sejati.”


Ungkapan dari seorang laki-laki, yang sekarang menjadi Suaminya. Detik terakhir pun, dia akan berkorban untuk seorang yang dia sukai.


Eimi berdiri, lalu segera keluar dari ruangan tersebut. Di luar ruangan dia segera pergi keluar rumah.


Eimi berlari dan memeluk Seida, sebelum pergi masuk ke dalam mobil.


Grepp.


“Terimakasih, untuk segalanya,”


Seida yang mendengar itu, tersenyum dan berbalik. Dia memeluk Eimi dengan erat, kemudian dia berkata.


“Tersenyumlah, kau tidak harus sedih. Ada seseorang yang bisa membuatmu bahagia, aku akan tenang di alam sana nanti,” ucap Seida.


Dia tersenyum dengan lebar. Eimi tersenyum, kemudian mereka saling berciuman.


Mereka saling melepaskan pelukan, kemudian Seida berjalan menuju ke mobil yang sudah siap membawanya pergi.


“Selamat tinggal,”


Kata-kata terakhir, dari Seida Mitsu, Ketua Yakuza terkuat sedunia.


Seida masuk ke dalam mobil, lalu mobil dengan cepat bergerak menuju ke suatu tempat.


Eimi yang sedih memandang ke arah surat yang dia bawa, lalu dia mengusap air matanya dengan telapak tangannya.


“Aku tidak boleh menangis, aku harus menyampaikan surat ini ke Ryuto,” ucap Eimi, dengan cepat berlari ke garasi.


Eimi segera menuju ke mobil pribadi miliknya, dia menyalakan dan menjalankan dengan cepat mobil menuju ke rumah Ryuto.


Di sisi Ryuto.


Ryuto dan para istrinya keluar dari dunia jiwa, mereka kemudian berjalan menuju ke halaman rumah.


“Kapan kamu akan ke Indonesia?” ucap Lilia, dia bertanya dengan penuh penasaran.


“Mungkin sebentar lagi, aku takut. Aku belum bisa memenuhi perjanjian dengan Seida,” ucap Ryuto.


“Yah, lebih baik menghubungi, kenapa tadi tidak bertanya nomor milik Seida?” ucap Aoi.


“Kau benar,” ucap Ryuto, dia benar-benar lupa dengan hal tersebut. Silvia juga ikut dalam percakapan.


“Tapi tadi terlihat, Eimi buru-buru pulang, kami bangun bersama, lalu dia ijin pulang terlebih dahulu,” ucap Silvia.


“Mungkin, Seida memanggilnya. Serta, sejak dia bersama kita, aku merasakan dia gelisah dan tertekan,” ucap Ryuto.


Ryuto benar-benar peka dengan seorang perempuan, bagaimanapun perempuan terlihat senang, pasti menyembunyikan kesedihan.


Mereka pun sampai di halaman, mereka duduk dan menikmati pemandangan halaman yang hijau.


Para Maid keluar sambil membawa bento yang banyak, mereka terlihat piknik, namun di halaman rumah mereka sendiri.


Selesai makan bento, Ryuto dan yang lainnya memandang ke arah pintu gerbang, mereka melihat sebuah mobil Lamborghini masuk.


Yuli yang melihat mobil tersebut, dia tahu bahwa mobil tersebut milik Eimi.


Kemudian, mereka melihat Eimi keluar dengan penampilan yang berantakan, semuanya terkejut.


Ryuto mengerutkan keningnya melihat keadaan Eimi, dia segera berdiri dan menghampiri Eimi, begitu juga para istrinya.


“Eimi, apa yanh terjadi?”


Ryuto segera bertanya, namun bukan jawaban melainkan pelukan dan isakan tangis. Ryuto segera mengelus punggungnya agar tenang.


“Kalian, coba tenangkan Eimi,”


Para istri Ryuto, segera membantu Eimi. Ryuto pun berjalan menuju ke sebuah pohon yang rindang.


Dia membuka surat tersebut, kemudian dia  terkejut saat melihat isi dari surat tersebut.


{Kurokami.


Jika kau sudah membuka ini, berarti aku sudah pergi.


Yah, aku akan pergi dari dunia ini. Penyakit yang kualami semakin parah.


Daripada mati karena penyakit, lebih baik mati melindungi dunia.


Aku hanya minta satu hal kepadamu, tolong jaga dan bahagiakan Eimi.


Dia benar-benar perempuan yang rapuh, tapi dia adalah orang yang sangat baik.


Baiklah aku akan pergi, terimakasih makanan yang kemarin.


Dari : Seida,}


‘Orang ini, kita belum kenal sangat, tapi sudah terlalu percaya kepadaku,' batin Ryuto.


“Yah, aku akan merawat dan membahagiakan dirinya,” ucap Ryuto, kemudian dia berbalik menatap Eimi.


‘Jadi, itu yang dia sembunyikan. Walaupun dia tulus senang, namun jauh di lubuk hatinya, sedang mengalami kesedihan,'


Ryuto pun berjalan ke arah Eimi dan para istrinya. Lalu, memeluk mereka bersama.


Eimi yang sudah merasakan kehangatan, dia pun tertidur di dalam pelukan Lilia.


Melihat hal tersebut, Ryuto menggendong Eimi untuk tidur di dalam kamar mereka.


Selepas menaruh Eimi di tempat tidur, dia mencium kening Eimi, kemudian keluar dari kamar.


Di luar, Ryuto bertemu dengan para istrinya, Ryuto yang melihat hal tersebut paham, kemudian memberikan surat Seida.


Selepas memberikan surat, dia menuju ke balkon dan menatap ke arah langit.


‘Selamat tinggal, Seida. Walaupun aku bukan temanmu,'


Di tempat lain.


Dalam bar, terlihat dua orang yang sedang minum bersama, orang tersebut ialah, Zehard dan Kurht.


“Mereka mengirim Seida ke monster itu, hanya keajaiban yang bisa membuatnya bertahan,” ucap Zehard.


“Itu benar,” ucap Kurht, dia benar-benar paham apa maksud dari Zehard.


“Walaupun dia adalah Yakuza, tapi dia tetaplah temanku, sejak dulu kami selalu bersama,” ucap Zehard, dia benar-benar mengenang masa lalu.


“Selamat tinggal, Temanku,” ucap Zehard.


Di sisi lain.


Blarrr Blarrr.


Laut mengganas dengan mengerikan di sekitar penjara tengah lautan.


Di laut terlihat ada sebuah kapal yang kuat, di dek kapal terlihat, Seida memandang ke arah Penjara laut tersebut.


“Dia benar-benar tidak terkendali kembali,” ucap Seida, kemudian seorang wanita memakai pakaian putih dengan jas hitam berdiri di dekatnya.


“Maaf Seida-san, selepas ini kami akan berusaha mencari pengganti untuk Yakuza, anda,” ucap wanita tersebut.


“Ya, kau harus mencarinya. Kalau tidak, keseimbangan Dunia akan hancur,” ucap Seida.


“Hohoho, aku tidak menyangka akan turun juga untuk hal ini,” ucap seorang pria tua.


“Master Su,” ucap Wanita tersebut, sementara pria tua tersebut tersenyum dan berkata.


“Tenanglah, Nona. Kami yang berumur pendek sudah mempersiapkan segalanya,” ucap Master Su tersebut.


“Pak tua, kemarin kau mengintai kami kan?” ucap Seida, namun tatapannya tetap mengarah ke arah Penjara.


“Hohoho, memang masa muda benar-benar menyenangkan,” ucap Master Su, kemudian berdiri di dekat Seida.


“Walaupun dia masih lemah, suatu saat pasti akan kuat,” ucap Master Su, sementara Seida hanya diam.


Namun, sudut mulutnya terangkat sedikit. Lalu, berkata dengan nada yang senang.


“Kau benar,”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.