
[Chapter 124.]
[Berangkat ke Kyoto.]
[Silahkan Dibaca.]
Pagi hari, 05.18
Ryuto terbangun dari tidurnya, kemudian dia duduk dan melihat ke samping kanan dan kiri. Dia seperti biasa menatap wajah Istrinya yang tertidur pulas.
'Hari ini kah, waktunya aku pergi menuju ke Kyoto,' batin Ryuto, kemudian dia turun dari tempat tidur. Lalu, pergi ke lemari pakaian.
Dia mengambil pakaian santai dan memakainya. Semalam Ryuto dan para istrinya mengemas pakaian Ryuto dan dua Istrinya yang akan ikut ke Kyoto.
Setelah memakai pakaian santai, Ryuto keluar dari kamarnya. Namun, sebelum dia keluar, Ryuto menatap ke arah tempat tidur.
Dia melihat, para istrinya satu persatu bangun dari tidurnya. Mereka benar-benar berubah, menjadi lebih segar dan bugar.
"Selamat pagi, istriku," ucap Ryuto, entah kenapa menjadi lebih mesra, sementara para Istrinya menjawab sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Suami," ucap mereka, kemudian turun dari tempat tidur, lalu pergi menuju ke lemari pakaian.
"Sayang, tunggu kami oke?" ucap Erika, sambil memakai pakaian santai miliknya. Ryuto tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya.
Namun, entah kenapa saat ini, dia tidak bisa menahan sesuatu, saat melihat lekuk tubuh para istrinya. Ryuto tanpa sadar memegang tubuh Yui dan mulai mencium setiap tubuhnya.
Yui terkejut, dan dia merasa nikmat. Ryuto kemudian, bermain sebentar dengan para istrinya.
"Ara~ Ryuto sudah mulai nakal kembali," ucap Aoi, dia mendekat dan mulai ikut bermain. Entah berapa lama, mereka bermain.
Maid yang baru juga terbangun, mereka terkejut dengan suara-suara indah. Mereka menoleh ke asal suara tersebut dan terkejut.
Namun, mereka segera ditarik oleh Amy, Lilia, dan Nanami. Mereka bermain bersama, beruntung anak kecil yang sebelumnya berada di rumah tersebut, sekarang berada di tempat Pamannya.
Beberapa jam kemudian, mereka selesai bermain. Ada yang pingsan, ada yang bergetar, ada yang terengah-engah.
"K-kenapa kamu menjadi sangat liar, Ryuto?" ucap Anri yang sekarang terengah-engah, dan tidak memiliki tenaga apapun.
"Entah, hari ini aku melihat kalian semakin cantik dan menggoda. Jadi, aku tanpa sadar menerkam kalian," ucap Ryuto jujur.
Memang benar, setelah mereka mengenal yang namanya energi wajah dan kulit mereka benar-benar halus dan lembut, serta mereka cantik mirip dengan Dewi.
'Apakah itu karena energi kah?'
[Itu benar, Ryuto. Karena energi mereka menjadi berubah cantik dan memiliki tenaga yang lebih.]
'Oh, pantas. Mereka juga sangat liar dan menjadi bertambah kuat, sepertinya aku perlu menguasai hukum ruang dan waktu, kalau ada,'
[Hukum ruang dan waktu itu ada, Ryuto. Hukum tersebut bisa dibeli di shop.]
[Keterampilan ruang dan waktu : 999.999.999.999.999.999 Yen]
'Itu sangat mahal, apakah ada cara lain?'
[Hadiah dari misi tingkat Nasional dan Negara, serta batu spiritual, namun itu nanti, karena Ryuto masih lemah, sangat sangat lemah, Ryuto saja belum bisa mengendalikan dan memiliki energi milik Kurokami,]
'Entah kenapa, aku baru saja tercerahkan, bahwa Dunia tidak hanya ini saja, serta aku menyadari bahwa aku masih lemah'
Ryuto kemudian mengepalkan tangannya dan menatap ke arah kepala tangannya, matanya menjadi menyala oleh semangat.
'Aku akan menjadi lebih kuat, untuk bisa melindungi segalanya,'
[Semua saudari akan membantumu, Ryuto. Jadi semangat]
'Terimakasih Iris,' batin Ryuto, kemudian dia menatap ke arah para Istrinya dan berkata.
"Terimakasih kalian, telah selalu bersamaku," ucap Ryuto, sementara para Istrinya menaikkan alisnya, namun mereka tersenyum.
"Kami akan selalu disisimu Ryuto," ucap mereka satu persatu, baik yang baru bangun dari pingsan.
"Baiklah, ayo kita mandi," ucap Ryuto, namun mereka tersenyum kecut dan Lilia berkata.
"Sayang, kami masih lemah. Ajak saja Aoi dan Nanami, mereka akan pergi bersamamu ke Kyoto, bukan?" ucap Lilia.
"Kalau begitu, istirahatlah kalian semua," ucap Ryuto, mereka mengangguk dan mulai tidur kembali.
Aoi dan Nanami yang terengah-engah, namun perlahan mereka membaik. Ryuto memeluk mereka dan berjalan bersama menuju ke kamar mandi.
'Iris bisakah kamu membuat makanan ini menjadi hangat terus, sampai mereka nanti makan?'
[Meja penghilang dingin makan : 5.000.000 Yen]
'Beli,'
[Silahkan di kustomisasi bentuknya, sayang]
'Masukkan saja kemampuan Meja tersebut ke dalam meja ini, Iris'
[Baiklah, perpindahan kekuatan dimulai]
[1%.... 30%....80%.....100%]
[Perpindahan selesai.]
"Baguslah, sekarang aku bisa meninggalkan makanan disini," ucap Ryuto, kemudian dia berbalik menatap ke arah Aoi dan Nanami.
"Ini bekal untuk kita, nanti kita makan di Kereta bersama," ucap Ryuto, lalu mereka mengangguk.
Ketiga orang tersebut, berjalan menuju ke kamar Ryuto, mereka masuk kembali.
Ryuto menatap ke arah para istrinya dan berjalan ke arah mereka, lalu dia mencium mereka tepat kening satu persatu.
"Aku akan pergi, jaga diri kalian oke," ucap Ryuto, kemudian mereka membuka mata dan menjawab bersama.
"Un, hati-hati di jalan, serta segeralah pulang, ya?" ucap mereka dengan sedih, ada yang berlinang air matanya.
"Ya, aku akan cepat kok," ucap Ryuto, lalu para istrinya meminta satu hal kepada Ryuto.
"Jangan lupa, pulang membawa Saudari baru, hihihi," ucap mereka, sementara Ryuto tersenyum tak berdaya.
"Ya, kalau nanti ada yang cocok," ucap Ryuto, kemudian dia berjalan menuju ke pintu keluar.
"Aoi, Nanami. Pastikan dia pulang dengan saudari baru, oke?" ucap Miya, sambil tersenyum.
"Hihihi, baik saudari Miya," ucap keduanya sambil terkikik mendengar ucapan dari Miya.
Lalu, mereka bertiga keluar dari kamar dan pergi menuju ke pintu keluar rumah, sambil membawa 2 tas saja.
Mereka hanya membawa 2 pakaian formal, 3 pakaian santai, sama beberapa pakaian dalam.
Di luar, Ryuto menelpon Zero untuk mengantar mereka menuju ke Stasiun. Setelah itu, Ryuto dan kedua Istrinya menunggu datangnya Zero.
Beberapa menit kemudian, Zero datang dengan mobil Suv berwarna hitam. Lalu, mobil berhenti. Ryuto membukakan pintu untuk kedua istrinya, kemudian mereka masuk, begitu juga Ryuto.
"Ayo jalan, serta Zero perintahkan beberapa pasukan untuk melindungi para istri ku yang disini," ucap Ryuto.
"Pasti, Tuan," ucap Zero, kemudian dia berfikir 'Bukankah seluruh Nyonya bisa bertarung, apalagi di atas kami semua, tapi itu adalah keinginan Tuan, jadi aku hanya menurut saja.'
Zero tahu kekuatan para Istri Ryuto, karena dulu pernah memerintahkan beberapa pasukan untuk menjaga istri Ryuto.
Namun, para istri Ryuto tidak tahu dan menyerang mereka dengan ganas, Zero menepuk keningnya saat mendengar hal tersebut.
Para istri Ryuto yang sadar bahwa itu pengawal mereka, para Istri pun meminta maaf, Zero tersenyum tak berdaya dan bilang tidak masalah, Nyonya.
Setelah itu, para istri Ryuto memberi nasihat bahwa mereka harus memakai sebuah lambang dimana mereka bisa tahu bahwa itu adalah lambang pengawal mereka.
Zero menuruti, karena dengan begitu, tidak akan terjadi salah paham seperti itu.
Kembali ke sekarang, mereka telah tiba di Stasiun. Zero ijin kembali ke markas, Ryuto menyetujuinya.
"Baiklah, ayo kita pergi," ucap Ryuto, sambil memeluk Aoi dan Nanami. Namun, sebelum mereka masuk ke dalam stasiun, sebuah suara datang dari belakang mereka.
"Hei hei, bagaimana kalau kau serahkan dua wanita itu, kalau tidak ingin mati?"
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.