Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 203


[Chapter 203.]


[Kematian Sura.]


[Silahkan Dibaca.]


Laut Jakarta.


Ryuto memandang ke arah Hiu yang sedang berputar di sebuah pusaran, membuat pusaran semakin membesar.


“Rasakan ini.”


Ryuto, Himiko, Aria, Yuuko, dan Asami mendengar suara tersebut, mereka melihat pusaran badai melesat menuju ke Jakarta.


“Cih, akan kuhentikan,” decih Ryuto, kemudian dia terbang menuju ke arah pusaran badai tersebut.


Dia berdiri tepat di depan pusaran badai tersebut, kemudian dia mengalirkan energi spiritual miliknya ke dalam kepalan tangan miliknya.


Sringg.


Tangan Ryuto mulai terlapisi oleh energi spiritual padat, kemudian Ryuto mengayunkan kepalan tangannya ke arah pusaran.


Booommmmm.


Wushhhh.


Ledakan besar terjadi, pusaran badai seketika menghilang. Langit yang semula hitam, sekarang menghilang.


Hiu yang sudah jatuh ke dalam air melihat hal tersebut dengan mata sedikit terkejut, lalu dia memandang ke arah Ryuto.


“Siapa kau, Manusia!” raung marah Hiu tersebut, kemudian Ryuto berdiri tepat di depannya dan menatap dingin.


“Makhluk rendahan sepertimu, ingin mengetahui namaku,” Ryuto berkata dengan nada arogan dan sombongnya.


Hiu tertegun, dia mulai menghitam dan menatap Ryuto dengan ganas, kemudian meraung dengan marah.


“Beraninya kau mengejekku, dasar Manusia,” raung Hiu, kemudian menyerang Ryuto dengan melompat dan mencoba menggigit Ryuto.


Dingggg.


Suara benturan benda tajam terdengar, kemudian terlihat Ryuto menahan gigi Hiu dengan sebuah pedang.


Tringggg.


Bushhh.


Hiu dipentalkan ke belakang dengan sangat keras, membuat dirinya jatuh ke dalam air dengan keras.


Byuuuurrrrrrr.


Hiu kemudian berenang dengan cepat ke arah Ryuto, tiba di bawah Ryuto, Hiu melompat dan mengayunkan ekor besar miliknya.


Ryuto tenang, dia memasukkan energi spiritual ke dalam pedang, kemudian mengayunkan dengan cepat ke arah ekor Hiu.


Slashhhhh.


Jresssss.


Hiu terkejut melihat ekornya terpotong menjadi dua, kemudian dia terjatuh ke dalam air.


Roooaaaaarrrrr.


Hiu berteriak dengan keras, selepas dia muncul di permukaan. Hiu menatap tajam dan benci terhadap Ryuto.


Himiko, Aria, Yuuko, dan Asami muncul tepat di belakang Ryuto, kemudian Himiko berkata dengan nada cemberut.


“Moo, sayang. Biarkan kami mengalahkannya,” cemberut Himiko, ketiga saudarinya juga terlihat cemberut.


Ryuto yang melihat itu menghilangkan ekspresi dinginnya, dia menggaruk punggung kepalanya dan tertawa canggung.


“Yah, aku gak tau, ahahaha,” Ryuto kemudian mundur di belakang mereka berempat dan berkata kembali.


“Baiklah, dia milik kalian. Maaf karena ekornya sudah kutebas,” ungkap Ryuto sambil menghilangkan pedang miliknya.


“Tak apa, aku juga minta maaf meminta tiba-tiba,” Himiko berkata dengan nada sedikit bersalah, begitu juga ketiga saudarinya, mereka menundukan kepala.


Ryuto mendekat dan dia tahu bahwa itu bukan hanya keinginan mereka saja, dia paham ketika keempat istrinya mengelus perutnya yang terlihat sedikit ada isi.


“Jangan menyalahkan diri kalian, kurangi depresi. Aku takut junior akan terpengaruh.”


Mendengar ucapan Ryuto, mereka berempat menatap ke Ryuto, senyum cerah muncul di wajah mereka.


Mereka kemudian mendekat memeluk Ryuto dan mencium pipi di masing-masing sisi, lalu mereka berkata.


“Terimakasih, Suami.”


Ryuto membalas mencium kening mereka, kemudian mereka saling melepaskan pelukan, namun saat Ryuto akan mundur.


Sebuah serangan air naik seperti ombak ke arah Ryuto dan keempat istrinya, Himiko mengalirkan energi spiritual ke dalam tangannya dan menghancurkan ombak tersebut.


Wushhhhh.


Booommm.


***


Ryuto sudah kembali di kapal yang mereka gunakan, dia duduk sambil makan dan memandang ke arah istrinya yang sedang bertarung.


“Himiko, Yuuko, berada pada prajurit langit tahap 7, sementara Aria dan Asami sudah tahap 8, mereka benar-benar cepat dalam naik.”


Ryuto benar-benar kagum dengan para istrinya, rata-rata tingkat milik Istrinya sekarang sudah berada di Prajurit langit tahap 7 dan 8.


Ryuto senang melihat hal tersebut, sementara dirinya sudah berada di Prajurit langit tahap 9 dan akan menembus ke tahap 10.


Ryuto berkata dengan nada santai, selepas itu mengalihkan ke arah istrinya yang sudah mulai bertarung dengan Hiu.


***


“Manusia betina meman-“ belum sempat Hiu selesai mengatakan hinaan kepada keempat istri Ryuto, dia diinterupsi oleh Himiko.


“Nah Hiu, kenapa kau berada di laut, bagaimana kalau kau terbang?” Himiko muncul tepat di belakang Hiu.


Hiu terkejut, sebelum berkata kembali dia merasakan bahaya dari Himiko. Hiu ingin kabur namun terlambat.


Himiko memadatkan energi spiritual di kaki miliknya, kemudian dia menendang tepat perut dari Hiu.


Booommmm.


Wushhhhhh.


Hiu melesat dengan cepat menuju ke lautan luar, namun sebelum Hiu berhenti terbang, sosok berkedip muncul dan menampilkan Aria dengan sebuah tongkat.


(Note : Tongkat yang dibawa Aria bukan senjata aslinya, oke. Itu hanya tongkat yang dia temukan di jalan.)


Aria memasukkan energi spiritual ke dalam tongkat tersebut, kemudian terlihat tongkat terlapisi energi spiritual padat berwarna merah.


Aria mengayunkan tongkat tersebut tepat di perut Hiu tersebut, Aria memukul Hiu tersebut dengan keras.


Boooommmm.


Hiu kembali melesat ke arah Himiko kembali, namun bukan Himiko yang berada disana, melainkan Yuuko.


Yuuko melapisi kedua tangannya dengan energi spiritual padat, kemudian dia memukul Hiu tersebut dengan keras.


Bughhhh.


Wushhhh.


Terlihat Hiu terkena pukulan tersebut dengan telak, matanya benar memutih, kemudian dia terbang ke atas.


Hiu benar-benar merasakan rasa sakit dan panas di perutnya, dia benar-benar meremehkan istri Ryuto.


Puncak terbang Hiu, terlihat Asami menunggu Hiu tersebut berada di puncak terbangnya, dia sudah memadatkan energi spiritual ke dalam tangannya.


Namun, Asami menggunakan telapak tangan bukan kepalan tangan. Kemudian dia melihat Hiu terbang ke arahnya.


“Sepertinya sudah cukup untuk melunakkan daging milikmu.”


Asami tersenyum manis ketika mengucapkan kalimat tersebut, kemudian telapak tangan terayun ke depan tepatnya Hiu yang terbang naik ke arahnya.


Wushhhhhh.


Proyektil telapak tangan terlihat, Hiu tersebut pasrah dan sudah siap untuk mati, Proyektil tepat mengenai Hiu.


Boooommmmmm.


Hiu terjun dalam keadaan hidup dan mati, ketiga istri Ryuto menunggu di bawah dengan membawa pedang.


Mereka akhirnya melihat Hiu terjun dengan bebas, kemudian ketiga Istrinya memasukkan energi spiritual padat ke dalam pedang.


Mereka menyeringai melihat hal tersebut dan berkata secara bersama, “Bahan makanan akhirnya tiba.”


Pedang terlapisi oleh energi dan diarahkan tepat ke hiu yang sudah berada di atas mereka bertiga.


Hiu pasrah dan merasakan dirinya sudah waktunya pergi untuk selamanya, waktunya dia menyusul Buaya temannya.


“Ba..ya..”


Jleb Jleb Jleb.


Hiu berhenti dan mati seketika, dia tidak menyangka dia mati dengan tidak berdaya, dia merasa mirip seperti ikan kecil yang siap mati.


***


Kota Surabaya.


Patung Sura perlahan retak, kemudian hancur tanpa ada sisa, sekarang Surabaya tanpa ada roh jahat menyelimuti kota tersebut.


Para pejalan juga merasakan tubuh mereka menjadi lebih nyaman dan tenang, berbeda seperti sebelumnya.


***


Di sisi Ryuto


Ryuto yang melihat bahwa keempat istrinya selesai membunuh hiu tersebut, dia tersenyum dan mendengar suara dering telponnya.


Purupurupuru


Ryuto melihat bahwa yang menelponnya adalah Zero, dia mengangkatnya.


Katcha.


“Halo, ini aku, ada apa Zero?” Ryuto berkata terlebih dahulu, kemudian terdengar suara Zero yang membuat Ryuto menyeringai.


“Tuan, Amerika mengancam kita, apakah kita perlu mengajukan peperangan?”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.